Senin, 25 Agustus 2008

SENJA DI ATAS KERETA

Cerpen : Ali Irfan

Seorang lelaki duduk di sisi rel kereta. Sesekali ia mengambil batu-batu kerikil untuk kemudian dilemparkannya. Menatap ia ke kekosongan. Tatapannya tak menentu. Sesekali menatap ke arah depan, kanan dan kiri. Cukup lama ia menatap satu tatapan, bisa sampai setengah jam.

Di sebelahnya ada sebotol mineral. Baru saja ia mengambilnya di jalanan dekat tong sampah. Masih terisi sekitar seperempat botol sedang itu. Ada juga sebungkus nasi di dekat lelaki itu. Bungkus nasi itu sudah tak rapi, tampak kusut kertas warna coklat itu. Pun sama, sebungkus nasi itu baru saja ia ambil dekat tong sampah dekat warteg.

Sudah cukup lama aku memperhatikan lelaki itu. Sembari duduk menunggu datangnya kawanan gerbong yang dipandu lokomotif oranye, yang akan membawaku pulang ke Surabaya.

Seperti biasa, kereta kali ini terlambat tiba di Stasiun Kejaksan. Lelah aku menunggu, hingga pantat terasa panas. Sudah dua jam lebih aku menunggu. Ahh! keterlaluan, desahku.

Tak hanya aku yang tampak kepayahan menunggu. Ibu yang menggendong anak dengan barang bawaan sebanyak dua kardus pun sama. Sesekali anaknya menangis. Anak itu baru terdiam, saat ibu memberi asi yang tersimpan dalam buah dada yang sudah tak montok lagi.

Bapak-bapak di samping, juga tampak kesal. Sudah berbatang-batang rokok ia habiskan. Bisa jadi, dalam paru-parunya kini mengepul penuh asap. Masih di keresahan, ia membuka kembali bungkus rokok kretek. Isinya tinggal sebatang. Buntalan tembakau yang masih mengepul tinggal seperempat batang, dipitesnya hingga yang ada hanya lekukan asap yang hampir menemui mati. Bungkus itu diremas-remasnya. Lalu ia lemparkan ke tong sampah dekat tempat ia duduk. Sayang, lemparannya meleset. Tapi, pria yang mengenakan jaket kulit itu masa bodoh.

Bulatan angka yang terpajang di dinding, tepat di atas pintu masuk stasiun menunjuk pukul 17.05 WIB. Itu berarti setengah jam lagi menjadi genap tiga jam. Padahal sudah ada beberapa kereta dari Jakarta menuju Surabaya. Tapi, kereta-kereta itu bukan keretaku. Dua kereta yang telah lewat adalah kelas eksekutif. Satu kereta lagi kelas bisnis. Sementara tiket keretaku, hanya selembar kecil berwarna merah keunguan. Ukurannya tak lebih besar dari kartu kredit. Tepatnya dibagi empat.

Derit roda-roda kereta cukup membuat telinga rasanya ingin ditutup saja. Hentakkannya menimbulkan suara keras. Perputaran roda-roda besi itu layaknya mesin jahit yang sedang dioperasikan. Tapi itu hanya sekilas. Tak lebih dari lima menit, kereta besar itu melanjutkan kembali perjalannnya menyusuri lekungan-lekungan rel kereta yang bertabur kerikil-kerikil tajam. Juga melewati lorong-lorong gelap yang akan ditemui di setiap jarak tertentu. Gandengan gerbong-gerbong itu, hilang dalam pandangan mata.

Sementara aku masih berada di stasiun. Menunggu Gaya Baru Malam membawaku ke Surabaya. Menemui ayah ibu yang sudah lama tidak aku temui. Pekerjaanku sebagai wartawan menuntut aku kerja lebih. Tak punya banyak waktu luang. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin ke Surabaya. Beruntung, pekan ini libur tiga hari. Ada dua hari libur berturut-turut sebelum libur pekanan. So, Surabaya tak lama lagi aku pulang.
***
Sudah empat tahun aku tak pulang. Setahun lalu, saat masih di bangku kuliah, di sela aku menggarap tugas akhir, aku diterima kerja sebagai wartawan di sebuah media bisnis. Bertolak belakang memang dengan kuliahku, yang memang dipersiapkan untuk menjadi guru. Tapi, saya merasa cocok sebagai wartawan. Saya bangga menjadi wartawan. Kegiatanku di majalah kampus lah yang mengantarkanku hingga aku menjadi wartawan.
Surabaya adalah masa kecilku. Tepatnya di Bungurasih, dekat terminal. Di sana aku menghabiskan masa kecilku. Sesekali bermain di pelabuhan Tanjung Perak. Berenang di tepian tempat kapal-kapal besar berlabuh. Dengan bertelanjang dada, bersama teman-temanku, Iswara, Jabrik, dan Ramon, aku terjun diatas ketinggian mencari koin-koin yang dilemparkan para penumpang kapal.

Empat tahun lalu, diatas dermaga kapal pesiar, aku menyatakan cinta pertamaku pada Nastiti Prameswari, anak kepala sekolah tempat belajar aku dulu sewaktu SMA. Pak Sudibyo, ayah Nastiti, sampai-sampai memberi syarat. Untuk menjadi suami Nastiti, haruslah ia menjadi seorang guru. Bagiku, itu tak masalah. Apalagi, aku sudah diterima di sebuah kampus, satu-satunya di Cirebon. Aku juga tak habis pikir, kenapa aku bisa sampai Cirebon, padahal, kampus-kampus di Surabaya tak kalah banyak, tak kalah besar.
Kepergianku ke Cirebon saat itu diiringi deraian air mata Nastiti. Jemarinya erat menyentuh jemariku. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Aku usap dengan sentuhan jari tanganku lembut. Seketika itu Nastiti jatuh dalam pelukan seraya berucap, “Aku takut kehilanganmu.” Tiba-tiba saja, butiran air mata jatuh begitu saja tanpa permisi. Buru-buru aku mengusapnya. “Oh, Nastiti,” sebutku dalam hati.

***
Lelaki yang tadi aku perhatikan saat ia duduk di sisi rel kereta, tiba-tiba saja mendekat kearahku. Nasi bungkus dan botol air mineral ada dalam genggamanya. Aku hanya menatap dengan penuh keheranan. Takut membuat ia tersinggung, aku sunggingkan senyum. Kepadaku ia berkata,

“Tak lama lagi, keretamu akan tiba. Kau tunda saja perjalananmu lain kali.” Mendengar kata-kata itu, aku seakan menjadi aneh. Ada apa dengan lak-laki ini. Kenapa ia memintaku menunda perjalanan yang memang sudah kutunggu-tunggu.

“Maksud bapak?,” tanyaku penasaran.

“Kau tunda saja perjalananmu kali ini, lain kali,” hanya jawaban itu yang terujar.
Aku tak mengerti dibuatnya. Aku anggap saja angin lalu. Siapa lelaki itu berhak melarang aku pergi dengan kereta. Tidak lama, lelaki itu berlalu. Aku pun membiarkannya. Tatapanku tertuju kearah lain. Saat ku coba tatap lagi langkah laki-laki itu, ia sudah tak ada. Ku lirik kanan dan kiri jalan, tidak aku temukan.

“Tttttttttttttt!” terdengar bunyi kereta. Benar, tak lama kereta yang sudah lama akhirnya datang juga. Derit roda-roda besi berteriak menampar memekikkan.telinga. Sungguh, rasanya ingin kututup saja kedua daun kupingku. “Akhirnya,” kataku senang.
Tepat gerbong kelima, kereta berhenti. Sepintas aku dilanda keraguan, saat hendak menginjakkan pintu gerbong kereta. Keraguan itu datang, karena perkataan laki-laki yang tak aku kenal beberapa waktu lalu. Buru-buru kutepis semua perasaan tak enak itu. Kuyakinkan diri untuk berangkat saat itu juga ke Surabaya.

Bergegas aku, memasuki gerbong kereta. Berdesakkan. Sementara dalam gerbong, sepintas aku lihat tadi juga sama dijejali penumpang. Dengan susah payah, akhirnya aku dapat menjangkau kereta. Dan masuk dalam barisan gerbong nomor lima. Perlahan-lahan keretaku mulai bergerak. Semakin cepat, cepat dan cepat keretaku melaju.

Orang-orang berdesakkan. Penumpang yang berdiri tak kalah banyak dengan yang duduk. Entah di kursi ataupun duduk diatas lembaran koran yang ngelemprak dibawah. Kutatap ke depan. Sepertinya tak ada peluang ada kursi kosong. Lantas, aku berjalan menuju gerbong-gerbong lain di belakang.

Kereta melaju cepat. Sekilas kulihat keluar hamparan padi menghijau, tiang-tiang listrik tampak saling bersambungan. Aku melihat kendaraan-kendaraan lain tampak sabar berhenti di balik palang pintu kereta api menunggu keretaku lewat. Awan yang kulihat kini sedang menuju senja.

Aku heran, di gerbong yang berjejal penumpang ini tak ada satu pun kegaduhan. Tak seperti biasanya saat aku naik kereta beberapa tahun lalu. Semuanya terasa sunyi. Yang ada hanya teriakan roda-roda besi. Tak ada obrolan, apalagi candaan. Tangisan anak-anak kecil. Para pedagang asongan pun hanya berdiri mematung tak menjajakan dagangannya. Padahal, hari baru memasuki senja. Apa mungkin semua-mua orang tertidur. Perasaan tak enak coba kutepis.

Langkah aku lanjutkan, aku seakan melewati mayat-mayat yang didudukkan. Di tengah penuhnya kereta, tak aku temukan orang bercakap. Yang ada hanya kesunyatan. Sementara hari beranjak gelap. Senja sudah lewat.

Mataku tertuju pada seorang lelaki yang membuat aku tak mau mengalihkan pandangan walau sejenak. Lelaki itu mengenakan jubah hitam yang serba tertutup. Aku terpana. Lama sudah aku perhatikan. Berkali-kali ia menepuk pundak para penumpang kereta. Dan ini yang buat aku terkejut tak percaya, sesaat setelah menepuk pundak, dari mulut orang itu keluar bulatan cahaya yang bersinar kehijauan.
Aku bergegas menuju kearahnya. Memastikan apa yang sedang ia lakukan dengan menepuk pundak. Di tengah usahaku mencapainya, ia masih asyik sibuk mengambil bulatan-bulatan cahaya yang keluar dari mulut para penumpang kereta.

Bola-cola cahaya itu ia masukkan ke dalam kantong jubah yang ia kenakan. Aneh terasa, sesaat setelah bola cahaya itu keluar, beragam mimik wajah orang-orang itu. Ada yang tampak tersenyum, ada pula yang tampak muram. Hanya satu yang sama: mereka semua diam. Terkejut saat aku mendapati wajah lelaki berjubah itu. Sepertinya aku kenal. Saat aku sapa, ia masih tampak asyik mengambili bola-cola cahaya.

“Maaf,” kataku pelan.

Lelaki itu berhenti sejenak melakukan aktifitasnya memungut bola-bola cahaya. Perlahan ia memutar tubuhnya kearahku. Nyata!. laki-laki itu tidak lain adalah orang yang aku temui di Stasiun.

“Kenapa kau bisa sampai ke sini, kenapa tidak kau tunda perjalananmu kali ini, lain kali,” kata laki-laki berjubah itu.
“Apa maksud perkataanmu.”
“Sudah jangan banyak tanya, sebaiknya kau keluar dari kereta ini secepat mungkin,”
“Sebenarnya kau sedang melakukan apa di sini,” kataku.
“Aku sedang membantu meringankan lepasnya raga dari jiwa yang begitu pedih bagi mereka-mereka. Suatu saat nanti aku juga pasti menemuimu. Sebentar lagi kereta ini akan hancur,” katanya.

Seketika itu keringat mengucur deras.! Yang aku lihat dalam anganku sekarang adalah tergeletaknya mayat-mayat yang berserakan diantara himpitan-himpitan gerbong seperti berita kecelakaan kereta api di media massa yang pernah aku baca.

“Ayo, Cepat! Tunggu apalagi. Kereta ini sebentar lagi akan hancur!”
Aku diam tak bisa bergerak sedikitpun. Semua persendianku terasa luruh.
“Dasar keras kepala! Ayo!!”

Seketika ia menyeretku menuju ke tepi pintu gerbong kereta. Semua terasa cepat, tubuhku terlempar ke dalam kotakkan sawah yang berlumpur pekat. Tubuhku pun terbalut lumpur. Aku sempat berguling-guling ke dalam kubangan lumpur. Tak lama kemudian terdengar sebuah benturan sangat keras. Aku melihat gerbong-gerbong kereta bertumpukkan ringsek tak berbentuk. Dari arah berlawanan, kereta serupa melaju dengan kecepatan yang sama.

Seketika itu senja berubah menjadi gulita. Bola-bola cahaya terburai beterbangan mengisi kegelapan. Ada yang berubah menjadi kupu-kupu yang tetap dengan cahaya hijaunya. Ada pula yang berubah menjadi lintah menjijikkan yang redup tak bercahaya.[]

Kamis, 26 Juni 2008

Malaikat Seribu Cahaya

Oleh : Ali Irfan

Imajiku menari di panggung penuh kehampaan. Di kesendirian, di atas panggung itu, aku menari mengikuti alunan nada-nada kehidupan. Dinding-dinding, langit-langit, daun pintu dan jendela keheranan menatap aku. Seorang diri yang menari-nari melebur kesunyian layaknya Rumi. Aku begitu larut sampai-sampai berada di ambang ketidaksadaran, sampai di suatu subuh.

Bukan lelah yang aku rasakan, melainkan satu bentuk kepuasan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Padahal, diatas pementasan tunggalku tak ada satu pun yang menilai. Aku masih ingin menari, tetapi pagi keburu menyapa.

***

Saat aku duduk bersila di sepertiga malam, di tengah balutan sarung beralaskan sajadah, suasana begitu sunyi. Sesunyi hati ini. Segala kelelahan luluh, terasa damai. Kedamaian yang tiada tara. Mungkin kau juga pernah merasakakan sepertiku. Butiran-butiran tasbih kusentuhi satu persatu. Seratus kali, bahkan hingga ribuan kali bertasbih menyebut kebesaran-Nya.

Dan, santri-santri masih terlelap dalam tidur di bilik-bilik pesantren yang penuh jelaga bergelantungan. Silir angin menyusup melalui celah-celah kamar membuat jelaga itu bergoyang. Ghoji, tertidur dengan sebuah kitab kuning dipelukannya.

Baru-baru ini aku tahu, di sela-sela tekunnya membaca kitab, ternyata ada bacaan lain yang benar-benar membuat matanya merasa betah berlama-lama berhadapan dengan kitab kuning. Di sela-sela kitab itu, ada selembar surat cinta. Sepertinya dari seorang kekasih. Ia jadikan surat itu sebagai pembatas. Itu kutemukan tak sengaja. Kitab itu terjatuh saat ia masih tertidur, dan lembaran surat itu terlihat menyelip diantara lembaran-lembaran kitab kuning, Khazinatul Asrar.

Baru kali ini ia tertidur cepat. Biasanya tiap malam ia habiskan dengan bercakap-cakap lewat handphone yang ia pinjam dari Rochyat, teman tetangga bilik. Rochyat baru saja diterima sebagai mahasiswa IPB tanpa tes masuk. Entah dengan siapa Ghoji bicara. Yang jelas dengan perempuan. Suara yang diloudspeaker terdengar renyah, dan cukup mengganggu tidurku. Sudah kesekian kalinya aku terbangunkan oleh suara cekikian Ghoji yang entah sedang menertawakan apa. Rayuan-rayuan murahan terdengar jelas di telingaku. Meski aku belum sadar benar dari masa istirahku, percakapannya benar-benar membuat telingaku memekak.

Dalam kelelapan aku menyayangkan semua provider yang mematok harga murah bahkan sampai gratis di masa-masa orang larut dalam masa istirah. Di saat orang-orang menenggelamkan diri dalam hiruk pikuk pagi sampai sore. Dan malam, disitulah ketenangan sebenarnya ada. Bahkan, di waktu malam, malaikat akan turun membawa butir-butir cahaya menyambangi orang-orang yang sedang asyik bercakap-cakap dengan tuhan, bukannya mendekati orang yang yang tengah asyik berkencan lewat suara. Ya, mereka turun, ke orang-orang yang khusyuk bercakap dengan keberadaan sang Khalik. Membaca tanda-tanda malam.

Dan ketika malam telah ditegakkan[1]. Disitulah, Tuhan bersiap-siap mengutus ribuan malaikat turun ke bumi. Beragam makhluk yang terbuat dari cahaya tampak bersinar kegirangan mendapat tugas menemui makhluk bumi, membawa segenggam cahaya untuk bisa dimasukkan ke dalam relung jiwa yang tengah menengadah memanjatkan do’a, melantunkan ayat-ayat suci sekaligus bermuhasabah diri.

Dari langit ke tujuh, para malaikat mulai beterbangan. Sayap-sayap terbentangkan. Bentangan sayap itulah yang akan meluncur, mengudara melewati langit keenam, kelima empat, tiga, dua sampai langit yang persis di atas bumi tempat kita berpijak sekarang ini. Kalau saja, mereka tetap pada wujud aslinya, niscaya semesta ini tak mampu menampung keberadaan mereka. Betapa tidak, sekali membentangkan sayap, lebarnya jarak langit dan bumi tak mampu mendaratkan sayap. Bagaimana dengan ribuan malaikat yang diutus ke bumi! Atas itulah ribuan malaikat itu menjelma menjadi butir-butir cahaya yang beterbangan di tengah samudera semesta menembus kegelapan. Tampak sebagian dari mereka laksana bintang-bintang gemerlapan yang kau tatap dari bumi tempatmu singgah.

Tapi, alangkah terkejutnya tatkala malaikat sampai ke bumi. Di awal sepertiga malam, di sebuah pondok pesantren, terlihat beberapa santri lelap dalam tidur. Sesekali terlihat diantara mereka menggeliat. Para malaikat sempat kecewa, kenapa mereka tak bangun-bangun untuk bisa bercakap-cakap bersama Tuhan? Bukankah ini waktu yang tepat.

Aha, terlihat beberapa santri menggeliat lagi. Ia tersadar. Kedua tangannya mengucek mata. Melihat jam di sebuah ponsel miliknya. “Hampir jam dua,” katanya. Malaikat tersenyum. Terlihat ia beranjak dari karpet tempat ia tidur berbantalkan sajadah dan beberapa buntalan sarung. Langkahnya agak sedikit gontai menuju kamar mandi. Mungkin mau buang air kecil, kemudian mengambil air wudlu. Ia belum sadar benar. Ia agak sedikit cerah, tapi tak begitu cerah. Tapi sayang, ia kembali melanjutkan tidur yang terpotong. Bukannya mengambil kopiah dan sajadah, ia malah menyomot ponsel yang ia pinjam. Kemudian menelepon entah siapa. Tapi yang jelas seorang perempuan. Malaikat yang tadi terlihat tersenyum mengernyitkan dahi. Ia hanya melihat butir cahaya yang ia bawa dari langit dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian, ia melesat pergi menjauh membawa segumpal kecewa.

***
Merasa masa istirahku terganggu, aku beranjak dari selembar alas tidur. Kubasuh muka ini dengan cipratan air wudlu. Menoleh ke arah Ghoji, ia acuh. Sepertinya ia benar-benar menikmati perbincangan yang menurutku hanya buang-buang waktu saja, berkencan lewat suara.

Sengaja aku menuju ke surau, mencari ketenangan untuk bisa bercakap-cakap dengan alam. Pukul setengah tiga pagi. Tak terdengar suara meski suara jatuh sehelai daun pun, apalagi suara Ghoji yang tengah asyik menelepon di pagi buta. Katanya, menelepon tengah hingga sepertiga malam murah, bahkan kadang gratis. Modal begadang, cukup buat hati senang.

Inikah malam-malam dimana ribuan rahmat ditembakkan dari langit. Di mana, dimana cahaya itu. Aku ingin sekali melihat bagaimana cahaya itu ditembakkan malaikat di sepertiga malam. Siapakah orang yang beruntung mendapat sapaan cahaya yang dibawa malaikat di sepertiga malam ini.

Di tengah aku menatap gelap, tiba-tiba aku melihat langit hitam itu membelah. Sekilas cahaya merobek gumpalan-gumpalan awan hitam. Cercah bintang-bintang mulai menyurup. Dan sedikit bergeser ketika kilatan cahaya putih menyilet langit. Sunyat. Aku merindukan saat-saat seperti ini.

Sudah seribu kali putaran tasbih ini berputar setelah kutunaikan rakaat tahajjud. Butiran biji-biji tasbih kenyang aku sentuh satu persatu-satu. Sebanyak itu pula bibir ini basah dengan kalimat tasbih.

Brag! Tiba-tiba anganku mengarah pada sesosok rupawan. Di tengah kesunyatan, di tengah surau, saat aku tengah asyik berdzikir, tiba-tiba ada seorang perempuan muda cantik berbalut pakaian tipis menyapaku. “Sentuh aku kang, aku bagian dari pahalamu[2],” katanya dengan suara mendesah seperti suara angin. Mata ini kuat-kuat kupejamkan. Namun terasa pejal. Sepertinya aku memerlukan dua batang lidi yang panjangnya setengah batang korek api untuk membuatku tetap terjaga. Batang korek api seakan berkata, “Tatap dan sentuhlah! Ia bagian dari pahalamu.” Pahala, pahala. Itu bagian dari pahala bagi orang-orang yang telah meluangkan waktu di sepertiga malam untuk bercakap-cakap dengan alam, juga bercakap-cakap dengan Tuhan. Bisikkan, tiba-tiba menyeruak ke telingaku.

“Baiklah kalau kau tak mau sentuh aku. Menarilah saja denganku. Sepintas tadi aku lihat kau tampak gemulai menari sebelum kau hempaskan diri di hamparan sajadah. Ayo, menarilah, sudah lama aku tak menari,” kata perempuan itu.

“Kenapa kau diam saja, aku didatangkan ke sini untuk menemanimu yang sedang sendiri. Di tengah malam ini. Berapa kali harus aku bilang bahwa aku bagian dari pahalamu,” tambahnya lagi. Ya, sudahlah kalau begitu biar aku saja yang menari. Ingat, aku menari untukmu,” katanya lagi.

Keringat dingin menyapaku. Suara desahnya seakan mengharap aku untuk menyentuhnya dan mengajaknya menari. Benarkah, ini bagian dari pahala itu. Aku bimbang. Ah, bagaimana mungkin pahala tersaji gurih dihadapanku. Mata ini kupejamkan rapat-rapat.

Suara jenggeret memecah kesunyian, namun tak menyeretku dalam kekhusyukkan. Di hadapanku, terdengar suara degupan kaki yang menyentak berirama. Suara itu terdengar memutar. Sebuah selendang menyangkut melewati wajahku, bau harum perempuan binal tercium kuat di hidung. Sepertinya tarian itu sudah dimulai. “Ayo, menarilah denganku,” kata itu masih saja terngiang. Haruskah kubuka mata ini lebar-lebar. Ada dua pilihan. Menyeret perempuan itu ke luar surau atau menyetubuhi perempuan itu. Untuk pilihan kedua ini, aku tak mau. Ia belum halal. Lagipula ini tempat suci. Bisakah aku melalui pagi ini.

***
Di tengah pejaman mata aku melihat. Ada seberkas cahaya menyapaku. Dengan kecepatannya seberkas cahaya itu melilit tubuh dan menyeretku membahana ke angkasa. “Hei, kau mau bawa aku kemana?” aku mencoba berontak. Namun tetap saja, aku terseret, aku tak mampu berontak. Aku menurut saja, membiarkan tubuh ini terbawa berkas cahaya. Malaikatkah engkau? Kenapa tak kau tampakkan saja rupamu lalu kau pinjami aku sayap agar aku bisa ikut terbang bersama kemana engkau mau.

Ada pemandangan lain yang aku saksikan di tengah gelapnya malam. Beribu-ribu cahaya melesat cepat menyilet langit. Cahaya apakah itu. Lalu kenapa tiba-tiba menghilang. Aku terhenti di suatu tempat yang tak ada siapapun kecuali aku, seorang diri. Tiba-tiba terdengar suara azan, menggema. Di tempat sesunyi ini. Dari mana arah suara itu. Aku melihat sekeliling, hanya hamparan kosong.

Dan, alangkah terkejut saat mata ini benar-benar terbuka. Sebaris orang tampak sedang melakukan jamaah subuh. Subhanallah, jam berapakah ini? Kulihat jam di salah satu dinding sebuah surau. Setengah lima! Setelah itu mereka mengucap salam, dilanjutkan dengan dzikir. Aku buru-buru keluar surau mengambil air wudlu.[]

[1] Qur’an Surat Al Lail Ayat Pertama
[2] Saya kutip dari sajak Joko Supriyadi “Dosa di Shalatku” yang dimuat di Horison Kakilangit 72/Desember hal 20.

Menyentuh Keranda


Cerpen : Ali Irfan

Subuh, ia masih sempat menjadi imam, mengisi ceramah pagi di surau pesantren. Selepas shalat ashar, seusai tengokkan salam kedua ia sudah tak bergerak lagi. Tepat pukul 16.15 saat hari menapaki senja, ia sudah tak lagi memiliki nafas.

Terang saja kabar kematiannya cukup mengagetkan. Orang sepertinya benar-benar langka. Komentar-komentar terus berdatangan. Kenapa harus orang seperti ia yang mesti disudahi pinjaman nafas lebih awal? Masih belum ada orang yang pantas menggantikan seperti adanya.

Sepertinya masih banyak orang yang belum berlega hati melepas kepergian lelaki kharismatik itu. Tak ada air mata yang mengiringi kepergian sosoknya. Mungkin masih ingat pada sebuah pesan yang pernah ia lontarkan hingga tak ada air mata saat ada kematian. “Tak perlu menangisi sesuatu yang telah pergi, tapi ketika itu bisa membuatmu sedikit tenang, menangislah,” begitu pesannya.

Kematian yang begitu indah. Terduduk di tahiyat akhir, dengan telunjuk masih melambangkan bahwa segalanya akan bermuara pada yang satu.

Suatu kali semasa hidup ia juga pernah berpesan, “Saya menginginkan kematian yang sederhana.” Dan keinginan itu ia dapatkan. Sebuah kematian sederhana yang tak terduga.

***

Berita kematiannya begitu cepat menyebar. Dalam hitungan menit, rumah yang terletak di samping surau pesantren dipadati pelayat. Shalawat menggema tak putus-putus. Wajahnya begitu damai, tenang seakan tak ada beban. Terlihat ia seakan tersenyum. Pelayat berdesakkan ingin menyentuh jenazah terakhir sebelum dikebumikan. Apa? Menyentuh jenazah! Yah, menurut mereka menyentuh jenazah seorang ulama akan kecipratan berkah. Entah darimana kepercayaan itu timbul. Seolah-olah jenazah itu adalah sesuatu yang sakral.

Sebelum prosesi pemakaman. Kerabat keluarga tampak memandikan jenazah, di sebuah tempat tertutup oleh kitaran kain putih membentang persegi. Tampak orang terdekat memandikan. Di bibir jenazah terukir senyum keabadian, seolah tak ada beban, lepas mengabadi. Keranda di depan sudah siap menanti. Lalu lalang orang berdatangan dan semakin banyak saja.

Sebagian terlihat menyolati sebagai bentuk penghormatan terakhir. Tak putus-putus hingga satu hari satu malam. Kerabat-kerabat berdatangan dari dalam dan luar kota bahkan sampai pelosok. Kebanyakan yang datang dari luar kota mengenakan jubah putih. Kata orang-orang, mereka adalah seorang habib, keturunan rasul Muhammad. Kabar yang begitu cepat.
Sore senja hari hingga beranjak malam, pagi sampai sore lagi para pelayat tidak putus-putusnya. Apa yang membuat kematian itu begitu istimewa. Lalu, dimana kematian yang sederhana. Adakah kematian itu seperti yang diinginkan?

Para ulama, santri-santri, pendeta, pejabat, aktifis partai politik sampai artis datang melayat. Terang saja, menyorot perhatian wartawan. Hingga tak heran, hampir semua koran menurunkan headline tentang kematian yang begitu istimewa ini. Turut juga hadir orang biasa, pemulung sampai tukang sampah. Mereka memunguti sisa-sisa botol air mineral dari sebuah jamuan. Shalawat tak henti-hentinya bergema. Kematian siapakah ini. Pastinya, bukan kematian sembarang orang.

Keranda siap diberangkatkan ke pemakaman. Jarak rumah menuju pemakaman, lu-mayan jauh untuk ditempuh jalan kaki. Lima kilometer! Orang-orang di luar sana sudah dari tadi menyemut.

Sempat terjadi perdebatan, mengenai proses pemberangkatan, apakah menggunakan mobil ataukah diarak jalan kaki. Pilihan mobil jatuh karena alasan keamanan, apalagi melihat begitu banyaknya orang yang berhasrat menyentuh keranda karena alasan keberkahan. Ini tak sepatutnya terjadi karena mengarah pada syirik.

Tetap saja, perdebatan bermuara pada jalan kaki. Jenazah tetap diarak sampai ke pemakaman. Pasalnya, kematian seperti inilah yang diinginkan jenazah semasa hidup. Dan semua menerima alasan itu.

Shalawat masih terus menggema tak putus-putus. Keranda diberangkatkan. Seketika lautan manusia terbentuk. Luasnya melebihi batas pandang. Di kejauhan, yang terlihat hanya butiran-butiran kecil yang bergerak searah. Sebentuk hijau, bertalikan bunga tampak jadi pusat lautan orang.

***

Di pemakaman. Tampak empat orang sedang menggali tanah kubur. Mereka tampak senang, pasalnya tanah-tanah yang mereka gali begitu mudahnya. Jengkal demi jengkal tanah terangkat di ujung cangkul, hingga kedalaman satu setengah meter.

Benar-benar suatu kehormatan tak ternilai, bisa menyiapkan tempat peristirahatan terakhir. Kematian siapa lagi, kalau bukan kematian yang istimewa. Keringat mengucur sedikit, tidak terlihat wajah lelah. “Kenapa ya, orang seperti beliau lebih dulu dipanggil?” kata salah seorang diantara mereka. “Setidaknya ini menandakan bahwa kematian itu sebuah kepastian,” timpal seorangnya lagi.

“Apa kalian tak memerhatikan, tak seperti biasanya tanah-tanah ini begitu lunak untuk kita gali,” kata seorang lagi.

“Iya ya, padahal yang sudah-sudah tanah tidak selunak ini, bukankah ini musim kemarau?”

“Karena orang yang meninggal begitu istimewa,” jawab seorang lagi singkat. Mendengar jawaban itu, seketika mereka diam. Hanya ada desau angin. Daun-daun kamboja kering berguguran. Di tanah, sudah berserakan daun-daun kering itu menumpuk. Tidak lama lagi akan terurai menjadi humus.

Setelah hening beberapa jenak. Terdengar suara gemuruh dari seberang sana. Keempat penggali kubur itu langsung terkesiap, mencari dari arah mana sumber suara gemuruh itu. Samar-samar suara terdengar dari kejauhan. Terlihat oleh mereka, ribuan orang bergerak menuju arah pemakaman, iringan itu melangkah cepat. “Sepertinya penghuni galian kita telah datang,” kata salah seorang dari mereka.

***
Nyata! Sesuatu yang dikhawatirkan terjadi. Laju pengiring jenazah terhambat. Sebagian besar orang tampak mendekati keranda. Padahal di sekeliling keranda, melingkar pagar manusia. Keinginan mereka sederhana, ingin menyentuh keranda. Hanya itu saja.

Kontan teriakan larangan berhamburan. Petugas keamanan tampak menyeret bebe-rapa orang ke tepi. Mereka mengacaukan suasana. Iringan terus saja berjalan. Pemanggu keranda tampak kewalahan. Beberapa orang juga berebut giliran untuk dapat memanggu keranda. Saya, yang ada ditengah kerumunan itu hanya bisa menatap keriuhan yang terjadi di tengah sana. Saking banyaknya orang berebut menyentuh, sampai-sampai orang yang memanggu keranda itu terangkat di tengah keriuhan suasana. Uniknya iringan itu tetap saja jalan. Kondisi itu benar-benar tak terlelakkan.

Mendekati pemakaman, suasana makin gaduh saja. Bahkan makin kacau! Keranda itu hampir saja koyak. Kelambu hijau bertuliskan kalimat tauhid tampak tak rapi, tali-tali bunga yang melingkari keranda juga sudah ada yang putus. Iringan jenazah seketika berhenti, sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Gemuruh shalawat, sebagai lagu pengiring jenazah seketika terhenti. Suasana riuh mendadak sunyi. Sunyat di tengah lautan manusia di sore hari.

Semua-mua berdiri mematung, ketika menyaksikan keranda itu bergerak. Kelambu hijau itu terangkat angin. Jenazah di dalam keranda, yang mengenakan kafan putih terbangun dari tidur abadinya. Semua tak mampu berkata-kata. Tercengang!. Bulatan kapas putih yang melekat di kedua mata dan lubang hidungnya seketika ia lepas. Kain kafan, yang membalut hingga ke ujung kepala ia buat sedemikian rupa layaknya pakaian ihram.

Di tengah kerumunan ia beranjak berdiri, seperti hendak memberikan tausiyah di acara tabligh akbar yang dihadiri jutaan massa. Biidznillah! Ia kembali meminjam nafas untuk sekedar memberikan beberapa patah kata terakhir! Seperti sedianya, awal ia mengucap salam, tahmid juga shalawat. Lalu memberikan ceramah perpisahan.

“Bukannya ketenangan yang saya dapat, tapi malah keriuhan. Saya bukanlah orang yang patut kalian kultuskan. Kalian tak akan mendapatkan apa-apa dengan menyentuh kendaraan terakhir saya untuk menemui Tuhan. Saya menginginkan perjalanan kematian yang sederhana.”

Dan inilah masanya, masa kontrak pinjaman nafas juga ruh yang melekat dalam jiwa ini sudah saatnya untuk menghadap untuk dimintai pertanggungjawaban. Semua akan mengalami masa-masa seperti ini.

Di tengah perjalanan ke rumah terakhir saya melihat, kenapa mesti berdesakkan berebut untuk menyentuh keranda. Sudah saya tegaskan, kalian tak akan mendapatkan apa-apa dengan menyentuh keranda. Tadi saya sempat berdiskusi dengan malaikat. Malaikat pun hanya bergedek kepala melihat sebagian dari saudara-saudara berebut menyentuh keranda. Saya meminta ijin, untuk meminjam nafas saya kembali lima menit untuk menghindari hal-hal yang semestinya tak patut dilakukan.

Maaf saudara-saudara, saya tak bisa berlama-lama. Bidadari sudah menanti saya. Assalamu’alaikum.”

Senin, 23 Juni 2008

Akulah Pencuri Itu

Ada sebuah ketakutan ketika sesuatu yang bukan milikku berada dalam kuasaku. Buktinya ketidaktenangan mengusik. Tetapi aku menginginkanya. Aku tak peduli, bagaimana sesuatu itu aku dapatkan.

Apa aku melakukan kesalahan fatal hingga aku bisa seperti ini. Sudah dua hari ini, rasa tak tenang benar-benar mengggangu. Rasa-rasanya ingin kututup saja hati yang menyimpan segala rasa ini.

Akhirnya kuputuskan saja untuk mengatakan bahwa aku telah mencuri sesuatu di dirimu yang tak kau ketahui. Ya, karena aku melakukan itu di alam bawah sadar. Dalam keterpanaan aku melakukan itu. Kedengarannya lucu memang, seorang pencuri mengaku telah mencuri. Jarang-jarang ada pencuri mau mengaku.

“Maaf. Aku telah mencuri sesuatu milikmu. Kalau kau merasa kehilangan sesuatu akulah pencuri itu,” kataku yang kukirim melalui pesan singkat.

Aku sudah menduga, kau akan lama membalas pesan itu. Lagi pula aku tak begitu memerlukan balasan langsung. Berharap kau membalas tentu saja ingin. Mengenai bagaimana reaksimu, aku juga ingin tahu. Marah, aneh, terkejut atau kau malah berkata, ada-ada saja kau ini

Aku bisa terawang, kau pasti akan baca dengan sangat hati-hati. Bisa jadi, kau kernyitkan dahi. Apa maksudnya ini?. Mungkin itu kata-katamu yang akan terujar. Dan, penasaran kau dibuatnya. Aku mengharapkan itu.

Biar saja, bukankah kau juga sering buat aku penasaran. Kau bahkan merasa senang dengan kepenasaranku. Saat aku ingin tahu sesuatu, kau tak pernah mau cerita. “Ah, tapi itu nggak begitu penting,” katamu. Tidak penting bagimu, bisa jadi sangat penting untukku. Tak penting di mataku, bisa jadi begitu penting di matamu. Kita memang berbeda.

Dan, dua hari yang lalu, atau bahkan jauh-jauh sebelumya, aku telah mencuri sesuatu milikmu. Apa kau sadar telah kecolongan.
***
Sendiri aku terbaring di kamar. Kuintip melalui jendela tak ada sapaan bintang. Apalagi cahaya bulan. Hai, kalian sudah lama tak menyapaku. Kemana saja selama ini. Aku sangat merindukan sapaanmu.

Ingin rasanya aku pergi ke sana untuk bisa kucari sumber cahaya yang memberi terang. Biar aku saja yang bersinar. Kau tentu lelah. Tiba-tiba saja aku merasa sudah di bulan. Kupijakkan kaki ini perlahan-lahan karena gravitasi di sana tak sekuat di bumi. Takut-takut kalau aku berlari, aku terpantul dan menghilang dalam lingkaran kosmos.

Aku cari sumber cahaya itu, namun tak aku temui. “Aku hanya cermin yang memantulkan cahaya,” kata bulan. Pencarianku terhenti setelah bulan berkata bahwa ia hanyalah cermin, pantulan, tidak lebih. Dan aku telah salah memilih. Kala aku ingin mampir ke bintang, mereka masih di telan gumpalan awal. Lagi pula aku sudah lelah, sementara masih ribuan mil jarak yang mesti aku tempuh untuk menuju ke arahnya.
***
“Baru kali ini kutemui ada orang ngaku jadi pencuri. Emm..kayaknya nggak ada. Memang apa yang kau curi dariku?” sebuah pesan masuk ke ponselku.

Aku tak mengindahkah pesan itu. Ha.ha..ha..., setidaknya dengan pesan itu ia sudah mulai masuk dalam perangkap. Aku memang mencuri. Mengenai apa yang aku cari biar kau cari saja sendiri. Setidaknya dengan ijin lebih dulu, beban dosa mencuriku akan sedikit berkurang. Akan lebih mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan Tuhan perihal kenapa aku mencuri.

Aku tak mau ketidaktenanganku ini berlarat-larat. Makanya aku katakan saja, bahwa aku telah mencuri sesuatu darimu. Akulah pencuri itu. Tapi kau tak merasa kehilangan. Yah, karena aku melakukannya perlahan-lahan sampai-sampai kau tak merasakan itu. Karena aku begitu menginginkan itu, dan kau tak mau berikan itu kepadaku.

“Kok nggak jawab? Mang kau nyuri apa dariku? Perasaan aku nggak kehilangan apa-apa. Jangan bikin aku pusing donk, please...,” satu pesan lagi masuk.

Kena! Kau sudah masuk perangkap. Bisikku pelan. Beberapa jenak, pesan itu aku jawab.

“Setidaknya dengan mengakui itu, akan memperingan pertanggungjawabanku di hadapan Tuhan. Coba kau cek lagi, katanya peka. Masa nggak merasa kehilangan sesuatu. Ada yang kucuri darimu. Maafin ya,” begitulah jawaban pesan itu.

***
Jujur, aku terpana dengan laku lampahmu. Matamu ketika menatap dan senyummu selalu mengembang seperti bunga-bunga merekah. Laku bicaramu yang halus menyejuk-kan. Aku sangat menginginkan semua itu. Tapi, aku sadar, perempuan sepertimu tak bakal memberikan tatapan mata, senyuman dan semua-mua yang kau miliki kepada kaum adam. Langkahmu menundukkan pandangan.

Semua-mua itulah yang aku curi darimu. Hanya saja kau tak merasa kehilangan. Aku mencuri tatapan matamu untuk kuletakkan dalam mataku, hingga ketika menginginkan tatapanmu, tinggal kutatap saja di depan cermin. Dan aku melihat matamu. Tanpa sepengetahuanmu, aku juga mencuri bibir yang memberi senyum manis untuk kuletakkan di bibirku. Ketika aku rindukan senyummu. Tinggal kusunggingkan senyum saja di hadapan cermin. Dan aku melihat senyummu. Semua itu tersimpan rapi di memori otak menempati folder khusus di hati.
Aku tak ingin semua itu sirna seperti halnya kisah seorang gadis kecil yang diasuh se-orang pendeta hingga dewasa. Gadis kecil itu ditemukan pendeta, di sebuah kandang ku-da terpojok di sela-sela tumpukkan keranjang rumput. Tanpa sehelai benang pun!

Kecantikkan gadis saat dewasa justru membuat petaka. Laki-laki yang sudah beristri dibuat terpana dengan kecantikan dan kemolekan tubuh gadis itu. Padahal ia telah menjadi seorang biara, pelayan Tuhan di gereja-gereja karena asuhan si pendeta.

Kisah kecantikan sang biara ternyata bermuara pada fitnah. Sebagian besar ibu-ibu menyebutnya pelacur karena gadis gereja itu membuat suami-suami mereka jarang pulang. Suami-suami mereka justru malah bertingkah aneh. Pergi ke gereja bisa setiap hari hanya untuk melihat rupa si pelayan Tuhan. Gereja penuh, sesak. Si pendeta tampak senang. Ternyata warga di sini sudah mulai berubah, “Puji Tuhan,” pikir si pendeta saat itu.
Gadis yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar. Semua-mua tatapan orang yang men-dendangkan lagu pemujaan, tertuju pada biarawati itu. Hanya saja ada yang lain ketika itu. Kain lebat menutup semua wajah perempuan itu. Hingga yang ada seolah-olah kain lebat berjalan. Di tangan ia membawa sebuah baskom berisi air. Langkahnya terhenti di tengah-tengah mimbar. Suasana mendadak hening. Lantunan lagu pemujaan seketika ter-henti. Semuanya tertatap pada seorang perempuan yang sedang berdiri di depan.

“Maafkan aku Bapa. Saya belum bisa menjadi pelayan Tuhan yang baik. Tempat suci ini memang ramai dikunjungi jamaah. Tapi, tidakkah Bapa lihat. Semua-mua yang hadir di sini adalah laki-laki yang sebenarnya ingin mendapatkan tatapan mata. Dengan mak-sud tanpa mengurangi kekhusyukkan menghadap Tuhan, di tempat ini (sambil tangannya menunjuk ke sebuah baskom yang ia bawa) sudah saya berikan semua yang mereka inginkan.

Saya sudah mencongkel dan meletakkan kedua biji bola mataku untuk mereka. Saya sudah menyayat bibir yang membuat mereka dalam keterpanaan (sesaat). Dan, sekali lagi maafkan saya Bapa, saya tak bisa menjadi pelayan Tuhan yang baik.

Diletakkannya baskom yang berisi bola mata dan sayatan bibir biarawati itu. Semua-mua laki-laki yang hadir dibuat membisu kaku. Semua persendiran seakan tak lagi mam-pu menopang. Keringat, mengucur deras. Lalu perempuan itu melangkahkan kakinya per-lahan-lahan meninggalkan gereja. Kerudungnya basah oleh darah yang mengalir melalui lubang kedua bola mata. Siapapun tak berani menghentikan langkah perempuan itu. Tak terkecuali, seorang pendeta yang sudah lama mengasuhnya.

***
Aku tak ingin kisahmu berakhir pada tindakan bodoh yang tidak perlu. Apalagi tragis. Sepenuhnya aku sadar bahwa tindakan ini salah dengan mencuri-curi pandangan saat kau lengah. Dan senyumanmu itu selalu saja membuat jantung berdegup kencang. Makanya kukatakan saja, bahwa aku telah mencuri sesuatu darimu. Tapi aku mohon, jangan kau lepas bola mata indah yang melekat di matamu untuk kau berikan kepadaku. Karena aku tahu, sakitnya bukan main. Lagipula mengerikan!
***
Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah nomor yang belum aku simpan memanggil

“081317849XXX calling…”

Nomor yang tadi aku kirimi pesan menelepon. Aku berpikir beberapa jenak.mencari-cari keputusan untuk menjawab telepon atau tidak.

“Hallo,”
telepon itu aku angkat.

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara perempuan. Suaranya lembut. Dan ia mengawali perbincangan.

“Makasih telah mengingatkan. Kau benar, pengakuan bahwa seseorang telah berbuat salah itu perlu. Kesalahan itu manusiawi. Aku sendiri menyadari itu. Saya jadi ingat, dengan mengakui berbuat salah pertanggungjawaban di hadapan Tuhan akan lebih ringan. Lebih-lebih jika orang itu mau memaafkan…”

Aku tercengang tak bisa berucap sepatah kata pun. Nyaris tak diberi waktu bicara. Ia terus saja bercerita panjang. Di seberang sana terdengar suara yang memang merdu.

“Kau salah. Sepertinya kau perlu tahu yang sebenarnya. Aku sudah tahu siapa pencuri itu. Kau bukan pencuri itu. Justru, pencuri itu tidak lain aku. Aku selalu mencuri tatapan matamu yang sedang menatap di kehampaan, matamu begitu menyejukkan. Aku dibuat tenang menatapnya. Apalagi ketika kau tersenyum, membuat aku melambung. Aku sempat bertanya, apa aku sedang menatap ketampanan Yusuf?”

Aku makin dibuat tercengang.

“Aku percaya, tak ada manusia sempurna di jagat ini selain Muhammad. Penampilan bisa saja menipu. Masalahnya saya ingat kata nabi, kurang lebih menyatakan, ‘Orang melakukan amalan akhirat bisa jadi melakukan amalan dunia. Orang yang melakukan amalan dunia bisa jadi bermuara pada amalan akhirat’ kurang lebih seperti itu isi haditsnya. Yang saya takutkan adalah masuk kategori pertama. Terimakasih telah mengingatkan. Assalamu’alaikum....”
Seketika telepon di tutup. Aku masih tercengang.
----------------------------

Dua Helai Sayap Jibril

JIBRIL, tolong kau pinjami aku sayapmu!. Biarkan aku melesat dengan kepakkan sayap milikmu, yang dengannya aku dapat melesat jauh hingga ribuan mil. Aku merasa jengah berada di bumi ini. Di tanah bumi ini, aku tak ubahnya seperti kunang-kunang yang ge-merlap di siang hari. Aku benar-benar merasa tak berarti. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang di sana hanya ada kesunyian. Di sini, yang ada hanya gelak tawa sinis, kebohongan juga kata-kata manis yang menipu.

Ambilkan aku dua helai saja dari sayapmu yang mencapai ribuan itu. Dua sayap itu untuk aku tancapkan di kanan dan kiri pundakku. Aku tak bisa membayangkan kalau se-mua-mua sayap yang kau miliki ada dipundakku, mungkin aku akan berubah menjadi sa-tu titik yang tak tampak oleh kasat mata telanjang. Mungkin yang akan ada hanya kum-pulan sayap-sayap yang tergelatak di hamparan tanah, karena aku tak mampu memang-gulnya.

Aku serius Jibril, kenapa kau malah tertawa. Atau jangan-jangan tawamu itu adalah tawa sinis yang juga menyimpan penuh kebohongan. Lepas, lepaskan sayapmu itu, pin-jami aku sayapmu dan bawa aku terbang dengan kepakkan sayapmu itu. Tancapkan, tan-capkan ujung sayap itu dipundakku oleh tanganmu. Biar semua isi dunia tahu, bahwa aku bukanlah seorang picik yang tak mampu berbuat apa-apa. Aku ingin bisa sepertimu.

Aku pernah mendengar cerita tentang mu Jibril. Itu pun kalau daya ingatku tak ber-khianat. Yaitu saat kau menjelma menjadi laki-laki gagah dengan jubah putih menemui Muhammad anak lelaki Abdullah. Dan sahabat-sahabat Muhammad pun begitu tercengang saat melihatmu. Melihat seorang asing yang tampak begitu gagah, yang wajahnya begitu cerah, laku lampah yang menawan dan pasti.

Juga, kalau daya ingatku tak berkhianat lagi, cerita saat kau bertengger di antara langit dan bumi dengan rupa aslimu, untuk menemui Muhammad kau tampak semakin gagah, apalagi saat kau merebahkan kedua sayapmu. Ujung mata siapapun tak mampu melihat ujung sayap yang kau kepakkan secara perlahan. Pada saat itu, semua-mua orang yang menatapmu mengucurkan keringat deras karena kagum menatap kegagahanmu. Dan satu lagi, kepatuhanmu itu yang tak bisa dibandingkan dengan siapapun di jagat ini.

Beruntung aku bisa bertemu denganmu di tempat yang sunyi ini. Karena aku yakin, kau tak akan datang di keramaian. Bukankah kau suka kesunyian. Itulah sebabnya kenapa di malam sesunyi ini aku mau bersendiri hanya untuk menemuimu. Aku pun sama sepertimu, Jibril. Tak suka keramaian, hingar bingar, lalu lalang, beragam macam orang. Orang-orang yang penuh dengan kebohongan, orang-orang yang mengenakan topeng disetiap wajahnya. Menggeluti dunia yang belum juga sudah.

Tunggu, tunggu. Kenapa warnamu tak lagi cerah, semua-mua kulit yang membalut tubuhmu itu membiru. Kau tak habis bertarung dengan raja iblis bukan. Kau tampak lelah, Jibril. Apa karena kau terlalu banyak memecutkan halilintar hingga kau kehabisan tenagamu, aku mencoba menerka. Jibril masih diam. Bahkan ada helai sayap koyak yang tak tertancap rapi di pundakmu. Ya, dua helai sayap itu hampir lepas dari akarnya.

Jibril hanya menatapku diam, sembari melihati kedua helai sayap yang ada di belakang pundaknya. Matanya menatapku, raut muka Jibril tampak heran saat melihatku berceracas panjang-panjang dihadapannya sedari tadi.

“Kau mau sayap koyak ini?” kata Jibril

“Ambil saja. Aku sudah tak memerlukannya lagi” Tambah Jibril.

Ppfffkkkk!, cuppkkk!

“Sayap ini sudah lama membawaku membahana, dan memang sudah sepantasnya untuk diganti.”

“Benar Jibril?” Aku sedikit tak percaya saat Jibril mengujarkan itu.

“Ayo, cabut saja dua sayap ini, kedua sayap ini justru membuat aku tersiksa. Aku justru lebih senang kalau saja sayap koyak ini tak ada dipundakku lagi.” Ulangnya lagi.

“Benar Jibril?!”

“Ayo cabut saja, cabut dengan kedua tanganmu itu.”

Jibril menunduk, aku mendekati perlahan.

“Ayo jangan lama-lama, cabut saja aku tak betah berlama-lama menunduk seperti ini.”

Aku melihat sayap itu memang sudah koyak, helaian-helaiannya sudah tak rapi. Ujung akar sayap itu pun sudah saatnya untuk tercerabut. Mengalir cairan biru dari dasar akar sayap itu. Benar-benar aneh, bukankah sayap Jibril membentang jauh hingga batas pandangan mata pun tak mampu untuk menjangkaunya. Tetapi, yang ada dihadapanku ini tak ubahnya seperti manusia bersayap.

“Apa kau benar-benar Jibril?” Tanyaku.

“Bodoh, kau. Ya.. ini aku.”

“Aku bisa merubah wujudku menjadi siapa saja yang aku mau.”

“Boleh aku bertanya?” tanyaku pada lelaki bersayap.

“Kau boleh bertanya apapun, asalkan kau cabut dulu dua sayap koyak yang ada di pundakku ini. Aku sudah tak kuat dengan kepayahan ini”

“Baiklah, aku boleh bertanya apa saja bukan?”

“Iya, cepat kau lekas cabut sayap ini.”

Aku mulai merabai ujung bulu-bulu halus, menggenggam erat dengan kedua tanganku dibongkot sayap itu. Terasa alot tancapan sayap itu. Walau tampak koyak, masih kokoh.

“Kau itu laki-laki, kerahkan semua tenagamu.”

Aku kembali mencoba untuk mencabut dua helai sayap Jibril yang koyak itu. Terasa susah memang. Tapi aku yakin, sayap itu pasti dapat aku pisahkan dari pundak Jibril. Saat aku menarik sayap itu, mataku terpejam, bibirku kukatupkan dengan gigi. Pun juga dengan Jibril. Aku tampak payah, sekuat tenaga aku menarik sayap itu. Jibril menahan nyeri saat sayap itu aku coba cabut.

“Kau sama saja menyiksaku dengan berlama-lama membiarkan sayap koyak itu masih tertancap di pundakku.”

“Tidak, aku tak bermaksud menyiksamu. Kau tahan saja, sayap ini hampir lepas”

Dan setelah agak lama berpayah-payah, akhirnya sayap itu lepas juga. Sayap itu bergerak-gerak ditanganku, dan tak lama kemudian. Gerakan sayap itu tak lagi aku lihat. Seketika tumbuh dua sayap baru menggantikan dua sayap yang aku cabut dengan payah. Pucat biru yang tadi menyelimuti balutan wajah Jibril kini berangsur kembali seperti semula. Lelaki bersayap yang tak lain adalah Jibril itu tampak sebagai lelaki gagah.

“Sudah, dua sayap koyak milikmu itu sudah lepas. Sekarang kau bisa bangkit seperti pada mulanya, tak usah menunduk lagi.”

“Sayap itu sudah aku cabut, jadi aku boleh bertanya apapun kepadamu Jibril. Jibril sudah berdiri tegak tepat dihadapanku.”

“Lalu apa yang ingin kau tanyakan, sayap itu ambil saja buat kau. Aku sudah tak memerlukannya. Karena sudah tergantikan dengan sayap baru. Kau tak perlu heran, sebangsaku memang tak mampu mencabut sayap dengan tangan sendiri, ketika sayap malaikat mulai koyak, malaikat turun ke bumi menemui manusia-manusia sepertimu. Manusia yang memerlukan sayap malaikat untuk bisa menjadi malaikat walaupun sebenarnya itu tak akan pernah bisa.”

“Justru itu yang aku tanyakan. Aku ingin bisa sepertimu, yang tak merasa sunyi di kesunyatan. Sementara aku, aku benar-benar muak dengan semua sandiwara kehidupan yang memaksa aku memainkan peran yang tak aku sukai. Aku lebih menyukai peran sebagaimu, sebagai malaikat.”

“Sudah aku katakan, hanya orang-orang bodoh sepertimu lah yang terlintas dalam pikirannya untuk bisa menjadi sepertiku, seperti malaikat. Kau tak akan bisa menjadi sepertiku, tetapi kau bisa seperti aku. Dari sikapmu, laku lampahmu dan kepatuhan.”

“Ya tentang kepatuhan itu…” tanyaku kepada Jibril

“Bagiku, kepatuhan itu adalah kutukan, adanya perubahan masa kami tak diberi tahu, dan karena kepatuhan itulah yang sudah melekat kami tak bisa membantah. Apalagi melawan, kami tak diajarkan untuk itu, kami, hanya patuh terhadap segala bentuk perintah sang Khalik, apapun perintah itu, kami laksanakan. Aku tak bisa membayangkan kalau kau menjadi aku. Orang-orang sepertimu adalah orang-orang yang cepat merasa bosan, apalagi diturunkannya kau ke bumi hanyalah akan merusak apa isi dunia. Tetapi tetap saja, kau diturunkan ke tanah ini. Pernah aku mengelak saat awal-awal manusia akan diturunkan ke bumi. Tetapi entah kenapa hingga saat ini aku belum menemukan jawaban yang masih dirahasiakan itu. Yakni jawaban yang membuat kami kecut dan tak berani melawan.,”

“Bukankah lebih enak menjadi sepertimu.”

“Tidak, kau lebih enak menurutku.”

“Jadi kita sama-sama enak dong.” Serempak aku dan Jibril menjawab sama.

“Tapi, tidak kawan, kau lebih enak menurutku.”

“Hidupmu lebih berwarna, ada persaingan dan yang terpenting, kau tak sendirian.”

“Tapi,masalahnya aku merasa sepi meski di tengah-tengah keramaian.”

“ Itu bukan masalah menurutku, hanya saja kau terlalu egois.”

Aku, keakuan, egois.

Malaikat, kepatuhan.

Aku benar-benar tak mengerti. Kau tak mengerti apa keinginanku Jibril. Jibril malah tersenyum melihatku. Senyuman yang lama-lama menjadi tawa Pffffk, Cuppkk!!!!

Kenapa kau malah melebarkan tawamu Jibril. Tawa jibril begitu menggema, rasanya ingin kututup saja telinga ini. Kedua daun telinga yang aku miliki tak mampu mendengar Jibril mengeluarkan gelak tawa yang seolah mengejekku.

“Aku tidak main-main denganmu Jibril.”

“Aku pun demikian,”

“Bagaimana dengan kedua sayap koyak ini Jibril.”

“Terserah mau kau apakan sayap itu, sayap itu sudah menjadi milikmu. Aku tak berhak dengan sayap itu, bukankah kau menginginkan itu.”

“Ajari aku memasangkan sayap ini dipundakku.”

“Tak akan bisa. Kau terlalu mengada-ada. Mesti berapa kali aku bilang, kau tak akan pernah bisa menjadi sepertiku.”

“Bagaimana mungkin tak bisa kalau kau belum mencoba mengajariku.”

“Dasar manusia keras kepala. Terserah mau kau apakan sayap itu, itu sudah bukan menjadi milikku.”

Tanpa ia berucap apa-apa lagi, kemudia ia melesat pergi dengan sayapnya. Sllaapp!! Berhenti di satu titik dan hilang. Aku tak sempat menghalangi kepergian Jibril. Ia begitu cepat melesat, kecepatannya terbang melebihi kecepatan cahaya, bahkan saat mataku berkedip ia sudah berada di ribuan mil jauh terbang mengelilingi jagat. Aku hanya terdiam. Kedua tangan memegang masing-masing satu sayap koyak. Untuk apa sebenarnya sayap ini, pikirku.

Jumat, 30 Mei 2008

Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja

DEPAN pelataran rumah, seorang perempuan tua duduk di atas kursi malas. Matanya menatap kosong. Sesekali ia menggerakkan kursi malasnya yang hampir saja diam dengan tangan yang masih menyimpan sisa-sisa tenaga saat masih muda. Ia pun menggerakkan pelan, perlahan.

Kerut kulitnya begitu kentara terlihat. Pun jika dilihat dari kejauhan. Rambut masih legam panjang, tidak seperti nenek pada umumnya yang sudah memutih di usianya. Kata ibuku, perempuan tua itu sewaktu masih muda keramas dengan merang, sisa pembakaran jerami padi yang ada di sawah-sawah. Hanya ditambahkan sedikit air, lalu dibasuh rata dari ujung sampai pangkal. Demikian halnya dengan gigi yang masih tertata rapi, leng-kap dan tak ada satu pun tanggal. Masih gigi asli. Masih kata ibuku, katanya orang-orang zaman dulu itu merawat gigi dengan remukan batu bata dari tanah liat sebagai odol.

Tak lama, terdengar hentakkan batuk perempuan tua. Sebelumnya ia tengah asyik dengan kinang yang bermain-main dimulutnya. Bibirnya memerah keemasan. Bahkan cairan merah itu mengalir melewati kedua sudut bibir. Lama aku menatap. Batinku berkata, seolah-olah sedang menatap drakula yang habis menghisap darah dengan kedua taring. Aku takut. Kalau-kalau ia berubah jadi drakula yang siap menerkamku seketika, padahal aku tak mau mati konyol.
Nenek itu hidup seorang diri di sebuah rumah tua. Tak jauh dari rumahku. Anak-anaknya sudah tak bersamanya lagi. Bahkan hampir dipastikan mereka tak ada yang menjenguknya. Entah kesibukkan macam apa yang dialami sampai-sampai mereka lupa bahwa ada seorang tua renta tak berdaya selalu mengharap kedatangan mereka.

Semenjak kepergian anak-anaknya merantau ke kota, ia makin sering didera penyakit. Sakitnya bertambah parah setelah sekian lama menunggu, anak-anaknya tak jua pulang menemui. Yang diderita tak hanya pada tubuh yang makin rapuh, pada tulang yang sudah tak mampu menopang berdiri tegap, melainkan juga pada sakit perasaaan yang sudah lama terpendam.
Sementara waktu begitu sombong. Berlalu tanpa menghiraukan siapa dan memeduli-kan apa. Waktu tak pedulikan itu. Sementara anak ayam berkicau di samping rumah, en-tah berteriak mencari induk ayam ataukah meminta makan.

Dalam lamunan aku berkata, “Nek sepatutnya di saat sekarang ini kau tak sendiri. Seharusnya bukan ayam-ayam itu yang menemani hari-hari nenek.” Keseharian si nenek memang tak lepas dari mengurus anak ayam yang memang sudah ia anggap sebagai teman. Atau mungkin dianggap sebagai anak sendiri. Ia tak pernah lupa memberi mereka makan. Entah dengan bekatul, beras bahkan sisa makanan.

Kalau saja ayam-ayam itu adalah anak-anaknya pasti terasa senanglah hati nenek. Tak kesepian seperti sekarang ini. Meskipun dibiarkan bebas berkeliaran, toh mereka itu pada pulang di sore harinya. Angan sekedar angan. Tetap saja mereka tak akan menjelma jadi anak-anaknya yang telah lama pergi entah kemana. Tak pernah pulang, tak ada kabar.

Pernah suatu ketika, ia mendapati ada yang kurang pada anak ayam itu ketika pulang di senja hari. Panik ia bukan main. Ia lantas mencari ke setiap sudut. Berteriak. Teriak-kannya menjadi perhatian tetangga, termasuk ibuku. Meski dengan langkah tertatih ia te-tap mencari anak ayam yang hilang itu.

Tiap kali bertemu orang yang kebetulan berpapasan, pasti ia ditanya. “Apa kau meli-hat anak ayam milikku?” tanyanya masi dalam kepanikkan. Orang yang tak suka ditanya, menyebut dalam hati bahwa si nenek itu telah gila. Dalam benak ia berkata, kehilangan anak ayam saja, paniknya bukan main.

Entah kenapa tiba-tiba orang itu mendapat umpatan, “Dasar orang tidak tahu diri,” Kontan orang itu terkaget dan langsung beringsut menghindar dari umpatan si nenek. Si nenek marah. Indera dengarnya begitu tajam. Kata-kata itu tertangkap di telinganya. Dan orang itu lebih memilih menghindar bermasalah dengan si nenek.

Hari mulai gelap. Suasana hening. Sebentar lagi adzan magrib bergema. Di sekitar su-dah tidak ditemui suara decit anak ayam. Semua ayam milik penduduk sudah ngandang. Tak henti nenek itu terus mencari. Ia sempat kecedwa, namun buru-buru ia menepis. Ia yakin, anak ayamitu tak jauh dari sini.

Tak lama setelah itu terdengar suara decit anak ayam. Si nenek merasa yakin, suara itu suara anak ayam yang ia cari. Dugaannya benar. Ia mendapati kaki anak ayam itu kena jeratan seutas tali di sebongkah kayu hingga ia tak bisa bergerak.

Begitulah nenek yang tinggal bersebelahan. Saat ia merasa kehilangan anak ayam, gemparlah semua orang sekampung. Setiap orang yang jadi lawan bicaranya tak lepas dari obrolan tentang anak-anaknya yang hingga kini belum pulang.

***
Akhir-akhir ini aku tak pernah melihat si nenek itu duduk di beranda rumah tuanya. Seperti biasa, duduknya si nenek tidak lain mengharap anak-anak pulang menemuinya. Ia berharap bisa memeluk mereka. Sebuah keinginan yang hingga kini belum terwujud.

Perasaanku makin tak enak saja. Kebiasaanku menyapa tiap pagi saat ia duduk di pelataran rumah tak bisa aku lakukan lagi. Ia sudah jarang ada disana, entah kenapa.
Penasaran, aku memberanikan diri menemui nenek itu. Sebelumya aku hanya menemui dia di depan rumah saja. Tak pernah aku masuk ke dalam rumah. Pintu rumahku buka perlahan. Aku merasakan aroma aneh. Tapi coba kutepis.

“Nek…nenek,” aku menyapa. Tak ada sahutan. Sekali dua kali tak ada sahutan. Suasana rumah sepi. Jelaga bergelantungan di bawah langit-langit. Kakiku melangkah mencari dimana nenek berada. Mungkin ia sedang istirahat di kamar.

“Nek,”aku menyapa pelan sambil membuka pintu perlahan. Terdengar suara erangan tak berdaya. Ia terbaring lemah diatas tempat tidur kumal. Bekas merah kinang bercece-ran kering di lantai. Ternyata ia tengah bergelut dengan penyakit yang telah lama meng-gerogotinya.
“Nenek baik-baik saja?” tanyaku pelan. Saat aku bertanya, ia tengah sibuk mencari si-sa-sisa napas seolah hendak lepas. Nafasnya tersengal. Aku merasakan ia benar-benar ter-siksa.
“Nek, kenapa kau tidak mati saja menemui suamimu yang sudah meninggal beberapa puluh tahun lalu. Mungkin saja anak-anakmu sudah berkumpul di sana, dan tinggal me-nunggu nenek saja. Dari pada harus hidup seorang diri tanpa satu pun keluarga yang me-ngurus nenek. Anak-anak yang tega membiarkan hidup sendiri sampai saat ini tak per-nah memberi kabar. Sudah sukseskah jadi orang atau malah sebaliknya menjadi gelan-dangan hingga ia merasa malu dan tak mau pulang. Syukur kalau mereka masih hidup. Bagaimana kalau sudah mati, dimana mereka dikubur ia tak tahu,” kataku dalam hati.

Pyarr! Tiba-tiba aku tersadar. Pecahan gelas menyadarkanku dari lamunan. Hampir saja nenek itu terjatuh. Buru-buru aku menyangga tubuh lapuknya. Ah, nenek kenapa tak bilang mau ambil segelas air dalam gelas itu.

Lho, kenapa jadi aku yang menyalahkan nenek. Kalau aku tak melamun, mungkin tak begini akhirnya. Ini salahku. Aku melamunkan kondisi nenek renta yang hidup sebatang kara. Harapku sebaiknya ia cepat mati saja, agar deritanya tak berkelanjutan.

“Kamu jangan seperti anak-anak nenek,” ia seketika berujar. Dari ceritanya terlihat diwajahnya yang penuh tanya. Seolah-olah ia menyesal telah melahirkan anak yang tidak ada bakti sama sekali. Entah salah apa yang nenek perbuat. Nenek mencoba merenungi masa lalu.
“Iya Nek,” aku mengangguk pelan.

Lagi-lagi aku membayangkan. Anak macam apa yang tega membiarkan ibunya sendiri hidup tanpa ada yang menemani. Aku yakin, tak akan ada yang mau bernasib seperi nenek yang sedang berada di hadapanku ini.

Nek, aku berharap masa tua nenek tidak digunakan untuk mengumpat anak-anak nenek, apalagi sampai mengutuk jadi batu seperti dalam legenda Malin Kundang. Aku yakin, setiap kata yang terujar dari seorang ibu pasti nyata dan bernilai doa. Bukankah surga ada di bawah telapak kaki ibu.

“Nenek nggak bakalan mengumpat anak sendiri,” kata-kata itu terujar seketika dari mulut nenek. Sempat membuatku kaget. Pikir kecilku, apa ia tahu apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang aku pikirkan hanya terucap dalam benak. Apa ia bisa membaca pikiran seseorang? Mudah-mudahan tidak! Itu hanya sebuah kebetulan. Tapi apa mungkin? Batinku berkecamuk.
“Setiap saat nenek selalu berdoa. Semoga mereka baik-baik saja. Nenek sudah tua. Nenek serahkan semuanya kepada yang kuasa,” katanya. Saat itu aku diam seribu bahasa dan hanya mendengar tiap kata yang terujar darinya.

Ia memintaku mengambil segelas air. Aku menurut saja dan langsung pergi ke dapur. Aku tak mendapati air di sana. Kering tak ada air tersisa meski setetes. Untuk masak air pun tidak memungkinkan. Dapur nenek sepertinya sudah lama tak berasap.

Aku ambil saja di rumah, pikirknya saat itu. Aku beringsut keluar menuju rumah untuk mengambil segelas air. Kubuatkan segelas teh pahit kesukaannya yang biasa ia minum. Aku tahu, ia tidak meminum air putih. Katanya air putih itu tidak berasa. Bahkan tak jarang memakan teh hitam sebagai camilan selain kinang. Teh hitam pekat selesai sudah kubuat. Aku bergegas menuju rumah nenek.

Sesampainya di sana, nenek malah tertidur. Aku coba membangunkannya. Tapi nenek tak menyahut. Kemudian aku duduk disampingnya. Maksudku biar ia bangun. Entah kenapa ia tak juga bangun. Cukup lama di sana. Setelah kupegang denyut nadinya, ternyata ia sudah tak bernapas.[]