Selasa, 20 April 2010

Rahasia Maya

Di sebuah ruang tamu di rumah sederhana telah ada beberapa orang. Aku duduk di atas lembaran karpet yang terbentang. Ustadz Amar mendampingiku. Sebuah prosesi sederhana akan dimulai. Berlangsung tertutup. Tak banyak orang yang tahu. Hanya Ustadz Amar, ayah dan ibu perempuan yang selangkah lagi akan menjadi istriku, Insya Allah.

Tak lama kemudian seorang perempuan berjilbab datang ditemani seorang lelaki, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Tatapannya menunduk. Sekilas, aku sempat melihat paras cantiknya dalam balutan jilbab.


Di sebuah lingkaran majelis yang memang telah disiapkan, disitulah kami sore itu berkumpul. Minggu kemarin, Ustadz Amar memang merencanakan satu proses yang akan menjadi masa bersejarah dalam perjalanan hidupku.


Ada perasaan yang entah yang mendera-dera. “Diakah calon istriku? Siapakah wanita yang ada di hadapanku ini?” Melihatnya saja aku baru kali ini? Ia masih tertunduk. Matanya tak berani menatap. Sempat ia menatap, tapi saat mata kami bertemu pandang, ia buru-buru menundukkan pandangan.


Beberapa hal tentang sosok yang ada di hadapanku ini memang telah aku dapatkan. Tetapi itu tak banyak, hanya pada tataran global. Informasi yang aku dapatkan, adalah dia seorang muslimah, salihah, siap menikah, yang bernama Maemunah. Biasa dipanggil Maya. Sudah hanya itu. Dan, inilah kesempatan yang diberikan kepadaku untuk mencari tahu semua dalam proses sederhana bernama ta’aruf.


“Baiklah bisa kita mulai?” ustadz Amar mengawali perbincangan.


“Siapa yang akan mengawali pertanyaan lebih dulu?” lanjutnya


“Dia dulu.” serempak aku dan Maya menjawab bersama-sama. Mata kami sempat saling pandang.
Begitu juga ustadz Amar dan juga ayah ibunya yang ketika itu ada dalam ruang itu. Mereka tersenyum. Masih ada kesan kaku di antara kami. Kami malu.


“Baiklah Ali, kamu duluan karena kamu yang akan memimpin bahtera rumah tangga nanti,” aku mengangguk. Sempat diam lumayan lama karena saking gugupnya. Sampai-sampai ustadz Amar memberi kode mengingatkan agar saya mulai memberikan pertanyaan.


Aku mengucap bismillah dengan nada sirri. Saat paling mendebarkan kini tengah mendera menderu-deru. Seperti ada gemuruh badai. Allah, bantu aku, kuatkanlah aku memperlancar proses ini. Mudahkanlah proses ini, doaku dalam hati meminta kemantapan langkah.


Dan pertanyaan pertama pun dimulai.


“Bagaimana Ukhti pertama kali mengenal Allah?”


Pertanyaanku berlangsung datar dan seketika. Sederhana, namun memerlukan jawaban yang mengena. Aku tahu tak mudah menjawab pertanyaan seperti itu. Tetapi Maya dengan lancarnya menjawab pertanyaanku.


“Bukankah semua orang mengenal Allah adalah ketika masih belum lahir di dunia? Bukankah sudah ada perjanjian antara seseorang yang akan dilahirkan ke dunia dengan Allah? Dan ketika manusia lahir, nama Allah pula yang didengar pertama kali? Sejak kecil saya sudah dikenalkan hijaiyah mulai dari Iqro sampai Alqur’an untuk mempermudah menyebut nama Nya, belajar mengaji, hingga saya diberi kemampuan untuk membaca tanda—tanda kebesaran Nya dari apa yang telah Allah ciptakan. Itulah pertama kali saya mengenal Allah.”


“Siapakah laki-laki yang ukhti cintai?”


“Rasulullah Shalallah’alaihiwassalam.
”

Aku membenarkan bangga, karena itulah jawaban yang aku inginkan.


“Apa yang ukhti pahami tentang taat kepada suami karena Allah Swt?”


“Taat pada suami berarti pula taat kepada Allah. Suami adalah pemimpin rumah tangga. Dan seorang pemimpin wajib hukumnya diikuti. Mengenai ini sudah secara tegas dinyatakan, Ati’ullah wa’atiurrasul wa ulil amri minkum. Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan taatilah para pemimpin di antara kalian.’


“Pertanyaan lain ya?” Aku meminta Maya untuk beralih topik. Ia mengangguk membolehkan. Aku sudah mulai bisa sedikit mencairkan suasana karena sejak tadi pertanyaan yang muncul tak ubahnya seperti dosen penguji skripsi dalam sidang munaqasah.


“Bisa sebutkan satu persatu hargo sembako?”


Aku menangkap raut wajah terkejut. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam itu dariku. Seperti menganggap kalau pertanyaan dariku adalah pertanyaan konyol yang tidak begitu penting untuk ditanyakan. Tapi, bagiku ini penting dan harus diketahui oleh calon istri, karena itu bisa menjadi ukuran peka tidaknya seorang perempuan jaman sekarang yang terkadang menyepelekan. Setahuku ia selalu berkutat dengan buku-buku, mengajar, mengisi mentoring anak-anak SMA, mengisi seminar dan berbagai pelatihan. Akankah untuk hal yang sederhana ini ia lewatkan?


“Kok sembako?” katanya dengan nada sedikit memprotes.


“Iya. Memangnya kenapa?”


Akhirnya ia pun menjawab satu persatu harga sembako.


“Beras Rp.7000,-/kg. Minyak sayur Rp.14.000,- Telor, Rp.8.000,-/kg terigu Rp.6000,-/kg, Gula pasir Rp.8.500,-/kg, kalau gula merah Rp.8.000,- Cabe mulai kemarin menembus harga Rp.8.000/kg, begitu juga bawang merah”


“Baru delapan, kurang satu. Satunya lagi? Kan sembilan?”


Lumayan, pikirku, jawaban Maya tak meleset jauh dari apa yang disampaikan ibuku tadi sebelum berangkat. Ibuku sendiri sampai heran, mau melamar orang kok nanya-nanya harga sembako segala.


Maya sempat berpikir lama untuk mengingat-ingat nama sembako yang kesembilan.


“Oya, Elpiji tiga kilogram tiga belas ribu lima ratus!”


Dan kini giliran aku menjawab pertanyaan-pertanyaan Maya.


“Assalamualaikum Akh? Siap menerima pertanyaan dari saya?”


“Waalaikumsalam. Insya Allah siap.”


“Tolong ceritakan sedetil mungkin, bagaimana hubungan akh dengan Allah saat ini?”


“Aku merasa Allah tambah dekat. Bahkan aku merasa kalau kasih sayang Allah bertambah kepadaku. Buktinya, kemarin aku sakit, dan sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit?”


“Apa hubungannya sakit dengan kasih sayang yang bertambah, akhi?”Langsung Maya memotong pembicaraanku yang belum selesai.


“Sabar ukhti, belum selesai aku menjelaskan. Tadikan mintanya sedetail mungkin. Iya, dengan sakit yang aku rasakan kemarin setidaknya menunjukkan kepadaku kalau Allah masih sayang. Tak cuma itu, bukti Allah sayang juga terlihat waktu aku tertidur setelah maghrib karena saking capeknya. Tengah malamnya, Allah membangunkanku, mengingatkanku, untuk shalat Isya. Ya sekalian saja aku manfaatkan untuk shalat malam. Saat sunyi itulah aku merasa benar-benar berkomunikasi dengan Nya. Ada ketenangan tak terkatakan. Ada satu keakraban yang begitu karib,” jelasku dengan menunjukkan pengalaman-pengalaman yang menurut pemahamanku menggambarkan kedekatanku dengan Sang Khalik.


“Dalam seminggu terakhir, berapa hari yang anda lewatkan tanpa bershadaqah atau berinfak untuk orang miskin dan sabilillah?” Pertanyaan kedua Maya terujar, masih dalam tataran normatif, sama seperti pertanyaan yang awal-awal aku ajukan.


“Sebisanya dan semampunya saya menyisihkan rezeki yang aku dapat untuk bersadaqah setiap hari. Hanya dua kemarin, saya urung memberi kepada salah seorang pengemis yang datang tiba-tiba karena agak kasar cara memintanya. Coba saja bayangkan, tanpa salam tanpa basa-basi langsung menabok pundak hingga membuat aku terkejut. Menyebalkannya lagi, dia malah biasa-biasa saja, sambil menengadahkan tangannya. ‘Minta uang! Saya orang kecil!’ pintanya memaksa. Cuma setelahnya, aku merasa menyesal sekali ketika itu kenapa aku tak memberinya saja. Mau aku kejar, orang itu malah nggak ada. Sudah pergi jauh. Nggak kelihatan. Barangkali begitulah cara Allah menguji ketulusan hati seseorang.”


Selesai menjawab, pertanyaan pun berlanjut.


“Saya mau buka rahasia,” kata Maya kepadaku terus terang. Seakan ingin membuka sesuatu yang selama ini hanya ia yang tahu. Sempat aku bertanya-tanya, rahasia apakah itu yang akan diceritakan Maya. Subhanallah, aku benar-benar melihat mata yang begitu teduh di wajah Maya. Wajah cerah air wudlu.


“Sebenarnya saya sudah memiliki seorang lelaki yang sangat saya cintai. Orangnya saleh, kalem, pintar, ganteng, dan sangat sopan. Hanya kepada dia saya memberikan cinta saya lebih daripada lelaki lain. Bersediakah anda mengijinkan saya melanjutkan cinta saya kepada lelaki ini, kalau anda menjadi suami saya?”


Aku kaget mendapat pertanyaan itu. Petir serasa menyambar. Perasaan mendadak hendak emosional. Hati yang tenang seperti musim semi menyejukkan seakan berubah menjadi badai di tengah gurun yang bergemuruh. Degup jantung hampir berhenti berdetak. Pikirku, berani sekali dia berbicara seperti itu Cemburukah aku? Bagaimana bisa ia membanding-bandingkan aku dengan lelaki lain? Pantaskah seorang akhwat melontarkan pertanyaan seperti itu?


“Apa maksud melontarkan pertanyaan seperti itu?” aku bertanya balik dengan nada agak emosional. Ingin sebenarnya aku mengendalikan diri dari sikap emosionalku yang mungkin mengganggu proses paling bersejarah ini


“Kurang jelaskah pertanyaan saya? Bersediakah akhi mengijinkan untuk melanjutkan cinta saya kepada lelaki itu, jika anda menjadi suami saya?” Maya bukannya menjelaskan, tapi malah menegaskan kembali pertanyaan itu.


Tak lama kemudian Maya menjawab, dengan kesan tenang. Tak ada tanda raut wajah yang menyimpan penyesalan. Sebaliknya wajahnya masih tetap kelihatan teduh.


“Lelaki itu adalah Muhammad Sallahualaihi wa salam!”


Aku malu. Diam-diam ternyata ia membalas pertanyaan sembako dengan pertanyaan yang sebenarnya telah aku tanyakan pada Maya. “Siapakah lelaki yang ukhti cintai?” Maya seakan berkata kepadaku ; satu sama!


“Bisa lanjut ke pertanyaan berikut?” Maya mengingatkan. Tadi aku sempat terdiam beberapa saat setelah mendapat jawaban yang mengejutkan.


“Setelah melakukan proses taaruf, apakah akh akan melanjutkan ke proses khitbah lalu nikah? Atau masih butuh waktu dan meminta saya menunggu, dengan alasan yang tidak syar’i dan terlalu duniawi.”


“Bagiku, menikah adalah satu proses yang perlu disegerakan. Segera. Bukan tergesa-gesa. Aku ingin menyegerakan nikah atas seijin Allah tentu saja,” jawabku padat langsung pada pokok persoalan.


“Baik. Kapan?” kata Maya.


“Tapi maaf, sebelum menjawab itu... boleh aku bertanya kepada Abi dan Umi?”


“Ya, tafadhol.” Maya mempersilahkan.


Dan kini perhatianku tertuju kepada orang tua Maya.


“Abi..., Umi...Melalui kesempatan ini.. saya... ingin melamar Maya untuk menjadi istri saya. Berkenankah Abi dan Umi memberi restu?” ucapku agak terbata-bata. Abi dan Umi saling pandang. Tersenyum wajar melihat kegugupanku.


“Kamu sudah mantap dengan pilihanmu menikahi Maya?” ujar ayah Maya.


“Ya, Insya Allah saya sudah mantap.”


“Baiklah kalau sudah mantap. Menyegerakan pernikahan itu lebih baik.”


Mendengar jawaban langsung dari ayahnya, Maya salah tingkah. Mendadak wajah Maya bersemu merah. Seperti wajah Aisyah, yang oleh Rasulullah disapa Khumairah. Ia makin salah tingkah saat aku mengucapkan “Maya, maukah kau menikah denganku?” lafadzku mantap.



Tegal, 23 Desember 2009
Selesai menjelang pagi, dalam interval waktu 19.30 - 23.47

Kamis, 22 Oktober 2009

Dari Akhwat untuk Ikhwan

Aku ingin bicara atas nama Wanita, terlebih Akhwat (kalau boleh sih).Apa beda?,silahkan antum memaknainya..
Tolong untuk para Ikhwan (atau yg merasa sebagai Muslim) :

Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, but itu fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi. Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami. Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. But, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada antum (mungkin) but suka karena diperhatikan "lebih".
Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci.
Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama Ta'aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya. Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.

Tolong, pahami arti Cinta seperti pemahaman Umar Al Faruq.
Bukan mengajak kami ke bibir neraka. Dengan SMS-SMS mesra, telepon sayang, hadiah-hadiah ungkapan cinta dan kunjungan pemantapan yang dibungkus sebuah label : Ta'aruf.
Tolong, kami hanya ingin menjaga diri. Menjaga amal kami tetap tertuju pada-Nya. Karena janji Allah itu pasti. "Wanita baik hanya Diperuntukkan Laki-laki baik".

Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu.
Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu.
Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu.
Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu.
Jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu.

Ada beda... Persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus...
Beda itu bernama "Rasa" dan "Pemaknaan".
Bukan, bukan seperti itu yang dicontohkan Rasulullah.
Antum memang bukan Mush'ab.
Antum juga tak sekualitas Yusuf As.
Tetapi Antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova.
Karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah : Segeralah Menikah atau Jauhi Wanita dengan Puasa.
Tolong, sebelum antum memutuskan untuk mendatangi kami jawab dulu Pertanyaan ini dengan Jujur :

1. Setelah 3 bulan antum mendatangi dan menyatakan Cinta, antum masih belum siap untuk mengikrarkan dalam sebuah Pernikahan ?
2. Ataukah antum masih butuh waktu lebih lama dan meminta kami menunggu, dengan alasan yang tidak syar'i dan terlalu duniawi ?

Kalau Jawabannya : "Ya !"
"SELAMAT"

Berarti antum lebih pantas masuk surga dibandingkan Ali bin Abi Thalib. Dia baru berani mengatakan Cinta kepada Fathimah, setelah menikah. Ali, pemuda kesayangan Rasul, tetapi menunggu waktu bertahun-tahun untuk mengatakannya. Bukan karena dia pengecut tentu saja justru karena dia adalah laki-laki kualitas Surga...

Tolong, kami tidak ingin menyakiti hati calon Suami kami yang sebenarnya. Mereka berusaha untuk menjaga Hijab, agar datang kepada kami dalam kondisi suci hati, tetapi kami malah menjajakan Cinta kepada laki-laki yang belum tentu menjadi suami kami. Atau antum sekarang sudah berani menjamin bahwa antum adalah calon Suami kami sebenarnya ?

Maaf, Wanita itu lemah dan mudah ditaklukkan. Sebagai Saudara kami Tolong Jaga kami. Karena kami akan Kuat menolak rayuan Preman, but bisa jadi kami Lemah dengan Surat Cinta kalian.

Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahi-Nya ?
Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhoi-Nya ?

Bukan cuma saat Menikah, tetapi saat pertemuan yang juga bebas dari maksiat. Allah Maha Pencemburu, dan Dia Maha Memiliki kami.
So,,, Mintalah kepada-Nya sebelum mendatangi kami

***dari sebuah milis ketika aktivis dakwah jatuh cinta




Selasa, 11 Agustus 2009

Sebuah Pesan yang Memunculkan Kesan


Sebuah kisah adalah kekuatan. Ia memiliki kekuatannya tersendiri. Lewat kata-kata, sebuah kisah dirangkai sehingga menjadi cerita. Kekuatan cerita itu mengabadi, dan tak lekang lelah waktu. Mengenai ini saya sadur bebas dari pepatah Yunani yang berbunyi, Scripta Manent Verba Volant. Yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.

Kekuatan sebuah kisah sejatinya terletak pada cara menyampaikan, bertutur, berimajinasi dan kecermatan memilih diksi. Melalui proses menulis kreatif, akan mampu menghasilkan karya yang menggugah, menggerakkan, menggetarkan, dan sekaligus mendapat pencerahan. Cerita pendek adalah salah satu diantaranya. Dan pesannya adalah kekuatan itu sendiri. Pesan yang memunculkan kesan tersendiri bagi pembacanya.
Cerpen. Cerita Pendek. Agaknya inilah media yang dipilih oleh teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) Tegal dalam mengekspresikan kegundahannya yang telah menumpuk dan terlampiaskan dalam bentuk cerita pendek. Membacanya membawa kita mengembara pada alam imajinasi tanpa batas.

Cerpen memang bukan fakta, tapi biasanya ia berangkat dari realita. Ia bisa juga terlahir atas sebuah reaksi dari sebuah peristiwa-peristiwa. Apapun peristiwa itu, selama itu menyentuh nurani, maka oleh tangan-tangan kreatif, akan lahir sebuah karya.

Mengenai ini kita membaca cerpen karya Kelopakbiru yang ia beri judul ‘Piring.’ Sebuah kisah yang berawal dari hal sederhana namun bisa menjadi bacaan yang luar biasa dan berbobot! Kisah ini tentu tidak akan terlahir ketika tak pandai-pandai membidik angle yang biasanya luput dari incaran penulis. Apalah arti sebuah piring? Bukankah yang lebih penting adalah isinya? Mungkin gambaran itulah yang kerapkali terlintas dalam benak kita. Tetapi begitulah. Kelopakbiru dengan segenap keluwesan bahasanya memiliki daya magis tersendiri. Dan tentu saja itu akan terasa setelah setelah kita menyelami kata-katanya.

Mengenai angle, kita juga bisa belajar dari ‘Suara Adzan Di Jantung Muadzin’ yang ditulis Kaisar. Ini mengingatkan kita, betapa seorang muadzin sejatinya adalah tugas mulia. Satu kemuliaan yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang bergetar manakala mendengar suara adzan.” Mendengar saja membuat hati saya bergetar, apalagi kalau melantunkan,” begitu kata sang muadzin yang dalam kisah itu bernama Wak Sur.
Tahukah kamu, sedemikian mulia dan ikhlasnya melantunkan adzan mengingatkan orang-orang kepada Tuhan, di jantung muadzin pun terdengar suara adzan meski jasadnya telah terpisah dari raga.

Harapan, cita-cita, keinginan dan juga mimpi bisa terwujud lewat kata-kata. Namun, ketika itu belum tercapai sekarang, setidaknya mereka-mereka yang telah menuliskan apa yang diimpikannya telah melangkah ke depan untuk meraih mimpi itu. Dan, tentu itu akan terjadi selama dalam proses perjalanan meraih mimpi tetap dibarengi dengan upaya melatih kemampuan diri ke arah itu. ‘Bukan Mimpi yang Terpenggal’, ‘Bawang untuk Gaza’, dan ‘Kado untuk Istriku’ adalah gambaran tentang mimpi-mimpi dan harapan-harapan itu. Kisah-kisah lain yang terangkum dalam antologi cerita pendek ini juga tak kalah menarik untuk dibaca. Selamat membaca!






Membudayakan Aktivitas Literat


Buku, dalam pengertian saya ketika masih di bangku sekolah dasar, adalah kumpulan kertas bergaris yang dijadikan tempat untuk menulis dengan pensil. Tetapi tidak untuk kini, pengertian buku yang saya dapat justru berbeda jauh dengan pengertian buku ketika saya masih kecil. Pengertian buku yang saya maksud lebih mengarah pada bacaan, dan bukan kertas bergaris. Ia adalah lembaran-lembaran kertas berisi kumpulan gagasan penulis yang terangkum. Dahsyatnya sebuah buku lebih mengarah kepada bagaimana ide itu berbicara dan memengaruhi pembaca. Di dalamnya terdapat proses kreatif, karena sebuah buku mampu mengondisikan para pembaca untuk terus berolah pikir. Alasan kenapa buku itu berpengaruh, karena apa-apa yang tertulis di dalamnya secara intelektual dapat dipertanggungjawabkan.

Kalam Jauhari dalam esainya, “Berguru pada Buku,” menyatakan, dengan cara sedemikian rupa, buku memang bisa memengaruhi dan mengajarkan banyak hal kepada pembaca. Masih menurut Kalam, buku memiliki setidaknya tiga efek konstruktif. Ketiga efek konstruktif diantarannya adalah buku dapat menjadi guru bagi pembentukan identitas sosial (atau perseorangan), bagi pembentukan relasi sosial dan bagi pembentukan sistem-sistem pengetahuan dan kepercayaan sosial atau dalam istilah lain disebut dengan ideasional.

Membaca adalah salah satu bentuk interaksi intelektual yang tak jauh dengan buku. Yaitu interaksi yang bisa dikontrol penuh pembaca. Bisa menutup jika merasa kantuk atau bosan, melompati halaman atau kalau penasaran mengintip halaman akhir buku. Tak hanya itu, satu kelebihan aktivitas literat adalah kita bisa menunda proses membaca, menyimpan kenikmatan itu di lain waktu atau langsung melahapnya sampai habis. Dan pada saat-saat itulah muncul peluang mengolah isi bacaan. Itu adalah hal yang sangat berbeda seperti kita menonton film yang menyajikan pengalaman estetis. Penonton, seperti halnya pembaca dalam aktivitas literat, tidak bisa menunda klimaks kecuali menyaksikan tontonan yang sedang berjalan hingga usai.

Sebuah bacaan, bisa bersifat aditif. Artinya seseorang bisa merasakan keranjingan baca, atau yang biasa disebut dengan bookish (kutu buku). Baginya dunia seolah-olah belum lengkap kalau belum menyentuh dan membaca bacaan. Keasyikan membaca buku, seperti yang dilansirkan oleh Roland Barthes pemikir Prancis, dibangkitkan dari kemampuan teks merangsang kreativitas pembacanya untuk menciptakan teks-teks baru di kepalanya, termasuk ketika ia membayangkan, menafsirkan atau mengisi apa yang tidak tertulis di situ.

Selesai membaca, meminjam ungkapan Budi Darma, tidak berarti selesai segalanya. Tapi justru merupakan awal dari pengembaraan pikiran, perasaan dan naluri pembaca lantaran berbagai bacaan yang memukau akan meninggalkan kesan yang sukar terlupakan. Pengembaraan yang ditawarkan oleh bacaan yang inilah yang kemudian dapat menambah wawasan.
Ketika membaca sudah menjadi kebutuhan, maka tak ada cara lain selain menuangkan segala bentuk pengetahuan yang selama ini mengendap untuk ditorehkan ke dalam satu bentuk aktivitas yang tidak jauh berbeda dari dunia intelektual yaitu menulis. Menulis sebagai salah satu bentuk ketrampilan berbahasa dinilai ampuh untuk mengabadikan suatu pemikiran. Tulisan-tulisan yang bernuansa intelektual biasanya menggabungkan gagasan-gagasan untuk kemudian membentuk satu gagasan baru.

Seperti dalam pepatah Yunani menyatakan bahwa yang tertulis akan mengabadi dan yang terucap akan berlalu bersama angin (scripta manent verba Volant). Pepatah ini setidaknya mengingatkan kepada kita akan dua aktivitas kebahasaan: menulis dan berbicara. Apa yang tertulis tidak akan mudah sirna ketika aktivitas kebacaan secara kontinyu dibudayakan, dan itu akan membekas dalam ingatan, kecuali kalau daya ingatnya berkhianat.

Istilah mengabadi di sini tidak lantas menafikan bahasa ucap, hanya saja nilai ‘mengabadi’ itu terbantu karena memang tersurat pada buku. Sehingga kemungkinan untuk lupa dapat dengan mudah dikembalikan seperti pada mulanya yaitu dengan membaca kembali lembaran-lembaran yang sudah lama mengendap dalam ingatan. Berbeda dengan bahasa ucap, yang mengandalkan kemampuan daya ingat untuk mengingat apa-apa yang terucap. Pernyataan itu sempat disuarakan Pramoedya Ananta Toer yang menyatakan bahwa bahasa lisan biasanya hilang bersama lenyapnya per generasi dari masyarkat, tetapi tidak untuk bahasa tulis.

Memang ada sebagian orang bisa mengingat dengan baik apa yang diucapkan oleh seseorang, tetapi cakupannya terbatas, yakni sebatas pada ucapan-ucapan penting yang singkat, dan biasanya berupa nasehat. Tetapi tetap saja ketika itu tidak ditulis, suatu saat nanti akan pudar, karena sewaktu-waktu, daya ingat juga bisa berkhianat.

Apa yang terucap, apalagi ketika disampaikan dengan gaya bicara memukau, mungkin lebih mudah diingat seketika itu. tetapi beberapa saat setelah itu tidak terekam sempurna apa yang barusan terucap, dan hal itu tidak terjadi pada aktivitas tulis. Kecuali tulisan itu koyak, tidak terawat, dan sedikit kemungkinan hal itu terjadi. Pada dasarnya keberadaan buku itu benar-benar dihargai, karena didalamnya tertulis berbagai macam gagasan-gagasan intelektual yang dapat dijadikan sebagai bahan referensial ketika menulis, bahkan berbicara.

Setara dengan pepatah itu Danil Dakidae dalam bukunya “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru” menuliskan bahwa setiap buku dari pengarang manapun yang pernah melihat terbit dan terbenamnya matahari, tidak lain merupakan kata pengantar kepada buku lain lagi kelak dikemudian hari, yang jauh lebih penting.

Dahsyatnya Sebuah Bacaan

Masih ingat cerita, bagaimana Pramoedya Ananta Toer menulis dan menjadikannya tulisan itu sebagai bacaan. Dengan bahasa khas yang garang dan meledak-ledak, tidak bertele-tele, ia menulis banyak hal yang menurutnya tidak beres dan perlu diluruskan. Ia menulis apa saja yang perlu ia tulis. Karena ia memiliki prinsip, “Semua itu harus ditulis. Apa pun…Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna.”

Karena prinsip Pram tersebut, sampai-sampai sudah tak terhitung karya-karya yang ia hasilkan dari olah pikir Pram menuliskan realita yang ada. Karena saking garang, berani dan meledak-ledaknya, ada banyak karya Pram yang ditolak penerbit karena cukup beresiko, tentu saja menurut ukuran pemerintah kolonial pada masa itu. Bahkan karya-karya yang sudah terbit pun ditarik dari edaran oleh pemerintah kolonial masa itu.

Ketika ia berada dalam kungkungan sel, Pram justru produktif. Pram bebas menulis. Hanya saja ia dilarang mengedarkannya di luar kamp, bahkan orang-orang yang berhubungan dengan dunia tulis menulis pun dilarang menemuinya. Tetapi ia tak kehabisan akal, Pram menyelundupkan naskah-naskahnya kepada setiap orang yang mengunjunginya untuk dikirimkan kepada penerbit. Tentu saja hal itu sangat beresiko.

Penarikan naskah-naskah Pram pada masa itu setidaknya menggambarkan betapa dahsyatnya bacaan. Mungkin pemerintah kolonial masa itu merasa dalam keadaan bahaya ketika naskah yang mencatat segala kebobrokan akan dengan mudah terbongkar khalayak hanya dengan melalui bacaan. Dalam situasi seperti itu lah sebuah tulisan berfungsi sebagai pisau pembedah sesuatu yang sudah lama susah untuk disayat hingga isi yang ada didalamnya dapat dikeluarkan. Dapat dilihat dan dinilai khalayak apakah selama ini apa yang dilakukan itu adalah pantas dan memang perlu dilakukan, atau malah sebaliknya. Lebih tepatnya buku itu memfungsikan diri dengan memberi pengaruh dan membentuk ide bagi para pembacanya.

Ketakutan pihak yang meminta untuk menarik buku dari edaran tidak karena ‘senjata’ yang Pram bawa, melainkan karena mereka percaya bahwa sebuah bacaan tertentu tidak akan pernah kekurangan para pengagum pemilik gagasan yang siap menjadi pelopor karya-karyanya kelak.

Apa yang menjadi prinsip Pram dalam menulis, mengingatkan saya pada Ime Kertesz, sastrawan yang memuja kebebasan berekspresi dan sangat antipati pada sastra yang ditunggangi oleh muatan-muatan politis dari luar keindahan sastra itu sendiri. Kertesz berkata bahwa ia menulis untuk dirinya sendiri dan tanpa pretensi apa-apa untuk dibaca atau memengaruhi orang lain. Kertesz beranggapan bahwa pada akhirnya nanti penulis akan melihat dirinya sendiri, dan sehingga ia nanti akan menulis untuk dirinya sendiri.

Kedahsyatan lain sebuah bacaan adalah bagaimana bacaan itu membentuk pola budaya perilaku, mulai dari tingkah juga cara bertutur. Meminjam istilah Sutarji Calzoem Bahri, bahwa membaca (sastra) juga membuat orang menjadi berbudaya. “Orang berbudaya baca sastra” adalah semboyan yang tertulis pada majalah sastra Horison. Saya sepakat bahwa aktivitas literat itu perlu dan harus dibudayakan dan diberdayakan. Ini bias dilakukan dengan membuat komunitas-komunitas penulis, mendirikan rumah baca, atau perpustakaan.
Ada satu ungkapan lain yang menuliskan bahwa bangsa yang besar terlahir dari tradisi membaca yang kuat. Kebesaran bangsa-bangsa itu, kalau ditelaah lebih jauh adalah bisa menjadi maju ‘hanya’ karena menanamkan aktivitas kebacaan yang ketat. Membaca memang perkara ringan-ringan susah. Tetapi bukan alasan untuk tidak membaca ketika malas sudah bergelayut. Seandainya saja, malas dapat dihapuskan mungkin tak akan ada banyak bangsa yang ketinggalan.

Sejarah telah membuktikan bahwa tradisi membaca yang baik telah melahirkan peradaban emas sepanjang masa. Hal ini sangat penting bagi siapapun yang berusaha mempelajari realitas semesta. Beberapa alasan untuk menguatkan pernyataan segala peradaban pada masa lampau semuanya dimulai dari tradisi membaca yang kuat. Ter gambarkan seperti pada peradaban Yunani yang dimulai dengan Iliad yang ditulis oleh Homer. Karya Newton yang membangkitkan peradaban Eropa. Pun halnya dengan peradaban Islam yang bangkit setelah turun wahyu kepada Muhammad, sang nabi terakhir.

Tak usah jauh-jauh untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya sebuah bacaan. Dalam keseharian saja bisa terlihat siapa-siapa saja yang suka baca dan tidak sama sekali. Perbedaan keduanya akan terlihat jelas. Orang yang biasa membaca, akan begitu mudahnya berbicara, karena perbendaharaan katanya begitu banyak. Tentu isi bicara yang berbobot, yang mungkin dapat dijadikan sebagai bahan referensi. Apa yang terujar biasanya berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi orang yang tidak suka baca, orang tersebut akan begitu susahnya untuk bersuara, kalaupun berbicara, apa yang terucap biasanya bukan hal baru yang semua orang sudah tahu.

Kita bisa banyak belajar dari banyak orang, atau bahkan dari buku itu sendiri. Perlu diketahui bahwa buku adalah guru yang baik dan tak pernah marah. Guru yang berbeda dalam pengertian konvensional yang dapat diajak bicara ketika mengalami kesulitan. Ketika seseorang berhadapan dengan bacaan, ia tak mempunyai privilege untuk menanyakan kepada pengarangnya. Karena tak semua orang kenal dengan pengarangnya. Kalau pun ada upaya kearah itu, diperlukan usaha keras otak untuk menjawab pertanyaan yang masih mengendap ketika telah usai membaca buku tersebut. Dari situ lah proses kreatif muncul.

Sebagai pungkasan dalam tulisan ini, saya hanya akan menegaskan kembali betapa pentingnya membudayakan aktifitas literat, yaitu aktifitas yang menggeluti dunia kebacaan. Seperti apa yang dikatakan Che Guevara. “Sempatkan waktu luang untuk baca.” Sampai-sampai Pablo Neruda yang mengenal Che secara pribadi merasa terharu, karena ketika Che ditangkap di hutan Bolivia dalam ranselnya ditemukan kumpulan puisi Neruda. Di sela-sela masa gerilnya, masih saja ia menyempatkan untuk membaca.[]










Rabu, 08 Juli 2009

"Sepertinya Hubungan ini Mesti Kita Akhiri..."


Kemesraan itu sepertinya terlalu dini untuk dirasakan. Kemesraan itu tak semestinya kita jadikan sebagai sapaan. Kau sapa aku dengan sapaan sayang, begitu pula sebaliknya aku menyapamu dengan sapaan sayang.

“Sayang...,” begitu kita pernah saling menyapa. Mari, mulai detik ini ungkapan perasaan sayang itu cukuplah kita simpan saja untuk nanti ketika kita telah melewati mitzaqan ghalidzan. Bukankah itu jauh lebih mulia ketika diungkapkan kelak kepada pendamping hidup kita. Kalau memang itu kamu yang akan menjadi istriku, dan aku yang akan menjadi suamimu, ya mari kita simpan untuk nanti pada masanya.

Lewat kesempatan ini, aku hanya ingin berpesan, jangan pernah merasa kalau aku melupakanmu karena akhir-akhir ini aku jadi jarang menyapamu. Jangan pernah merasa aku mengabaikanmu karena kini aku jarang mengucapkan selamat pagi, ketika matahari beranjak meninggi. Jangan pernah merasa kalau akhir-akhir ini aku jadi jarang mengucapkan apa kabar setelah menyapa “Selamat pagi, cerahkah kau pagi ini?”
Justru karena aku menyayangimulah aku melakukan ini.

Kamu tahu kenapa? Sebab aku menghormatimu sebagai perempuan. Sebab perempuan itu mulia, dan tak ada alasan bagiku untuk membuatnya jadi sebaliknya. Kita perlu hati-hati membawa hati. Hati, meski letaknya tersembunyi, tapi dampaknya tampak sekali, begitu kata Mohammad Faudzil Adzim.

Kau tentu ingat, bagaimana kita saling tatap. Pada tatapan mata itu ternyata menyimpan seribu keinginan saat-saat tak terbayangkan. Pada mulanya adalah tatapan. Matamu itu, mata perempuan. Dan aku mata lelaki. Mata kita sudah semestinya menundukkan pandangan. Tetapi kenapa kita malah saling tatap? Terkadang kau menatap mataku tanpa sepengetahuanku, begitu pula aku menatapmu tanpa sepengetahuanmu. Dan kau benar-benar meresapi benar tatapanmu melihat mataku ketika melihat mataku pada sebuah lembar foto. Bahkan kau sampai pernah bilang, “Tatapan mata itu... tak mungkin aku melupakan...” Subhanallah! Sudah begitu jauhkah kita melangkah.
Kau tentu ingat, ketika tangan kita bersentuhan yang terkesan tak disengaja namun kita pura-pura tak tahu kalau sebenarnya kulit kita bersentuhan. Dan, ketika kita sadar, kita buru-buru melepaskan genggaman masing-masing.

Kau tahu apa yang aku rasa sebenarnya ketika itu? Aku seperti tengah menggenggam bara api! Ya bara api yang seolah ditempelkan menggunakan perekat yang begitu erat sampai-sampai aku tak mampu melepasnya. Hendak berontak tapi tak kuasa. Mengingat peristiwa ini, aku jadi malu lantaran teringat pada suatu riwayat seorang ulama yang mengisahkan kalau dirinya lebih baik menggenggam bara api daripada harus bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim!

Kau tentu juga ingat, ketika kita begitu dekat, kau selalu tak pernah lupa untuk mengingatkan aku untuk shalat. Di sepertiga malam kau tak pernah absen membangunkanku untuk menunaikan tahajud melalui nada panggilan tak terjawab dan disusul pesan singkat, “Ka bangun... tahajud ka...” Memastikan apakah aku sudah bangun atau belum, kamu menyusulnya dengan menelepon di pagi sebelum cahaya. Masih dengan perkataan yang sama. Suara khas orang yang baru terbangun dari tidur. “Ka bangun...tahajud ka....”

Bahkan kita pernah berlomba, siapa membangunkan lebih dulu untuk shalat tahajud maka kita membuat kesepakatan agar yang telat bangun diberi tugas membuat cerpen dengan tokohnya adalah kita sendiri. Lihat! Bahkan kita ingin mengabadikannya lewat tulisan, padahal belum tentu apakah perasaan sayang kita abadi ataukah hanya nisbi?
Sepintas apa yang kita lakukan -mulai dari mengingatkan shalat, saling memacu untuk berkreasi pada aktivitas literat- itu mulia. Tetapi tidakkah kau pernah merasa atau memikirkan hal lain yang jauh dari kelihatannya mulia? Aku merasa bahwa giatnya kita shalat tepat waktu itu lantaran karenamu, bukan karena Allah. Pernahkah kau memikirkan kalau shalat tahajud yang aku dirikan itu karena dibangunkan olehmu, dan bukan karena Allah. Pernahkah kau berpikir, kalau aktivitas menulisku itu semata-mata hanya karenamu yang begitu banyak memberikan inspirasi dalam menulis, dan bukan karena Allah yang telah memberi karunia kepadaku bisa menulis melalui kekuatan Al Qalam_Nya.

Dan kalau memang demikian begitu aku sama saja telah melupakan Allah!
Naudzubillahmindzalik, Ukhti....
Kita tidak semestinya terjebak dalam lingkaran ini. Kalau pun memang sudah terjerambab tak ada cara lain selain mengakhiri hubungan ini. Saya pikir ini adalah jalan terbaik, agar kita tidak terlampau jauh melangkah tanpa menapaki lebih dulu mitzaqan ghalidzan. Saya pikir ini adalah cara terbaik, ketika seribu satu cara lain yang telah saya pikirkan tapi tak jua bertemu jawab yang pas di hati. Ya, kalau memang ingin melanjutkan kemesraan itu, tak ada cara lain selain dengan mengakhiri hubungan ini.

Bagaimana? Apakah kau setuju untuk mengakhiri hubungan ini? Ya, mengakhiri saja hubungan ini dengan satu kata: pernikahan! Sebab dengan begitu, kita lebih aman dari tatapan mata dan juga kata yang bermuara fitnah. Sebab dengan begitu kita lebih terjaga. Sebab itu, aku mengajakmu menikah. Sebab menikah akan menjadikan kita mulia.
Ya, menikah! Menikah adalah satu urusan yang perlu disegerakan, begitu Islam mengajarkan. Menyegerakan menikah tidak sama berarti tergesa-gesa untuk menikah. Untuk masalah ini, sudah disampaikan dengan amat baik oleh Mohammad Faudzil Adzim dalam buku yang menginspirasiku untuk sesegera mungkin menyegerakan menikah. Buku itu tak lain berjudul Kupinang Engkau dengan Hamdallah.

Melalui kesempatan ini pula, aku ingin meminangmu. Kalau kau menerimaku, aku ucapkan alhamdulillah, tapi kalau kau menolakku aku lantangkan Allahu Akbar! Sebab pangkal dari semua itu adalah tidak lain hanyalah ridla Allah Swt. Not more! Sebab dengan begitu aku masih bisa tersenyum. Sebab aku ingin selekasnya melewati masa-masa yang dalam AlQur’an disebut sebagai mitzaqan ghalidzan, perjanjian yang berat. Sebab aku tak ingin mati dalam keadaan bujang. Sebab aku ingin pula memberikan sumbangsih sesegera mungkin untuk bisa menambah bobot bumi dengan kalimat Laa Ilaaha ILLallah!. Sebab aku tahu, bahwa melaksanakan ibadah nikah itu tidak hanya denganmu. Sebab aku tahu, bahwa muslimah itu tak hanya kamu.







Kemarin Ada yang Mengajakku Menikah...


“Kemarin ada yang mengajakku menikah, apa kau merasa baik-baik saja. Atau kau merasa tidak ada apa-apa karena waktumu untuk kegiatanmu.”

Satu pesan singkat masuk saat aku tengah mengikuti hari pertamaku di sebuah tempat mulia yang memberiku amanah untuk menjadi salah satu tim untuk menyiapkan peradaban. Ya, begitulah mereka mendefinisikan satu kata: mengajar dengan deretan kata memanjang. Menjadi salah satu tim yang bertugas untuk mencetak generasi penerus peradaban.

Pesan itu datang menyentakkan lantaran tak terduga datang tiba-tiba.
Pesan itu datang mengagetkan namun tak mengejutkan.
Semua lantaran aku memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.

Kawan, mungkin belum saatnya kau tahu siapa yang mengirim pesan singkat itu kepadaku. Tetapi yang jelas yang mengirimi saya pesan singkat semacam itu tentu menyimpan maksud dan tujuan tertentu. Apa dan maksud tujuan itu, kawan tak perlu menebak-nebak pula.

Tak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan itu. Begini aku langsung menjawabnya...

“Kalau dia baik agamanya, baik akhlaknya, dan kau merasa nyaman dengannya, menikahlah.”

Tapi... jawaban yang aku peroleh menegaskan kalau ia sebenarnya tak suka dengan jawaban yang aku beri. Padahal, saya meyakini itulah jawaban terbaik yang saya punya. Memang ada segudang hadits yang bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Tetapi saya bukan tipe orang normatif yang selalu menuliskan seabrek referensi secara utuh. Bagi saya, ketika intisari sudah mengena dan sadar kalau itu berkenaan dengan satu landasan tertentu, dan tepat cara menyampaikannya itu baru luar biasa menurut saya.
Kawan, kau ingin tahu, jawaban apa yang ia berikan kepadaku...
“Menyakitkan! Terimakasih. Aku tak menyukainya. Aku sayang pada seseorang...Hanya ia yang aku inginkan.”

“Kalau begitu jangan terima ajakannya. Menikah memang harus ada juga landasan suka. Dan itu jauh lebih mulia kalau landasan utamanya karena agama,” begitulah jawaban yang aku lontarkan lagi kepadanya dengan alasan seorang perempuan juga berhak untuk menerima atau menolak ajakan seseorang untuk menikah. Kemungkinan itu menempati porsi yang sama besarnya. Dan setelah itu ia tak membalasnya lagi.

Jika hari di pagi itu saya dimintai pendapat seseorang yang diajak menikah. Maka pada malam harinya saya yang malah ditawarin untuk menikah. Ada seorang akhwat menawarkan akhwat lain untuk diperkenalkan. Kawan, perlu diingat, ajakannya ini tidaklah main-main. Pengertian kenal di sini yang dimaksud bukanlah kenal biasa. Melainkan satu proses awal sebelum menuju proses khitbah menuju nikah.

Berdesir bukan main hati saya ketika mendapat tawaran...“Assalamualaikum. Mas Ali, afwan mau tanya. Mohon jangan tersinggung. Begini, saya punya teman akhwat. Beliau sudah bekerja dan sedang menyelesaikan tugas akhir. Beliau siap menikah. Antum mau tidak saya perkenalkan dengan beliau? Afwan jika lancang.W3”

Inikah kedahsyatan berpikir affirmatif? Saya memang termasuk –lebih lengkapnya menggelompokkan diri- ke dalam orang-orang yang ingin menyegerakan menikah. Tetapi tidakkah ini terlalu dini?

Teman, sungguh, saya tak mampu menjawab ajakan itu.
Entah kapan saya bisa menjawabnya.
Entah kapan kawan.







Sabtu, 13 Juni 2009

Hati-hati Bawa Hati


“Susahnya punya hati. Letaknya tersembunyi, tapi geraknya tampak sekali.”
Begitu kata Mohammad Faudzil Adzim mengawali pembahasan Kupinang Engkau dengan Hamdallah.

Saya jadi merasa tersindir, dan bahkan amat tersindir mengingat saya belum memiliki istri, eh, maksudnya belum sepenuhnya bisa menjaga hati. Sejauh ini hanya baru sebatas usaha untuk sebisanya, semampunya bisa menjaga hati dari sesuatu yang bisa menciderai hati selama masih sendiri. Adapun ketika hati ternoda oleh cela, itu tak lain karena lemahnya hati yang saya miliki.

Ighfirni Yaa Ghaffar. Semoga saya, anda, kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang terjaga.

“Makanya, lebih baik punya istri. Kalau tersenyum ada yang menanggapi. Kalau berekspresi ada yang memahami. Sikapnya lembut tak bikin keki kadang malah memuji.

“Tuhan tak pernah ingkar janji, kalau terus menjaga diri, akan mendapat pendamping yang lurus hati.”

Mendengar kata-kata ini saya lebih tersindir lagi. Pikir saya pintar benar sosok yang satu ini menyindir. Tetapi memang benar demikian adanya. Ketika kita saya belum punya istri, (eh salah lagi, maksudnya belum bisa menjaga diri), ya memang mungkin sudah sebaiknya memiliki istri yang bisa menanggapi senyum, menanggapi ekspresi, yang memiliki kelembutan dan... lho kok malah jadi membicarakan istri ya, bukannya hati. Tapi yang jelas, sejauh ini pula saya terus menjaga diri sampai diri ini mendapat pendamping yang lurus hati lantaran masih sendiri.

Eh,belum lama bilang masih sendiri, Bang Faudzil ngeledek lagi,

“Tapi kalau masih sendiri, hati-hati bawa hati. Kalau sibuk mencari perhatian, kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan?

Bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan, (maunya sih kukatakan memperbaiki iman). Tanpa susah-susah membayangkan saat-saat tak tebayangkan.”

Tak berdaya aku dibuatnya. Sindirannya luar biasa lantaran membuat aku tak berdaya menjawabnya. Belum sempat saya mengomentari, eh, ia malah melepaskan serangan kata yang datang bertubi-tubi.

“Adapun kalau sudah beristri, jangan lupa mengingatkan. Kalau ada yang dilalaikan
tentang perkara yang disyariatkan. Tapi kalau ia memelihara kewajiban, ingat-ingatlah untuk memberi perhatian. Jangan sampai menunggu peringatan.”

Pebincanganku dengan Mohamad Faudzil Adzim mengingatkan saya pada peristiwa yang maksudnya lebih kurang senada. Ketika itu, saya terus mendapat cecaran pertanyaan yang bernada menyindir, namun dikemas dalam bentuk kelakar.

“Akhi, antum itu sudah terlalu banyak aminah, tetapi tidak satu Aminah pun kau miliki,”

“Maisyah sudah ada, kapan akan punya Aisyah, Akhi?

Sedemikian dahsyatnya sindiran yang nyaris datang bertubi-tubi, sampai peristiwa itu terbawa mimpi.

Suatu ketika di malam yang tenang, aku tertidur setelah merenungi berbagai macam sindiran yang sedianya memang diarahkan kepadaku. Setelah beberapa kejap tidur, suasana membawaku ke alam bawah sadar. Entah kenapa tahu-tahu saya berada pada suatu tempat, yang hanya ada saya seorang diri, dan tak ada siapapun. Aku melihat di sekelilingku, bentangan luas tak terhingga seperti awan.

Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba ada satu titik yang mendekat ke arahku. Semakin dekat, semakin tampak jelas rupanya. Sosok yang datang itu bersayap seperti malaikat. Dan itu memang malaikat ketika ia memperkenalkan dari,”Aku malaikat datang dari surga membawa bidadari.”

Sosok malaikat itu datang tak sendiri melainkan berdua dengan seseorang yang dilihat dari penampilannya adalah seorang perempuan. Saya tak bisa melihat wajahnya lantaran tertutup burkah. Kepalanya menundukkan pandangan. Sekilas tampak ia menatapku dibalik cadarnya, hanya ketika saya balik menatapnya, ia buru-buru menundukkan pandangan. Mungkin malu.

“Wahai Ali, ini saya bawakan calon istrimu! Menikahlah dengannya, dan perbanyaklah keturunan agar bisa menambah bobot bumi dengan kalimat LAAILLAAHAILLALLAH.”

Saya terperangah mendengar itu. Sosok perempuan bercadar itu masih tertunduk malu. Merasa penasaran, saya pun menanyakan siapakah sebenarnya yang akan menjadi istriku nanti. Saya penasaran dengan sosok yang katanya adalah calon istriku itu. Bidadari Syurga. Bidadari yang didatangkan langsung bersama malaikat dari syurga. Bidadari yang datang dari syurga. Ah, siapakah ia?

Permintaan pun terturutkan. Malaikat itu membukakan cadar penutup wajah. Hati saya berdesir-desir. Degup jantung naik turun lantaran dibombardir rasa penasaran yang begitu hebat. Secara perlahan cadar itu dibuka. Gerakan membuka cadar tampak sekali hati-hati, pelan, pelan sekali seperti gerak slow motion dalam adegan film.

Dan ketika cadar itu hampir tersingkap...

Sungguh teramat sangat saya sayangkan...

Saya terbangun!

Sebel!







“Perempuan itu Mulia!”


Totem pars pratoto
Sebagian yang diseluruhkan.

“Cowok itu...BRENGSEK!”

Pernyataan itu muncul dari seorang perempuan, yang menurut pengakuannya dicintai, dikagumi, dan disayangi oleh banyak laki-laki. Begitu banyak lelaki yang mengharap uluran cintanya. Tetapi anehnya bukan bahagia yang ia dapatkan, melainkan luka yang ia rasakan.

Terang saja luka yang ia rasakan, karena semua lelaki yang menghampirinya itu rata-rata memberikan sesuatu yang semu. Yang kadar kesenangannya hanya sesaat. Berharap beroleh kesenangan sejati, tapi yang ia dapatkan adalah luka hati.

Ia memang tampak kelihatan tangguh, tegas dan pantang menyerah. Tapi siapa sangka dibalik ketangguhannya sebagai seorang perempuan ia sejatinya rapuh, dan begitu mudahnya dipatahkan pertahanan bentengnya oleh makhluk bernama laki-laki. Ia seperti bersembunyi dibalik perangai tangguh. Sedemikian sering serangan yang terus memborbardir dari berbagai penjuru membuatnya hampir tak berdaya. Dalam ketakberdayaan itulah ia memberanikan diri untuk membunuh.

“Aku adalah pembunuh. Untuk kesekian kalinya, aku telah membunuh perasaan laki-laki terhadapku.” Meski pembunuhan itu ia lakukan dengan penuh rasa iba dan diluar keinginan yang begitu hebat. Tetapi ia tetap melakukannya.

Setelah itu ia akan murung beberapa hari sebelum akhirnya pulih kembali seperti sedia kala.

Membunuh adalah jalan terakhir agar perasaan itu tak hidup lagi. Membunuh adalah satu-satunya cara untuk bisa menghentikan langkah yang bisa mematikannya. Membunuh adalah pilihan ketika cara-cara halus dengan mendiamkannya, mengacuhkannya, tak membuat laki-laki berhenti mengejarnya. Ya membunuh! Ia menjadi seorang pembunuh!! Kepadaku, ia memberikan daftar nama-nama yang sudah ia bunuh dengan cara yang sama. Aku hanya terperangah tak percaya sambil berkata,”Sadis benar kamu ini.”

Dalam hatinya, sebenarnya muncul perasaan bersalah lantaran terlalu banyak perasaan yang dibunuh dengan tangannya. Meski tindakan itu diyakininya sebagai kebenaran, dan memang itulah kebenaran, tetapi perasaan bersalah itu tetap saja ada. Dan selalu menghiasi hari-harinya. Takut kalau-kalau ia akan membunuh lagi.

Sebuah kesan yang seakan melepas ketergantungan terhadap laki-laki, walau sebenarnya ia sangat merindukan, mengharapkan sosok yang membawakanya cinta suci melalui ikatan pernikahan. Hanya saja karena terlalu sering menemui beberapa laki-laki yang kebetulan berkepribadian brengsek, ia dengan mudahnya mengambil kesimpulan, bahwa sebagian laki-laki itu mewakili semua karakter kebrengsekan beberapa lelaki. Bahkan ketika ada seseorang yang berusaha serius mengajaknya menikah, entah sadar atau tidak, ia juga menyatakan bahwa laki-laki itu brengsek. Bahkan, ketika ajakan itu dilakukan dengan cara yang santun sekalipun!
Beruntungnya sejak awal, lelaki itu mengatakannya dengan sesuatu yang membuatnya perlu waktu untuk dirinya pikir-pikir.

“Aku ingin kita segera dipertemukan sebagai pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, dan canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi kehidupan rumah tangga. Kalaupun ada butir-butir bening yang menetes dari sudut air mata, semoga itu adalah air mata kebahagiaan

Kalau kau menerimaku (menjadi suamimu) aku ucapkan alhamdulilah, tetapi kalau sebaliknya aku lantangkan Allah Akbar! Sebab dengan begitu aku masih bisa tersenyum. Sebab itu pula, meraih atau tidak mendapatkanmu, cinta akan tetap saya dapatkan, karena saya melakukan ini semata-mata hanya untuk menjaga diri. Tak apa, kau tak menerima, masih ada banyak muslimah lain yang akan menerimaku.”

Lelaki itu bersyukur dan tak begitu gampang larut dalam gulana rasa.

Mari kita kembali ke cowok brengsek tadi. Aku hanya tersenyum ketika mendengar perkataannya semacam itu. Seperti tak pernah terpikir lebih dulu, bahwa kebrengsekan seseorang itu tidak hanya dilakukan oleh laki-laki. Semua orang berpeluang melakukan kesalahan, karena sejatinya akhir pada sebuah penilaian itu hanya ada dua, baik dan buruk. Bukan tampan dan tak tampan, cantik dan tak cantik. Dan, itu kaitannya dengan hati. Dan hati ada kaitannya dengan rasa. Brengsek berarti masuk kategori penilaian buruk. Dan penilaian itu erat kaitannya dengan pikiran seseorang.

Totem pars pratoto. Sebagian untuk seluruh. Begitulah pernyataannya kalau dikategorikan dalam majas. Saya meyakini dengan sepenuh hati, rasa, dan pikiran kalau pendapat itu keluar ketika hati, rasa dan pikiran itu sedang kalut, tidak dalam keadaan selaras.

Saya juga sama sekali tak terganggu ketika ada perkataan senada macam itu. Yang namanya pendapat itu sifatnya subjektif. Karena subjektif itulah, yang bertanggungjawab terhadap opini itu tentu saja si pelaku yang memberi penilaian itu tadi.

Saya tak bisa membayangkan, apakah nanti ketika ia menemukan sosok lelaki yang setampan Ali, sebaik Abu Bakar, seberani Umar, secerdas Usman maka akan mengalihkan pendapatnya menjadi Laki-laki itu baik!

Saya hanya berharap selaksa energi positif akan segera memenuhi ruang hatinya. Dan, sepercik energi positif itu sebenarnya telah ia dapatkan. Hanya saja yang jadi masalah, ia menampungnya di tempat yang khusus atau malah membiarkannya begitu saja. Salah satunya adalah ketika ia mengirimkan pesan singkat bahwa cowok itu brengsek, untuk meneguhkan penilaiannya itu, kepada seorang lelaki yang ia merasa nyaman ketika berada di dekatnya, ia langsung mendapat jawaban.

“Perempuan itu... MULIA.”







Sabtu, 11 April 2009

Kesalahan Terindah adalah Menyatakan Cinta


“Aku mencintaimu, kata-kata ini tidak akan pernah aku ucapkan pada satu orang perempuan pun kecuali satu, dia adalah ******* *****1!”

Satu kesalahan terindah adalah mengungkapkan perasaan cinta kepada lain jenis. Itu adalah kesalahan yang teramat fatal, sebab cinta hanya berhak dirasakan, diutarakan, diungkapkan hanya dan hanya jika setelah melalui proses ikatan pernikahan. Itulah cinta yang sebenarnya.
Kalau ada yang menyatakan cinta sebelum pernikahan itu berlangsung, itu sama saja omong kosong. Kalau pun aku, kau, atau dia terjebak melakukan itu, itu sama saja berarti melakukan kebohongan. Ketika sadar bahwa itu sebuah kesalahan, mari kita sebisanya, semampunya, untuk bisa lebih berhati-hati baik dalam bersikap, berucap, maupun bertindak.
Cinta itu sejatinya indah, bukan sebaliknya. Itu yang perlu digarisbawahi. Ketika ada cinta yang menyakitkan, itu perlu dicurigai kalau itu sebenarnya bukan cinta. Cinta itu, sekali lagi, indah!

Saya kadang bertanya, apakah selama ini kekhilafan, dimana banyak orang terjebak di dalamnya, berlandaskan pada kesungguhan atau hanya sebatas permainan belaka kata? Apa benar yang selama ini diungkapkan adalah sebenarnya cinta?
Dalam pencarian tentang makna cinta, saya menemukan sebuah hadits yang isinya sebagai berikut.

“Ada seseorang berada di samping Rasululllah Saw, lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasul tadi berkata, ’Aku mencintai dia ya Rasulullah...’ ‘Apakah kau telah memberitahukan kepadanya?” jawab Rasul. Orang tersebut menjawab belum. Lalu nabi berkata,’Beritahu dia.’ Kemudian orang tersebut memberitahukan kepadanya sambil berkata, ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah,’ Orang yang dicintai itu menjawab,‘Semoga Allah mencintaimu karena kau mencintaiku karena_Nya’2

Syahdan, ada seorang lelaki mengirimkan hadits itu melalui pesan singkat kepada sebuah nama, seorang perempuan. Ia sendiri tak tahu bagaimana bisa mengirimkan kepadanya. Apa naluri lelakinya yang bergerak dan langsung menemukan namanya.

Ia tertegun setelah melihat pesan di item terkirim di ponsel. Tertegun ia menatapnya. “Apa benar yang saya lakukan ini? Apa tidak akan menimbulkan beragam tafsir atau kesalahpahaman, mungkin?” kata lelaki itu dalam benaknya.

Ah, mudah-mudahan saja tidak. Perempuan itu, pikirnya, adalah seorang muslimah yang mengerti akan ini. Lagipula ia tak menambahkan atau mengurangi redaksi dalam hadits itu. Ia mengirimkannya dalam bentuk utuh.

Satu hal yang tidak disengaja, ternyata ia juga mengirimkan pesan yang sama kepada satu nama lain. Pesan itu langsung beroleh respon, dan menanyakan apa maksudnya. Tanpa pikir panjang, ia jawab saja apa adanya, kalau itu hadits. Sudah hanya itu.

Tampaknya jawaban itu tak membuat ia puas, sampai-sampai perempuan itu menegaskan pertanyaannya lagi. “Iya tahu itu hadits, tapi apa maksudnya?” Ielaki itu hanya diam, membiarkan dirinya larut dalam beribu penafsiran, menerka maksud mencari makna. Wajar perempuan itu ingin tahu jawaban yang sebenarnya lantaran lelaki itu pernah menyatakan sesuatu yang membuat hatinya menjadi bergetar, “Aku mencintaimu karena Allah”

Kini pernyataan itu menjadi bahan renungan buat lelaki itu. Apakah benar ia mencintainya karena Allah? Bukankah cinta itu hanya berhak dirasakan setelah menikah? Memang sepenuhnya ia sadar, tindakan itu adalah sebuah kesalahan (terindah). Lebih-lebih dalam hatinya sempat berkomitmen, untuk mengungkapkan itu hanya pada perempuan yang telah ia nikahi nanti.

Ya, ikrar itu telah ia langgar dengan mengatakan cinta kepada perempuan sebelum menikah. Meski belum ada kesepakatan diterima atau tidak tapi itu menyisakan satu penyesalan yang teramat dalam. Jawaban yang diperoleh ketika menyatakan hanya berupa, “Bismillah saja, kita lihat saja nanti ke depan.”

Begitulah kisah lelaki itu. Petualangan cinta lelaki itu sejatinya menarik untuk dikisahkan lantaran ada semua unsur pendukung untuk membuat cerita. Ada alur, konflik, plot, setting, dan juga tokoh tentu saja. Saya juga menangkap beragam ekspresi (bahagia, kecewa), dialog-dialog menarik.

Belakangan, Putri Salju mengabarkan kepadaku mengenai hadits itu. Hadits yang aku kirimkan kepadanya karena begitu penasarannya aku. Ia memang tak langsung merespon ketika saya meminta komentarnya tentang hadits itu, apakah itu bisa dijadikan landasan seseorang untuk menyatakan cinta.

Putri Salju ternyata mendiskusikannya dengan orang-orang yang capable untuk masalah ini. Hadits itu memang benar adanya, tetapi itu tidak berlaku jika menjadi dalil seseorang menyatakan cinta kepada lawan jenis, Hadits itu lebih bermakna kepada satu ikatan dalam bingkai cinta ukhuwah!

Jadi, jika ingin merasakan betapa indahnya cinta, maka menikahlah!


1. Istriku nanti
2. Hadits Riwayat Anas bin Malik.




Bagaimana Kau Mencintaiku?


Syahdan, secara tiba-tiba pertanyaan itu muncul dan tertuju pada seorang lelaki, dari seorang perempuan. Awal, ia tak bisa menebak bagaimana pertanyaan itu bisa muncul kepadanya. Tapi satu kepastian ia dapatkan beberapa waktu berikut, kalau ternyata itu adalah sebuah respon dari surat yang pernah lelaki kirimkan kepada perempuan yang memberikan pertanyaan itu : Bagaimana kau mencintaiku?

Sebenarnya isi surat itu lebih merupakan pada satu sikap pasrah atas segala usaha yang kini tengah ia perjuangkan untuk mendapatkan cinta perempuan itu. Satu sikap pasrah yang hanya pantas ditujukan kepada_Nya, bukan yang lain!

Hatinya bergetar mendapat pertanyaan itu tiba-tiba. Nyaris ia tak bisa berkata apa-apa. Satu pertanyaan sederhana, namun tak sesederhana ketika harus memberikan jawabnya.Yang lebih membuatnya tercengang, pertanyaan itu terujar dari lisan seorang perempuan dengan begitu tenangnya. Bagaimana kau mencintaiku? Ah, pertanyaan itu benar-benar mengganggunya.
Di tengah bergetarnya hati, berdegupnya jantung, ia pun menjawabnya.
“Saya mencintaimu karena Allah!”

Lelaki itu menjelaskan pula, pula kalau sebenarnya perempuan itu memang ada dalam semua kriteria yang diidamkan, seperti yang dirinya tulis dalam daftar cinta di buku harian. Daftar cinta adalah salah satu bentuk model keinginan yang ia harapkan, ia impikan, lalu ia tuliskan di catatan harian. Tampaknya ia salah satu orang yang memercayai relativitas (hukum ketertarikan). Ketika menarik keinginan, maka keinginan itu akan mendekat!
“Dengan perasaan cinta itu pula saya bisa menulis beberapa cerpen, yang memang sepenuhnya terinspirasi darimu,” jawabnya lagi.

Dan ternyata, semua jawaban yang ia lontarkan belum memberikan jawaban sebenarnya. Ia sadar itu, lantaran menjawab dengan ketergesaan di tengah gelisah hati yang menghunjam. Namun, dari situlah, muncul pertanyaan,

“Jawaban seperti apa yang kau harapkan, perempuanku?”
Begitu perempuan itu meminta jawaban selengkapnya, ia pun berusaha memberikannya dengan lebih dulu menenangkan hati yang bergetar.

“Sebenarnya ada satu hal lagi jawaban yang akan saya berikan. Hanya saja, jawaban itu akan kau dapatkan kalau memang kau sudah jadi istriku nanti. Itu artinya ada satu hal yang tak ingin aku ceritakan bagaimana seharusnya aku mencintaimu, karena sebenarnya perasaan cinta dan bagaimana seharusnya itu hanya dan hanya jika bila dirasakan pada muara yang satu, yakni ikatan pernikahan. Karena kau memang belum menjadi istriku, jawaban yang lengkap pun belum kau dapatkan, akan kujawab nanti setelah menikah!”

“Ya, itulah jawaban yang saya inginkan untuk pertanyaan itu.”

Oh iya, kau tentu penasaran seperti apakah surat itu, sampai perempuan itu melontarkan pertanyaan, bagaimana kau mencintaiku? Begini isi lengkap surat itu:

Sudah cukup lama aku mengenalmu, dan selama itu pula kau mengenalku. Dan semasa perkenalan itulah sempat muncul getaran lain ketika aku berada dekat denganmu. Mengenai apa yang aku rasakan, sudah aku utarakan kepadamu. Mengenai seperti apa hasilnya, itu sudah menjadi keputusanmu. Meski kita tak bisa menerka, apa yang akan terjadi kelak, apa kau akan bersanding denganku, atau sebaliknya.

Kalau pun itu sudah benar-benar menjadi keputusanmu, dan sudah dipertimbangkan secara matang, aku menerima. Dan, ini bisa menjadi pelajaran berharga buatku bagaimana seharusnya saya berbuat, bersikap, dan juga berucap ketika menghadapi permasalahan yang sama seperti yang pernah terjadi antara aku terhadapmu.

Pengalaman itu membuatku semakin mantap untuk berketetapan, apa yang akan aku ucapkan, lakukan, dan aku pikirkan sehingga menjadi sesuatu yang bernilai ibadah. Semua dilakukan semata-mata demi menjaga diri. Dan, kalau pun saya menemui pengalaman yang sama, saya akan mengatakan langsung dengan satu pernyataan,

"Maukah kau bicara soal masa depan denganku?"

Atau bisa juga dengan ungkapan yang ini,

“Maukah kau menjadi ustadzah buat anak-anakku nanti?”

Saya pikir pertanyaan ini adalah kalimat sederhana, dimana kalau dia mau, ya Alhamdulillah, dan itu berarti rencana bisa diteruskan. Bila tidak ya tidak mengapa, toh ibadah nikah, tidak harus selalu dengan dia. Dengan siapapun tetap dapat pahala, asal ikhlas sama ikhlas. Daripada lama terkatung katung, antara rindu dan ketidakpastian, kan lebih baik segera ditanyakan. Oke atau tidak, selesai :).

Itu bisa berarti, aku harus mengulangi pertanyaan ini secara tulus pada muslimah lain. Yang penting, aku sudah punya kesiapan menghadapi kenyataan. karena itu adalah modal awal dari hilangnya kegundahan.

Aku meyakini, bahwa yang akan menjadi istriku hanyalah yang ditakdirkan_Nya untuk menjadi istriku. Walaupun seseorang telah memakai gaun pengantin, telah duduk dua saksi dan bertatap wajah dengan penghulu, kalau bukan jodoh kita dalam catatan takdir, maka kita tidak akan pernah bisa kita raih sebagai istri. Sebaliknya kalau memang seseorang itu memang jodoh kita dalam kehendak_Nya, maka sekalipun sekarang masih berada di ujung kutub utara, maka Allah akan hantarkan ia kepadaku, atau aku yang dihantarkan_Nya untuk menemuinya dia.

Memang takdir tidak bisa dipaksa. Kalau tidak mau, yang lain pasti mau!
Siapa yang lain itu? Ya aku cari lagi dan tanyakan lagi seperti tadi.

Sederhana bukan pemikiranku? sepanjang kita siap menerima siapapun yang ditakdirkan_Nya buat kita, maka Insya Allah hidup ini akan terasa mudah, indah, berkah dan bernilai ibadah.
Dan, ketika nanti aku menemukan pengalaman yang sama, dan aku tidak mampu mengungkapkannya secara lisan, maka akan aku kirimi dia surat. Surat itu sudah aku siapkan, dan sewaktu-waktu siap untuk dikirimkan. Lebih jelasnya, surat itu aku lampirkan seperti yang tertulis di bawah ini.

بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØ­ْÙ…َـنِ الرَّØ­ِيم

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan setiap sesuatu berpasang pasangan.
Dan Dialah yang menjadikan manusia berjodoh jodoh, agar hadir kedamaian hati
dalam kebersamaan pada ikatan nikah tadi, bersemi kasih dan berkembang cinta
bersama waktu yang dijalaninya.

Biru...(Akan kupanggil ia dengan sapaan yang ia sukai) cukup lama saya mengenalmu, demikian juga kau terhadapku. Kau mengenal kekurangan yang ada pada diriku, saya pun mengenal kebaikan kebaikan yang ada pada dirimu. Begitu juga sebaliknya. Hari ini lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada padaku, sepenuhnya menyadari kelebihan dan keterbatasanmu. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan hambaNya. Maka hari ini kuutarakan niat bulatku untuk mengajakmu menjalani kehidupan keluarga, aku mengajakmu untuk beribadah memelihara diri dan keluarga dari api neraka. Bersamamu kita membesarkan anak anak kita. Tak ada yang kujanjikan kepadamu, selain harapan hidup lebih baik di sini dan nanti, lewat kepaduan dan saling memahami dan mengerti antara kita.

Kalau berpikir bahwa ide ini layak untuk dipertimbangkan. Maka marilah kita masing masing berdo'a :

“Ya Allah kalau dia (aku sebutkan namamu dalam do'aku dan kau sebutkan namaku dalam do'a mu. OK ?) baik buat akhirat saya, agama saya dan dunia saya, Maka jadikanlah hati saya mudah untuk menerima dia dan lapangkanlah jalan kami untuk melangsungkan pernikahan dan hidup tentram sesudahnya. Tapi bila dalam pandanganMu, dalam Ilmu Mu yang Maha Meliputi segala sesuatu, ternyata dia tidak baik buat akhirat saya, agama saya dan dunia saya. Maka mudahkanlah saya untuk mendapatkan yang lebih baik dari dia, dan mudahkanlah dia untuk mendapatkan yang lebih baik dari saya. Padamu kami bertawakkal, dan padaMu kami berserah diri.”

Insya Allah, akan ada petunjuk dari Allah untuk kita. Sehingga mudah bagimu untuk memberikan sebuah keputusan atau lebih tepatnya sebuah jawaban menerima/menolak ajakanku. Kalau iya, maka mari kita bicarakan kelak, apa yang harus kita persiapkan, sehingga masing masing kita bisa hadir dalam sosok yang lebih baik lagi dari sekarang ketika berganti posisi dari ’kakak - adik’ menjadi istri atau suami.

Dan kalau pun tidak, aku tidak menyesal, semoga saja kau mendapatkan yang lebih baik dariku, sebagai mana aku pun mendapatkan yang lebih baik darimu. Dan apa yang telah terjalin di antara kita tetap akan menjadi bagian yang sangat indah dalam hidupku. Aku takkan melupakannya. Kita akan tetap sebagai ‘kakak-adik-. Setidaknya dengan kepastian jawabanmu,. aku berhenti berangan angan, ingin menjadikan kau sebagai istriku.


Bila di dunia ada syurga,
Maka itulah kehidupan rumah tangga yang romantis dan harmonis.
Bila di dunia ada neraka,
Maka itulah kehidupan rumah tangga yang tak selaras.

Bahagialah mereka yang diamnya berfikir,
memandangnya mengambil pelajaran,
mendengarnya mengambil hikmah,
dan dalam tindakannya orang mengenal indahnya Islam.











Sabtu, 07 Maret 2009

SMART STUDENT COME FROM NICE TEACHER


Aku mengulang sejarah baru. Menjadi pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Bahasa Asing, International English Center. Akan kubuat hari-hariku pertemuanku perdana mengesankan, dan akan kujadikan pengalaman itu menjadi menyenangkan. Mendengar gambaran singkat dari Andini kemarin, sepertinya kelas yang saya handle akan benar-benar menarik dan menantang.

Ada tiga anak kembar yang aku ajar dalam kelompok belajar. Satu siswa laki-laki dan dua perempuan. Namanya Bagas, Mutia Arum, dan Mutia Citra. Ketiganya memiliki kesamaan sifat:Sensitif! Itu artinya saya harus lebih jeli membaca perangai ketiganya.

Tak hanya menghadapi anak kembar tiga. Saya juga berhadapan anak hiperaktif. Ya, ada satu anak yang tak bisa diam barang sejenak. Selalu saja ada yang dikerjakannya. Saya jadi ingat, ketika saya mengajar di SDIT Sabilul Huda Kota Cirebon. Walau pun saat itu kapasitasnya sebagai guru pengganti. Kebetulan saat itu menggantikan kelas Ruswanto. Pada kesempatan yang baik itulah, saya pertama kalinya menghadapi anak hiperaktif yang begitu temperamental. Diganggu sedikit saja, ‘meledaklah’ amarahnya.
Pernah dirinya merasa kenyamanannya saat menggambar terganggu, ia pun mencecar si pengganggu sampai dapat dan diajak duel, setelah puas mengajak damai. Ia juga kerap melakukan sesuatu yang tak terduga, mengejutkan, sekaligus mencengangkan! Misal, tiba-tiba ia ke depan kelas, dan langsung merobohkan papan penyangga whiteboard. Jatuhlah papan tulis itu hingga membuat suara gaduh. Setelah itu emosi anak itu reda seketika dan duduk manis di kursinya seperti tak terjadi apa-apa. Tak hanya itu, saat shalat duhur berjamaah juga kekhusyukannya terusik. Baru saja, mengangkat tangan mengucap, Allahu Akbar... tiba-tiba dari belakang temannya yang usil menggoda. “Gendut-gendut... Gendut gendut...” Blar! Hilanglah seketika konsentrasi menghadap Sang Pencipta. Terjadilah kejar mengejar di antara barisan shaf. Dapat, terjadi duel yang sengit. Setelah merasa cukup damai lagi lalu melanjutkan shalat yang tadi terpotong. Tenang kembali seperti tak terjadi apa-apa.

Bisa jadi lantaran wajahnya yang ngegemesin, sampai-sampai teman-temannya banyak yang iseng godain. Kalau digambarkan, perangai dan postur tubuh anak itu seperti Giant, dalam film kartun Doraemon. Ah, saya jadi penasaran, kira-kira seperti apa anak hiperaktif yang akan saya temui nanti?

Sensitif, dan hiperaktif. Dua kata sifat murid-muridku yang telah kugenggam. Ada satu lagi anak yang tak bisa saya definisikan kata sifatnya. Anak itu kerap bertanya pada hal-hal yang tak semestinya. Solusinya hanya satu untuk anak yang selalu pintar-pintar bertanya, yaitu pandai-pandai menjawab!

Anak adalah permata-permata masa depan yang akan mencerahkan. Untuk membuat permata itu berkilau, gurulah yang memolesnya. Saya percaya, bahwa smart student come from nice teacher! Itu artinya saya harus menjadi guru yang baik!!

Ehm! Sinyal atau tanda-tanda saya akan menjadi guru yang baik, rupanya sudah kulihat. Sebelum saya mendapat kelas mengajar, secara kebetulan saya diajak Paman untuk menjadi panitia di sebuah acara pelatihan guru TPQ. Trik, Metode mengajar, sampai sesi Psikologi anak pun saya serap habis-habisan secara gratis. Saat itu saya memosisikan diri sebagai spon yang mampu menyerap apa saja sesuatu yang berkaitan dengan air. Yang lebih memantapkan lagi, secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku hebat, Quantum Teaching, karya Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nouri yang diterbitkan KAIFA. Buku itu membuat saya menjadi makin percaya diri to be a nice teacher!







Ruang Tersendiri Film & Sastra


Sebuah karya sastra dipilih untuk sebuah produksi film memang bukan hal baru. Sisi positifnya bisa memacu seseorang meningkatkan minat baca lantaran ada tendensi menjawab rasa penasaran setelah menyaksikan sebuah tontonan. Orang yang memiliki sense of curiosity yang tinggi biasanya ada kecenderungan mencari asal bagaimana sebuah sajian tontonan itu berasal. Itu artinya, jika muncul rasa penasaran dari apa yang telah disaksikan pada sebuah tontonan, seseorang cenderung membaca karya asal.

Namun, masalah yang terjadi sudah selaraskah budaya nonton dengan budaya membaca kita? Keterkaitan keduanya tentu saja ada ketika dipadukan, asalkan kepaduan itu masih selaras dari maksud tuturan teks awal. Membandingkan keduanya (membaca dan menonton) memang menjadi satu hal menarik yang perlu kita kaji sekarang ini.

Budaya nonton yang saya amati dewasa ini baru sampai pada batas mencari hiburan semata. Penonton masih belum sepenuhnya apresiatif lantaran yang dicari hanya kepuasan parsial. Mengenai proses pembelajaran yang bisa didapat dari sebuah film masih jauh panggang daripada api. Padahal film adalah cerminan realitas, perangsang imajinasi, pembentuk identitas, dan dunia yang mencipta pencitraan.
Pembentukan identitas yang dimunculkan dari film tidak terlepas dari apa tema yang diangkat, siapa yang menjadi pemain, siapa yang mengelola bioskop sebagai lanskap luar yang mengalasi layar putih itu, dan siapa yang menjadi penontonnya. Pengalaman menonton, berada dalam gedung bioskop, dan tingkah laku menikmati sajian film merupakan proses resepsi maupun respon atas identitas dari pencitraan yang ditampilkan.

Sementara membaca adalah gerbang untuk menjadi orang yang berpengetahuan. Ia menjadi salah satu aktivitas literat kelas berat, namun menyenangkan ketika sudah mendalaminya. Pada sebuah bacaan, disitulah ide-ide tertata pada kata-kata.
Sastra dan Film

Film seperti yang dinyatakan Asrul Sani adalah bidang seni yang menggunakan citra sebagai mediumnya. Ia adalah kontinuitet gambar-gambar, karena itu bersifat grafis. Sementara kata-kata dalam sastra punya peran membangun cerita, seterusnya cerita mengandaikan urutan dalam waktu, sedangkan perkembangan peristiwa memerlukan keterangan tentang sebab akibatnya. Sebaliknya film menunjukkan perkembangan ceritanya tidak dengan memperlihatkan perkembangan dari satu waktu ke waktu, tetapi dengan memperlihatkan perpindahan dari satu ruang ke ruang yang lain.
Keduanya pun bisa menyatu atau lebih tepatnya disatukan dengan makin maraknya film yang diangkat berdasarkan sebuah novel laris. Alih-alih mendulang kesuksesan yang sama, sebuah novel pun diangkat ke layar lebar. Peluang adanya pasar, didukung dengan kekuatan modal dan kreativitas pelaku sinematografi, sebuah karya sastra dalam bentuk teks diangkat menjadi film.

Kemungkinan adanya perbedaan interpretasi bahkan terasa jauh dari sebuah tuturan teks bisa saja terjadi. Ini wajar, karena sejatinya sastra memiliki ruang tersendiri untuk bisa dinikmati, dan diresapi. Ia justru lebih menarik dan seksi untuk dinikmati ketika ia masih sebagai teks yang utuh.

Pun sama halnya dengan karya film (sinematografi). Ia memiliki ruang tersendiri untuk bisa diapresiasi, diserap pesan yang ingin disampaikan melalui ranah audiovisual. Proses apresiasinya melibatkan seluruh indra, terutama pada indra lihat, dengar, dan rasakan.

Kemungkinan terjadinya misinterprtasi tentu saja ada. Sebut saja dalam novel Da Vinci Code ketika difilmkan ada banyak bagian penting yang hilang. Laskar Pelangi, Sajadah Cinta, dan baru-baru ini adalah Perempuan Berkalung Sorban pun mengalami nasib yang sama. Karya-karya itu jauh lebih berkesan dinikmati sebagai teks novel, tenimbang jika diangkat ke layar lebar. Selain karena keterbatasan ruang dan waktu, sebuah film juga harus benar-benar dimainkan oleh seorang profesional. Berbeda dengan ruang sastra. Ia tidak terikat oleh ruang dan waktu. Imajinasi yang dihasilkan bebas mengembara sampai pada batas angka dibagi nol alias yang tak terhingga.

Besar kemungkinan ketidakselarasan itu terjadi lantaran film tersebut 'hanya' merekonstruksi teks dari buku ke film. Sikap semacam ini tentu rentan menjadikan penonton yang sudah membaca karya satra itu, ketika menonton filmnya akan dibawa ke dalam kegiatan menonton yang 'hanya mencocok-cocokan' yang ada di buku apakah ada juga di dalam film; memperbandingkan intensitas sensasinya: sedih di buku atau sedih di film, lucu di buku atau di film, tegang di buku atau di film, dan seterusnya.
Tetapi itu bisa berbeda ketika film yang diadaptasi dari karya sastra (katakanlah novel) diangkat dengan mengambil sisi atau angle (sudut pandang) lain. Mulai dari cara bercerita (point of view), penekanan cerita, interpretasi cerita, dan lain sebagainya. Dalam pandangan Embie C Noer besar kemungkinan penonton akan terlibat sama segarnya seperti ketika dia membaca novelnya. Keberhasilan menemukan bentuk semacam inilah yang banyak menjadikan karya film yang mengambil karya satra sebagai script, menjadi karya yang juga memiliki nilai yang sama agungnya, sama kharismatiknya, sama orisinalnya, dengan karya sastra yang dipilihnya sebagai bahan cerita.

Itu bisa berarti bahwa bisa saja sebuah karya apapun menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya yang berbeda, tetapi ketika hanya mengadopsi penuh, tidak menutup kemungkinan hasil dari karya itu tak seksi lagi untuk dinikmati.







Senin, 09 Februari 2009

Karya yang Terlahir karena Sesuatu



Semangat dan energi dari seorang Ali Irfan yang saya kenal, nampaknya tak pernah padam. Kumpulan cerpen ini lebih mengukuhkan bahwa ide atau gagasan yang berlompatan dalam pikirannya tersalurkan melalui tulisan. Bukan hanya sekedar sebagai bacaan, tapi lebih dari itu adalah mampu menginspirasikan kita semua akan makna dari suatu cerita.

Pergulatannya di dunia jurnalistik sangat berpengaruh dalam gaya bertutur dan pemilihan kata. Maka tak megherankan bila beberapa cerpennya lahir karena adanya “sesuatu” yang terjadi. Semisal yang berjudul Eksekusi, terinspirasi dari kasus bom Bali. Manakala kiai kharismatik K.H. Syarief Muhammad bin Syech yang sangat akrab disapa Kang Ayip Muh wafat, hatinya gelisah dan lahirlah cerpen Menyentuh Keranda. Adanya “sesuatu” yang terjadi, jelas erat kaitannya dengan dunia jurnalistik. Cerpen berjudul Deadline! sangat kentara darah kewartawanannya tak terpisahkan.

Kelebihan dari seseorang yang konsisten bergelut di dunia jurnalistik, diantaranya adalah peka terhadap dinamika kehidupan, mampu merangkai huruf, kata, dan kalimat menjadi satu kesatuan arti secara lancar. Hal ini amat membantu kejernihan alur pikir sang penulis dalam menorehkan gagasan. Pergaulan dan pengalaman Ali Irfan di lingkungan pondok pesantren dan komunitas dakwah kampus pun telah menginspirasikan karyanya yang bertajuk Ratapan Semu Iblis dan Malaikat Seribu Cahaya.

Seperti saya sebutkan tadi bahwa instink jurnalisnya terus bergerak mengendus penggalan berbagai peristiwa. Mencoba merekam kejadian yang menyentuh hatinya, kemudian memaknai yang tersirat dari yang tersurat mejadi cerita pendek. Seribu kata, seribu makna niscaya tak akan pernah habis dalam menguraikannya.

Semoga pembaca dapat memetik inspirasi dari kumpulan cerpen ini. Dan saya percaya, sang penulis tak akan pernah kehabisan gagasan dan kata-kata dalam membuat karya-karya selanjutnya.

Yanto,Sy
Praktisi Media & Creative Director Forum Bela Budaya Cirebon







Tentang Cinta, Malaikat, dan Kematian


Cinta, malaikat, dan kematian adalah tiga unsur berbeda tergabung karena sesuatu dan menjadi dalam satu frase: antologi cerita pendek. Ketiganya menyatu lantaran ada sesuatu. Atau dengan lain perkataan, sesuatu menyatukan ketiganya. Sesuatu itu tak lain adalah rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang sifatnya abstrak namun ada dan bisa dirasakan seperti halnya cinta, malaikat, dan kematian.

Kalau kita uraikan secara mendetil, sejatinya cinta adalah sesuatu yang abstrak dan bisa dirasakan. Di dalam cinta terkandung energi yang benar-benar menggerakkan manusia untuk hidup. Bahkan lebih hidup! Sebuah keberlangsungan berlangsung karena ada cinta. Ia tak perlu definisi, meski ada seribu makna disebalik kata itu. Satu kata yang kerap membuat hati anak manusia bergetar, tersipu, berani, bertahan, setia, bahkan berselingkuh! Satu kata yang terakhir bisa (atau biasa) terjadi manakala menemukan cinta yang lain lalu enggan melepas yang sudah digenggaman!

Ketika tak ada keberanian mengungkapkan, cinta pun bisa mengarahkan seorang anak manusia menjadi pencuri. Ini terjadi seperti dalam sebuah pengakuan, Akulah Pencuri Itu. Sadar bahwa mencuri perbuatan yang berdampak pada sebuah dosa, seorang anak manusia pun mengakui perbuatannya dengan mengaku dirinya sebagai pencuri. Dalam pengakuannya ia bilang, setidaknya dengan mengakui itu, akan memperingan mizan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan nanti. Inilah pentingnya memaknai sebuah kejujuran. Bukankah jarang-jarang ada pencuri mau mengaku?

Manakala tak ada keberanian membalas, kaum hawa pun, cukup membalasnya dengan diam. Sebuah jawaban yang menimbulkan rasa penasaran lelaki meski ada sabda nabi yang mengatakan, diamnya perempuan adalah sikap menerimanya. Sampai-sampai dengan tingkat kepercayadirian yang tinggi, kaum adam harus mengatakan, Sebenarnya Kau Mencintaiku, Hanya Saja Kau Tidak Mengatakannya. Namun ada sebagian bagi kaum hawa yang berprinsip bahwa diam saja tidak cukup. Mungkin terjadi karena ada kekhawatiran cintanya tak berbalas. Maka dengan sekuat tenaga, seorang Rahma Syifa memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mengekspresikan rasa seperti dalam cerpen Lelaki yang Datang Lewat Mimpi. Kesetiaan pun diuji dalam Lelaki yang Tak Pernah Tidur lantaran menunggu kedatangan bulan yang kerap mengganggu hatinya. Keinginan untuk bercinta dengan bulan pun muncul meski urung lantaran mempertimbangkan kesetiaan seorang istri.

Cinta memang mengajarkan seseorang untuk berkhianat, selain tentunya mengajarkan kesetiaan. Kalau ingin tahu apa itu kesetiaan, belajarlah pada Malaikat! Ia makhluk Tuhan yang tingkat kesetiannya sudah teruji. Dengan anugerah kesempurnaan yang tiada tara, sebenarnya manusia bisa seperti malaikat tanpa harus menjadi malaikat. Bahkan seseorang bisa mendatangkan Malaikat Seribu Cahaya yang langsung diturunkan dari langit. Tetapi keegoan yang melekat pada diri manusia malah membuatnya kadang kebablasan lantaran muncul keinginan memiliki Dua Helai Sayap Jibril.

Tetapi, seberapa jauh manusia berpetualang menyelami hidup, pada akhirnya akan bermuara pada satu, yakni kematian. Ia adalah akhir yang pasti, tetapi kapan waktunya masih menjadi misteri. Kematian tak perlu dicari, karena sejatinya ia akan datang sendiri menghampiri. Yang patut diperhatikan adalah bagaimanakah kita seharusnya mati? Kisah mengenai kematian, mulai dari kematian yang sederhana, kematian yang belum saatnya, sampai bunuh diri telah saya tuangkan dalam Senja Di Atas Kereta, Menyentuh Keranda, Deadline!, Eksekusi, Qasidah Gurun, Suara Adzan di Jantung Muadzin, dan Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja.

Ali Irfan. Tegal, 2 Februari 2009. 14.44






Jumat, 06 Februari 2009

Aku, Wimar Witoelar, dan Fira Basuki



Ini pengalaman yang belum aku kisahkan kepada kalian. Kisah lama memang, tapi itu tak apa kan? Saya memercayai, sebuah pengalaman yang dituliskan akan menjadi kisah mengabadi yang sewaktu-waktu bisa dibuka kembali. Saya menyebut hari itu terlalu indah untuk dilewatkan, karena benar-benar memicu aktivitas saya dalam menulis. Begini kisahnya...


haripertama:sembilanseptemberduaribuenam

Saya bertemu dua sosok berbeda. Buku menyatukan mereka. Dekat seperti sahabat, bahkan seperti ayah dan anak! Mereka Wimar Witoelar dan Fira Basuki. Saya mengenal keduanya pada sebuah buku biografi berjudul “Heal Yeah: Wimar Witoelar & Fira Basuki.” Penulis buku itu Fira Basuki. Seorang jurnalis, penulis juga novelis.

Pukul delapan malam saya sudah berada di salah satu stasiun radio di Cirebon. Ikut acara talk show. Niat awal wawancara Wimar Witoelar dan Fira Basuki buat majalah kampus yang saya kelola, majalah FatsOeN. Tetapi entah, ketika keduanya datang, mental tiba-tiba down. Memang saat itu ada banyak orang. Rombongan Wimar datang dengan dua mobil, yakni terdiri dari orang-orang Intermatrix, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Public Relation milik Wimar.

Saya tak punya banyak kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Wimar karena sejak kedatangannya langsung disambut kru radio. Sesekali saya mengambil gambar keduanya. Sedemikian asyik memotret, sampai hampir lupa pada niatan awal untuk wawancara.

Ada yang menarik dari sosok Wimar. Sapaan yang ia gunakan menggunakan inisial. Wimar Witoelar ternyata akrab disapa WW (read: wewe, not double u, double u). Katanya nama itu egaliter, yakni mengedepankan persamaan. Ia tak memandang perbedaan dari mana ia berasal, mulai dari agama, ras dan lainnya yang sekiranya mengindikasikan ada jarak.

Kesederhanaanya begitu melekat. Padahal ia bukan orang biasa lantaran kapasitasnya yang memang tidak diragukan lagi. Meski saat kecil sempat dicemooh sebagai bebek si buruk rupa (ugly duckling), WW ternyata seorang aktivis kampus, the great communicator, pernah didapuk sebagai news caster VOA, dan karir politiknya jadi Juru Bicara Kepresidenan masa pemerintahan Gus Dur.

Firbas juga tak kalah menarik. Gaya penulisannya energik. Ketika kamera menyorot ke arahnya, ia pasang rona senyum pipit. Senyumya khas. Saat duduk di sebuah sofa, tiba-tiba Fira Basuki duduk di kursi persis depan saya. Saya mencoba berusaha bersikap biasa, biar tidak kelihatan canggung, apalagi gugup.

Dalam benak saya berucap, “Ini kesempatan untuk wawancara Fira Basuki!” Saya pun tak melewatkan itu, tanpa menunggu waktu, juga tanpa minta ijin wawancara, saya langsung melontarkan pertanyaan,

“Kenapa Mbak Fira mengambil sastra dalam kepenulisan?” tanya saya tiba-tiba.

“Ceritanya ini wawancara nih?” Jawab Fira seketika dengan senyum khas. Sepertinya ia paham tengah berhadapan dengan wartawan amatiran, he...

Saya membalas dengan senyum mengiyakan. Setelah itu Fira menjawabnya.

“Ya, karena dunia sastra segalanya bisa mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin dalam kehidupan nyata ketika dalam dunia sastra itu bisa saja terjadi dan sah-sah saja.”

Ternyata, ia mulai menulis sejak duduk di bangku SD. Saat teman-temannya asyik bermain, ia malah asyik di kamar membuat puisi di buku harian. Tahu Fira suka menulis, ibu tercintanya kasih saran agar Fira ikut lomba penulisan puisi. Namun Fira acuh. Ibu tersayang ternyata punya inisiatif dengan mengisikan formulir pendaftaran. Hasilnya mengejutkan, tak terduga, tak disangka. Fira tampil sebagai juara menulis puisi yang diselenggarakan majalah Bobo. Padahal sama sekali tak merasa ikut lomba.

Saat talkshow mau dimulai, wawancara terpaksa saya hentikan. Saya hanya melontarkan dua pertanyaan. Lagi pula saat itu saya tak tahu harus bertanya apa lagi. I’m speechless!

harikedua:sepuluhseptemberduaribuenam

Saya masih mengikuti keduanya saat acara bedah buku di Gramedia. Saya datang ke acara itu lantaran dapat bocoran dari dari salah seorang kru WW, besok ada door prize berupa buku-buku Wimar yang akan diberikan kepada peserta bedah buku. Entah kenapa, saya yakin akan mendapatkan satu buku Wimar.

Apa yang saya harapkan ternyata terwujud. Saya adalah orang pertama yang melontarkan pertanyaan dalam forum. Ya demi sebuah doorprize! Sudah jadi kesepakatan awal, setiap penanya akan mendapatkan bingkisan.

Saya menghadiri acara itu bersama Siti Khudriyah, seorang kawan yang juga aktif di FatsOeN. Saya komporin dia bertanya biar dapat bingkisan. Terkesan materialistis memang, tapi tak apa kalau demi sebuah buku yang mencerahkan! Ia pun menurut, bahkan melontarkan pertanyaan terbaik. Ia mendapat satu buku Hell Yeah dan satu bingkisan, yang entah apa isinya. Saya dan Dyah senang lantaran dapat apresiasi menarik dari Wimar,

Sebenarnya saya sempat iri karena saya hanya mendapat satu bingkisan, Dyah dapat dua. Ia pertanyaan terbaik, saya biasa-biasa saja. Bahkan Dyah mendapat kehormatan berduet dengan Wimar menyanyikan lagu Hell Yeah! Itulagu favorit Wimar yang hampit diputar di mobilnya setiap kali ia bepergian. Dyah sempat mencoba menyelamatkan diri lantaran tak bisa nyanyi, seperti apa lagunya juga ia tak tahu. Meski sempat diputar juga itu baru pertama kali dengar. Pakai bahasa inggris pula. Tapi akhirnya setelah didesak, ia pun ke depan bersama Wimar. Ya, tidak terlalu memalukan memang, Di depan Dyah cuma pegang microphone! Saya lupa menanyakan bagaimana isi benak Dyah saat tak di depan bersama Wimar. Oh, iya. Bingkisan yang Dyah peroleh ternyata isinya sebuah kaos ekslusif Wimar.

Penasaran belum tahu apa isi bingkisan kecil, saya langsung membuka bingkisan. Saya sobek kado pembungkus dengan tergesa-gesa. Surprise Alhamdulilah! Isi bingkisan itu ternyata sebuah buku berbahasa Inggris. Judulnya No Regrets, A Reflection of Presidential Spokesman.

Setelah dipikir-pikir, ternyata saya dapat buku yang bernilai lebih. Sebab, apa yang didapat oleh kawan saya, pernah saya baca habis dalam waktu kurang dari dua hari. Yah, FatsOeN memiliki buku itu dua hari sebelum kedatangan Wimar di Cirebon. Tentang kaos itu, saya berkomentar dalam benak, book is more important than t-shirt!

Pas usai acara, saat acara book signing, beberapa orang sudah memanjang menanti giliran untuk menanti tanda tangan. Wimar berkomentar ketika saya menyodorkan No Regrets? “Wah, kau dapat dari mana buku langka ini?” Jawab saya, melontarkan pertanyaan pertama saat diskusi buku dimulai. Komentar lain yang tak kalah menarik terujar dari Fira Basuki, “Wow the great book! Buku mahal neh, seratus ribu lho,” kata Fira. Saya hanya tersenyum.

Kelak, pasti saya bikin buku sepertimu Fira...





Rabu, 14 Januari 2009

Lelaki yang Datang Lewat Mimpi


Mimpi itu telah datang tiga hari berturut-turut dalam tidur gadis berjilbab lebat. Rahma nama perempuan itu. Lengkapnya Rahma Syifa. Mimpi itu merasuk ke dalam benaknya. Dan benar-benar mengganggu perasaannya. Malam-malam berikut ia malah sampai tak bisa tidur lantaran selalu menebak-nebak apa sebenarnya makna disebalik mimpi itu? Satu mimpi yang datang tiga kali berurutan di tiga malam berbeda. Sebuah mimpi yang membuat hatinya bergetar. Mimpi yang seperti bukan mimpi padahal itu adalah sebenar-benarnya mimpi.

Dalam tidurnya Rahma memimpikan ada sesosok lelaki yang datang menghampiri ketika dirinya tengah duduk-duduk di masjid. Lelaki itu tersenyum mendekati. Tanpa disangka-sangka sebelumnya, ia mengajak Rahma shalat empat rakaat di masjid di tengah hari. Saat mimpi, ia merasakan seperti sebenar-benarnya duduk dalam teras masjid. Ia merasakan benar bagaimana ia shalat seperti halnya orang shalat. Ia merasakan benar senyum yang tanpa kata-kata itu, tapi ia memahami kata-kata yang terangkum terkulum senyum. Adakah mimpi itu menyiratkan pesan, akan datang seorang lelaki yang akan melamar lalu menikahinya?

Di hari pertama bermimpi memang tak begitu tampak jelas siapa lelaki itu. Wajahnya samar, tapi dari senyumnya ia kelihatan sosok lelaki yang baik hati. Senyum yang penuh keikhlasan. Rahma mencoba meraba-raba, mengarah pada beberapa nama lelaki yang ia kenal dan ia mengenalnya namun tak jua ia temukan siapa sosok laki-laki dalam mimpi. Rahma terbangun dalam mimpinya seusai salam.

Malam kedua tetap sama. Wajah lelaki itu masih samar. Dan benar-benar membuatnya penasaran. Mimpi Rahma pun masih sama. Duduk di teras masjid, ada lelaki datang tersenyum, lalu mengajak shalat, dan entah kenapa ia menurut saja. Hanya ada sedikit gambaran yang hadir dalam mimpi itu. Lelaki itu mengenakan baju koko hijau pupus.Tapi detil wajah, tak mampu ia gambarkan meski hanya dalam sketsa. Apa yang ia alami di mimpi kedua pun masih sama: ia terbangun seusai salam penanda shalat telah usai.

Malam ketiga baru semuanya terjawab. Wajah lelaki dalam mimpi itu sudah tak samar lagi. Rupa tampak begitu jelas. Mimpi-mimpi sebelumnya seperti meninggalkan sketsa wajah. Hari ketiga itulah penyempurnaan sketsa itu dalam rupa sesunguhnnya. Dan subhanallah, Rahma benar-benar mengenal lelaki itu! Lelaki itu ia kenal lewat tulisan-tulisannya di koran. Tapi bagaimana bisa datang lewat mimpi, itu yang ia tak tahu.

Rahma memang mengenalnya lewat tulisan. Juga saat kesempatan acara pelatihan jurnalistik di kampus. Saat itu Rahma sebagai peserta, dan ia pembicara. Rahma memang sempat dibuat kagum mendengar ketika ia berbicara, juga kagum saat membaca tulisan-tulisan lelaki itu yang menawan. Gaya bahasanya benar-benar memikat. Sudah. Hanya sebatas itu.

Tapi mimpi itu? Bagaimana bisa sosok lelaki yang tak mengenalnya bisa hadir dalam mimpi? Dan yang lebih Rahma tak tahu, dan membuat ia terheran-heran, mimpi itu datang tiga hari berturut-turut dengan ritme berbeda. Alur dalam mimpi itu layaknya kamera yang mencari titik fokus. Awal terlihat samar, tapi ketika menemukan titik fokus baru objek terlihat jelas. Apa yang Rahma alami menyisakan pertanyaan sangat mendalam. Pertanyaan yang membutuhkan jawaban, berupa sebuah tafsir mimpi yang ia merasa seperti bukan mimpi. Ia merasa tak kuasa mengalami mimpi yang tak biasa. Hatinya benar-benar tak bisa diterka. Bahagia, berdebar, takut, dan malu.
***
Sedemikian mengganggu perasaannya, Rahma pun memberanikan diri memberi tahu lelaki yang datang lewat mimpinya melalui SMS. Nomor handphonenya ia dapatkan dalam curiculum vitae saat ia ikut sebagai peserta pelatihan jurnalistik. Rahma mencatat dalam block note ketika itu. Gelombang elektromagnetik membuatnya berani mengatakan sesuatu yang sifatnya rahasia tanpa harus berhadapan, bertatap wajah, bertemu muka.

Melalui SMS, pesan ia tuliskan. Ia menuliskannya tak seperti layaknya SMS. Kata-katanya hampir tak ada yang disingkat. Rahma sempat berpikir, akankah dirinya lancang membicarakan ini kepada seorang lelaki yang ia kenal, tapi lelaki itu tak mengenalnya? Ia memang telah berpikir seribu kali melakukan ini. Tapi sebuah penasaran yang sangat, perasaan yang entah, rasa ingin tahu yang mengganggu, membuatnya ia benar-benar berani. Dan akhirnya ia pun benar-benar melakukannya.

***
Di sebuah desa kecil di Tegal, yang jaraknya 80 kilometer dari kota di mana Rahma tinggal, handphone seorang lelaki menimbulkan nada pesan diterima. Seketika lelaki itu membuka pesan itu yang muncul dari nomor tak dikenal. Ia lalu membacanya.

“Assalamualaikum. Mohon maaf seandainya saya mengganggu. Sudah lama saya tidak pernah melihat di Cirebon. Kalau boleh tahu, sekarang tinggal dimana? saya berharap kau mau membalas sms ini, karena beberapa hari ini saya memimpikanmu. Maaf kalau saya lancang, ini bukan dibuat-buat. Datang dengan sendirinya. Terimakasih. Saya Rahma.”

Awal Rahma ragu untuk menuliskan namanya dalam pesan itu. Tapi ia yakin, kalau lelaki itu pastinya akan bertanya balik mengenai siapa ia sebenarnya. Setelah menungu lumayan lama, pesan itu pun berbalas. Rahma senang bukan main mendapat balasan sms yang sebenarnya memang ia tunggu-tunggu.

“W3. Kok bisa begitu? Rahma yang mana ya, brgkali sy lupa. Ap kita sdh saling kenal?”

Rahma membalas lagi.

“Saya pun tidak tahu. Mungkin lupa karena kau orang yang cukup dikenal. Saya ingin kau memberikan solusi atau tafsiran tentang mimpi saya.”

Lelaki itu mengabaikan pesan balasan Rahma. Seperti tak mau ambil pusing orang iseng.

“Sebelumnya saya sudah mengenal dari tulisan di koran dan saat mengisi pelatihan di kampus. Kalau saya tafsirkan takut di bilang lancang karena mimpi saya alami tiga beturut-turut.”

Masih abaikan pesan. Tetapi pesan berikutnya selalu datang.

“Mimpinya, saya duduk di teras masjid tiba-tiba kau datang dengan mengenakan koko hijau. Kau tersenyum, dan mengajak saya shalat. Entah kenapa saya nurut. Maaf kau saja yang menafsirkan sebelum saya.”

Tetap lelaki itu tak membalas pesan. Selang hampir satu jam, pesan berikut datang. Ada kata maaf. Namun lelaki itu tetap membacanya dengan perasaan yang mungkin terganggu.

“Gimana tafsirannya? Maaf saya terlalu terburu-buru karena mengganggu hati saya.”

Masih saja tak berbalas. Hampir Rahma kecewa. Tapi ia tak berhenti. Serangan SMS terus dilancarkan.

“Kenapa kau tidak memberi tahu saya tafsirannya. Hati saya benar-benar terganggu, dan menjadi penghalang bagi saya dalam bertaqarub pada Allah.”

Lelaki itu terkejut mendapat pesan terakhir yang ia baca. Awal sebenarnya ia tak ingin meladeni. Tapi ia justru bergetar ketika dirinya menjadi penghalang seseorang kepada Tuhan. Rahma menyebut nama Allah! Sebuah NAMA yang begitu menggelisahkan hatinya. Akhirnya ia pun membalas pesan itu, dengan mencoba menebak terkaan tafsir apa yang dialami Rahma. Lewat rekaman mimpi yang dikirim lewat SMS, diam-diam lelaki itu menafsirkan mimpi Rahma.

“Bismilahirahmanirahim. Biar kutebak. Apa kau menafsirkan sosok lelaki itu akan datang membawa niat suci meminta jadi imam dalam hidupmu? Berharap saja yang terbaik sama Allah!”

Rahma bahagia bukan main mendapat balasan itu. Bahagia lantaran jawaban itulah yang sebenarnya yang ia harapkan. Entah kenapa sejak mimpi itu, pikirannya selalu tertuju pada sosok lelaki yang hadir dalam mimpi. Ia mengenalnya, tetapi tidak untuk sebaliknya. Tapi ia tak peduli. Yang penting ia bahagia. Sedemikian bahagianya, sampai-sampai tanpa sadar ia membalas pesan yang sebenarnya membuat ia malu dan terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri.

“Bolehkah aku mendengar suaramu?”

Begitu pesan yang tertulis di alam bawah sadar. Melihat pesan yang sudah terkirim ia terkejut bukan main. Ia bingung harus berbicara apa kalau nantinya lelaki itu benar-benar menelepon!

“Boleh. Telepon aj skrg. Pulsaku g cukup buat nelp,” balas lelaki itu.

“Saya telpon tapi kau saja yang ngomong ya.”

Lagi-lagi ia menuliskan pesan singkat lagi. Ketika menuliskannya ia seakan berada dalam alam bawah sadar. Saat menerima pesan, lelaki itu tersenyum tanpa berkata-kata. Mungkin membayangkan apa sebenarnya yang sedang dialami perempuan bernama Rahma Syifa itu? Tapi dengan satu kata, lelaki itu membalas pesan. Hanya satu kata dengan tiga titik di belakangnya.

“Boleh...”

Dengan hati berdebar Rahma mendengar suara lelaki itu lewat bantuan gelombang elektromagnetik! Hanya lelaki itu yang bicara, dan tidak untuk Rahma.

Dan...inilah perbincangan searah lewat telepon antara Rahma dan lelaki itu.

“Assalamualaikum. Baru kali ini aku menemui sosok aneh seperti Rahma. Menelepon tapi tak mau bersuara. Tapi tak apa. Oh ya, masalah mimpi sebenarnya...” Klik!! Telepon itu langsung Rahma matikan. Entah karena malu atau bahagia. Lisan Rahma benar-benar tak mampu berkata-kata. Lelaki itu hanya tersenyum. Tersenyum!

Tegal, 12 Januari 2009
Selesai Pukul 17.03 WIB