Sabtu, 11 April 2009

Kesalahan Terindah adalah Menyatakan Cinta


“Aku mencintaimu, kata-kata ini tidak akan pernah aku ucapkan pada satu orang perempuan pun kecuali satu, dia adalah ******* *****1!”

Satu kesalahan terindah adalah mengungkapkan perasaan cinta kepada lain jenis. Itu adalah kesalahan yang teramat fatal, sebab cinta hanya berhak dirasakan, diutarakan, diungkapkan hanya dan hanya jika setelah melalui proses ikatan pernikahan. Itulah cinta yang sebenarnya.
Kalau ada yang menyatakan cinta sebelum pernikahan itu berlangsung, itu sama saja omong kosong. Kalau pun aku, kau, atau dia terjebak melakukan itu, itu sama saja berarti melakukan kebohongan. Ketika sadar bahwa itu sebuah kesalahan, mari kita sebisanya, semampunya, untuk bisa lebih berhati-hati baik dalam bersikap, berucap, maupun bertindak.
Cinta itu sejatinya indah, bukan sebaliknya. Itu yang perlu digarisbawahi. Ketika ada cinta yang menyakitkan, itu perlu dicurigai kalau itu sebenarnya bukan cinta. Cinta itu, sekali lagi, indah!

Saya kadang bertanya, apakah selama ini kekhilafan, dimana banyak orang terjebak di dalamnya, berlandaskan pada kesungguhan atau hanya sebatas permainan belaka kata? Apa benar yang selama ini diungkapkan adalah sebenarnya cinta?
Dalam pencarian tentang makna cinta, saya menemukan sebuah hadits yang isinya sebagai berikut.

“Ada seseorang berada di samping Rasululllah Saw, lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasul tadi berkata, ’Aku mencintai dia ya Rasulullah...’ ‘Apakah kau telah memberitahukan kepadanya?” jawab Rasul. Orang tersebut menjawab belum. Lalu nabi berkata,’Beritahu dia.’ Kemudian orang tersebut memberitahukan kepadanya sambil berkata, ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah,’ Orang yang dicintai itu menjawab,‘Semoga Allah mencintaimu karena kau mencintaiku karena_Nya’2

Syahdan, ada seorang lelaki mengirimkan hadits itu melalui pesan singkat kepada sebuah nama, seorang perempuan. Ia sendiri tak tahu bagaimana bisa mengirimkan kepadanya. Apa naluri lelakinya yang bergerak dan langsung menemukan namanya.

Ia tertegun setelah melihat pesan di item terkirim di ponsel. Tertegun ia menatapnya. “Apa benar yang saya lakukan ini? Apa tidak akan menimbulkan beragam tafsir atau kesalahpahaman, mungkin?” kata lelaki itu dalam benaknya.

Ah, mudah-mudahan saja tidak. Perempuan itu, pikirnya, adalah seorang muslimah yang mengerti akan ini. Lagipula ia tak menambahkan atau mengurangi redaksi dalam hadits itu. Ia mengirimkannya dalam bentuk utuh.

Satu hal yang tidak disengaja, ternyata ia juga mengirimkan pesan yang sama kepada satu nama lain. Pesan itu langsung beroleh respon, dan menanyakan apa maksudnya. Tanpa pikir panjang, ia jawab saja apa adanya, kalau itu hadits. Sudah hanya itu.

Tampaknya jawaban itu tak membuat ia puas, sampai-sampai perempuan itu menegaskan pertanyaannya lagi. “Iya tahu itu hadits, tapi apa maksudnya?” Ielaki itu hanya diam, membiarkan dirinya larut dalam beribu penafsiran, menerka maksud mencari makna. Wajar perempuan itu ingin tahu jawaban yang sebenarnya lantaran lelaki itu pernah menyatakan sesuatu yang membuat hatinya menjadi bergetar, “Aku mencintaimu karena Allah”

Kini pernyataan itu menjadi bahan renungan buat lelaki itu. Apakah benar ia mencintainya karena Allah? Bukankah cinta itu hanya berhak dirasakan setelah menikah? Memang sepenuhnya ia sadar, tindakan itu adalah sebuah kesalahan (terindah). Lebih-lebih dalam hatinya sempat berkomitmen, untuk mengungkapkan itu hanya pada perempuan yang telah ia nikahi nanti.

Ya, ikrar itu telah ia langgar dengan mengatakan cinta kepada perempuan sebelum menikah. Meski belum ada kesepakatan diterima atau tidak tapi itu menyisakan satu penyesalan yang teramat dalam. Jawaban yang diperoleh ketika menyatakan hanya berupa, “Bismillah saja, kita lihat saja nanti ke depan.”

Begitulah kisah lelaki itu. Petualangan cinta lelaki itu sejatinya menarik untuk dikisahkan lantaran ada semua unsur pendukung untuk membuat cerita. Ada alur, konflik, plot, setting, dan juga tokoh tentu saja. Saya juga menangkap beragam ekspresi (bahagia, kecewa), dialog-dialog menarik.

Belakangan, Putri Salju mengabarkan kepadaku mengenai hadits itu. Hadits yang aku kirimkan kepadanya karena begitu penasarannya aku. Ia memang tak langsung merespon ketika saya meminta komentarnya tentang hadits itu, apakah itu bisa dijadikan landasan seseorang untuk menyatakan cinta.

Putri Salju ternyata mendiskusikannya dengan orang-orang yang capable untuk masalah ini. Hadits itu memang benar adanya, tetapi itu tidak berlaku jika menjadi dalil seseorang menyatakan cinta kepada lawan jenis, Hadits itu lebih bermakna kepada satu ikatan dalam bingkai cinta ukhuwah!

Jadi, jika ingin merasakan betapa indahnya cinta, maka menikahlah!


1. Istriku nanti
2. Hadits Riwayat Anas bin Malik.




Bagaimana Kau Mencintaiku?


Syahdan, secara tiba-tiba pertanyaan itu muncul dan tertuju pada seorang lelaki, dari seorang perempuan. Awal, ia tak bisa menebak bagaimana pertanyaan itu bisa muncul kepadanya. Tapi satu kepastian ia dapatkan beberapa waktu berikut, kalau ternyata itu adalah sebuah respon dari surat yang pernah lelaki kirimkan kepada perempuan yang memberikan pertanyaan itu : Bagaimana kau mencintaiku?

Sebenarnya isi surat itu lebih merupakan pada satu sikap pasrah atas segala usaha yang kini tengah ia perjuangkan untuk mendapatkan cinta perempuan itu. Satu sikap pasrah yang hanya pantas ditujukan kepada_Nya, bukan yang lain!

Hatinya bergetar mendapat pertanyaan itu tiba-tiba. Nyaris ia tak bisa berkata apa-apa. Satu pertanyaan sederhana, namun tak sesederhana ketika harus memberikan jawabnya.Yang lebih membuatnya tercengang, pertanyaan itu terujar dari lisan seorang perempuan dengan begitu tenangnya. Bagaimana kau mencintaiku? Ah, pertanyaan itu benar-benar mengganggunya.
Di tengah bergetarnya hati, berdegupnya jantung, ia pun menjawabnya.
“Saya mencintaimu karena Allah!”

Lelaki itu menjelaskan pula, pula kalau sebenarnya perempuan itu memang ada dalam semua kriteria yang diidamkan, seperti yang dirinya tulis dalam daftar cinta di buku harian. Daftar cinta adalah salah satu bentuk model keinginan yang ia harapkan, ia impikan, lalu ia tuliskan di catatan harian. Tampaknya ia salah satu orang yang memercayai relativitas (hukum ketertarikan). Ketika menarik keinginan, maka keinginan itu akan mendekat!
“Dengan perasaan cinta itu pula saya bisa menulis beberapa cerpen, yang memang sepenuhnya terinspirasi darimu,” jawabnya lagi.

Dan ternyata, semua jawaban yang ia lontarkan belum memberikan jawaban sebenarnya. Ia sadar itu, lantaran menjawab dengan ketergesaan di tengah gelisah hati yang menghunjam. Namun, dari situlah, muncul pertanyaan,

“Jawaban seperti apa yang kau harapkan, perempuanku?”
Begitu perempuan itu meminta jawaban selengkapnya, ia pun berusaha memberikannya dengan lebih dulu menenangkan hati yang bergetar.

“Sebenarnya ada satu hal lagi jawaban yang akan saya berikan. Hanya saja, jawaban itu akan kau dapatkan kalau memang kau sudah jadi istriku nanti. Itu artinya ada satu hal yang tak ingin aku ceritakan bagaimana seharusnya aku mencintaimu, karena sebenarnya perasaan cinta dan bagaimana seharusnya itu hanya dan hanya jika bila dirasakan pada muara yang satu, yakni ikatan pernikahan. Karena kau memang belum menjadi istriku, jawaban yang lengkap pun belum kau dapatkan, akan kujawab nanti setelah menikah!”

“Ya, itulah jawaban yang saya inginkan untuk pertanyaan itu.”

Oh iya, kau tentu penasaran seperti apakah surat itu, sampai perempuan itu melontarkan pertanyaan, bagaimana kau mencintaiku? Begini isi lengkap surat itu:

Sudah cukup lama aku mengenalmu, dan selama itu pula kau mengenalku. Dan semasa perkenalan itulah sempat muncul getaran lain ketika aku berada dekat denganmu. Mengenai apa yang aku rasakan, sudah aku utarakan kepadamu. Mengenai seperti apa hasilnya, itu sudah menjadi keputusanmu. Meski kita tak bisa menerka, apa yang akan terjadi kelak, apa kau akan bersanding denganku, atau sebaliknya.

Kalau pun itu sudah benar-benar menjadi keputusanmu, dan sudah dipertimbangkan secara matang, aku menerima. Dan, ini bisa menjadi pelajaran berharga buatku bagaimana seharusnya saya berbuat, bersikap, dan juga berucap ketika menghadapi permasalahan yang sama seperti yang pernah terjadi antara aku terhadapmu.

Pengalaman itu membuatku semakin mantap untuk berketetapan, apa yang akan aku ucapkan, lakukan, dan aku pikirkan sehingga menjadi sesuatu yang bernilai ibadah. Semua dilakukan semata-mata demi menjaga diri. Dan, kalau pun saya menemui pengalaman yang sama, saya akan mengatakan langsung dengan satu pernyataan,

"Maukah kau bicara soal masa depan denganku?"

Atau bisa juga dengan ungkapan yang ini,

“Maukah kau menjadi ustadzah buat anak-anakku nanti?”

Saya pikir pertanyaan ini adalah kalimat sederhana, dimana kalau dia mau, ya Alhamdulillah, dan itu berarti rencana bisa diteruskan. Bila tidak ya tidak mengapa, toh ibadah nikah, tidak harus selalu dengan dia. Dengan siapapun tetap dapat pahala, asal ikhlas sama ikhlas. Daripada lama terkatung katung, antara rindu dan ketidakpastian, kan lebih baik segera ditanyakan. Oke atau tidak, selesai :).

Itu bisa berarti, aku harus mengulangi pertanyaan ini secara tulus pada muslimah lain. Yang penting, aku sudah punya kesiapan menghadapi kenyataan. karena itu adalah modal awal dari hilangnya kegundahan.

Aku meyakini, bahwa yang akan menjadi istriku hanyalah yang ditakdirkan_Nya untuk menjadi istriku. Walaupun seseorang telah memakai gaun pengantin, telah duduk dua saksi dan bertatap wajah dengan penghulu, kalau bukan jodoh kita dalam catatan takdir, maka kita tidak akan pernah bisa kita raih sebagai istri. Sebaliknya kalau memang seseorang itu memang jodoh kita dalam kehendak_Nya, maka sekalipun sekarang masih berada di ujung kutub utara, maka Allah akan hantarkan ia kepadaku, atau aku yang dihantarkan_Nya untuk menemuinya dia.

Memang takdir tidak bisa dipaksa. Kalau tidak mau, yang lain pasti mau!
Siapa yang lain itu? Ya aku cari lagi dan tanyakan lagi seperti tadi.

Sederhana bukan pemikiranku? sepanjang kita siap menerima siapapun yang ditakdirkan_Nya buat kita, maka Insya Allah hidup ini akan terasa mudah, indah, berkah dan bernilai ibadah.
Dan, ketika nanti aku menemukan pengalaman yang sama, dan aku tidak mampu mengungkapkannya secara lisan, maka akan aku kirimi dia surat. Surat itu sudah aku siapkan, dan sewaktu-waktu siap untuk dikirimkan. Lebih jelasnya, surat itu aku lampirkan seperti yang tertulis di bawah ini.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيم

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan setiap sesuatu berpasang pasangan.
Dan Dialah yang menjadikan manusia berjodoh jodoh, agar hadir kedamaian hati
dalam kebersamaan pada ikatan nikah tadi, bersemi kasih dan berkembang cinta
bersama waktu yang dijalaninya.

Biru...(Akan kupanggil ia dengan sapaan yang ia sukai) cukup lama saya mengenalmu, demikian juga kau terhadapku. Kau mengenal kekurangan yang ada pada diriku, saya pun mengenal kebaikan kebaikan yang ada pada dirimu. Begitu juga sebaliknya. Hari ini lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada padaku, sepenuhnya menyadari kelebihan dan keterbatasanmu. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan hambaNya. Maka hari ini kuutarakan niat bulatku untuk mengajakmu menjalani kehidupan keluarga, aku mengajakmu untuk beribadah memelihara diri dan keluarga dari api neraka. Bersamamu kita membesarkan anak anak kita. Tak ada yang kujanjikan kepadamu, selain harapan hidup lebih baik di sini dan nanti, lewat kepaduan dan saling memahami dan mengerti antara kita.

Kalau berpikir bahwa ide ini layak untuk dipertimbangkan. Maka marilah kita masing masing berdo'a :

“Ya Allah kalau dia (aku sebutkan namamu dalam do'aku dan kau sebutkan namaku dalam do'a mu. OK ?) baik buat akhirat saya, agama saya dan dunia saya, Maka jadikanlah hati saya mudah untuk menerima dia dan lapangkanlah jalan kami untuk melangsungkan pernikahan dan hidup tentram sesudahnya. Tapi bila dalam pandanganMu, dalam Ilmu Mu yang Maha Meliputi segala sesuatu, ternyata dia tidak baik buat akhirat saya, agama saya dan dunia saya. Maka mudahkanlah saya untuk mendapatkan yang lebih baik dari dia, dan mudahkanlah dia untuk mendapatkan yang lebih baik dari saya. Padamu kami bertawakkal, dan padaMu kami berserah diri.”

Insya Allah, akan ada petunjuk dari Allah untuk kita. Sehingga mudah bagimu untuk memberikan sebuah keputusan atau lebih tepatnya sebuah jawaban menerima/menolak ajakanku. Kalau iya, maka mari kita bicarakan kelak, apa yang harus kita persiapkan, sehingga masing masing kita bisa hadir dalam sosok yang lebih baik lagi dari sekarang ketika berganti posisi dari ’kakak - adik’ menjadi istri atau suami.

Dan kalau pun tidak, aku tidak menyesal, semoga saja kau mendapatkan yang lebih baik dariku, sebagai mana aku pun mendapatkan yang lebih baik darimu. Dan apa yang telah terjalin di antara kita tetap akan menjadi bagian yang sangat indah dalam hidupku. Aku takkan melupakannya. Kita akan tetap sebagai ‘kakak-adik-. Setidaknya dengan kepastian jawabanmu,. aku berhenti berangan angan, ingin menjadikan kau sebagai istriku.


Bila di dunia ada syurga,
Maka itulah kehidupan rumah tangga yang romantis dan harmonis.
Bila di dunia ada neraka,
Maka itulah kehidupan rumah tangga yang tak selaras.

Bahagialah mereka yang diamnya berfikir,
memandangnya mengambil pelajaran,
mendengarnya mengambil hikmah,
dan dalam tindakannya orang mengenal indahnya Islam.











Sabtu, 07 Maret 2009

SMART STUDENT COME FROM NICE TEACHER


Aku mengulang sejarah baru. Menjadi pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Bahasa Asing, International English Center. Akan kubuat hari-hariku pertemuanku perdana mengesankan, dan akan kujadikan pengalaman itu menjadi menyenangkan. Mendengar gambaran singkat dari Andini kemarin, sepertinya kelas yang saya handle akan benar-benar menarik dan menantang.

Ada tiga anak kembar yang aku ajar dalam kelompok belajar. Satu siswa laki-laki dan dua perempuan. Namanya Bagas, Mutia Arum, dan Mutia Citra. Ketiganya memiliki kesamaan sifat:Sensitif! Itu artinya saya harus lebih jeli membaca perangai ketiganya.

Tak hanya menghadapi anak kembar tiga. Saya juga berhadapan anak hiperaktif. Ya, ada satu anak yang tak bisa diam barang sejenak. Selalu saja ada yang dikerjakannya. Saya jadi ingat, ketika saya mengajar di SDIT Sabilul Huda Kota Cirebon. Walau pun saat itu kapasitasnya sebagai guru pengganti. Kebetulan saat itu menggantikan kelas Ruswanto. Pada kesempatan yang baik itulah, saya pertama kalinya menghadapi anak hiperaktif yang begitu temperamental. Diganggu sedikit saja, ‘meledaklah’ amarahnya.
Pernah dirinya merasa kenyamanannya saat menggambar terganggu, ia pun mencecar si pengganggu sampai dapat dan diajak duel, setelah puas mengajak damai. Ia juga kerap melakukan sesuatu yang tak terduga, mengejutkan, sekaligus mencengangkan! Misal, tiba-tiba ia ke depan kelas, dan langsung merobohkan papan penyangga whiteboard. Jatuhlah papan tulis itu hingga membuat suara gaduh. Setelah itu emosi anak itu reda seketika dan duduk manis di kursinya seperti tak terjadi apa-apa. Tak hanya itu, saat shalat duhur berjamaah juga kekhusyukannya terusik. Baru saja, mengangkat tangan mengucap, Allahu Akbar... tiba-tiba dari belakang temannya yang usil menggoda. “Gendut-gendut... Gendut gendut...” Blar! Hilanglah seketika konsentrasi menghadap Sang Pencipta. Terjadilah kejar mengejar di antara barisan shaf. Dapat, terjadi duel yang sengit. Setelah merasa cukup damai lagi lalu melanjutkan shalat yang tadi terpotong. Tenang kembali seperti tak terjadi apa-apa.

Bisa jadi lantaran wajahnya yang ngegemesin, sampai-sampai teman-temannya banyak yang iseng godain. Kalau digambarkan, perangai dan postur tubuh anak itu seperti Giant, dalam film kartun Doraemon. Ah, saya jadi penasaran, kira-kira seperti apa anak hiperaktif yang akan saya temui nanti?

Sensitif, dan hiperaktif. Dua kata sifat murid-muridku yang telah kugenggam. Ada satu lagi anak yang tak bisa saya definisikan kata sifatnya. Anak itu kerap bertanya pada hal-hal yang tak semestinya. Solusinya hanya satu untuk anak yang selalu pintar-pintar bertanya, yaitu pandai-pandai menjawab!

Anak adalah permata-permata masa depan yang akan mencerahkan. Untuk membuat permata itu berkilau, gurulah yang memolesnya. Saya percaya, bahwa smart student come from nice teacher! Itu artinya saya harus menjadi guru yang baik!!

Ehm! Sinyal atau tanda-tanda saya akan menjadi guru yang baik, rupanya sudah kulihat. Sebelum saya mendapat kelas mengajar, secara kebetulan saya diajak Paman untuk menjadi panitia di sebuah acara pelatihan guru TPQ. Trik, Metode mengajar, sampai sesi Psikologi anak pun saya serap habis-habisan secara gratis. Saat itu saya memosisikan diri sebagai spon yang mampu menyerap apa saja sesuatu yang berkaitan dengan air. Yang lebih memantapkan lagi, secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku hebat, Quantum Teaching, karya Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nouri yang diterbitkan KAIFA. Buku itu membuat saya menjadi makin percaya diri to be a nice teacher!







Ruang Tersendiri Film & Sastra


Sebuah karya sastra dipilih untuk sebuah produksi film memang bukan hal baru. Sisi positifnya bisa memacu seseorang meningkatkan minat baca lantaran ada tendensi menjawab rasa penasaran setelah menyaksikan sebuah tontonan. Orang yang memiliki sense of curiosity yang tinggi biasanya ada kecenderungan mencari asal bagaimana sebuah sajian tontonan itu berasal. Itu artinya, jika muncul rasa penasaran dari apa yang telah disaksikan pada sebuah tontonan, seseorang cenderung membaca karya asal.

Namun, masalah yang terjadi sudah selaraskah budaya nonton dengan budaya membaca kita? Keterkaitan keduanya tentu saja ada ketika dipadukan, asalkan kepaduan itu masih selaras dari maksud tuturan teks awal. Membandingkan keduanya (membaca dan menonton) memang menjadi satu hal menarik yang perlu kita kaji sekarang ini.

Budaya nonton yang saya amati dewasa ini baru sampai pada batas mencari hiburan semata. Penonton masih belum sepenuhnya apresiatif lantaran yang dicari hanya kepuasan parsial. Mengenai proses pembelajaran yang bisa didapat dari sebuah film masih jauh panggang daripada api. Padahal film adalah cerminan realitas, perangsang imajinasi, pembentuk identitas, dan dunia yang mencipta pencitraan.
Pembentukan identitas yang dimunculkan dari film tidak terlepas dari apa tema yang diangkat, siapa yang menjadi pemain, siapa yang mengelola bioskop sebagai lanskap luar yang mengalasi layar putih itu, dan siapa yang menjadi penontonnya. Pengalaman menonton, berada dalam gedung bioskop, dan tingkah laku menikmati sajian film merupakan proses resepsi maupun respon atas identitas dari pencitraan yang ditampilkan.

Sementara membaca adalah gerbang untuk menjadi orang yang berpengetahuan. Ia menjadi salah satu aktivitas literat kelas berat, namun menyenangkan ketika sudah mendalaminya. Pada sebuah bacaan, disitulah ide-ide tertata pada kata-kata.
Sastra dan Film

Film seperti yang dinyatakan Asrul Sani adalah bidang seni yang menggunakan citra sebagai mediumnya. Ia adalah kontinuitet gambar-gambar, karena itu bersifat grafis. Sementara kata-kata dalam sastra punya peran membangun cerita, seterusnya cerita mengandaikan urutan dalam waktu, sedangkan perkembangan peristiwa memerlukan keterangan tentang sebab akibatnya. Sebaliknya film menunjukkan perkembangan ceritanya tidak dengan memperlihatkan perkembangan dari satu waktu ke waktu, tetapi dengan memperlihatkan perpindahan dari satu ruang ke ruang yang lain.
Keduanya pun bisa menyatu atau lebih tepatnya disatukan dengan makin maraknya film yang diangkat berdasarkan sebuah novel laris. Alih-alih mendulang kesuksesan yang sama, sebuah novel pun diangkat ke layar lebar. Peluang adanya pasar, didukung dengan kekuatan modal dan kreativitas pelaku sinematografi, sebuah karya sastra dalam bentuk teks diangkat menjadi film.

Kemungkinan adanya perbedaan interpretasi bahkan terasa jauh dari sebuah tuturan teks bisa saja terjadi. Ini wajar, karena sejatinya sastra memiliki ruang tersendiri untuk bisa dinikmati, dan diresapi. Ia justru lebih menarik dan seksi untuk dinikmati ketika ia masih sebagai teks yang utuh.

Pun sama halnya dengan karya film (sinematografi). Ia memiliki ruang tersendiri untuk bisa diapresiasi, diserap pesan yang ingin disampaikan melalui ranah audiovisual. Proses apresiasinya melibatkan seluruh indra, terutama pada indra lihat, dengar, dan rasakan.

Kemungkinan terjadinya misinterprtasi tentu saja ada. Sebut saja dalam novel Da Vinci Code ketika difilmkan ada banyak bagian penting yang hilang. Laskar Pelangi, Sajadah Cinta, dan baru-baru ini adalah Perempuan Berkalung Sorban pun mengalami nasib yang sama. Karya-karya itu jauh lebih berkesan dinikmati sebagai teks novel, tenimbang jika diangkat ke layar lebar. Selain karena keterbatasan ruang dan waktu, sebuah film juga harus benar-benar dimainkan oleh seorang profesional. Berbeda dengan ruang sastra. Ia tidak terikat oleh ruang dan waktu. Imajinasi yang dihasilkan bebas mengembara sampai pada batas angka dibagi nol alias yang tak terhingga.

Besar kemungkinan ketidakselarasan itu terjadi lantaran film tersebut 'hanya' merekonstruksi teks dari buku ke film. Sikap semacam ini tentu rentan menjadikan penonton yang sudah membaca karya satra itu, ketika menonton filmnya akan dibawa ke dalam kegiatan menonton yang 'hanya mencocok-cocokan' yang ada di buku apakah ada juga di dalam film; memperbandingkan intensitas sensasinya: sedih di buku atau sedih di film, lucu di buku atau di film, tegang di buku atau di film, dan seterusnya.
Tetapi itu bisa berbeda ketika film yang diadaptasi dari karya sastra (katakanlah novel) diangkat dengan mengambil sisi atau angle (sudut pandang) lain. Mulai dari cara bercerita (point of view), penekanan cerita, interpretasi cerita, dan lain sebagainya. Dalam pandangan Embie C Noer besar kemungkinan penonton akan terlibat sama segarnya seperti ketika dia membaca novelnya. Keberhasilan menemukan bentuk semacam inilah yang banyak menjadikan karya film yang mengambil karya satra sebagai script, menjadi karya yang juga memiliki nilai yang sama agungnya, sama kharismatiknya, sama orisinalnya, dengan karya sastra yang dipilihnya sebagai bahan cerita.

Itu bisa berarti bahwa bisa saja sebuah karya apapun menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya yang berbeda, tetapi ketika hanya mengadopsi penuh, tidak menutup kemungkinan hasil dari karya itu tak seksi lagi untuk dinikmati.







Senin, 09 Februari 2009

Karya yang Terlahir karena Sesuatu



Semangat dan energi dari seorang Ali Irfan yang saya kenal, nampaknya tak pernah padam. Kumpulan cerpen ini lebih mengukuhkan bahwa ide atau gagasan yang berlompatan dalam pikirannya tersalurkan melalui tulisan. Bukan hanya sekedar sebagai bacaan, tapi lebih dari itu adalah mampu menginspirasikan kita semua akan makna dari suatu cerita.

Pergulatannya di dunia jurnalistik sangat berpengaruh dalam gaya bertutur dan pemilihan kata. Maka tak megherankan bila beberapa cerpennya lahir karena adanya “sesuatu” yang terjadi. Semisal yang berjudul Eksekusi, terinspirasi dari kasus bom Bali. Manakala kiai kharismatik K.H. Syarief Muhammad bin Syech yang sangat akrab disapa Kang Ayip Muh wafat, hatinya gelisah dan lahirlah cerpen Menyentuh Keranda. Adanya “sesuatu” yang terjadi, jelas erat kaitannya dengan dunia jurnalistik. Cerpen berjudul Deadline! sangat kentara darah kewartawanannya tak terpisahkan.

Kelebihan dari seseorang yang konsisten bergelut di dunia jurnalistik, diantaranya adalah peka terhadap dinamika kehidupan, mampu merangkai huruf, kata, dan kalimat menjadi satu kesatuan arti secara lancar. Hal ini amat membantu kejernihan alur pikir sang penulis dalam menorehkan gagasan. Pergaulan dan pengalaman Ali Irfan di lingkungan pondok pesantren dan komunitas dakwah kampus pun telah menginspirasikan karyanya yang bertajuk Ratapan Semu Iblis dan Malaikat Seribu Cahaya.

Seperti saya sebutkan tadi bahwa instink jurnalisnya terus bergerak mengendus penggalan berbagai peristiwa. Mencoba merekam kejadian yang menyentuh hatinya, kemudian memaknai yang tersirat dari yang tersurat mejadi cerita pendek. Seribu kata, seribu makna niscaya tak akan pernah habis dalam menguraikannya.

Semoga pembaca dapat memetik inspirasi dari kumpulan cerpen ini. Dan saya percaya, sang penulis tak akan pernah kehabisan gagasan dan kata-kata dalam membuat karya-karya selanjutnya.

Yanto,Sy
Praktisi Media & Creative Director Forum Bela Budaya Cirebon







Tentang Cinta, Malaikat, dan Kematian


Cinta, malaikat, dan kematian adalah tiga unsur berbeda tergabung karena sesuatu dan menjadi dalam satu frase: antologi cerita pendek. Ketiganya menyatu lantaran ada sesuatu. Atau dengan lain perkataan, sesuatu menyatukan ketiganya. Sesuatu itu tak lain adalah rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang sifatnya abstrak namun ada dan bisa dirasakan seperti halnya cinta, malaikat, dan kematian.

Kalau kita uraikan secara mendetil, sejatinya cinta adalah sesuatu yang abstrak dan bisa dirasakan. Di dalam cinta terkandung energi yang benar-benar menggerakkan manusia untuk hidup. Bahkan lebih hidup! Sebuah keberlangsungan berlangsung karena ada cinta. Ia tak perlu definisi, meski ada seribu makna disebalik kata itu. Satu kata yang kerap membuat hati anak manusia bergetar, tersipu, berani, bertahan, setia, bahkan berselingkuh! Satu kata yang terakhir bisa (atau biasa) terjadi manakala menemukan cinta yang lain lalu enggan melepas yang sudah digenggaman!

Ketika tak ada keberanian mengungkapkan, cinta pun bisa mengarahkan seorang anak manusia menjadi pencuri. Ini terjadi seperti dalam sebuah pengakuan, Akulah Pencuri Itu. Sadar bahwa mencuri perbuatan yang berdampak pada sebuah dosa, seorang anak manusia pun mengakui perbuatannya dengan mengaku dirinya sebagai pencuri. Dalam pengakuannya ia bilang, setidaknya dengan mengakui itu, akan memperingan mizan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan nanti. Inilah pentingnya memaknai sebuah kejujuran. Bukankah jarang-jarang ada pencuri mau mengaku?

Manakala tak ada keberanian membalas, kaum hawa pun, cukup membalasnya dengan diam. Sebuah jawaban yang menimbulkan rasa penasaran lelaki meski ada sabda nabi yang mengatakan, diamnya perempuan adalah sikap menerimanya. Sampai-sampai dengan tingkat kepercayadirian yang tinggi, kaum adam harus mengatakan, Sebenarnya Kau Mencintaiku, Hanya Saja Kau Tidak Mengatakannya. Namun ada sebagian bagi kaum hawa yang berprinsip bahwa diam saja tidak cukup. Mungkin terjadi karena ada kekhawatiran cintanya tak berbalas. Maka dengan sekuat tenaga, seorang Rahma Syifa memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mengekspresikan rasa seperti dalam cerpen Lelaki yang Datang Lewat Mimpi. Kesetiaan pun diuji dalam Lelaki yang Tak Pernah Tidur lantaran menunggu kedatangan bulan yang kerap mengganggu hatinya. Keinginan untuk bercinta dengan bulan pun muncul meski urung lantaran mempertimbangkan kesetiaan seorang istri.

Cinta memang mengajarkan seseorang untuk berkhianat, selain tentunya mengajarkan kesetiaan. Kalau ingin tahu apa itu kesetiaan, belajarlah pada Malaikat! Ia makhluk Tuhan yang tingkat kesetiannya sudah teruji. Dengan anugerah kesempurnaan yang tiada tara, sebenarnya manusia bisa seperti malaikat tanpa harus menjadi malaikat. Bahkan seseorang bisa mendatangkan Malaikat Seribu Cahaya yang langsung diturunkan dari langit. Tetapi keegoan yang melekat pada diri manusia malah membuatnya kadang kebablasan lantaran muncul keinginan memiliki Dua Helai Sayap Jibril.

Tetapi, seberapa jauh manusia berpetualang menyelami hidup, pada akhirnya akan bermuara pada satu, yakni kematian. Ia adalah akhir yang pasti, tetapi kapan waktunya masih menjadi misteri. Kematian tak perlu dicari, karena sejatinya ia akan datang sendiri menghampiri. Yang patut diperhatikan adalah bagaimanakah kita seharusnya mati? Kisah mengenai kematian, mulai dari kematian yang sederhana, kematian yang belum saatnya, sampai bunuh diri telah saya tuangkan dalam Senja Di Atas Kereta, Menyentuh Keranda, Deadline!, Eksekusi, Qasidah Gurun, Suara Adzan di Jantung Muadzin, dan Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja.

Ali Irfan. Tegal, 2 Februari 2009. 14.44






Jumat, 06 Februari 2009

Aku, Wimar Witoelar, dan Fira Basuki



Ini pengalaman yang belum aku kisahkan kepada kalian. Kisah lama memang, tapi itu tak apa kan? Saya memercayai, sebuah pengalaman yang dituliskan akan menjadi kisah mengabadi yang sewaktu-waktu bisa dibuka kembali. Saya menyebut hari itu terlalu indah untuk dilewatkan, karena benar-benar memicu aktivitas saya dalam menulis. Begini kisahnya...


haripertama:sembilanseptemberduaribuenam

Saya bertemu dua sosok berbeda. Buku menyatukan mereka. Dekat seperti sahabat, bahkan seperti ayah dan anak! Mereka Wimar Witoelar dan Fira Basuki. Saya mengenal keduanya pada sebuah buku biografi berjudul “Heal Yeah: Wimar Witoelar & Fira Basuki.” Penulis buku itu Fira Basuki. Seorang jurnalis, penulis juga novelis.

Pukul delapan malam saya sudah berada di salah satu stasiun radio di Cirebon. Ikut acara talk show. Niat awal wawancara Wimar Witoelar dan Fira Basuki buat majalah kampus yang saya kelola, majalah FatsOeN. Tetapi entah, ketika keduanya datang, mental tiba-tiba down. Memang saat itu ada banyak orang. Rombongan Wimar datang dengan dua mobil, yakni terdiri dari orang-orang Intermatrix, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Public Relation milik Wimar.

Saya tak punya banyak kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Wimar karena sejak kedatangannya langsung disambut kru radio. Sesekali saya mengambil gambar keduanya. Sedemikian asyik memotret, sampai hampir lupa pada niatan awal untuk wawancara.

Ada yang menarik dari sosok Wimar. Sapaan yang ia gunakan menggunakan inisial. Wimar Witoelar ternyata akrab disapa WW (read: wewe, not double u, double u). Katanya nama itu egaliter, yakni mengedepankan persamaan. Ia tak memandang perbedaan dari mana ia berasal, mulai dari agama, ras dan lainnya yang sekiranya mengindikasikan ada jarak.

Kesederhanaanya begitu melekat. Padahal ia bukan orang biasa lantaran kapasitasnya yang memang tidak diragukan lagi. Meski saat kecil sempat dicemooh sebagai bebek si buruk rupa (ugly duckling), WW ternyata seorang aktivis kampus, the great communicator, pernah didapuk sebagai news caster VOA, dan karir politiknya jadi Juru Bicara Kepresidenan masa pemerintahan Gus Dur.

Firbas juga tak kalah menarik. Gaya penulisannya energik. Ketika kamera menyorot ke arahnya, ia pasang rona senyum pipit. Senyumya khas. Saat duduk di sebuah sofa, tiba-tiba Fira Basuki duduk di kursi persis depan saya. Saya mencoba berusaha bersikap biasa, biar tidak kelihatan canggung, apalagi gugup.

Dalam benak saya berucap, “Ini kesempatan untuk wawancara Fira Basuki!” Saya pun tak melewatkan itu, tanpa menunggu waktu, juga tanpa minta ijin wawancara, saya langsung melontarkan pertanyaan,

“Kenapa Mbak Fira mengambil sastra dalam kepenulisan?” tanya saya tiba-tiba.

“Ceritanya ini wawancara nih?” Jawab Fira seketika dengan senyum khas. Sepertinya ia paham tengah berhadapan dengan wartawan amatiran, he...

Saya membalas dengan senyum mengiyakan. Setelah itu Fira menjawabnya.

“Ya, karena dunia sastra segalanya bisa mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin dalam kehidupan nyata ketika dalam dunia sastra itu bisa saja terjadi dan sah-sah saja.”

Ternyata, ia mulai menulis sejak duduk di bangku SD. Saat teman-temannya asyik bermain, ia malah asyik di kamar membuat puisi di buku harian. Tahu Fira suka menulis, ibu tercintanya kasih saran agar Fira ikut lomba penulisan puisi. Namun Fira acuh. Ibu tersayang ternyata punya inisiatif dengan mengisikan formulir pendaftaran. Hasilnya mengejutkan, tak terduga, tak disangka. Fira tampil sebagai juara menulis puisi yang diselenggarakan majalah Bobo. Padahal sama sekali tak merasa ikut lomba.

Saat talkshow mau dimulai, wawancara terpaksa saya hentikan. Saya hanya melontarkan dua pertanyaan. Lagi pula saat itu saya tak tahu harus bertanya apa lagi. I’m speechless!

harikedua:sepuluhseptemberduaribuenam

Saya masih mengikuti keduanya saat acara bedah buku di Gramedia. Saya datang ke acara itu lantaran dapat bocoran dari dari salah seorang kru WW, besok ada door prize berupa buku-buku Wimar yang akan diberikan kepada peserta bedah buku. Entah kenapa, saya yakin akan mendapatkan satu buku Wimar.

Apa yang saya harapkan ternyata terwujud. Saya adalah orang pertama yang melontarkan pertanyaan dalam forum. Ya demi sebuah doorprize! Sudah jadi kesepakatan awal, setiap penanya akan mendapatkan bingkisan.

Saya menghadiri acara itu bersama Siti Khudriyah, seorang kawan yang juga aktif di FatsOeN. Saya komporin dia bertanya biar dapat bingkisan. Terkesan materialistis memang, tapi tak apa kalau demi sebuah buku yang mencerahkan! Ia pun menurut, bahkan melontarkan pertanyaan terbaik. Ia mendapat satu buku Hell Yeah dan satu bingkisan, yang entah apa isinya. Saya dan Dyah senang lantaran dapat apresiasi menarik dari Wimar,

Sebenarnya saya sempat iri karena saya hanya mendapat satu bingkisan, Dyah dapat dua. Ia pertanyaan terbaik, saya biasa-biasa saja. Bahkan Dyah mendapat kehormatan berduet dengan Wimar menyanyikan lagu Hell Yeah! Itulagu favorit Wimar yang hampit diputar di mobilnya setiap kali ia bepergian. Dyah sempat mencoba menyelamatkan diri lantaran tak bisa nyanyi, seperti apa lagunya juga ia tak tahu. Meski sempat diputar juga itu baru pertama kali dengar. Pakai bahasa inggris pula. Tapi akhirnya setelah didesak, ia pun ke depan bersama Wimar. Ya, tidak terlalu memalukan memang, Di depan Dyah cuma pegang microphone! Saya lupa menanyakan bagaimana isi benak Dyah saat tak di depan bersama Wimar. Oh, iya. Bingkisan yang Dyah peroleh ternyata isinya sebuah kaos ekslusif Wimar.

Penasaran belum tahu apa isi bingkisan kecil, saya langsung membuka bingkisan. Saya sobek kado pembungkus dengan tergesa-gesa. Surprise Alhamdulilah! Isi bingkisan itu ternyata sebuah buku berbahasa Inggris. Judulnya No Regrets, A Reflection of Presidential Spokesman.

Setelah dipikir-pikir, ternyata saya dapat buku yang bernilai lebih. Sebab, apa yang didapat oleh kawan saya, pernah saya baca habis dalam waktu kurang dari dua hari. Yah, FatsOeN memiliki buku itu dua hari sebelum kedatangan Wimar di Cirebon. Tentang kaos itu, saya berkomentar dalam benak, book is more important than t-shirt!

Pas usai acara, saat acara book signing, beberapa orang sudah memanjang menanti giliran untuk menanti tanda tangan. Wimar berkomentar ketika saya menyodorkan No Regrets? “Wah, kau dapat dari mana buku langka ini?” Jawab saya, melontarkan pertanyaan pertama saat diskusi buku dimulai. Komentar lain yang tak kalah menarik terujar dari Fira Basuki, “Wow the great book! Buku mahal neh, seratus ribu lho,” kata Fira. Saya hanya tersenyum.

Kelak, pasti saya bikin buku sepertimu Fira...