Pelangi itu punya ragam warna memikat. Seperti warna-warna itulah, apa yang tersuguhkan saya harap bisa mewarnai seperti pelangi. Saya hanya mencoba menangkap makna disebalik kata. Mencari, mengurai dan merangkai fakta yang digabung dengan imajinasi hingga menjadi sebuah kisah, seperti dalam cerita pendek. Sebagian besar cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, kisah saya sendiri. Selamat membaca!
Rabu, 08 Juli 2009
"Sepertinya Hubungan ini Mesti Kita Akhiri..."
Kemesraan itu sepertinya terlalu dini untuk dirasakan. Kemesraan itu tak semestinya kita jadikan sebagai sapaan. Kau sapa aku dengan sapaan sayang, begitu pula sebaliknya aku menyapamu dengan sapaan sayang.
“Sayang...,” begitu kita pernah saling menyapa. Mari, mulai detik ini ungkapan perasaan sayang itu cukuplah kita simpan saja untuk nanti ketika kita telah melewati mitzaqan ghalidzan. Bukankah itu jauh lebih mulia ketika diungkapkan kelak kepada pendamping hidup kita. Kalau memang itu kamu yang akan menjadi istriku, dan aku yang akan menjadi suamimu, ya mari kita simpan untuk nanti pada masanya.
Lewat kesempatan ini, aku hanya ingin berpesan, jangan pernah merasa kalau aku melupakanmu karena akhir-akhir ini aku jadi jarang menyapamu. Jangan pernah merasa aku mengabaikanmu karena kini aku jarang mengucapkan selamat pagi, ketika matahari beranjak meninggi. Jangan pernah merasa kalau akhir-akhir ini aku jadi jarang mengucapkan apa kabar setelah menyapa “Selamat pagi, cerahkah kau pagi ini?”
Justru karena aku menyayangimulah aku melakukan ini.
Kamu tahu kenapa? Sebab aku menghormatimu sebagai perempuan. Sebab perempuan itu mulia, dan tak ada alasan bagiku untuk membuatnya jadi sebaliknya. Kita perlu hati-hati membawa hati. Hati, meski letaknya tersembunyi, tapi dampaknya tampak sekali, begitu kata Mohammad Faudzil Adzim.
Kau tentu ingat, bagaimana kita saling tatap. Pada tatapan mata itu ternyata menyimpan seribu keinginan saat-saat tak terbayangkan. Pada mulanya adalah tatapan. Matamu itu, mata perempuan. Dan aku mata lelaki. Mata kita sudah semestinya menundukkan pandangan. Tetapi kenapa kita malah saling tatap? Terkadang kau menatap mataku tanpa sepengetahuanku, begitu pula aku menatapmu tanpa sepengetahuanmu. Dan kau benar-benar meresapi benar tatapanmu melihat mataku ketika melihat mataku pada sebuah lembar foto. Bahkan kau sampai pernah bilang, “Tatapan mata itu... tak mungkin aku melupakan...” Subhanallah! Sudah begitu jauhkah kita melangkah.
Kau tentu ingat, ketika tangan kita bersentuhan yang terkesan tak disengaja namun kita pura-pura tak tahu kalau sebenarnya kulit kita bersentuhan. Dan, ketika kita sadar, kita buru-buru melepaskan genggaman masing-masing.
Kau tahu apa yang aku rasa sebenarnya ketika itu? Aku seperti tengah menggenggam bara api! Ya bara api yang seolah ditempelkan menggunakan perekat yang begitu erat sampai-sampai aku tak mampu melepasnya. Hendak berontak tapi tak kuasa. Mengingat peristiwa ini, aku jadi malu lantaran teringat pada suatu riwayat seorang ulama yang mengisahkan kalau dirinya lebih baik menggenggam bara api daripada harus bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim!
Kau tentu juga ingat, ketika kita begitu dekat, kau selalu tak pernah lupa untuk mengingatkan aku untuk shalat. Di sepertiga malam kau tak pernah absen membangunkanku untuk menunaikan tahajud melalui nada panggilan tak terjawab dan disusul pesan singkat, “Ka bangun... tahajud ka...” Memastikan apakah aku sudah bangun atau belum, kamu menyusulnya dengan menelepon di pagi sebelum cahaya. Masih dengan perkataan yang sama. Suara khas orang yang baru terbangun dari tidur. “Ka bangun...tahajud ka....”
Bahkan kita pernah berlomba, siapa membangunkan lebih dulu untuk shalat tahajud maka kita membuat kesepakatan agar yang telat bangun diberi tugas membuat cerpen dengan tokohnya adalah kita sendiri. Lihat! Bahkan kita ingin mengabadikannya lewat tulisan, padahal belum tentu apakah perasaan sayang kita abadi ataukah hanya nisbi?
Sepintas apa yang kita lakukan -mulai dari mengingatkan shalat, saling memacu untuk berkreasi pada aktivitas literat- itu mulia. Tetapi tidakkah kau pernah merasa atau memikirkan hal lain yang jauh dari kelihatannya mulia? Aku merasa bahwa giatnya kita shalat tepat waktu itu lantaran karenamu, bukan karena Allah. Pernahkah kau memikirkan kalau shalat tahajud yang aku dirikan itu karena dibangunkan olehmu, dan bukan karena Allah. Pernahkah kau berpikir, kalau aktivitas menulisku itu semata-mata hanya karenamu yang begitu banyak memberikan inspirasi dalam menulis, dan bukan karena Allah yang telah memberi karunia kepadaku bisa menulis melalui kekuatan Al Qalam_Nya.
Dan kalau memang demikian begitu aku sama saja telah melupakan Allah!
Naudzubillahmindzalik, Ukhti....
Kita tidak semestinya terjebak dalam lingkaran ini. Kalau pun memang sudah terjerambab tak ada cara lain selain mengakhiri hubungan ini. Saya pikir ini adalah jalan terbaik, agar kita tidak terlampau jauh melangkah tanpa menapaki lebih dulu mitzaqan ghalidzan. Saya pikir ini adalah cara terbaik, ketika seribu satu cara lain yang telah saya pikirkan tapi tak jua bertemu jawab yang pas di hati. Ya, kalau memang ingin melanjutkan kemesraan itu, tak ada cara lain selain dengan mengakhiri hubungan ini.
Bagaimana? Apakah kau setuju untuk mengakhiri hubungan ini? Ya, mengakhiri saja hubungan ini dengan satu kata: pernikahan! Sebab dengan begitu, kita lebih aman dari tatapan mata dan juga kata yang bermuara fitnah. Sebab dengan begitu kita lebih terjaga. Sebab itu, aku mengajakmu menikah. Sebab menikah akan menjadikan kita mulia.
Ya, menikah! Menikah adalah satu urusan yang perlu disegerakan, begitu Islam mengajarkan. Menyegerakan menikah tidak sama berarti tergesa-gesa untuk menikah. Untuk masalah ini, sudah disampaikan dengan amat baik oleh Mohammad Faudzil Adzim dalam buku yang menginspirasiku untuk sesegera mungkin menyegerakan menikah. Buku itu tak lain berjudul Kupinang Engkau dengan Hamdallah.
Melalui kesempatan ini pula, aku ingin meminangmu. Kalau kau menerimaku, aku ucapkan alhamdulillah, tapi kalau kau menolakku aku lantangkan Allahu Akbar! Sebab pangkal dari semua itu adalah tidak lain hanyalah ridla Allah Swt. Not more! Sebab dengan begitu aku masih bisa tersenyum. Sebab aku ingin selekasnya melewati masa-masa yang dalam AlQur’an disebut sebagai mitzaqan ghalidzan, perjanjian yang berat. Sebab aku tak ingin mati dalam keadaan bujang. Sebab aku ingin pula memberikan sumbangsih sesegera mungkin untuk bisa menambah bobot bumi dengan kalimat Laa Ilaaha ILLallah!. Sebab aku tahu, bahwa melaksanakan ibadah nikah itu tidak hanya denganmu. Sebab aku tahu, bahwa muslimah itu tak hanya kamu.
Kemarin Ada yang Mengajakku Menikah...
“Kemarin ada yang mengajakku menikah, apa kau merasa baik-baik saja. Atau kau merasa tidak ada apa-apa karena waktumu untuk kegiatanmu.”
Satu pesan singkat masuk saat aku tengah mengikuti hari pertamaku di sebuah tempat mulia yang memberiku amanah untuk menjadi salah satu tim untuk menyiapkan peradaban. Ya, begitulah mereka mendefinisikan satu kata: mengajar dengan deretan kata memanjang. Menjadi salah satu tim yang bertugas untuk mencetak generasi penerus peradaban.
Pesan itu datang menyentakkan lantaran tak terduga datang tiba-tiba.
Pesan itu datang mengagetkan namun tak mengejutkan.
Semua lantaran aku memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.
Kawan, mungkin belum saatnya kau tahu siapa yang mengirim pesan singkat itu kepadaku. Tetapi yang jelas yang mengirimi saya pesan singkat semacam itu tentu menyimpan maksud dan tujuan tertentu. Apa dan maksud tujuan itu, kawan tak perlu menebak-nebak pula.
Tak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan itu. Begini aku langsung menjawabnya...
“Kalau dia baik agamanya, baik akhlaknya, dan kau merasa nyaman dengannya, menikahlah.”
Tapi... jawaban yang aku peroleh menegaskan kalau ia sebenarnya tak suka dengan jawaban yang aku beri. Padahal, saya meyakini itulah jawaban terbaik yang saya punya. Memang ada segudang hadits yang bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Tetapi saya bukan tipe orang normatif yang selalu menuliskan seabrek referensi secara utuh. Bagi saya, ketika intisari sudah mengena dan sadar kalau itu berkenaan dengan satu landasan tertentu, dan tepat cara menyampaikannya itu baru luar biasa menurut saya.
Kawan, kau ingin tahu, jawaban apa yang ia berikan kepadaku...
“Menyakitkan! Terimakasih. Aku tak menyukainya. Aku sayang pada seseorang...Hanya ia yang aku inginkan.”
“Kalau begitu jangan terima ajakannya. Menikah memang harus ada juga landasan suka. Dan itu jauh lebih mulia kalau landasan utamanya karena agama,” begitulah jawaban yang aku lontarkan lagi kepadanya dengan alasan seorang perempuan juga berhak untuk menerima atau menolak ajakan seseorang untuk menikah. Kemungkinan itu menempati porsi yang sama besarnya. Dan setelah itu ia tak membalasnya lagi.
Jika hari di pagi itu saya dimintai pendapat seseorang yang diajak menikah. Maka pada malam harinya saya yang malah ditawarin untuk menikah. Ada seorang akhwat menawarkan akhwat lain untuk diperkenalkan. Kawan, perlu diingat, ajakannya ini tidaklah main-main. Pengertian kenal di sini yang dimaksud bukanlah kenal biasa. Melainkan satu proses awal sebelum menuju proses khitbah menuju nikah.
Berdesir bukan main hati saya ketika mendapat tawaran...“Assalamualaikum. Mas Ali, afwan mau tanya. Mohon jangan tersinggung. Begini, saya punya teman akhwat. Beliau sudah bekerja dan sedang menyelesaikan tugas akhir. Beliau siap menikah. Antum mau tidak saya perkenalkan dengan beliau? Afwan jika lancang.W3”
Inikah kedahsyatan berpikir affirmatif? Saya memang termasuk –lebih lengkapnya menggelompokkan diri- ke dalam orang-orang yang ingin menyegerakan menikah. Tetapi tidakkah ini terlalu dini?
Teman, sungguh, saya tak mampu menjawab ajakan itu.
Entah kapan saya bisa menjawabnya.
Entah kapan kawan.
Sabtu, 13 Juni 2009
Hati-hati Bawa Hati
“Susahnya punya hati. Letaknya tersembunyi, tapi geraknya tampak sekali.”
Begitu kata Mohammad Faudzil Adzim mengawali pembahasan Kupinang Engkau dengan Hamdallah.
Saya jadi merasa tersindir, dan bahkan amat tersindir mengingat saya belum memiliki istri, eh, maksudnya belum sepenuhnya bisa menjaga hati. Sejauh ini hanya baru sebatas usaha untuk sebisanya, semampunya bisa menjaga hati dari sesuatu yang bisa menciderai hati selama masih sendiri. Adapun ketika hati ternoda oleh cela, itu tak lain karena lemahnya hati yang saya miliki.
Ighfirni Yaa Ghaffar. Semoga saya, anda, kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang terjaga.
“Makanya, lebih baik punya istri. Kalau tersenyum ada yang menanggapi. Kalau berekspresi ada yang memahami. Sikapnya lembut tak bikin keki kadang malah memuji.
“Tuhan tak pernah ingkar janji, kalau terus menjaga diri, akan mendapat pendamping yang lurus hati.”
Mendengar kata-kata ini saya lebih tersindir lagi. Pikir saya pintar benar sosok yang satu ini menyindir. Tetapi memang benar demikian adanya. Ketika kita saya belum punya istri, (eh salah lagi, maksudnya belum bisa menjaga diri), ya memang mungkin sudah sebaiknya memiliki istri yang bisa menanggapi senyum, menanggapi ekspresi, yang memiliki kelembutan dan... lho kok malah jadi membicarakan istri ya, bukannya hati. Tapi yang jelas, sejauh ini pula saya terus menjaga diri sampai diri ini mendapat pendamping yang lurus hati lantaran masih sendiri.
Eh,belum lama bilang masih sendiri, Bang Faudzil ngeledek lagi,
“Tapi kalau masih sendiri, hati-hati bawa hati. Kalau sibuk mencari perhatian, kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan?
Bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan, (maunya sih kukatakan memperbaiki iman). Tanpa susah-susah membayangkan saat-saat tak tebayangkan.”
Tak berdaya aku dibuatnya. Sindirannya luar biasa lantaran membuat aku tak berdaya menjawabnya. Belum sempat saya mengomentari, eh, ia malah melepaskan serangan kata yang datang bertubi-tubi.
“Adapun kalau sudah beristri, jangan lupa mengingatkan. Kalau ada yang dilalaikan
tentang perkara yang disyariatkan. Tapi kalau ia memelihara kewajiban, ingat-ingatlah untuk memberi perhatian. Jangan sampai menunggu peringatan.”
Pebincanganku dengan Mohamad Faudzil Adzim mengingatkan saya pada peristiwa yang maksudnya lebih kurang senada. Ketika itu, saya terus mendapat cecaran pertanyaan yang bernada menyindir, namun dikemas dalam bentuk kelakar.
“Akhi, antum itu sudah terlalu banyak aminah, tetapi tidak satu Aminah pun kau miliki,”
“Maisyah sudah ada, kapan akan punya Aisyah, Akhi?
Sedemikian dahsyatnya sindiran yang nyaris datang bertubi-tubi, sampai peristiwa itu terbawa mimpi.
Suatu ketika di malam yang tenang, aku tertidur setelah merenungi berbagai macam sindiran yang sedianya memang diarahkan kepadaku. Setelah beberapa kejap tidur, suasana membawaku ke alam bawah sadar. Entah kenapa tahu-tahu saya berada pada suatu tempat, yang hanya ada saya seorang diri, dan tak ada siapapun. Aku melihat di sekelilingku, bentangan luas tak terhingga seperti awan.
Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba ada satu titik yang mendekat ke arahku. Semakin dekat, semakin tampak jelas rupanya. Sosok yang datang itu bersayap seperti malaikat. Dan itu memang malaikat ketika ia memperkenalkan dari,”Aku malaikat datang dari surga membawa bidadari.”
Sosok malaikat itu datang tak sendiri melainkan berdua dengan seseorang yang dilihat dari penampilannya adalah seorang perempuan. Saya tak bisa melihat wajahnya lantaran tertutup burkah. Kepalanya menundukkan pandangan. Sekilas tampak ia menatapku dibalik cadarnya, hanya ketika saya balik menatapnya, ia buru-buru menundukkan pandangan. Mungkin malu.
“Wahai Ali, ini saya bawakan calon istrimu! Menikahlah dengannya, dan perbanyaklah keturunan agar bisa menambah bobot bumi dengan kalimat LAAILLAAHAILLALLAH.”
Saya terperangah mendengar itu. Sosok perempuan bercadar itu masih tertunduk malu. Merasa penasaran, saya pun menanyakan siapakah sebenarnya yang akan menjadi istriku nanti. Saya penasaran dengan sosok yang katanya adalah calon istriku itu. Bidadari Syurga. Bidadari yang didatangkan langsung bersama malaikat dari syurga. Bidadari yang datang dari syurga. Ah, siapakah ia?
Permintaan pun terturutkan. Malaikat itu membukakan cadar penutup wajah. Hati saya berdesir-desir. Degup jantung naik turun lantaran dibombardir rasa penasaran yang begitu hebat. Secara perlahan cadar itu dibuka. Gerakan membuka cadar tampak sekali hati-hati, pelan, pelan sekali seperti gerak slow motion dalam adegan film.
Dan ketika cadar itu hampir tersingkap...
Sungguh teramat sangat saya sayangkan...
Saya terbangun!
Sebel!
“Perempuan itu Mulia!”
Totem pars pratoto
Sebagian yang diseluruhkan.
“Cowok itu...BRENGSEK!”
Pernyataan itu muncul dari seorang perempuan, yang menurut pengakuannya dicintai, dikagumi, dan disayangi oleh banyak laki-laki. Begitu banyak lelaki yang mengharap uluran cintanya. Tetapi anehnya bukan bahagia yang ia dapatkan, melainkan luka yang ia rasakan.
Terang saja luka yang ia rasakan, karena semua lelaki yang menghampirinya itu rata-rata memberikan sesuatu yang semu. Yang kadar kesenangannya hanya sesaat. Berharap beroleh kesenangan sejati, tapi yang ia dapatkan adalah luka hati.
Ia memang tampak kelihatan tangguh, tegas dan pantang menyerah. Tapi siapa sangka dibalik ketangguhannya sebagai seorang perempuan ia sejatinya rapuh, dan begitu mudahnya dipatahkan pertahanan bentengnya oleh makhluk bernama laki-laki. Ia seperti bersembunyi dibalik perangai tangguh. Sedemikian sering serangan yang terus memborbardir dari berbagai penjuru membuatnya hampir tak berdaya. Dalam ketakberdayaan itulah ia memberanikan diri untuk membunuh.
“Aku adalah pembunuh. Untuk kesekian kalinya, aku telah membunuh perasaan laki-laki terhadapku.” Meski pembunuhan itu ia lakukan dengan penuh rasa iba dan diluar keinginan yang begitu hebat. Tetapi ia tetap melakukannya.
Setelah itu ia akan murung beberapa hari sebelum akhirnya pulih kembali seperti sedia kala.
Membunuh adalah jalan terakhir agar perasaan itu tak hidup lagi. Membunuh adalah satu-satunya cara untuk bisa menghentikan langkah yang bisa mematikannya. Membunuh adalah pilihan ketika cara-cara halus dengan mendiamkannya, mengacuhkannya, tak membuat laki-laki berhenti mengejarnya. Ya membunuh! Ia menjadi seorang pembunuh!! Kepadaku, ia memberikan daftar nama-nama yang sudah ia bunuh dengan cara yang sama. Aku hanya terperangah tak percaya sambil berkata,”Sadis benar kamu ini.”
Dalam hatinya, sebenarnya muncul perasaan bersalah lantaran terlalu banyak perasaan yang dibunuh dengan tangannya. Meski tindakan itu diyakininya sebagai kebenaran, dan memang itulah kebenaran, tetapi perasaan bersalah itu tetap saja ada. Dan selalu menghiasi hari-harinya. Takut kalau-kalau ia akan membunuh lagi.
Sebuah kesan yang seakan melepas ketergantungan terhadap laki-laki, walau sebenarnya ia sangat merindukan, mengharapkan sosok yang membawakanya cinta suci melalui ikatan pernikahan. Hanya saja karena terlalu sering menemui beberapa laki-laki yang kebetulan berkepribadian brengsek, ia dengan mudahnya mengambil kesimpulan, bahwa sebagian laki-laki itu mewakili semua karakter kebrengsekan beberapa lelaki. Bahkan ketika ada seseorang yang berusaha serius mengajaknya menikah, entah sadar atau tidak, ia juga menyatakan bahwa laki-laki itu brengsek. Bahkan, ketika ajakan itu dilakukan dengan cara yang santun sekalipun!
Beruntungnya sejak awal, lelaki itu mengatakannya dengan sesuatu yang membuatnya perlu waktu untuk dirinya pikir-pikir.
“Aku ingin kita segera dipertemukan sebagai pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, dan canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi kehidupan rumah tangga. Kalaupun ada butir-butir bening yang menetes dari sudut air mata, semoga itu adalah air mata kebahagiaan
Kalau kau menerimaku (menjadi suamimu) aku ucapkan alhamdulilah, tetapi kalau sebaliknya aku lantangkan Allah Akbar! Sebab dengan begitu aku masih bisa tersenyum. Sebab itu pula, meraih atau tidak mendapatkanmu, cinta akan tetap saya dapatkan, karena saya melakukan ini semata-mata hanya untuk menjaga diri. Tak apa, kau tak menerima, masih ada banyak muslimah lain yang akan menerimaku.”
Lelaki itu bersyukur dan tak begitu gampang larut dalam gulana rasa.
Mari kita kembali ke cowok brengsek tadi. Aku hanya tersenyum ketika mendengar perkataannya semacam itu. Seperti tak pernah terpikir lebih dulu, bahwa kebrengsekan seseorang itu tidak hanya dilakukan oleh laki-laki. Semua orang berpeluang melakukan kesalahan, karena sejatinya akhir pada sebuah penilaian itu hanya ada dua, baik dan buruk. Bukan tampan dan tak tampan, cantik dan tak cantik. Dan, itu kaitannya dengan hati. Dan hati ada kaitannya dengan rasa. Brengsek berarti masuk kategori penilaian buruk. Dan penilaian itu erat kaitannya dengan pikiran seseorang.
Totem pars pratoto. Sebagian untuk seluruh. Begitulah pernyataannya kalau dikategorikan dalam majas. Saya meyakini dengan sepenuh hati, rasa, dan pikiran kalau pendapat itu keluar ketika hati, rasa dan pikiran itu sedang kalut, tidak dalam keadaan selaras.
Saya juga sama sekali tak terganggu ketika ada perkataan senada macam itu. Yang namanya pendapat itu sifatnya subjektif. Karena subjektif itulah, yang bertanggungjawab terhadap opini itu tentu saja si pelaku yang memberi penilaian itu tadi.
Saya tak bisa membayangkan, apakah nanti ketika ia menemukan sosok lelaki yang setampan Ali, sebaik Abu Bakar, seberani Umar, secerdas Usman maka akan mengalihkan pendapatnya menjadi Laki-laki itu baik!
Saya hanya berharap selaksa energi positif akan segera memenuhi ruang hatinya. Dan, sepercik energi positif itu sebenarnya telah ia dapatkan. Hanya saja yang jadi masalah, ia menampungnya di tempat yang khusus atau malah membiarkannya begitu saja. Salah satunya adalah ketika ia mengirimkan pesan singkat bahwa cowok itu brengsek, untuk meneguhkan penilaiannya itu, kepada seorang lelaki yang ia merasa nyaman ketika berada di dekatnya, ia langsung mendapat jawaban.
“Perempuan itu... MULIA.”
Sabtu, 11 April 2009
Kesalahan Terindah adalah Menyatakan Cinta
“Aku mencintaimu, kata-kata ini tidak akan pernah aku ucapkan pada satu orang perempuan pun kecuali satu, dia adalah ******* *****1!”
Satu kesalahan terindah adalah mengungkapkan perasaan cinta kepada lain jenis. Itu adalah kesalahan yang teramat fatal, sebab cinta hanya berhak dirasakan, diutarakan, diungkapkan hanya dan hanya jika setelah melalui proses ikatan pernikahan. Itulah cinta yang sebenarnya.
Kalau ada yang menyatakan cinta sebelum pernikahan itu berlangsung, itu sama saja omong kosong. Kalau pun aku, kau, atau dia terjebak melakukan itu, itu sama saja berarti melakukan kebohongan. Ketika sadar bahwa itu sebuah kesalahan, mari kita sebisanya, semampunya, untuk bisa lebih berhati-hati baik dalam bersikap, berucap, maupun bertindak.
Cinta itu sejatinya indah, bukan sebaliknya. Itu yang perlu digarisbawahi. Ketika ada cinta yang menyakitkan, itu perlu dicurigai kalau itu sebenarnya bukan cinta. Cinta itu, sekali lagi, indah!
Saya kadang bertanya, apakah selama ini kekhilafan, dimana banyak orang terjebak di dalamnya, berlandaskan pada kesungguhan atau hanya sebatas permainan belaka kata? Apa benar yang selama ini diungkapkan adalah sebenarnya cinta?
Dalam pencarian tentang makna cinta, saya menemukan sebuah hadits yang isinya sebagai berikut.
“Ada seseorang berada di samping Rasululllah Saw, lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasul tadi berkata, ’Aku mencintai dia ya Rasulullah...’ ‘Apakah kau telah memberitahukan kepadanya?” jawab Rasul. Orang tersebut menjawab belum. Lalu nabi berkata,’Beritahu dia.’ Kemudian orang tersebut memberitahukan kepadanya sambil berkata, ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah,’ Orang yang dicintai itu menjawab,‘Semoga Allah mencintaimu karena kau mencintaiku karena_Nya’2
Syahdan, ada seorang lelaki mengirimkan hadits itu melalui pesan singkat kepada sebuah nama, seorang perempuan. Ia sendiri tak tahu bagaimana bisa mengirimkan kepadanya. Apa naluri lelakinya yang bergerak dan langsung menemukan namanya.
Ia tertegun setelah melihat pesan di item terkirim di ponsel. Tertegun ia menatapnya. “Apa benar yang saya lakukan ini? Apa tidak akan menimbulkan beragam tafsir atau kesalahpahaman, mungkin?” kata lelaki itu dalam benaknya.
Ah, mudah-mudahan saja tidak. Perempuan itu, pikirnya, adalah seorang muslimah yang mengerti akan ini. Lagipula ia tak menambahkan atau mengurangi redaksi dalam hadits itu. Ia mengirimkannya dalam bentuk utuh.
Satu hal yang tidak disengaja, ternyata ia juga mengirimkan pesan yang sama kepada satu nama lain. Pesan itu langsung beroleh respon, dan menanyakan apa maksudnya. Tanpa pikir panjang, ia jawab saja apa adanya, kalau itu hadits. Sudah hanya itu.
Tampaknya jawaban itu tak membuat ia puas, sampai-sampai perempuan itu menegaskan pertanyaannya lagi. “Iya tahu itu hadits, tapi apa maksudnya?” Ielaki itu hanya diam, membiarkan dirinya larut dalam beribu penafsiran, menerka maksud mencari makna. Wajar perempuan itu ingin tahu jawaban yang sebenarnya lantaran lelaki itu pernah menyatakan sesuatu yang membuat hatinya menjadi bergetar, “Aku mencintaimu karena Allah”
Kini pernyataan itu menjadi bahan renungan buat lelaki itu. Apakah benar ia mencintainya karena Allah? Bukankah cinta itu hanya berhak dirasakan setelah menikah? Memang sepenuhnya ia sadar, tindakan itu adalah sebuah kesalahan (terindah). Lebih-lebih dalam hatinya sempat berkomitmen, untuk mengungkapkan itu hanya pada perempuan yang telah ia nikahi nanti.
Ya, ikrar itu telah ia langgar dengan mengatakan cinta kepada perempuan sebelum menikah. Meski belum ada kesepakatan diterima atau tidak tapi itu menyisakan satu penyesalan yang teramat dalam. Jawaban yang diperoleh ketika menyatakan hanya berupa, “Bismillah saja, kita lihat saja nanti ke depan.”
Begitulah kisah lelaki itu. Petualangan cinta lelaki itu sejatinya menarik untuk dikisahkan lantaran ada semua unsur pendukung untuk membuat cerita. Ada alur, konflik, plot, setting, dan juga tokoh tentu saja. Saya juga menangkap beragam ekspresi (bahagia, kecewa), dialog-dialog menarik.
Belakangan, Putri Salju mengabarkan kepadaku mengenai hadits itu. Hadits yang aku kirimkan kepadanya karena begitu penasarannya aku. Ia memang tak langsung merespon ketika saya meminta komentarnya tentang hadits itu, apakah itu bisa dijadikan landasan seseorang untuk menyatakan cinta.
Putri Salju ternyata mendiskusikannya dengan orang-orang yang capable untuk masalah ini. Hadits itu memang benar adanya, tetapi itu tidak berlaku jika menjadi dalil seseorang menyatakan cinta kepada lawan jenis, Hadits itu lebih bermakna kepada satu ikatan dalam bingkai cinta ukhuwah!
Jadi, jika ingin merasakan betapa indahnya cinta, maka menikahlah!
1. Istriku nanti
2. Hadits Riwayat Anas bin Malik.
Bagaimana Kau Mencintaiku?
Syahdan, secara tiba-tiba pertanyaan itu muncul dan tertuju pada seorang lelaki, dari seorang perempuan. Awal, ia tak bisa menebak bagaimana pertanyaan itu bisa muncul kepadanya. Tapi satu kepastian ia dapatkan beberapa waktu berikut, kalau ternyata itu adalah sebuah respon dari surat yang pernah lelaki kirimkan kepada perempuan yang memberikan pertanyaan itu : Bagaimana kau mencintaiku?
Sebenarnya isi surat itu lebih merupakan pada satu sikap pasrah atas segala usaha yang kini tengah ia perjuangkan untuk mendapatkan cinta perempuan itu. Satu sikap pasrah yang hanya pantas ditujukan kepada_Nya, bukan yang lain!
Hatinya bergetar mendapat pertanyaan itu tiba-tiba. Nyaris ia tak bisa berkata apa-apa. Satu pertanyaan sederhana, namun tak sesederhana ketika harus memberikan jawabnya.Yang lebih membuatnya tercengang, pertanyaan itu terujar dari lisan seorang perempuan dengan begitu tenangnya. Bagaimana kau mencintaiku? Ah, pertanyaan itu benar-benar mengganggunya.
Di tengah bergetarnya hati, berdegupnya jantung, ia pun menjawabnya.
“Saya mencintaimu karena Allah!”
Lelaki itu menjelaskan pula, pula kalau sebenarnya perempuan itu memang ada dalam semua kriteria yang diidamkan, seperti yang dirinya tulis dalam daftar cinta di buku harian. Daftar cinta adalah salah satu bentuk model keinginan yang ia harapkan, ia impikan, lalu ia tuliskan di catatan harian. Tampaknya ia salah satu orang yang memercayai relativitas (hukum ketertarikan). Ketika menarik keinginan, maka keinginan itu akan mendekat!
“Dengan perasaan cinta itu pula saya bisa menulis beberapa cerpen, yang memang sepenuhnya terinspirasi darimu,” jawabnya lagi.
Dan ternyata, semua jawaban yang ia lontarkan belum memberikan jawaban sebenarnya. Ia sadar itu, lantaran menjawab dengan ketergesaan di tengah gelisah hati yang menghunjam. Namun, dari situlah, muncul pertanyaan,
“Jawaban seperti apa yang kau harapkan, perempuanku?”
Begitu perempuan itu meminta jawaban selengkapnya, ia pun berusaha memberikannya dengan lebih dulu menenangkan hati yang bergetar.
“Sebenarnya ada satu hal lagi jawaban yang akan saya berikan. Hanya saja, jawaban itu akan kau dapatkan kalau memang kau sudah jadi istriku nanti. Itu artinya ada satu hal yang tak ingin aku ceritakan bagaimana seharusnya aku mencintaimu, karena sebenarnya perasaan cinta dan bagaimana seharusnya itu hanya dan hanya jika bila dirasakan pada muara yang satu, yakni ikatan pernikahan. Karena kau memang belum menjadi istriku, jawaban yang lengkap pun belum kau dapatkan, akan kujawab nanti setelah menikah!”
“Ya, itulah jawaban yang saya inginkan untuk pertanyaan itu.”
Oh iya, kau tentu penasaran seperti apakah surat itu, sampai perempuan itu melontarkan pertanyaan, bagaimana kau mencintaiku? Begini isi lengkap surat itu:
Sudah cukup lama aku mengenalmu, dan selama itu pula kau mengenalku. Dan semasa perkenalan itulah sempat muncul getaran lain ketika aku berada dekat denganmu. Mengenai apa yang aku rasakan, sudah aku utarakan kepadamu. Mengenai seperti apa hasilnya, itu sudah menjadi keputusanmu. Meski kita tak bisa menerka, apa yang akan terjadi kelak, apa kau akan bersanding denganku, atau sebaliknya.
Kalau pun itu sudah benar-benar menjadi keputusanmu, dan sudah dipertimbangkan secara matang, aku menerima. Dan, ini bisa menjadi pelajaran berharga buatku bagaimana seharusnya saya berbuat, bersikap, dan juga berucap ketika menghadapi permasalahan yang sama seperti yang pernah terjadi antara aku terhadapmu.
Pengalaman itu membuatku semakin mantap untuk berketetapan, apa yang akan aku ucapkan, lakukan, dan aku pikirkan sehingga menjadi sesuatu yang bernilai ibadah. Semua dilakukan semata-mata demi menjaga diri. Dan, kalau pun saya menemui pengalaman yang sama, saya akan mengatakan langsung dengan satu pernyataan,
"Maukah kau bicara soal masa depan denganku?"
Atau bisa juga dengan ungkapan yang ini,
“Maukah kau menjadi ustadzah buat anak-anakku nanti?”
Saya pikir pertanyaan ini adalah kalimat sederhana, dimana kalau dia mau, ya Alhamdulillah, dan itu berarti rencana bisa diteruskan. Bila tidak ya tidak mengapa, toh ibadah nikah, tidak harus selalu dengan dia. Dengan siapapun tetap dapat pahala, asal ikhlas sama ikhlas. Daripada lama terkatung katung, antara rindu dan ketidakpastian, kan lebih baik segera ditanyakan. Oke atau tidak, selesai :).
Itu bisa berarti, aku harus mengulangi pertanyaan ini secara tulus pada muslimah lain. Yang penting, aku sudah punya kesiapan menghadapi kenyataan. karena itu adalah modal awal dari hilangnya kegundahan.
Aku meyakini, bahwa yang akan menjadi istriku hanyalah yang ditakdirkan_Nya untuk menjadi istriku. Walaupun seseorang telah memakai gaun pengantin, telah duduk dua saksi dan bertatap wajah dengan penghulu, kalau bukan jodoh kita dalam catatan takdir, maka kita tidak akan pernah bisa kita raih sebagai istri. Sebaliknya kalau memang seseorang itu memang jodoh kita dalam kehendak_Nya, maka sekalipun sekarang masih berada di ujung kutub utara, maka Allah akan hantarkan ia kepadaku, atau aku yang dihantarkan_Nya untuk menemuinya dia.
Memang takdir tidak bisa dipaksa. Kalau tidak mau, yang lain pasti mau!
Siapa yang lain itu? Ya aku cari lagi dan tanyakan lagi seperti tadi.
Sederhana bukan pemikiranku? sepanjang kita siap menerima siapapun yang ditakdirkan_Nya buat kita, maka Insya Allah hidup ini akan terasa mudah, indah, berkah dan bernilai ibadah.
Dan, ketika nanti aku menemukan pengalaman yang sama, dan aku tidak mampu mengungkapkannya secara lisan, maka akan aku kirimi dia surat. Surat itu sudah aku siapkan, dan sewaktu-waktu siap untuk dikirimkan. Lebih jelasnya, surat itu aku lampirkan seperti yang tertulis di bawah ini.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيم
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan setiap sesuatu berpasang pasangan.
Dan Dialah yang menjadikan manusia berjodoh jodoh, agar hadir kedamaian hati
dalam kebersamaan pada ikatan nikah tadi, bersemi kasih dan berkembang cinta
bersama waktu yang dijalaninya.
Biru...(Akan kupanggil ia dengan sapaan yang ia sukai) cukup lama saya mengenalmu, demikian juga kau terhadapku. Kau mengenal kekurangan yang ada pada diriku, saya pun mengenal kebaikan kebaikan yang ada pada dirimu. Begitu juga sebaliknya. Hari ini lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada padaku, sepenuhnya menyadari kelebihan dan keterbatasanmu. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan hambaNya. Maka hari ini kuutarakan niat bulatku untuk mengajakmu menjalani kehidupan keluarga, aku mengajakmu untuk beribadah memelihara diri dan keluarga dari api neraka. Bersamamu kita membesarkan anak anak kita. Tak ada yang kujanjikan kepadamu, selain harapan hidup lebih baik di sini dan nanti, lewat kepaduan dan saling memahami dan mengerti antara kita.
Kalau berpikir bahwa ide ini layak untuk dipertimbangkan. Maka marilah kita masing masing berdo'a :
“Ya Allah kalau dia (aku sebutkan namamu dalam do'aku dan kau sebutkan namaku dalam do'a mu. OK ?) baik buat akhirat saya, agama saya dan dunia saya, Maka jadikanlah hati saya mudah untuk menerima dia dan lapangkanlah jalan kami untuk melangsungkan pernikahan dan hidup tentram sesudahnya. Tapi bila dalam pandanganMu, dalam Ilmu Mu yang Maha Meliputi segala sesuatu, ternyata dia tidak baik buat akhirat saya, agama saya dan dunia saya. Maka mudahkanlah saya untuk mendapatkan yang lebih baik dari dia, dan mudahkanlah dia untuk mendapatkan yang lebih baik dari saya. Padamu kami bertawakkal, dan padaMu kami berserah diri.”
Insya Allah, akan ada petunjuk dari Allah untuk kita. Sehingga mudah bagimu untuk memberikan sebuah keputusan atau lebih tepatnya sebuah jawaban menerima/menolak ajakanku. Kalau iya, maka mari kita bicarakan kelak, apa yang harus kita persiapkan, sehingga masing masing kita bisa hadir dalam sosok yang lebih baik lagi dari sekarang ketika berganti posisi dari ’kakak - adik’ menjadi istri atau suami.
Dan kalau pun tidak, aku tidak menyesal, semoga saja kau mendapatkan yang lebih baik dariku, sebagai mana aku pun mendapatkan yang lebih baik darimu. Dan apa yang telah terjalin di antara kita tetap akan menjadi bagian yang sangat indah dalam hidupku. Aku takkan melupakannya. Kita akan tetap sebagai ‘kakak-adik-. Setidaknya dengan kepastian jawabanmu,. aku berhenti berangan angan, ingin menjadikan kau sebagai istriku.
Bila di dunia ada syurga,
Maka itulah kehidupan rumah tangga yang romantis dan harmonis.
Bila di dunia ada neraka,
Maka itulah kehidupan rumah tangga yang tak selaras.
Bahagialah mereka yang diamnya berfikir,
memandangnya mengambil pelajaran,
mendengarnya mengambil hikmah,
dan dalam tindakannya orang mengenal indahnya Islam.
Sabtu, 07 Maret 2009
SMART STUDENT COME FROM NICE TEACHER
Aku mengulang sejarah baru. Menjadi pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Bahasa Asing, International English Center. Akan kubuat hari-hariku pertemuanku perdana mengesankan, dan akan kujadikan pengalaman itu menjadi menyenangkan. Mendengar gambaran singkat dari Andini kemarin, sepertinya kelas yang saya handle akan benar-benar menarik dan menantang.
Ada tiga anak kembar yang aku ajar dalam kelompok belajar. Satu siswa laki-laki dan dua perempuan. Namanya Bagas, Mutia Arum, dan Mutia Citra. Ketiganya memiliki kesamaan sifat:Sensitif! Itu artinya saya harus lebih jeli membaca perangai ketiganya.
Tak hanya menghadapi anak kembar tiga. Saya juga berhadapan anak hiperaktif. Ya, ada satu anak yang tak bisa diam barang sejenak. Selalu saja ada yang dikerjakannya. Saya jadi ingat, ketika saya mengajar di SDIT Sabilul Huda Kota Cirebon. Walau pun saat itu kapasitasnya sebagai guru pengganti. Kebetulan saat itu menggantikan kelas Ruswanto. Pada kesempatan yang baik itulah, saya pertama kalinya menghadapi anak hiperaktif yang begitu temperamental. Diganggu sedikit saja, ‘meledaklah’ amarahnya.
Pernah dirinya merasa kenyamanannya saat menggambar terganggu, ia pun mencecar si pengganggu sampai dapat dan diajak duel, setelah puas mengajak damai. Ia juga kerap melakukan sesuatu yang tak terduga, mengejutkan, sekaligus mencengangkan! Misal, tiba-tiba ia ke depan kelas, dan langsung merobohkan papan penyangga whiteboard. Jatuhlah papan tulis itu hingga membuat suara gaduh. Setelah itu emosi anak itu reda seketika dan duduk manis di kursinya seperti tak terjadi apa-apa. Tak hanya itu, saat shalat duhur berjamaah juga kekhusyukannya terusik. Baru saja, mengangkat tangan mengucap, Allahu Akbar... tiba-tiba dari belakang temannya yang usil menggoda. “Gendut-gendut... Gendut gendut...” Blar! Hilanglah seketika konsentrasi menghadap Sang Pencipta. Terjadilah kejar mengejar di antara barisan shaf. Dapat, terjadi duel yang sengit. Setelah merasa cukup damai lagi lalu melanjutkan shalat yang tadi terpotong. Tenang kembali seperti tak terjadi apa-apa.
Bisa jadi lantaran wajahnya yang ngegemesin, sampai-sampai teman-temannya banyak yang iseng godain. Kalau digambarkan, perangai dan postur tubuh anak itu seperti Giant, dalam film kartun Doraemon. Ah, saya jadi penasaran, kira-kira seperti apa anak hiperaktif yang akan saya temui nanti?
Sensitif, dan hiperaktif. Dua kata sifat murid-muridku yang telah kugenggam. Ada satu lagi anak yang tak bisa saya definisikan kata sifatnya. Anak itu kerap bertanya pada hal-hal yang tak semestinya. Solusinya hanya satu untuk anak yang selalu pintar-pintar bertanya, yaitu pandai-pandai menjawab!
Anak adalah permata-permata masa depan yang akan mencerahkan. Untuk membuat permata itu berkilau, gurulah yang memolesnya. Saya percaya, bahwa smart student come from nice teacher! Itu artinya saya harus menjadi guru yang baik!!
Ehm! Sinyal atau tanda-tanda saya akan menjadi guru yang baik, rupanya sudah kulihat. Sebelum saya mendapat kelas mengajar, secara kebetulan saya diajak Paman untuk menjadi panitia di sebuah acara pelatihan guru TPQ. Trik, Metode mengajar, sampai sesi Psikologi anak pun saya serap habis-habisan secara gratis. Saat itu saya memosisikan diri sebagai spon yang mampu menyerap apa saja sesuatu yang berkaitan dengan air. Yang lebih memantapkan lagi, secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku hebat, Quantum Teaching, karya Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nouri yang diterbitkan KAIFA. Buku itu membuat saya menjadi makin percaya diri to be a nice teacher!
Langganan:
Postingan (Atom)