Pelangi itu punya ragam warna memikat. Seperti warna-warna itulah, apa yang tersuguhkan saya harap bisa mewarnai seperti pelangi. Saya hanya mencoba menangkap makna disebalik kata. Mencari, mengurai dan merangkai fakta yang digabung dengan imajinasi hingga menjadi sebuah kisah, seperti dalam cerita pendek. Sebagian besar cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, kisah saya sendiri. Selamat membaca!
Sabtu, 07 Maret 2009
Ruang Tersendiri Film & Sastra
Sebuah karya sastra dipilih untuk sebuah produksi film memang bukan hal baru. Sisi positifnya bisa memacu seseorang meningkatkan minat baca lantaran ada tendensi menjawab rasa penasaran setelah menyaksikan sebuah tontonan. Orang yang memiliki sense of curiosity yang tinggi biasanya ada kecenderungan mencari asal bagaimana sebuah sajian tontonan itu berasal. Itu artinya, jika muncul rasa penasaran dari apa yang telah disaksikan pada sebuah tontonan, seseorang cenderung membaca karya asal.
Namun, masalah yang terjadi sudah selaraskah budaya nonton dengan budaya membaca kita? Keterkaitan keduanya tentu saja ada ketika dipadukan, asalkan kepaduan itu masih selaras dari maksud tuturan teks awal. Membandingkan keduanya (membaca dan menonton) memang menjadi satu hal menarik yang perlu kita kaji sekarang ini.
Budaya nonton yang saya amati dewasa ini baru sampai pada batas mencari hiburan semata. Penonton masih belum sepenuhnya apresiatif lantaran yang dicari hanya kepuasan parsial. Mengenai proses pembelajaran yang bisa didapat dari sebuah film masih jauh panggang daripada api. Padahal film adalah cerminan realitas, perangsang imajinasi, pembentuk identitas, dan dunia yang mencipta pencitraan.
Pembentukan identitas yang dimunculkan dari film tidak terlepas dari apa tema yang diangkat, siapa yang menjadi pemain, siapa yang mengelola bioskop sebagai lanskap luar yang mengalasi layar putih itu, dan siapa yang menjadi penontonnya. Pengalaman menonton, berada dalam gedung bioskop, dan tingkah laku menikmati sajian film merupakan proses resepsi maupun respon atas identitas dari pencitraan yang ditampilkan.
Sementara membaca adalah gerbang untuk menjadi orang yang berpengetahuan. Ia menjadi salah satu aktivitas literat kelas berat, namun menyenangkan ketika sudah mendalaminya. Pada sebuah bacaan, disitulah ide-ide tertata pada kata-kata.
Sastra dan Film
Film seperti yang dinyatakan Asrul Sani adalah bidang seni yang menggunakan citra sebagai mediumnya. Ia adalah kontinuitet gambar-gambar, karena itu bersifat grafis. Sementara kata-kata dalam sastra punya peran membangun cerita, seterusnya cerita mengandaikan urutan dalam waktu, sedangkan perkembangan peristiwa memerlukan keterangan tentang sebab akibatnya. Sebaliknya film menunjukkan perkembangan ceritanya tidak dengan memperlihatkan perkembangan dari satu waktu ke waktu, tetapi dengan memperlihatkan perpindahan dari satu ruang ke ruang yang lain.
Keduanya pun bisa menyatu atau lebih tepatnya disatukan dengan makin maraknya film yang diangkat berdasarkan sebuah novel laris. Alih-alih mendulang kesuksesan yang sama, sebuah novel pun diangkat ke layar lebar. Peluang adanya pasar, didukung dengan kekuatan modal dan kreativitas pelaku sinematografi, sebuah karya sastra dalam bentuk teks diangkat menjadi film.
Kemungkinan adanya perbedaan interpretasi bahkan terasa jauh dari sebuah tuturan teks bisa saja terjadi. Ini wajar, karena sejatinya sastra memiliki ruang tersendiri untuk bisa dinikmati, dan diresapi. Ia justru lebih menarik dan seksi untuk dinikmati ketika ia masih sebagai teks yang utuh.
Pun sama halnya dengan karya film (sinematografi). Ia memiliki ruang tersendiri untuk bisa diapresiasi, diserap pesan yang ingin disampaikan melalui ranah audiovisual. Proses apresiasinya melibatkan seluruh indra, terutama pada indra lihat, dengar, dan rasakan.
Kemungkinan terjadinya misinterprtasi tentu saja ada. Sebut saja dalam novel Da Vinci Code ketika difilmkan ada banyak bagian penting yang hilang. Laskar Pelangi, Sajadah Cinta, dan baru-baru ini adalah Perempuan Berkalung Sorban pun mengalami nasib yang sama. Karya-karya itu jauh lebih berkesan dinikmati sebagai teks novel, tenimbang jika diangkat ke layar lebar. Selain karena keterbatasan ruang dan waktu, sebuah film juga harus benar-benar dimainkan oleh seorang profesional. Berbeda dengan ruang sastra. Ia tidak terikat oleh ruang dan waktu. Imajinasi yang dihasilkan bebas mengembara sampai pada batas angka dibagi nol alias yang tak terhingga.
Besar kemungkinan ketidakselarasan itu terjadi lantaran film tersebut 'hanya' merekonstruksi teks dari buku ke film. Sikap semacam ini tentu rentan menjadikan penonton yang sudah membaca karya satra itu, ketika menonton filmnya akan dibawa ke dalam kegiatan menonton yang 'hanya mencocok-cocokan' yang ada di buku apakah ada juga di dalam film; memperbandingkan intensitas sensasinya: sedih di buku atau sedih di film, lucu di buku atau di film, tegang di buku atau di film, dan seterusnya.
Tetapi itu bisa berbeda ketika film yang diadaptasi dari karya sastra (katakanlah novel) diangkat dengan mengambil sisi atau angle (sudut pandang) lain. Mulai dari cara bercerita (point of view), penekanan cerita, interpretasi cerita, dan lain sebagainya. Dalam pandangan Embie C Noer besar kemungkinan penonton akan terlibat sama segarnya seperti ketika dia membaca novelnya. Keberhasilan menemukan bentuk semacam inilah yang banyak menjadikan karya film yang mengambil karya satra sebagai script, menjadi karya yang juga memiliki nilai yang sama agungnya, sama kharismatiknya, sama orisinalnya, dengan karya sastra yang dipilihnya sebagai bahan cerita.
Itu bisa berarti bahwa bisa saja sebuah karya apapun menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya yang berbeda, tetapi ketika hanya mengadopsi penuh, tidak menutup kemungkinan hasil dari karya itu tak seksi lagi untuk dinikmati.
Senin, 09 Februari 2009
Karya yang Terlahir karena Sesuatu
Semangat dan energi dari seorang Ali Irfan yang saya kenal, nampaknya tak pernah padam. Kumpulan cerpen ini lebih mengukuhkan bahwa ide atau gagasan yang berlompatan dalam pikirannya tersalurkan melalui tulisan. Bukan hanya sekedar sebagai bacaan, tapi lebih dari itu adalah mampu menginspirasikan kita semua akan makna dari suatu cerita.
Pergulatannya di dunia jurnalistik sangat berpengaruh dalam gaya bertutur dan pemilihan kata. Maka tak megherankan bila beberapa cerpennya lahir karena adanya “sesuatu” yang terjadi. Semisal yang berjudul Eksekusi, terinspirasi dari kasus bom Bali. Manakala kiai kharismatik K.H. Syarief Muhammad bin Syech yang sangat akrab disapa Kang Ayip Muh wafat, hatinya gelisah dan lahirlah cerpen Menyentuh Keranda. Adanya “sesuatu” yang terjadi, jelas erat kaitannya dengan dunia jurnalistik. Cerpen berjudul Deadline! sangat kentara darah kewartawanannya tak terpisahkan.
Kelebihan dari seseorang yang konsisten bergelut di dunia jurnalistik, diantaranya adalah peka terhadap dinamika kehidupan, mampu merangkai huruf, kata, dan kalimat menjadi satu kesatuan arti secara lancar. Hal ini amat membantu kejernihan alur pikir sang penulis dalam menorehkan gagasan. Pergaulan dan pengalaman Ali Irfan di lingkungan pondok pesantren dan komunitas dakwah kampus pun telah menginspirasikan karyanya yang bertajuk Ratapan Semu Iblis dan Malaikat Seribu Cahaya.
Seperti saya sebutkan tadi bahwa instink jurnalisnya terus bergerak mengendus penggalan berbagai peristiwa. Mencoba merekam kejadian yang menyentuh hatinya, kemudian memaknai yang tersirat dari yang tersurat mejadi cerita pendek. Seribu kata, seribu makna niscaya tak akan pernah habis dalam menguraikannya.
Semoga pembaca dapat memetik inspirasi dari kumpulan cerpen ini. Dan saya percaya, sang penulis tak akan pernah kehabisan gagasan dan kata-kata dalam membuat karya-karya selanjutnya.
Yanto,Sy
Praktisi Media & Creative Director Forum Bela Budaya Cirebon
Tentang Cinta, Malaikat, dan Kematian
Cinta, malaikat, dan kematian adalah tiga unsur berbeda tergabung karena sesuatu dan menjadi dalam satu frase: antologi cerita pendek. Ketiganya menyatu lantaran ada sesuatu. Atau dengan lain perkataan, sesuatu menyatukan ketiganya. Sesuatu itu tak lain adalah rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang sifatnya abstrak namun ada dan bisa dirasakan seperti halnya cinta, malaikat, dan kematian.
Kalau kita uraikan secara mendetil, sejatinya cinta adalah sesuatu yang abstrak dan bisa dirasakan. Di dalam cinta terkandung energi yang benar-benar menggerakkan manusia untuk hidup. Bahkan lebih hidup! Sebuah keberlangsungan berlangsung karena ada cinta. Ia tak perlu definisi, meski ada seribu makna disebalik kata itu. Satu kata yang kerap membuat hati anak manusia bergetar, tersipu, berani, bertahan, setia, bahkan berselingkuh! Satu kata yang terakhir bisa (atau biasa) terjadi manakala menemukan cinta yang lain lalu enggan melepas yang sudah digenggaman!
Ketika tak ada keberanian mengungkapkan, cinta pun bisa mengarahkan seorang anak manusia menjadi pencuri. Ini terjadi seperti dalam sebuah pengakuan, Akulah Pencuri Itu. Sadar bahwa mencuri perbuatan yang berdampak pada sebuah dosa, seorang anak manusia pun mengakui perbuatannya dengan mengaku dirinya sebagai pencuri. Dalam pengakuannya ia bilang, setidaknya dengan mengakui itu, akan memperingan mizan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan nanti. Inilah pentingnya memaknai sebuah kejujuran. Bukankah jarang-jarang ada pencuri mau mengaku?
Manakala tak ada keberanian membalas, kaum hawa pun, cukup membalasnya dengan diam. Sebuah jawaban yang menimbulkan rasa penasaran lelaki meski ada sabda nabi yang mengatakan, diamnya perempuan adalah sikap menerimanya. Sampai-sampai dengan tingkat kepercayadirian yang tinggi, kaum adam harus mengatakan, Sebenarnya Kau Mencintaiku, Hanya Saja Kau Tidak Mengatakannya. Namun ada sebagian bagi kaum hawa yang berprinsip bahwa diam saja tidak cukup. Mungkin terjadi karena ada kekhawatiran cintanya tak berbalas. Maka dengan sekuat tenaga, seorang Rahma Syifa memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mengekspresikan rasa seperti dalam cerpen Lelaki yang Datang Lewat Mimpi. Kesetiaan pun diuji dalam Lelaki yang Tak Pernah Tidur lantaran menunggu kedatangan bulan yang kerap mengganggu hatinya. Keinginan untuk bercinta dengan bulan pun muncul meski urung lantaran mempertimbangkan kesetiaan seorang istri.
Cinta memang mengajarkan seseorang untuk berkhianat, selain tentunya mengajarkan kesetiaan. Kalau ingin tahu apa itu kesetiaan, belajarlah pada Malaikat! Ia makhluk Tuhan yang tingkat kesetiannya sudah teruji. Dengan anugerah kesempurnaan yang tiada tara, sebenarnya manusia bisa seperti malaikat tanpa harus menjadi malaikat. Bahkan seseorang bisa mendatangkan Malaikat Seribu Cahaya yang langsung diturunkan dari langit. Tetapi keegoan yang melekat pada diri manusia malah membuatnya kadang kebablasan lantaran muncul keinginan memiliki Dua Helai Sayap Jibril.
Tetapi, seberapa jauh manusia berpetualang menyelami hidup, pada akhirnya akan bermuara pada satu, yakni kematian. Ia adalah akhir yang pasti, tetapi kapan waktunya masih menjadi misteri. Kematian tak perlu dicari, karena sejatinya ia akan datang sendiri menghampiri. Yang patut diperhatikan adalah bagaimanakah kita seharusnya mati? Kisah mengenai kematian, mulai dari kematian yang sederhana, kematian yang belum saatnya, sampai bunuh diri telah saya tuangkan dalam Senja Di Atas Kereta, Menyentuh Keranda, Deadline!, Eksekusi, Qasidah Gurun, Suara Adzan di Jantung Muadzin, dan Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja.
Ali Irfan. Tegal, 2 Februari 2009. 14.44
Jumat, 06 Februari 2009
Aku, Wimar Witoelar, dan Fira Basuki
Ini pengalaman yang belum aku kisahkan kepada kalian. Kisah lama memang, tapi itu tak apa kan? Saya memercayai, sebuah pengalaman yang dituliskan akan menjadi kisah mengabadi yang sewaktu-waktu bisa dibuka kembali. Saya menyebut hari itu terlalu indah untuk dilewatkan, karena benar-benar memicu aktivitas saya dalam menulis. Begini kisahnya...
haripertama:sembilanseptemberduaribuenam
Saya bertemu dua sosok berbeda. Buku menyatukan mereka. Dekat seperti sahabat, bahkan seperti ayah dan anak! Mereka Wimar Witoelar dan Fira Basuki. Saya mengenal keduanya pada sebuah buku biografi berjudul “Heal Yeah: Wimar Witoelar & Fira Basuki.” Penulis buku itu Fira Basuki. Seorang jurnalis, penulis juga novelis.
Pukul delapan malam saya sudah berada di salah satu stasiun radio di Cirebon. Ikut acara talk show. Niat awal wawancara Wimar Witoelar dan Fira Basuki buat majalah kampus yang saya kelola, majalah FatsOeN. Tetapi entah, ketika keduanya datang, mental tiba-tiba down. Memang saat itu ada banyak orang. Rombongan Wimar datang dengan dua mobil, yakni terdiri dari orang-orang Intermatrix, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Public Relation milik Wimar.
Saya tak punya banyak kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Wimar karena sejak kedatangannya langsung disambut kru radio. Sesekali saya mengambil gambar keduanya. Sedemikian asyik memotret, sampai hampir lupa pada niatan awal untuk wawancara.
Ada yang menarik dari sosok Wimar. Sapaan yang ia gunakan menggunakan inisial. Wimar Witoelar ternyata akrab disapa WW (read: wewe, not double u, double u). Katanya nama itu egaliter, yakni mengedepankan persamaan. Ia tak memandang perbedaan dari mana ia berasal, mulai dari agama, ras dan lainnya yang sekiranya mengindikasikan ada jarak.
Kesederhanaanya begitu melekat. Padahal ia bukan orang biasa lantaran kapasitasnya yang memang tidak diragukan lagi. Meski saat kecil sempat dicemooh sebagai bebek si buruk rupa (ugly duckling), WW ternyata seorang aktivis kampus, the great communicator, pernah didapuk sebagai news caster VOA, dan karir politiknya jadi Juru Bicara Kepresidenan masa pemerintahan Gus Dur.
Firbas juga tak kalah menarik. Gaya penulisannya energik. Ketika kamera menyorot ke arahnya, ia pasang rona senyum pipit. Senyumya khas. Saat duduk di sebuah sofa, tiba-tiba Fira Basuki duduk di kursi persis depan saya. Saya mencoba berusaha bersikap biasa, biar tidak kelihatan canggung, apalagi gugup.
Dalam benak saya berucap, “Ini kesempatan untuk wawancara Fira Basuki!” Saya pun tak melewatkan itu, tanpa menunggu waktu, juga tanpa minta ijin wawancara, saya langsung melontarkan pertanyaan,
“Kenapa Mbak Fira mengambil sastra dalam kepenulisan?” tanya saya tiba-tiba.
“Ceritanya ini wawancara nih?” Jawab Fira seketika dengan senyum khas. Sepertinya ia paham tengah berhadapan dengan wartawan amatiran, he...
Saya membalas dengan senyum mengiyakan. Setelah itu Fira menjawabnya.
“Ya, karena dunia sastra segalanya bisa mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin dalam kehidupan nyata ketika dalam dunia sastra itu bisa saja terjadi dan sah-sah saja.”
Ternyata, ia mulai menulis sejak duduk di bangku SD. Saat teman-temannya asyik bermain, ia malah asyik di kamar membuat puisi di buku harian. Tahu Fira suka menulis, ibu tercintanya kasih saran agar Fira ikut lomba penulisan puisi. Namun Fira acuh. Ibu tersayang ternyata punya inisiatif dengan mengisikan formulir pendaftaran. Hasilnya mengejutkan, tak terduga, tak disangka. Fira tampil sebagai juara menulis puisi yang diselenggarakan majalah Bobo. Padahal sama sekali tak merasa ikut lomba.
Saat talkshow mau dimulai, wawancara terpaksa saya hentikan. Saya hanya melontarkan dua pertanyaan. Lagi pula saat itu saya tak tahu harus bertanya apa lagi. I’m speechless!
harikedua:sepuluhseptemberduaribuenam
Saya masih mengikuti keduanya saat acara bedah buku di Gramedia. Saya datang ke acara itu lantaran dapat bocoran dari dari salah seorang kru WW, besok ada door prize berupa buku-buku Wimar yang akan diberikan kepada peserta bedah buku. Entah kenapa, saya yakin akan mendapatkan satu buku Wimar.
Apa yang saya harapkan ternyata terwujud. Saya adalah orang pertama yang melontarkan pertanyaan dalam forum. Ya demi sebuah doorprize! Sudah jadi kesepakatan awal, setiap penanya akan mendapatkan bingkisan.
Saya menghadiri acara itu bersama Siti Khudriyah, seorang kawan yang juga aktif di FatsOeN. Saya komporin dia bertanya biar dapat bingkisan. Terkesan materialistis memang, tapi tak apa kalau demi sebuah buku yang mencerahkan! Ia pun menurut, bahkan melontarkan pertanyaan terbaik. Ia mendapat satu buku Hell Yeah dan satu bingkisan, yang entah apa isinya. Saya dan Dyah senang lantaran dapat apresiasi menarik dari Wimar,
Sebenarnya saya sempat iri karena saya hanya mendapat satu bingkisan, Dyah dapat dua. Ia pertanyaan terbaik, saya biasa-biasa saja. Bahkan Dyah mendapat kehormatan berduet dengan Wimar menyanyikan lagu Hell Yeah! Itulagu favorit Wimar yang hampit diputar di mobilnya setiap kali ia bepergian. Dyah sempat mencoba menyelamatkan diri lantaran tak bisa nyanyi, seperti apa lagunya juga ia tak tahu. Meski sempat diputar juga itu baru pertama kali dengar. Pakai bahasa inggris pula. Tapi akhirnya setelah didesak, ia pun ke depan bersama Wimar. Ya, tidak terlalu memalukan memang, Di depan Dyah cuma pegang microphone! Saya lupa menanyakan bagaimana isi benak Dyah saat tak di depan bersama Wimar. Oh, iya. Bingkisan yang Dyah peroleh ternyata isinya sebuah kaos ekslusif Wimar.
Penasaran belum tahu apa isi bingkisan kecil, saya langsung membuka bingkisan. Saya sobek kado pembungkus dengan tergesa-gesa. Surprise Alhamdulilah! Isi bingkisan itu ternyata sebuah buku berbahasa Inggris. Judulnya No Regrets, A Reflection of Presidential Spokesman.
Setelah dipikir-pikir, ternyata saya dapat buku yang bernilai lebih. Sebab, apa yang didapat oleh kawan saya, pernah saya baca habis dalam waktu kurang dari dua hari. Yah, FatsOeN memiliki buku itu dua hari sebelum kedatangan Wimar di Cirebon. Tentang kaos itu, saya berkomentar dalam benak, book is more important than t-shirt!
Pas usai acara, saat acara book signing, beberapa orang sudah memanjang menanti giliran untuk menanti tanda tangan. Wimar berkomentar ketika saya menyodorkan No Regrets? “Wah, kau dapat dari mana buku langka ini?” Jawab saya, melontarkan pertanyaan pertama saat diskusi buku dimulai. Komentar lain yang tak kalah menarik terujar dari Fira Basuki, “Wow the great book! Buku mahal neh, seratus ribu lho,” kata Fira. Saya hanya tersenyum.
Kelak, pasti saya bikin buku sepertimu Fira...
Rabu, 14 Januari 2009
Lelaki yang Datang Lewat Mimpi
Mimpi itu telah datang tiga hari berturut-turut dalam tidur gadis berjilbab lebat. Rahma nama perempuan itu. Lengkapnya Rahma Syifa. Mimpi itu merasuk ke dalam benaknya. Dan benar-benar mengganggu perasaannya. Malam-malam berikut ia malah sampai tak bisa tidur lantaran selalu menebak-nebak apa sebenarnya makna disebalik mimpi itu? Satu mimpi yang datang tiga kali berurutan di tiga malam berbeda. Sebuah mimpi yang membuat hatinya bergetar. Mimpi yang seperti bukan mimpi padahal itu adalah sebenar-benarnya mimpi.
Dalam tidurnya Rahma memimpikan ada sesosok lelaki yang datang menghampiri ketika dirinya tengah duduk-duduk di masjid. Lelaki itu tersenyum mendekati. Tanpa disangka-sangka sebelumnya, ia mengajak Rahma shalat empat rakaat di masjid di tengah hari. Saat mimpi, ia merasakan seperti sebenar-benarnya duduk dalam teras masjid. Ia merasakan benar bagaimana ia shalat seperti halnya orang shalat. Ia merasakan benar senyum yang tanpa kata-kata itu, tapi ia memahami kata-kata yang terangkum terkulum senyum. Adakah mimpi itu menyiratkan pesan, akan datang seorang lelaki yang akan melamar lalu menikahinya?
Di hari pertama bermimpi memang tak begitu tampak jelas siapa lelaki itu. Wajahnya samar, tapi dari senyumnya ia kelihatan sosok lelaki yang baik hati. Senyum yang penuh keikhlasan. Rahma mencoba meraba-raba, mengarah pada beberapa nama lelaki yang ia kenal dan ia mengenalnya namun tak jua ia temukan siapa sosok laki-laki dalam mimpi. Rahma terbangun dalam mimpinya seusai salam.
Malam kedua tetap sama. Wajah lelaki itu masih samar. Dan benar-benar membuatnya penasaran. Mimpi Rahma pun masih sama. Duduk di teras masjid, ada lelaki datang tersenyum, lalu mengajak shalat, dan entah kenapa ia menurut saja. Hanya ada sedikit gambaran yang hadir dalam mimpi itu. Lelaki itu mengenakan baju koko hijau pupus.Tapi detil wajah, tak mampu ia gambarkan meski hanya dalam sketsa. Apa yang ia alami di mimpi kedua pun masih sama: ia terbangun seusai salam penanda shalat telah usai.
Malam ketiga baru semuanya terjawab. Wajah lelaki dalam mimpi itu sudah tak samar lagi. Rupa tampak begitu jelas. Mimpi-mimpi sebelumnya seperti meninggalkan sketsa wajah. Hari ketiga itulah penyempurnaan sketsa itu dalam rupa sesunguhnnya. Dan subhanallah, Rahma benar-benar mengenal lelaki itu! Lelaki itu ia kenal lewat tulisan-tulisannya di koran. Tapi bagaimana bisa datang lewat mimpi, itu yang ia tak tahu.
Rahma memang mengenalnya lewat tulisan. Juga saat kesempatan acara pelatihan jurnalistik di kampus. Saat itu Rahma sebagai peserta, dan ia pembicara. Rahma memang sempat dibuat kagum mendengar ketika ia berbicara, juga kagum saat membaca tulisan-tulisan lelaki itu yang menawan. Gaya bahasanya benar-benar memikat. Sudah. Hanya sebatas itu.
Tapi mimpi itu? Bagaimana bisa sosok lelaki yang tak mengenalnya bisa hadir dalam mimpi? Dan yang lebih Rahma tak tahu, dan membuat ia terheran-heran, mimpi itu datang tiga hari berturut-turut dengan ritme berbeda. Alur dalam mimpi itu layaknya kamera yang mencari titik fokus. Awal terlihat samar, tapi ketika menemukan titik fokus baru objek terlihat jelas. Apa yang Rahma alami menyisakan pertanyaan sangat mendalam. Pertanyaan yang membutuhkan jawaban, berupa sebuah tafsir mimpi yang ia merasa seperti bukan mimpi. Ia merasa tak kuasa mengalami mimpi yang tak biasa. Hatinya benar-benar tak bisa diterka. Bahagia, berdebar, takut, dan malu.
***
Sedemikian mengganggu perasaannya, Rahma pun memberanikan diri memberi tahu lelaki yang datang lewat mimpinya melalui SMS. Nomor handphonenya ia dapatkan dalam curiculum vitae saat ia ikut sebagai peserta pelatihan jurnalistik. Rahma mencatat dalam block note ketika itu. Gelombang elektromagnetik membuatnya berani mengatakan sesuatu yang sifatnya rahasia tanpa harus berhadapan, bertatap wajah, bertemu muka.
Melalui SMS, pesan ia tuliskan. Ia menuliskannya tak seperti layaknya SMS. Kata-katanya hampir tak ada yang disingkat. Rahma sempat berpikir, akankah dirinya lancang membicarakan ini kepada seorang lelaki yang ia kenal, tapi lelaki itu tak mengenalnya? Ia memang telah berpikir seribu kali melakukan ini. Tapi sebuah penasaran yang sangat, perasaan yang entah, rasa ingin tahu yang mengganggu, membuatnya ia benar-benar berani. Dan akhirnya ia pun benar-benar melakukannya.
***
Di sebuah desa kecil di Tegal, yang jaraknya 80 kilometer dari kota di mana Rahma tinggal, handphone seorang lelaki menimbulkan nada pesan diterima. Seketika lelaki itu membuka pesan itu yang muncul dari nomor tak dikenal. Ia lalu membacanya.
“Assalamualaikum. Mohon maaf seandainya saya mengganggu. Sudah lama saya tidak pernah melihat di Cirebon. Kalau boleh tahu, sekarang tinggal dimana? saya berharap kau mau membalas sms ini, karena beberapa hari ini saya memimpikanmu. Maaf kalau saya lancang, ini bukan dibuat-buat. Datang dengan sendirinya. Terimakasih. Saya Rahma.”
Awal Rahma ragu untuk menuliskan namanya dalam pesan itu. Tapi ia yakin, kalau lelaki itu pastinya akan bertanya balik mengenai siapa ia sebenarnya. Setelah menungu lumayan lama, pesan itu pun berbalas. Rahma senang bukan main mendapat balasan sms yang sebenarnya memang ia tunggu-tunggu.
“W3. Kok bisa begitu? Rahma yang mana ya, brgkali sy lupa. Ap kita sdh saling kenal?”
Rahma membalas lagi.
“Saya pun tidak tahu. Mungkin lupa karena kau orang yang cukup dikenal. Saya ingin kau memberikan solusi atau tafsiran tentang mimpi saya.”
Lelaki itu mengabaikan pesan balasan Rahma. Seperti tak mau ambil pusing orang iseng.
“Sebelumnya saya sudah mengenal dari tulisan di koran dan saat mengisi pelatihan di kampus. Kalau saya tafsirkan takut di bilang lancang karena mimpi saya alami tiga beturut-turut.”
Masih abaikan pesan. Tetapi pesan berikutnya selalu datang.
“Mimpinya, saya duduk di teras masjid tiba-tiba kau datang dengan mengenakan koko hijau. Kau tersenyum, dan mengajak saya shalat. Entah kenapa saya nurut. Maaf kau saja yang menafsirkan sebelum saya.”
Tetap lelaki itu tak membalas pesan. Selang hampir satu jam, pesan berikut datang. Ada kata maaf. Namun lelaki itu tetap membacanya dengan perasaan yang mungkin terganggu.
“Gimana tafsirannya? Maaf saya terlalu terburu-buru karena mengganggu hati saya.”
Masih saja tak berbalas. Hampir Rahma kecewa. Tapi ia tak berhenti. Serangan SMS terus dilancarkan.
“Kenapa kau tidak memberi tahu saya tafsirannya. Hati saya benar-benar terganggu, dan menjadi penghalang bagi saya dalam bertaqarub pada Allah.”
Lelaki itu terkejut mendapat pesan terakhir yang ia baca. Awal sebenarnya ia tak ingin meladeni. Tapi ia justru bergetar ketika dirinya menjadi penghalang seseorang kepada Tuhan. Rahma menyebut nama Allah! Sebuah NAMA yang begitu menggelisahkan hatinya. Akhirnya ia pun membalas pesan itu, dengan mencoba menebak terkaan tafsir apa yang dialami Rahma. Lewat rekaman mimpi yang dikirim lewat SMS, diam-diam lelaki itu menafsirkan mimpi Rahma.
“Bismilahirahmanirahim. Biar kutebak. Apa kau menafsirkan sosok lelaki itu akan datang membawa niat suci meminta jadi imam dalam hidupmu? Berharap saja yang terbaik sama Allah!”
Rahma bahagia bukan main mendapat balasan itu. Bahagia lantaran jawaban itulah yang sebenarnya yang ia harapkan. Entah kenapa sejak mimpi itu, pikirannya selalu tertuju pada sosok lelaki yang hadir dalam mimpi. Ia mengenalnya, tetapi tidak untuk sebaliknya. Tapi ia tak peduli. Yang penting ia bahagia. Sedemikian bahagianya, sampai-sampai tanpa sadar ia membalas pesan yang sebenarnya membuat ia malu dan terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri.
“Bolehkah aku mendengar suaramu?”
Begitu pesan yang tertulis di alam bawah sadar. Melihat pesan yang sudah terkirim ia terkejut bukan main. Ia bingung harus berbicara apa kalau nantinya lelaki itu benar-benar menelepon!
“Boleh. Telepon aj skrg. Pulsaku g cukup buat nelp,” balas lelaki itu.
“Saya telpon tapi kau saja yang ngomong ya.”
Lagi-lagi ia menuliskan pesan singkat lagi. Ketika menuliskannya ia seakan berada dalam alam bawah sadar. Saat menerima pesan, lelaki itu tersenyum tanpa berkata-kata. Mungkin membayangkan apa sebenarnya yang sedang dialami perempuan bernama Rahma Syifa itu? Tapi dengan satu kata, lelaki itu membalas pesan. Hanya satu kata dengan tiga titik di belakangnya.
“Boleh...”
Dengan hati berdebar Rahma mendengar suara lelaki itu lewat bantuan gelombang elektromagnetik! Hanya lelaki itu yang bicara, dan tidak untuk Rahma.
Dan...inilah perbincangan searah lewat telepon antara Rahma dan lelaki itu.
“Assalamualaikum. Baru kali ini aku menemui sosok aneh seperti Rahma. Menelepon tapi tak mau bersuara. Tapi tak apa. Oh ya, masalah mimpi sebenarnya...” Klik!! Telepon itu langsung Rahma matikan. Entah karena malu atau bahagia. Lisan Rahma benar-benar tak mampu berkata-kata. Lelaki itu hanya tersenyum. Tersenyum!
Tegal, 12 Januari 2009
Selesai Pukul 17.03 WIB
Rabu, 03 Desember 2008
Seperti Menemukan Kata Baru
Asing di daerah orang, wajar. Tapi bagaimana kalau yang terjadi malah sebaliknya? Itulah hal yang nampaknya sepele, yang saya alami dan renungkan. Peristiwa ini terjadi di hari-hari pertama ketika saya back to basic, alias pulang kampung.
Di tanah kelahiran, saya justru merasakan itu. Bisa jadi, karena banyak nilai lama yang saya tinggalkan. Yang paling utama sekali adalah masalah bahasa, yakni bahasa Tegal.
Lama tak terucap di lisan membuat bahasa kelahiran itu terasa asing di telinga. Benar kata para linguist, bahasa itu lanyah karena terbiasa. Ia adalah sebuah kebiasaan. Language is habit!
Mendengar ibu, adik-adikku, tetangga berbicara, subhanallah! saya merasa seperti menemukan kosakata baru. Padahal, sejatinya kata-kata itu telah lama saya kenal. Ia hanya mengendap di memori yang kini perlahan-lahan terbuka kembali. Namun sungguh susah sekali terucapkan di lisan saya untuk saat ini (karena saya yakin, suatu saat saya juga pasti bisa berdialek Tegal. Tunggu saja tanggal mainnya hehehe :)
Pada sebuah artikel media lokal, saya mesti mengernyitkan dahi ketika membaca percakapan antara Dalang Ki Entus Susmono dengan Bupati Tegal Agus Riyanto. Sekali lagi, saya seperti menemukan bahasa baru!
”Senenge muter-muter, plipiran, pijar wong jaman transparansi kok ya, kawa kaya kue. Mbok langsung des des des! Pluntrah-pluntrah bae, blakasuta, aja gemremeng ning buri,” kata Ki Enthus.
“Makasih Wa, Sisan sampeyan njambak apa ngompoli, aku tha-maaf lho-nganggep kaya lagi neggendong bayi,”canda bupati. “ Enyong tah batine apa ngomong kaya kiye, bisa-bisa diarani pimen-pimen. Mung ngilangaken kewajiban, sebagai kanca. Di trima apa ora, mangga. Embel-embel blas laka. Apa maning tujuan sing ala,” jawab bupati ringan. Ia menganggap paidonan (ledekan_ mudah-mudahan saya tak salah mengartikan) itu sebagai masukan baginya.
Setelah melalui proses berpikir yang panjang, barulah saya paham maksudnya kemana. Kutipan pertama saya menilai lontaran ditujukan untuk Bupati Tegal Agus Riyanto lantaran tiap kali bicara tidak langsung pada pokok persoalan seperti ketika ia menulis.
(Sebenarnya ia banyak menggunakan teknik bercerita ketika menulis sebelum sampai pada pokok persoalan. Tapi di mata Ki Dalang yang gaya bicaranya tanpa tedeng aling-aling caanya itu buang-buang energi. Sehingga ketika tak bisa memahami lebih dulu karakter yang berbicara, bisa-bisa orang lain keliru menyangka negatif).
Hasil menerjemah bebas saya seperti ini:
“Zaman keterbukaan kok kalau bicara banyak basa-basi. Kenapa tidak langsung saja pada pokok persoalan”
“Terimakasih, Pak. Sekalian saja bapak menjambak dan mengencingi saya. Maaf maaf, saya melakukan semua itu ibarat sedang menggendong bayi,” canda bupati. “ Apa untungnya saya bicara seperti itu. Takut terjadi apa-apa. Hanya menggugurkan kewajiban teman. Diterima atau tidak, silahkan. Nggak ada maksud apa-apa. Apalagi tujuan jahat”
Jujur, saya menerjemahkan bebas pernyataan Ki Dalang lantaran ada beberapa kata yang, maaf sekali, saya tak tahu maknanya seperti plipiran, blakasuta, dan pluntrah-pluntrah! (Ki, tolong bantu saya menerjemahkan, :D)
Kadang saya berpikir, apa yang sebenarnya terjadi pada diri? Satu pertanyaan yang saya sendiri tak tahu jawabnya. Banyak kawan bilang, sebagai asli anak Tegal, yang setiap kali bicara medhok pisan, tak secuilpun melekat ketegalan pada diri. Entah apa sebabnya.
Kalau dipandang dari kacamata sosiolog, apa yang saya alami adalah sebuah kewajaran. Lantaran saya berinteraksi di lingkungan yang memang di dalamnya tidak atau jarang ada orang-orang asli Tegal. Sehingga ini berpengaruh pada dialek Tegal yang khas.
Bahkan, yang paling ekstrem, kawan saya sempat mempertanyakan ke-Tegal-an saya, hanya karena cara bicara saya lancar berbahasa Indonesa seperti air.
Saya ingat ketika memperkenalkan diri di depan kelas saat pertama kali masuk kuliah. Suasana sempat heboh! Heboh lantaran dosen melontarkan candaan bernuansa primordial yang tentu saja diarahkan kepada saya.
“Oh, wong Tegal... kamu tahu? Di Tegal itu nggak ada RRI ya. Masalahnya kalau ada, bisa merusak bahasa Indonesia. Bisa-bisa bukan mendengarkan berita, tapi malah mendengarkan lelucon.” Terang saja kelas langsung gerr!
Saya sempat bertanya dalam hati, apa iya bahasa Tegal merusak tatanan bahasa Indonesia?” Ah, bukankah bahasa Tegal itu unik dan menarik.
Saya hanya tersenyum meski banyak yang meledek dengan istilah inyong, kowen, kuwe, bul, embuh, dan aksen Tegal lainnya.
Saya juga masih bisa tersenyum ketika ada teman yang meledek saya dengan candaan yang mungkin sangat menyinggung perasaan Wage Rudolf Supratman (Walau pun dilontarkan dengan konteks candaan). Bayangkan saja, “ku” dalam lirik lagu Indonesia Raya tanpa minta ijin sama pencipta lagu diubah seenak udel diganti dengan “nyong.”
Terlepas dari banyaknya ledekan yang menilai bahasa Tegal setidaknya itu menandakan bahwa bahasa Tegal itu menarik. Betapa tidak, Cici Tegal yang Asli Betawi juga ketiban berkah mengadopsi bahasa Tegal di dunia entertainment. Parto Patrio, Djamal Bulat, si pemeran Kenthung dalam Tuyul dan Mbak Yul, pun bernasib sama: populer karena ketegalannya!
Memperbaiki Daya Ingat yang (Kadang) Berkhianat
"Tulislah apa saja yang terpikir, dan tergambarkan dalam benak. Jangan berhenti sebelum ada aba-aba stop. Tulis saja, walau ide mentok. Saat benar-benar tak ada yang untuk dituliskan, tulis saja, mentok, mentok, mentok. Saat tak ada ide, tulis saja, nggak ada ide, nggak ada ide -sampai kembali menemukan ide melanjutkan tulisan. Pokoknya jangan berhenti sebelum ada aba-aba stop!"
Itulah simulasi yang kerap saya gunakan ketika mengawali sebuah tulisan. Bagi pemula cara ini terbukti efektif. Ada banyak hal-hal tak terduga yang dihasilkan dari metode macam ini.
Sejatinya cara diatas saya adopsi dari Novakovich dalam buku Berguru Pada Sastrawan Dunia. Cara itu pula yang digunakan Hernowo. Untuk mengingatkan daya ingat -yang biasanya kerap berkhianat- Hernowo mengawali simulasi menulis tersebut dengan sebuah kalimat, "Saya ingat..." dan kita tinggal lanjutkan saja mau diisi tulisan apa.
Baru-baru ini, metode macam ini saya praktekkan saat Trainning Jurnalistik di Pondok Pesantren Miftahul Muta'alimat Babakan-Ciwaringan Cirebon. Hasilnya sungguh luar biasa. Ada kejujuran, keluguan, bahkan kelucuan tergambarkan lewat goresan pena dan selembar kertas selama lima menit. Ya, saya memberi waktu mereka menggali daya ingat dalam simulasi itu lima menit, tidak lebih.
Lewat simulasi itu, kejujuran mereka tergambarkan. Walau seceria apapun mereka ternyata sebagian besar masih merasa kesepian, merindukan ibu, ayah saudara dan keluarga. Seperti yang terujar dari beberapa tulisan mereka.
"Saya ingat, ketika pertama kali ke pondok saya tiba-tiba ingat ibu, teman-temanku di rumah."
"Saya ingat, ketika ibu datang ke pondok, ibu langsung memelukku, membawakan makanan kesukaanku,"
Tentang keluguan bisa tergambarkan dari beberapa tulisan mereka
"Saya ingat, pernah ikut pelatihan menulis saat kelas satu. Semua peserta diminta menulis puisi, lalu dibacakan ke depan. saya takut, terus apalagi ya, aduh gimana neh, ga bisa nulis. Ah sudahlah segini saja, hehehe."
"Saya ingat ketika itu ada suara cowok memanggil namaku. saat menoleh ke belakang, tanpa banyak basa-basi, ditambah dengan mimik wajah yang memerah dan suasananya tegang, ia berkata, mau nggak kau jadi bidadariku?"
Ini hanya satu dari beberapa metode memperbaiki daya ingat. Tapi terbukti efektif. Buktinya bisa dibaca dari tulisan-tulisan di blog ini. Tentu saja, itu akan jauh lebih efektif, kalau kita juga banyak baca buku (atau membaca banyak buku?). Mudah-mudahan, daya ingatmu tak berkhianat lagi.