Pelangi itu punya ragam warna memikat. Seperti warna-warna itulah, apa yang tersuguhkan saya harap bisa mewarnai seperti pelangi. Saya hanya mencoba menangkap makna disebalik kata. Mencari, mengurai dan merangkai fakta yang digabung dengan imajinasi hingga menjadi sebuah kisah, seperti dalam cerita pendek. Sebagian besar cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, kisah saya sendiri. Selamat membaca!
Selasa, 11 Agustus 2009
Sebuah Pesan yang Memunculkan Kesan
Sebuah kisah adalah kekuatan. Ia memiliki kekuatannya tersendiri. Lewat kata-kata, sebuah kisah dirangkai sehingga menjadi cerita. Kekuatan cerita itu mengabadi, dan tak lekang lelah waktu. Mengenai ini saya sadur bebas dari pepatah Yunani yang berbunyi, Scripta Manent Verba Volant. Yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.
Kekuatan sebuah kisah sejatinya terletak pada cara menyampaikan, bertutur, berimajinasi dan kecermatan memilih diksi. Melalui proses menulis kreatif, akan mampu menghasilkan karya yang menggugah, menggerakkan, menggetarkan, dan sekaligus mendapat pencerahan. Cerita pendek adalah salah satu diantaranya. Dan pesannya adalah kekuatan itu sendiri. Pesan yang memunculkan kesan tersendiri bagi pembacanya.
Cerpen. Cerita Pendek. Agaknya inilah media yang dipilih oleh teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) Tegal dalam mengekspresikan kegundahannya yang telah menumpuk dan terlampiaskan dalam bentuk cerita pendek. Membacanya membawa kita mengembara pada alam imajinasi tanpa batas.
Cerpen memang bukan fakta, tapi biasanya ia berangkat dari realita. Ia bisa juga terlahir atas sebuah reaksi dari sebuah peristiwa-peristiwa. Apapun peristiwa itu, selama itu menyentuh nurani, maka oleh tangan-tangan kreatif, akan lahir sebuah karya.
Mengenai ini kita membaca cerpen karya Kelopakbiru yang ia beri judul ‘Piring.’ Sebuah kisah yang berawal dari hal sederhana namun bisa menjadi bacaan yang luar biasa dan berbobot! Kisah ini tentu tidak akan terlahir ketika tak pandai-pandai membidik angle yang biasanya luput dari incaran penulis. Apalah arti sebuah piring? Bukankah yang lebih penting adalah isinya? Mungkin gambaran itulah yang kerapkali terlintas dalam benak kita. Tetapi begitulah. Kelopakbiru dengan segenap keluwesan bahasanya memiliki daya magis tersendiri. Dan tentu saja itu akan terasa setelah setelah kita menyelami kata-katanya.
Mengenai angle, kita juga bisa belajar dari ‘Suara Adzan Di Jantung Muadzin’ yang ditulis Kaisar. Ini mengingatkan kita, betapa seorang muadzin sejatinya adalah tugas mulia. Satu kemuliaan yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang bergetar manakala mendengar suara adzan.” Mendengar saja membuat hati saya bergetar, apalagi kalau melantunkan,” begitu kata sang muadzin yang dalam kisah itu bernama Wak Sur.
Tahukah kamu, sedemikian mulia dan ikhlasnya melantunkan adzan mengingatkan orang-orang kepada Tuhan, di jantung muadzin pun terdengar suara adzan meski jasadnya telah terpisah dari raga.
Harapan, cita-cita, keinginan dan juga mimpi bisa terwujud lewat kata-kata. Namun, ketika itu belum tercapai sekarang, setidaknya mereka-mereka yang telah menuliskan apa yang diimpikannya telah melangkah ke depan untuk meraih mimpi itu. Dan, tentu itu akan terjadi selama dalam proses perjalanan meraih mimpi tetap dibarengi dengan upaya melatih kemampuan diri ke arah itu. ‘Bukan Mimpi yang Terpenggal’, ‘Bawang untuk Gaza’, dan ‘Kado untuk Istriku’ adalah gambaran tentang mimpi-mimpi dan harapan-harapan itu. Kisah-kisah lain yang terangkum dalam antologi cerita pendek ini juga tak kalah menarik untuk dibaca. Selamat membaca!
Membudayakan Aktivitas Literat
Buku, dalam pengertian saya ketika masih di bangku sekolah dasar, adalah kumpulan kertas bergaris yang dijadikan tempat untuk menulis dengan pensil. Tetapi tidak untuk kini, pengertian buku yang saya dapat justru berbeda jauh dengan pengertian buku ketika saya masih kecil. Pengertian buku yang saya maksud lebih mengarah pada bacaan, dan bukan kertas bergaris. Ia adalah lembaran-lembaran kertas berisi kumpulan gagasan penulis yang terangkum. Dahsyatnya sebuah buku lebih mengarah kepada bagaimana ide itu berbicara dan memengaruhi pembaca. Di dalamnya terdapat proses kreatif, karena sebuah buku mampu mengondisikan para pembaca untuk terus berolah pikir. Alasan kenapa buku itu berpengaruh, karena apa-apa yang tertulis di dalamnya secara intelektual dapat dipertanggungjawabkan.
Kalam Jauhari dalam esainya, “Berguru pada Buku,” menyatakan, dengan cara sedemikian rupa, buku memang bisa memengaruhi dan mengajarkan banyak hal kepada pembaca. Masih menurut Kalam, buku memiliki setidaknya tiga efek konstruktif. Ketiga efek konstruktif diantarannya adalah buku dapat menjadi guru bagi pembentukan identitas sosial (atau perseorangan), bagi pembentukan relasi sosial dan bagi pembentukan sistem-sistem pengetahuan dan kepercayaan sosial atau dalam istilah lain disebut dengan ideasional.
Membaca adalah salah satu bentuk interaksi intelektual yang tak jauh dengan buku. Yaitu interaksi yang bisa dikontrol penuh pembaca. Bisa menutup jika merasa kantuk atau bosan, melompati halaman atau kalau penasaran mengintip halaman akhir buku. Tak hanya itu, satu kelebihan aktivitas literat adalah kita bisa menunda proses membaca, menyimpan kenikmatan itu di lain waktu atau langsung melahapnya sampai habis. Dan pada saat-saat itulah muncul peluang mengolah isi bacaan. Itu adalah hal yang sangat berbeda seperti kita menonton film yang menyajikan pengalaman estetis. Penonton, seperti halnya pembaca dalam aktivitas literat, tidak bisa menunda klimaks kecuali menyaksikan tontonan yang sedang berjalan hingga usai.
Sebuah bacaan, bisa bersifat aditif. Artinya seseorang bisa merasakan keranjingan baca, atau yang biasa disebut dengan bookish (kutu buku). Baginya dunia seolah-olah belum lengkap kalau belum menyentuh dan membaca bacaan. Keasyikan membaca buku, seperti yang dilansirkan oleh Roland Barthes pemikir Prancis, dibangkitkan dari kemampuan teks merangsang kreativitas pembacanya untuk menciptakan teks-teks baru di kepalanya, termasuk ketika ia membayangkan, menafsirkan atau mengisi apa yang tidak tertulis di situ.
Selesai membaca, meminjam ungkapan Budi Darma, tidak berarti selesai segalanya. Tapi justru merupakan awal dari pengembaraan pikiran, perasaan dan naluri pembaca lantaran berbagai bacaan yang memukau akan meninggalkan kesan yang sukar terlupakan. Pengembaraan yang ditawarkan oleh bacaan yang inilah yang kemudian dapat menambah wawasan.
Ketika membaca sudah menjadi kebutuhan, maka tak ada cara lain selain menuangkan segala bentuk pengetahuan yang selama ini mengendap untuk ditorehkan ke dalam satu bentuk aktivitas yang tidak jauh berbeda dari dunia intelektual yaitu menulis. Menulis sebagai salah satu bentuk ketrampilan berbahasa dinilai ampuh untuk mengabadikan suatu pemikiran. Tulisan-tulisan yang bernuansa intelektual biasanya menggabungkan gagasan-gagasan untuk kemudian membentuk satu gagasan baru.
Seperti dalam pepatah Yunani menyatakan bahwa yang tertulis akan mengabadi dan yang terucap akan berlalu bersama angin (scripta manent verba Volant). Pepatah ini setidaknya mengingatkan kepada kita akan dua aktivitas kebahasaan: menulis dan berbicara. Apa yang tertulis tidak akan mudah sirna ketika aktivitas kebacaan secara kontinyu dibudayakan, dan itu akan membekas dalam ingatan, kecuali kalau daya ingatnya berkhianat.
Istilah mengabadi di sini tidak lantas menafikan bahasa ucap, hanya saja nilai ‘mengabadi’ itu terbantu karena memang tersurat pada buku. Sehingga kemungkinan untuk lupa dapat dengan mudah dikembalikan seperti pada mulanya yaitu dengan membaca kembali lembaran-lembaran yang sudah lama mengendap dalam ingatan. Berbeda dengan bahasa ucap, yang mengandalkan kemampuan daya ingat untuk mengingat apa-apa yang terucap. Pernyataan itu sempat disuarakan Pramoedya Ananta Toer yang menyatakan bahwa bahasa lisan biasanya hilang bersama lenyapnya per generasi dari masyarkat, tetapi tidak untuk bahasa tulis.
Memang ada sebagian orang bisa mengingat dengan baik apa yang diucapkan oleh seseorang, tetapi cakupannya terbatas, yakni sebatas pada ucapan-ucapan penting yang singkat, dan biasanya berupa nasehat. Tetapi tetap saja ketika itu tidak ditulis, suatu saat nanti akan pudar, karena sewaktu-waktu, daya ingat juga bisa berkhianat.
Apa yang terucap, apalagi ketika disampaikan dengan gaya bicara memukau, mungkin lebih mudah diingat seketika itu. tetapi beberapa saat setelah itu tidak terekam sempurna apa yang barusan terucap, dan hal itu tidak terjadi pada aktivitas tulis. Kecuali tulisan itu koyak, tidak terawat, dan sedikit kemungkinan hal itu terjadi. Pada dasarnya keberadaan buku itu benar-benar dihargai, karena didalamnya tertulis berbagai macam gagasan-gagasan intelektual yang dapat dijadikan sebagai bahan referensial ketika menulis, bahkan berbicara.
Setara dengan pepatah itu Danil Dakidae dalam bukunya “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru” menuliskan bahwa setiap buku dari pengarang manapun yang pernah melihat terbit dan terbenamnya matahari, tidak lain merupakan kata pengantar kepada buku lain lagi kelak dikemudian hari, yang jauh lebih penting.
Dahsyatnya Sebuah Bacaan
Masih ingat cerita, bagaimana Pramoedya Ananta Toer menulis dan menjadikannya tulisan itu sebagai bacaan. Dengan bahasa khas yang garang dan meledak-ledak, tidak bertele-tele, ia menulis banyak hal yang menurutnya tidak beres dan perlu diluruskan. Ia menulis apa saja yang perlu ia tulis. Karena ia memiliki prinsip, “Semua itu harus ditulis. Apa pun…Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna.”
Karena prinsip Pram tersebut, sampai-sampai sudah tak terhitung karya-karya yang ia hasilkan dari olah pikir Pram menuliskan realita yang ada. Karena saking garang, berani dan meledak-ledaknya, ada banyak karya Pram yang ditolak penerbit karena cukup beresiko, tentu saja menurut ukuran pemerintah kolonial pada masa itu. Bahkan karya-karya yang sudah terbit pun ditarik dari edaran oleh pemerintah kolonial masa itu.
Ketika ia berada dalam kungkungan sel, Pram justru produktif. Pram bebas menulis. Hanya saja ia dilarang mengedarkannya di luar kamp, bahkan orang-orang yang berhubungan dengan dunia tulis menulis pun dilarang menemuinya. Tetapi ia tak kehabisan akal, Pram menyelundupkan naskah-naskahnya kepada setiap orang yang mengunjunginya untuk dikirimkan kepada penerbit. Tentu saja hal itu sangat beresiko.
Penarikan naskah-naskah Pram pada masa itu setidaknya menggambarkan betapa dahsyatnya bacaan. Mungkin pemerintah kolonial masa itu merasa dalam keadaan bahaya ketika naskah yang mencatat segala kebobrokan akan dengan mudah terbongkar khalayak hanya dengan melalui bacaan. Dalam situasi seperti itu lah sebuah tulisan berfungsi sebagai pisau pembedah sesuatu yang sudah lama susah untuk disayat hingga isi yang ada didalamnya dapat dikeluarkan. Dapat dilihat dan dinilai khalayak apakah selama ini apa yang dilakukan itu adalah pantas dan memang perlu dilakukan, atau malah sebaliknya. Lebih tepatnya buku itu memfungsikan diri dengan memberi pengaruh dan membentuk ide bagi para pembacanya.
Ketakutan pihak yang meminta untuk menarik buku dari edaran tidak karena ‘senjata’ yang Pram bawa, melainkan karena mereka percaya bahwa sebuah bacaan tertentu tidak akan pernah kekurangan para pengagum pemilik gagasan yang siap menjadi pelopor karya-karyanya kelak.
Apa yang menjadi prinsip Pram dalam menulis, mengingatkan saya pada Ime Kertesz, sastrawan yang memuja kebebasan berekspresi dan sangat antipati pada sastra yang ditunggangi oleh muatan-muatan politis dari luar keindahan sastra itu sendiri. Kertesz berkata bahwa ia menulis untuk dirinya sendiri dan tanpa pretensi apa-apa untuk dibaca atau memengaruhi orang lain. Kertesz beranggapan bahwa pada akhirnya nanti penulis akan melihat dirinya sendiri, dan sehingga ia nanti akan menulis untuk dirinya sendiri.
Kedahsyatan lain sebuah bacaan adalah bagaimana bacaan itu membentuk pola budaya perilaku, mulai dari tingkah juga cara bertutur. Meminjam istilah Sutarji Calzoem Bahri, bahwa membaca (sastra) juga membuat orang menjadi berbudaya. “Orang berbudaya baca sastra” adalah semboyan yang tertulis pada majalah sastra Horison. Saya sepakat bahwa aktivitas literat itu perlu dan harus dibudayakan dan diberdayakan. Ini bias dilakukan dengan membuat komunitas-komunitas penulis, mendirikan rumah baca, atau perpustakaan.
Ada satu ungkapan lain yang menuliskan bahwa bangsa yang besar terlahir dari tradisi membaca yang kuat. Kebesaran bangsa-bangsa itu, kalau ditelaah lebih jauh adalah bisa menjadi maju ‘hanya’ karena menanamkan aktivitas kebacaan yang ketat. Membaca memang perkara ringan-ringan susah. Tetapi bukan alasan untuk tidak membaca ketika malas sudah bergelayut. Seandainya saja, malas dapat dihapuskan mungkin tak akan ada banyak bangsa yang ketinggalan.
Sejarah telah membuktikan bahwa tradisi membaca yang baik telah melahirkan peradaban emas sepanjang masa. Hal ini sangat penting bagi siapapun yang berusaha mempelajari realitas semesta. Beberapa alasan untuk menguatkan pernyataan segala peradaban pada masa lampau semuanya dimulai dari tradisi membaca yang kuat. Ter gambarkan seperti pada peradaban Yunani yang dimulai dengan Iliad yang ditulis oleh Homer. Karya Newton yang membangkitkan peradaban Eropa. Pun halnya dengan peradaban Islam yang bangkit setelah turun wahyu kepada Muhammad, sang nabi terakhir.
Tak usah jauh-jauh untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya sebuah bacaan. Dalam keseharian saja bisa terlihat siapa-siapa saja yang suka baca dan tidak sama sekali. Perbedaan keduanya akan terlihat jelas. Orang yang biasa membaca, akan begitu mudahnya berbicara, karena perbendaharaan katanya begitu banyak. Tentu isi bicara yang berbobot, yang mungkin dapat dijadikan sebagai bahan referensi. Apa yang terujar biasanya berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi orang yang tidak suka baca, orang tersebut akan begitu susahnya untuk bersuara, kalaupun berbicara, apa yang terucap biasanya bukan hal baru yang semua orang sudah tahu.
Kita bisa banyak belajar dari banyak orang, atau bahkan dari buku itu sendiri. Perlu diketahui bahwa buku adalah guru yang baik dan tak pernah marah. Guru yang berbeda dalam pengertian konvensional yang dapat diajak bicara ketika mengalami kesulitan. Ketika seseorang berhadapan dengan bacaan, ia tak mempunyai privilege untuk menanyakan kepada pengarangnya. Karena tak semua orang kenal dengan pengarangnya. Kalau pun ada upaya kearah itu, diperlukan usaha keras otak untuk menjawab pertanyaan yang masih mengendap ketika telah usai membaca buku tersebut. Dari situ lah proses kreatif muncul.
Sebagai pungkasan dalam tulisan ini, saya hanya akan menegaskan kembali betapa pentingnya membudayakan aktifitas literat, yaitu aktifitas yang menggeluti dunia kebacaan. Seperti apa yang dikatakan Che Guevara. “Sempatkan waktu luang untuk baca.” Sampai-sampai Pablo Neruda yang mengenal Che secara pribadi merasa terharu, karena ketika Che ditangkap di hutan Bolivia dalam ranselnya ditemukan kumpulan puisi Neruda. Di sela-sela masa gerilnya, masih saja ia menyempatkan untuk membaca.[]
Rabu, 08 Juli 2009
"Sepertinya Hubungan ini Mesti Kita Akhiri..."
Kemesraan itu sepertinya terlalu dini untuk dirasakan. Kemesraan itu tak semestinya kita jadikan sebagai sapaan. Kau sapa aku dengan sapaan sayang, begitu pula sebaliknya aku menyapamu dengan sapaan sayang.
“Sayang...,” begitu kita pernah saling menyapa. Mari, mulai detik ini ungkapan perasaan sayang itu cukuplah kita simpan saja untuk nanti ketika kita telah melewati mitzaqan ghalidzan. Bukankah itu jauh lebih mulia ketika diungkapkan kelak kepada pendamping hidup kita. Kalau memang itu kamu yang akan menjadi istriku, dan aku yang akan menjadi suamimu, ya mari kita simpan untuk nanti pada masanya.
Lewat kesempatan ini, aku hanya ingin berpesan, jangan pernah merasa kalau aku melupakanmu karena akhir-akhir ini aku jadi jarang menyapamu. Jangan pernah merasa aku mengabaikanmu karena kini aku jarang mengucapkan selamat pagi, ketika matahari beranjak meninggi. Jangan pernah merasa kalau akhir-akhir ini aku jadi jarang mengucapkan apa kabar setelah menyapa “Selamat pagi, cerahkah kau pagi ini?”
Justru karena aku menyayangimulah aku melakukan ini.
Kamu tahu kenapa? Sebab aku menghormatimu sebagai perempuan. Sebab perempuan itu mulia, dan tak ada alasan bagiku untuk membuatnya jadi sebaliknya. Kita perlu hati-hati membawa hati. Hati, meski letaknya tersembunyi, tapi dampaknya tampak sekali, begitu kata Mohammad Faudzil Adzim.
Kau tentu ingat, bagaimana kita saling tatap. Pada tatapan mata itu ternyata menyimpan seribu keinginan saat-saat tak terbayangkan. Pada mulanya adalah tatapan. Matamu itu, mata perempuan. Dan aku mata lelaki. Mata kita sudah semestinya menundukkan pandangan. Tetapi kenapa kita malah saling tatap? Terkadang kau menatap mataku tanpa sepengetahuanku, begitu pula aku menatapmu tanpa sepengetahuanmu. Dan kau benar-benar meresapi benar tatapanmu melihat mataku ketika melihat mataku pada sebuah lembar foto. Bahkan kau sampai pernah bilang, “Tatapan mata itu... tak mungkin aku melupakan...” Subhanallah! Sudah begitu jauhkah kita melangkah.
Kau tentu ingat, ketika tangan kita bersentuhan yang terkesan tak disengaja namun kita pura-pura tak tahu kalau sebenarnya kulit kita bersentuhan. Dan, ketika kita sadar, kita buru-buru melepaskan genggaman masing-masing.
Kau tahu apa yang aku rasa sebenarnya ketika itu? Aku seperti tengah menggenggam bara api! Ya bara api yang seolah ditempelkan menggunakan perekat yang begitu erat sampai-sampai aku tak mampu melepasnya. Hendak berontak tapi tak kuasa. Mengingat peristiwa ini, aku jadi malu lantaran teringat pada suatu riwayat seorang ulama yang mengisahkan kalau dirinya lebih baik menggenggam bara api daripada harus bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim!
Kau tentu juga ingat, ketika kita begitu dekat, kau selalu tak pernah lupa untuk mengingatkan aku untuk shalat. Di sepertiga malam kau tak pernah absen membangunkanku untuk menunaikan tahajud melalui nada panggilan tak terjawab dan disusul pesan singkat, “Ka bangun... tahajud ka...” Memastikan apakah aku sudah bangun atau belum, kamu menyusulnya dengan menelepon di pagi sebelum cahaya. Masih dengan perkataan yang sama. Suara khas orang yang baru terbangun dari tidur. “Ka bangun...tahajud ka....”
Bahkan kita pernah berlomba, siapa membangunkan lebih dulu untuk shalat tahajud maka kita membuat kesepakatan agar yang telat bangun diberi tugas membuat cerpen dengan tokohnya adalah kita sendiri. Lihat! Bahkan kita ingin mengabadikannya lewat tulisan, padahal belum tentu apakah perasaan sayang kita abadi ataukah hanya nisbi?
Sepintas apa yang kita lakukan -mulai dari mengingatkan shalat, saling memacu untuk berkreasi pada aktivitas literat- itu mulia. Tetapi tidakkah kau pernah merasa atau memikirkan hal lain yang jauh dari kelihatannya mulia? Aku merasa bahwa giatnya kita shalat tepat waktu itu lantaran karenamu, bukan karena Allah. Pernahkah kau memikirkan kalau shalat tahajud yang aku dirikan itu karena dibangunkan olehmu, dan bukan karena Allah. Pernahkah kau berpikir, kalau aktivitas menulisku itu semata-mata hanya karenamu yang begitu banyak memberikan inspirasi dalam menulis, dan bukan karena Allah yang telah memberi karunia kepadaku bisa menulis melalui kekuatan Al Qalam_Nya.
Dan kalau memang demikian begitu aku sama saja telah melupakan Allah!
Naudzubillahmindzalik, Ukhti....
Kita tidak semestinya terjebak dalam lingkaran ini. Kalau pun memang sudah terjerambab tak ada cara lain selain mengakhiri hubungan ini. Saya pikir ini adalah jalan terbaik, agar kita tidak terlampau jauh melangkah tanpa menapaki lebih dulu mitzaqan ghalidzan. Saya pikir ini adalah cara terbaik, ketika seribu satu cara lain yang telah saya pikirkan tapi tak jua bertemu jawab yang pas di hati. Ya, kalau memang ingin melanjutkan kemesraan itu, tak ada cara lain selain dengan mengakhiri hubungan ini.
Bagaimana? Apakah kau setuju untuk mengakhiri hubungan ini? Ya, mengakhiri saja hubungan ini dengan satu kata: pernikahan! Sebab dengan begitu, kita lebih aman dari tatapan mata dan juga kata yang bermuara fitnah. Sebab dengan begitu kita lebih terjaga. Sebab itu, aku mengajakmu menikah. Sebab menikah akan menjadikan kita mulia.
Ya, menikah! Menikah adalah satu urusan yang perlu disegerakan, begitu Islam mengajarkan. Menyegerakan menikah tidak sama berarti tergesa-gesa untuk menikah. Untuk masalah ini, sudah disampaikan dengan amat baik oleh Mohammad Faudzil Adzim dalam buku yang menginspirasiku untuk sesegera mungkin menyegerakan menikah. Buku itu tak lain berjudul Kupinang Engkau dengan Hamdallah.
Melalui kesempatan ini pula, aku ingin meminangmu. Kalau kau menerimaku, aku ucapkan alhamdulillah, tapi kalau kau menolakku aku lantangkan Allahu Akbar! Sebab pangkal dari semua itu adalah tidak lain hanyalah ridla Allah Swt. Not more! Sebab dengan begitu aku masih bisa tersenyum. Sebab aku ingin selekasnya melewati masa-masa yang dalam AlQur’an disebut sebagai mitzaqan ghalidzan, perjanjian yang berat. Sebab aku tak ingin mati dalam keadaan bujang. Sebab aku ingin pula memberikan sumbangsih sesegera mungkin untuk bisa menambah bobot bumi dengan kalimat Laa Ilaaha ILLallah!. Sebab aku tahu, bahwa melaksanakan ibadah nikah itu tidak hanya denganmu. Sebab aku tahu, bahwa muslimah itu tak hanya kamu.
Kemarin Ada yang Mengajakku Menikah...
“Kemarin ada yang mengajakku menikah, apa kau merasa baik-baik saja. Atau kau merasa tidak ada apa-apa karena waktumu untuk kegiatanmu.”
Satu pesan singkat masuk saat aku tengah mengikuti hari pertamaku di sebuah tempat mulia yang memberiku amanah untuk menjadi salah satu tim untuk menyiapkan peradaban. Ya, begitulah mereka mendefinisikan satu kata: mengajar dengan deretan kata memanjang. Menjadi salah satu tim yang bertugas untuk mencetak generasi penerus peradaban.
Pesan itu datang menyentakkan lantaran tak terduga datang tiba-tiba.
Pesan itu datang mengagetkan namun tak mengejutkan.
Semua lantaran aku memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.
Kawan, mungkin belum saatnya kau tahu siapa yang mengirim pesan singkat itu kepadaku. Tetapi yang jelas yang mengirimi saya pesan singkat semacam itu tentu menyimpan maksud dan tujuan tertentu. Apa dan maksud tujuan itu, kawan tak perlu menebak-nebak pula.
Tak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan itu. Begini aku langsung menjawabnya...
“Kalau dia baik agamanya, baik akhlaknya, dan kau merasa nyaman dengannya, menikahlah.”
Tapi... jawaban yang aku peroleh menegaskan kalau ia sebenarnya tak suka dengan jawaban yang aku beri. Padahal, saya meyakini itulah jawaban terbaik yang saya punya. Memang ada segudang hadits yang bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Tetapi saya bukan tipe orang normatif yang selalu menuliskan seabrek referensi secara utuh. Bagi saya, ketika intisari sudah mengena dan sadar kalau itu berkenaan dengan satu landasan tertentu, dan tepat cara menyampaikannya itu baru luar biasa menurut saya.
Kawan, kau ingin tahu, jawaban apa yang ia berikan kepadaku...
“Menyakitkan! Terimakasih. Aku tak menyukainya. Aku sayang pada seseorang...Hanya ia yang aku inginkan.”
“Kalau begitu jangan terima ajakannya. Menikah memang harus ada juga landasan suka. Dan itu jauh lebih mulia kalau landasan utamanya karena agama,” begitulah jawaban yang aku lontarkan lagi kepadanya dengan alasan seorang perempuan juga berhak untuk menerima atau menolak ajakan seseorang untuk menikah. Kemungkinan itu menempati porsi yang sama besarnya. Dan setelah itu ia tak membalasnya lagi.
Jika hari di pagi itu saya dimintai pendapat seseorang yang diajak menikah. Maka pada malam harinya saya yang malah ditawarin untuk menikah. Ada seorang akhwat menawarkan akhwat lain untuk diperkenalkan. Kawan, perlu diingat, ajakannya ini tidaklah main-main. Pengertian kenal di sini yang dimaksud bukanlah kenal biasa. Melainkan satu proses awal sebelum menuju proses khitbah menuju nikah.
Berdesir bukan main hati saya ketika mendapat tawaran...“Assalamualaikum. Mas Ali, afwan mau tanya. Mohon jangan tersinggung. Begini, saya punya teman akhwat. Beliau sudah bekerja dan sedang menyelesaikan tugas akhir. Beliau siap menikah. Antum mau tidak saya perkenalkan dengan beliau? Afwan jika lancang.W3”
Inikah kedahsyatan berpikir affirmatif? Saya memang termasuk –lebih lengkapnya menggelompokkan diri- ke dalam orang-orang yang ingin menyegerakan menikah. Tetapi tidakkah ini terlalu dini?
Teman, sungguh, saya tak mampu menjawab ajakan itu.
Entah kapan saya bisa menjawabnya.
Entah kapan kawan.
Sabtu, 13 Juni 2009
Hati-hati Bawa Hati
“Susahnya punya hati. Letaknya tersembunyi, tapi geraknya tampak sekali.”
Begitu kata Mohammad Faudzil Adzim mengawali pembahasan Kupinang Engkau dengan Hamdallah.
Saya jadi merasa tersindir, dan bahkan amat tersindir mengingat saya belum memiliki istri, eh, maksudnya belum sepenuhnya bisa menjaga hati. Sejauh ini hanya baru sebatas usaha untuk sebisanya, semampunya bisa menjaga hati dari sesuatu yang bisa menciderai hati selama masih sendiri. Adapun ketika hati ternoda oleh cela, itu tak lain karena lemahnya hati yang saya miliki.
Ighfirni Yaa Ghaffar. Semoga saya, anda, kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang terjaga.
“Makanya, lebih baik punya istri. Kalau tersenyum ada yang menanggapi. Kalau berekspresi ada yang memahami. Sikapnya lembut tak bikin keki kadang malah memuji.
“Tuhan tak pernah ingkar janji, kalau terus menjaga diri, akan mendapat pendamping yang lurus hati.”
Mendengar kata-kata ini saya lebih tersindir lagi. Pikir saya pintar benar sosok yang satu ini menyindir. Tetapi memang benar demikian adanya. Ketika kita saya belum punya istri, (eh salah lagi, maksudnya belum bisa menjaga diri), ya memang mungkin sudah sebaiknya memiliki istri yang bisa menanggapi senyum, menanggapi ekspresi, yang memiliki kelembutan dan... lho kok malah jadi membicarakan istri ya, bukannya hati. Tapi yang jelas, sejauh ini pula saya terus menjaga diri sampai diri ini mendapat pendamping yang lurus hati lantaran masih sendiri.
Eh,belum lama bilang masih sendiri, Bang Faudzil ngeledek lagi,
“Tapi kalau masih sendiri, hati-hati bawa hati. Kalau sibuk mencari perhatian, kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan?
Bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan, (maunya sih kukatakan memperbaiki iman). Tanpa susah-susah membayangkan saat-saat tak tebayangkan.”
Tak berdaya aku dibuatnya. Sindirannya luar biasa lantaran membuat aku tak berdaya menjawabnya. Belum sempat saya mengomentari, eh, ia malah melepaskan serangan kata yang datang bertubi-tubi.
“Adapun kalau sudah beristri, jangan lupa mengingatkan. Kalau ada yang dilalaikan
tentang perkara yang disyariatkan. Tapi kalau ia memelihara kewajiban, ingat-ingatlah untuk memberi perhatian. Jangan sampai menunggu peringatan.”
Pebincanganku dengan Mohamad Faudzil Adzim mengingatkan saya pada peristiwa yang maksudnya lebih kurang senada. Ketika itu, saya terus mendapat cecaran pertanyaan yang bernada menyindir, namun dikemas dalam bentuk kelakar.
“Akhi, antum itu sudah terlalu banyak aminah, tetapi tidak satu Aminah pun kau miliki,”
“Maisyah sudah ada, kapan akan punya Aisyah, Akhi?
Sedemikian dahsyatnya sindiran yang nyaris datang bertubi-tubi, sampai peristiwa itu terbawa mimpi.
Suatu ketika di malam yang tenang, aku tertidur setelah merenungi berbagai macam sindiran yang sedianya memang diarahkan kepadaku. Setelah beberapa kejap tidur, suasana membawaku ke alam bawah sadar. Entah kenapa tahu-tahu saya berada pada suatu tempat, yang hanya ada saya seorang diri, dan tak ada siapapun. Aku melihat di sekelilingku, bentangan luas tak terhingga seperti awan.
Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba ada satu titik yang mendekat ke arahku. Semakin dekat, semakin tampak jelas rupanya. Sosok yang datang itu bersayap seperti malaikat. Dan itu memang malaikat ketika ia memperkenalkan dari,”Aku malaikat datang dari surga membawa bidadari.”
Sosok malaikat itu datang tak sendiri melainkan berdua dengan seseorang yang dilihat dari penampilannya adalah seorang perempuan. Saya tak bisa melihat wajahnya lantaran tertutup burkah. Kepalanya menundukkan pandangan. Sekilas tampak ia menatapku dibalik cadarnya, hanya ketika saya balik menatapnya, ia buru-buru menundukkan pandangan. Mungkin malu.
“Wahai Ali, ini saya bawakan calon istrimu! Menikahlah dengannya, dan perbanyaklah keturunan agar bisa menambah bobot bumi dengan kalimat LAAILLAAHAILLALLAH.”
Saya terperangah mendengar itu. Sosok perempuan bercadar itu masih tertunduk malu. Merasa penasaran, saya pun menanyakan siapakah sebenarnya yang akan menjadi istriku nanti. Saya penasaran dengan sosok yang katanya adalah calon istriku itu. Bidadari Syurga. Bidadari yang didatangkan langsung bersama malaikat dari syurga. Bidadari yang datang dari syurga. Ah, siapakah ia?
Permintaan pun terturutkan. Malaikat itu membukakan cadar penutup wajah. Hati saya berdesir-desir. Degup jantung naik turun lantaran dibombardir rasa penasaran yang begitu hebat. Secara perlahan cadar itu dibuka. Gerakan membuka cadar tampak sekali hati-hati, pelan, pelan sekali seperti gerak slow motion dalam adegan film.
Dan ketika cadar itu hampir tersingkap...
Sungguh teramat sangat saya sayangkan...
Saya terbangun!
Sebel!
“Perempuan itu Mulia!”
Totem pars pratoto
Sebagian yang diseluruhkan.
“Cowok itu...BRENGSEK!”
Pernyataan itu muncul dari seorang perempuan, yang menurut pengakuannya dicintai, dikagumi, dan disayangi oleh banyak laki-laki. Begitu banyak lelaki yang mengharap uluran cintanya. Tetapi anehnya bukan bahagia yang ia dapatkan, melainkan luka yang ia rasakan.
Terang saja luka yang ia rasakan, karena semua lelaki yang menghampirinya itu rata-rata memberikan sesuatu yang semu. Yang kadar kesenangannya hanya sesaat. Berharap beroleh kesenangan sejati, tapi yang ia dapatkan adalah luka hati.
Ia memang tampak kelihatan tangguh, tegas dan pantang menyerah. Tapi siapa sangka dibalik ketangguhannya sebagai seorang perempuan ia sejatinya rapuh, dan begitu mudahnya dipatahkan pertahanan bentengnya oleh makhluk bernama laki-laki. Ia seperti bersembunyi dibalik perangai tangguh. Sedemikian sering serangan yang terus memborbardir dari berbagai penjuru membuatnya hampir tak berdaya. Dalam ketakberdayaan itulah ia memberanikan diri untuk membunuh.
“Aku adalah pembunuh. Untuk kesekian kalinya, aku telah membunuh perasaan laki-laki terhadapku.” Meski pembunuhan itu ia lakukan dengan penuh rasa iba dan diluar keinginan yang begitu hebat. Tetapi ia tetap melakukannya.
Setelah itu ia akan murung beberapa hari sebelum akhirnya pulih kembali seperti sedia kala.
Membunuh adalah jalan terakhir agar perasaan itu tak hidup lagi. Membunuh adalah satu-satunya cara untuk bisa menghentikan langkah yang bisa mematikannya. Membunuh adalah pilihan ketika cara-cara halus dengan mendiamkannya, mengacuhkannya, tak membuat laki-laki berhenti mengejarnya. Ya membunuh! Ia menjadi seorang pembunuh!! Kepadaku, ia memberikan daftar nama-nama yang sudah ia bunuh dengan cara yang sama. Aku hanya terperangah tak percaya sambil berkata,”Sadis benar kamu ini.”
Dalam hatinya, sebenarnya muncul perasaan bersalah lantaran terlalu banyak perasaan yang dibunuh dengan tangannya. Meski tindakan itu diyakininya sebagai kebenaran, dan memang itulah kebenaran, tetapi perasaan bersalah itu tetap saja ada. Dan selalu menghiasi hari-harinya. Takut kalau-kalau ia akan membunuh lagi.
Sebuah kesan yang seakan melepas ketergantungan terhadap laki-laki, walau sebenarnya ia sangat merindukan, mengharapkan sosok yang membawakanya cinta suci melalui ikatan pernikahan. Hanya saja karena terlalu sering menemui beberapa laki-laki yang kebetulan berkepribadian brengsek, ia dengan mudahnya mengambil kesimpulan, bahwa sebagian laki-laki itu mewakili semua karakter kebrengsekan beberapa lelaki. Bahkan ketika ada seseorang yang berusaha serius mengajaknya menikah, entah sadar atau tidak, ia juga menyatakan bahwa laki-laki itu brengsek. Bahkan, ketika ajakan itu dilakukan dengan cara yang santun sekalipun!
Beruntungnya sejak awal, lelaki itu mengatakannya dengan sesuatu yang membuatnya perlu waktu untuk dirinya pikir-pikir.
“Aku ingin kita segera dipertemukan sebagai pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, dan canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi kehidupan rumah tangga. Kalaupun ada butir-butir bening yang menetes dari sudut air mata, semoga itu adalah air mata kebahagiaan
Kalau kau menerimaku (menjadi suamimu) aku ucapkan alhamdulilah, tetapi kalau sebaliknya aku lantangkan Allah Akbar! Sebab dengan begitu aku masih bisa tersenyum. Sebab itu pula, meraih atau tidak mendapatkanmu, cinta akan tetap saya dapatkan, karena saya melakukan ini semata-mata hanya untuk menjaga diri. Tak apa, kau tak menerima, masih ada banyak muslimah lain yang akan menerimaku.”
Lelaki itu bersyukur dan tak begitu gampang larut dalam gulana rasa.
Mari kita kembali ke cowok brengsek tadi. Aku hanya tersenyum ketika mendengar perkataannya semacam itu. Seperti tak pernah terpikir lebih dulu, bahwa kebrengsekan seseorang itu tidak hanya dilakukan oleh laki-laki. Semua orang berpeluang melakukan kesalahan, karena sejatinya akhir pada sebuah penilaian itu hanya ada dua, baik dan buruk. Bukan tampan dan tak tampan, cantik dan tak cantik. Dan, itu kaitannya dengan hati. Dan hati ada kaitannya dengan rasa. Brengsek berarti masuk kategori penilaian buruk. Dan penilaian itu erat kaitannya dengan pikiran seseorang.
Totem pars pratoto. Sebagian untuk seluruh. Begitulah pernyataannya kalau dikategorikan dalam majas. Saya meyakini dengan sepenuh hati, rasa, dan pikiran kalau pendapat itu keluar ketika hati, rasa dan pikiran itu sedang kalut, tidak dalam keadaan selaras.
Saya juga sama sekali tak terganggu ketika ada perkataan senada macam itu. Yang namanya pendapat itu sifatnya subjektif. Karena subjektif itulah, yang bertanggungjawab terhadap opini itu tentu saja si pelaku yang memberi penilaian itu tadi.
Saya tak bisa membayangkan, apakah nanti ketika ia menemukan sosok lelaki yang setampan Ali, sebaik Abu Bakar, seberani Umar, secerdas Usman maka akan mengalihkan pendapatnya menjadi Laki-laki itu baik!
Saya hanya berharap selaksa energi positif akan segera memenuhi ruang hatinya. Dan, sepercik energi positif itu sebenarnya telah ia dapatkan. Hanya saja yang jadi masalah, ia menampungnya di tempat yang khusus atau malah membiarkannya begitu saja. Salah satunya adalah ketika ia mengirimkan pesan singkat bahwa cowok itu brengsek, untuk meneguhkan penilaiannya itu, kepada seorang lelaki yang ia merasa nyaman ketika berada di dekatnya, ia langsung mendapat jawaban.
“Perempuan itu... MULIA.”
Sabtu, 11 April 2009
Kesalahan Terindah adalah Menyatakan Cinta
“Aku mencintaimu, kata-kata ini tidak akan pernah aku ucapkan pada satu orang perempuan pun kecuali satu, dia adalah ******* *****1!”
Satu kesalahan terindah adalah mengungkapkan perasaan cinta kepada lain jenis. Itu adalah kesalahan yang teramat fatal, sebab cinta hanya berhak dirasakan, diutarakan, diungkapkan hanya dan hanya jika setelah melalui proses ikatan pernikahan. Itulah cinta yang sebenarnya.
Kalau ada yang menyatakan cinta sebelum pernikahan itu berlangsung, itu sama saja omong kosong. Kalau pun aku, kau, atau dia terjebak melakukan itu, itu sama saja berarti melakukan kebohongan. Ketika sadar bahwa itu sebuah kesalahan, mari kita sebisanya, semampunya, untuk bisa lebih berhati-hati baik dalam bersikap, berucap, maupun bertindak.
Cinta itu sejatinya indah, bukan sebaliknya. Itu yang perlu digarisbawahi. Ketika ada cinta yang menyakitkan, itu perlu dicurigai kalau itu sebenarnya bukan cinta. Cinta itu, sekali lagi, indah!
Saya kadang bertanya, apakah selama ini kekhilafan, dimana banyak orang terjebak di dalamnya, berlandaskan pada kesungguhan atau hanya sebatas permainan belaka kata? Apa benar yang selama ini diungkapkan adalah sebenarnya cinta?
Dalam pencarian tentang makna cinta, saya menemukan sebuah hadits yang isinya sebagai berikut.
“Ada seseorang berada di samping Rasululllah Saw, lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasul tadi berkata, ’Aku mencintai dia ya Rasulullah...’ ‘Apakah kau telah memberitahukan kepadanya?” jawab Rasul. Orang tersebut menjawab belum. Lalu nabi berkata,’Beritahu dia.’ Kemudian orang tersebut memberitahukan kepadanya sambil berkata, ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah,’ Orang yang dicintai itu menjawab,‘Semoga Allah mencintaimu karena kau mencintaiku karena_Nya’2
Syahdan, ada seorang lelaki mengirimkan hadits itu melalui pesan singkat kepada sebuah nama, seorang perempuan. Ia sendiri tak tahu bagaimana bisa mengirimkan kepadanya. Apa naluri lelakinya yang bergerak dan langsung menemukan namanya.
Ia tertegun setelah melihat pesan di item terkirim di ponsel. Tertegun ia menatapnya. “Apa benar yang saya lakukan ini? Apa tidak akan menimbulkan beragam tafsir atau kesalahpahaman, mungkin?” kata lelaki itu dalam benaknya.
Ah, mudah-mudahan saja tidak. Perempuan itu, pikirnya, adalah seorang muslimah yang mengerti akan ini. Lagipula ia tak menambahkan atau mengurangi redaksi dalam hadits itu. Ia mengirimkannya dalam bentuk utuh.
Satu hal yang tidak disengaja, ternyata ia juga mengirimkan pesan yang sama kepada satu nama lain. Pesan itu langsung beroleh respon, dan menanyakan apa maksudnya. Tanpa pikir panjang, ia jawab saja apa adanya, kalau itu hadits. Sudah hanya itu.
Tampaknya jawaban itu tak membuat ia puas, sampai-sampai perempuan itu menegaskan pertanyaannya lagi. “Iya tahu itu hadits, tapi apa maksudnya?” Ielaki itu hanya diam, membiarkan dirinya larut dalam beribu penafsiran, menerka maksud mencari makna. Wajar perempuan itu ingin tahu jawaban yang sebenarnya lantaran lelaki itu pernah menyatakan sesuatu yang membuat hatinya menjadi bergetar, “Aku mencintaimu karena Allah”
Kini pernyataan itu menjadi bahan renungan buat lelaki itu. Apakah benar ia mencintainya karena Allah? Bukankah cinta itu hanya berhak dirasakan setelah menikah? Memang sepenuhnya ia sadar, tindakan itu adalah sebuah kesalahan (terindah). Lebih-lebih dalam hatinya sempat berkomitmen, untuk mengungkapkan itu hanya pada perempuan yang telah ia nikahi nanti.
Ya, ikrar itu telah ia langgar dengan mengatakan cinta kepada perempuan sebelum menikah. Meski belum ada kesepakatan diterima atau tidak tapi itu menyisakan satu penyesalan yang teramat dalam. Jawaban yang diperoleh ketika menyatakan hanya berupa, “Bismillah saja, kita lihat saja nanti ke depan.”
Begitulah kisah lelaki itu. Petualangan cinta lelaki itu sejatinya menarik untuk dikisahkan lantaran ada semua unsur pendukung untuk membuat cerita. Ada alur, konflik, plot, setting, dan juga tokoh tentu saja. Saya juga menangkap beragam ekspresi (bahagia, kecewa), dialog-dialog menarik.
Belakangan, Putri Salju mengabarkan kepadaku mengenai hadits itu. Hadits yang aku kirimkan kepadanya karena begitu penasarannya aku. Ia memang tak langsung merespon ketika saya meminta komentarnya tentang hadits itu, apakah itu bisa dijadikan landasan seseorang untuk menyatakan cinta.
Putri Salju ternyata mendiskusikannya dengan orang-orang yang capable untuk masalah ini. Hadits itu memang benar adanya, tetapi itu tidak berlaku jika menjadi dalil seseorang menyatakan cinta kepada lawan jenis, Hadits itu lebih bermakna kepada satu ikatan dalam bingkai cinta ukhuwah!
Jadi, jika ingin merasakan betapa indahnya cinta, maka menikahlah!
1. Istriku nanti
2. Hadits Riwayat Anas bin Malik.
Langganan:
Postingan (Atom)