<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258</id><updated>2011-10-23T03:36:52.072-07:00</updated><title type='text'>rumahpelangi</title><subtitle type='html'>Pelangi itu punya ragam warna memikat. Seperti warna-warna itulah, apa yang tersuguhkan saya harap bisa mewarnai seperti pelangi.
Saya hanya mencoba menangkap makna disebalik kata. Mencari, mengurai dan merangkai fakta yang digabung dengan imajinasi hingga menjadi sebuah kisah, seperti dalam cerita pendek. 
Sebagian besar cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, kisah saya sendiri.
Selamat membaca!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2203004710344882134</id><published>2010-04-20T00:37:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T00:42:49.191-07:00</updated><title type='text'>Rahasia Maya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di sebuah ruang tamu di rumah sederhana telah ada beberapa orang. Aku duduk di atas lembaran karpet yang terbentang. Ustadz Amar mendampingiku. Sebuah prosesi sederhana akan dimulai. Berlangsung tertutup. Tak banyak orang yang tahu. Hanya Ustadz Amar, ayah dan ibu perempuan yang selangkah lagi akan menjadi istriku, &lt;i style=""&gt;Insya Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian seorang perempuan berjilbab datang ditemani seorang lelaki, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Tatapannya menunduk. Sekilas, aku sempat melihat paras cantiknya dalam balutan jilbab. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah lingkaran majelis yang memang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah disiapkan, disitulah kami sore itu berkumpul. Minggu kemarin, Ustadz Amar memang merencanakan satu proses yang akan menjadi masa bersejarah dalam perjalanan hidupku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perasaan yang entah yang mendera-dera. “Diakah calon istriku? Siapakah wanita yang ada di hadapanku ini?” Melihatnya saja aku baru kali ini? Ia masih tertunduk. Matanya tak berani menatap. Sempat ia menatap, tapi saat mata kami bertemu pandang, ia buru-buru menundukkan pandangan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal tentang sosok yang ada di hadapanku ini memang telah aku dapatkan. Tetapi itu tak banyak, hanya pada tataran global. Informasi yang aku dapatkan, adalah dia seorang muslimah, salihah, siap menikah, yang bernama Maemunah. Biasa dipanggil Maya. Sudah hanya itu. Dan, inilah kesempatan yang diberikan kepadaku untuk mencari tahu semua dalam proses sederhana bernama ta’aruf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah bisa kita mulai?” ustadz Amar mengawali perbincangan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang akan mengawali pertanyaan lebih dulu?” lanjutnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia dulu.” serempak aku dan Maya menjawab bersama-sama. Mata kami sempat saling pandang.&lt;br /&gt;Begitu juga ustadz Amar dan juga ayah ibunya yang ketika itu ada dalam ruang itu. Mereka tersenyum. Masih ada kesan kaku di antara kami. Kami malu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Ali, kamu duluan karena kamu yang akan memimpin bahtera rumah tangga nanti,” aku mengangguk. Sempat diam lumayan lama karena saking gugupnya. Sampai-sampai ustadz Amar memberi kode mengingatkan agar saya mulai memberikan pertanyaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengucap bismillah dengan nada &lt;i style=""&gt;sirri&lt;/i&gt;. Saat paling mendebarkan kini tengah mendera menderu-deru. Seperti ada gemuruh badai. Allah, bantu aku, kuatkanlah aku memperlancar proses ini. Mudahkanlah proses ini, doaku dalam hati meminta kemantapan langkah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pertanyaan pertama pun dimulai. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana &lt;i style=""&gt;Ukhti&lt;/i&gt; pertama kali mengenal Allah?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanku berlangsung datar dan seketika. Sederhana, namun memerlukan jawaban yang mengena. Aku tahu tak mudah menjawab pertanyaan seperti itu. Tetapi Maya dengan lancarnya menjawab pertanyaanku.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah semua orang mengenal Allah adalah ketika masih belum lahir di dunia? Bukankah sudah ada perjanjian antara seseorang yang akan dilahirkan ke dunia dengan Allah? Dan ketika manusia lahir, nama Allah pula yang didengar pertama kali? Sejak kecil saya sudah dikenalkan hijaiyah mulai dari Iqro sampai Alqur’an untuk mempermudah menyebut nama Nya, belajar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengaji, hingga saya diberi kemampuan untuk membaca tanda—tanda kebesaran Nya dari apa yang telah Allah ciptakan. Itulah pertama kali saya mengenal Allah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;“Siapakah laki-laki yang ukhti cintai?”&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah Shalallah’alaihiwassalam.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membenarkan bangga, karena itulah jawaban yang aku inginkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang ukhti pahami tentang taat kepada suami karena Allah Swt?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taat pada suami berarti pula taat kepada Allah. Suami adalah pemimpin rumah tangga. Dan seorang pemimpin wajib hukumnya diikuti. Mengenai ini sudah secara tegas dinyatakan, &lt;i style=""&gt;Ati’ullah wa’atiurrasul wa ulil amri minkum.&lt;/i&gt; Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan taatilah para pemimpin di antara kalian.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanyaan lain ya?” Aku meminta Maya untuk beralih topik. Ia mengangguk membolehkan. Aku sudah mulai bisa sedikit mencairkan suasana karena sejak tadi pertanyaan yang muncul tak ubahnya seperti dosen penguji skripsi dalam sidang munaqasah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa sebutkan satu persatu hargo sembako?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangkap raut wajah terkejut. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam itu dariku. Seperti menganggap kalau pertanyaan dariku adalah pertanyaan konyol yang tidak begitu penting untuk ditanyakan. Tapi, bagiku ini penting dan harus diketahui oleh calon istri, karena itu bisa menjadi ukuran peka tidaknya seorang perempuan jaman sekarang yang terkadang menyepelekan. Setahuku ia selalu berkutat dengan buku-buku, mengajar, mengisi mentoring anak-anak SMA, mengisi seminar dan berbagai pelatihan. Akankah untuk hal yang sederhana ini ia lewatkan? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok sembako?” katanya dengan nada sedikit memprotes.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Memangnya kenapa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia pun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjawab satu persatu harga sembako. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beras Rp.7000,-/kg. Minyak sayur Rp.14.000,- Telor, Rp.8.000,-/kg terigu Rp.6000,-/kg, Gula pasir Rp.8.500,-/kg, kalau gula merah Rp.8.000,- Cabe mulai kemarin menembus harga Rp.8.000/kg, begitu juga bawang merah”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baru delapan, kurang satu. Satunya lagi? Kan sembilan?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayan, pikirku, jawaban Maya tak meleset jauh dari apa yang disampaikan ibuku tadi sebelum berangkat. Ibuku sendiri sampai heran, mau melamar orang kok nanya-nanya harga sembako segala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya sempat berpikir lama untuk mengingat-ingat nama sembako yang kesembilan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oya, Elpiji tiga kilogram tiga belas ribu lima ratus!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini giliran aku menjawab pertanyaan-pertanyaan Maya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i style=""&gt;Assalamualaikum&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Akh&lt;/i&gt;? Siap menerima pertanyaan dari saya?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i style=""&gt;Waalaikumsalam. Insya Allah&lt;/i&gt; siap.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong ceritakan sedetil mungkin, bagaimana hubungan &lt;i style=""&gt;akh&lt;/i&gt; dengan Allah saat ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasa Allah tambah dekat. Bahkan aku merasa kalau kasih sayang Allah bertambah kepadaku. Buktinya, kemarin aku sakit, dan sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hubungannya sakit dengan kasih sayang yang bertambah, &lt;i style=""&gt;akhi&lt;/i&gt;?”Langsung Maya memotong pembicaraanku yang belum selesai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar &lt;i style=""&gt;ukhti&lt;/i&gt;, belum selesai aku menjelaskan. Tadikan mintanya sedetail mungkin. Iya, dengan sakit yang aku rasakan kemarin setidaknya menunjukkan kepadaku kalau Allah masih sayang. Tak cuma itu, bukti Allah sayang juga terlihat waktu aku tertidur setelah maghrib karena saking capeknya. Tengah malamnya, Allah membangunkanku, mengingatkanku, untuk shalat Isya. Ya sekalian saja aku manfaatkan untuk shalat malam. Saat sunyi itulah aku merasa benar-benar berkomunikasi dengan Nya. Ada ketenangan tak terkatakan. Ada satu keakraban yang begitu karib,” jelasku dengan menunjukkan pengalaman-pengalaman yang menurut pemahamanku menggambarkan kedekatanku dengan Sang Khalik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam seminggu terakhir, berapa hari yang anda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lewatkan tanpa bershadaqah atau berinfak untuk orang miskin dan &lt;i style=""&gt;sabilillah&lt;/i&gt;?” Pertanyaan kedua Maya terujar, masih dalam tataran normatif,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sama seperti pertanyaan yang awal-awal aku ajukan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebisanya dan semampunya saya menyisihkan rezeki yang aku dapat untuk bersadaqah setiap hari. Hanya dua kemarin, saya urung memberi kepada salah seorang pengemis yang datang tiba-tiba karena agak kasar cara memintanya. Coba saja bayangkan, tanpa salam tanpa basa-basi langsung menabok pundak hingga membuat aku terkejut. Menyebalkannya lagi, dia malah biasa-biasa saja, sambil menengadahkan tangannya. ‘Minta uang! Saya orang kecil!’ pintanya memaksa. Cuma setelahnya, aku merasa menyesal sekali ketika itu kenapa aku tak memberinya saja. Mau aku kejar, orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu malah nggak ada. Sudah pergi jauh. Nggak kelihatan. Barangkali begitulah cara Allah menguji ketulusan hati seseorang.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai menjawab, pertanyaan pun berlanjut. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mau buka rahasia,”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kata Maya kepadaku terus terang. Seakan ingin membuka sesuatu yang selama ini hanya ia yang tahu. Sempat aku bertanya-tanya, rahasia apakah itu yang akan diceritakan Maya. &lt;i style=""&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;, aku benar-benar melihat mata yang begitu teduh di wajah Maya. Wajah cerah air wudlu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya saya sudah memiliki seorang lelaki yang sangat saya cintai. Orangnya saleh, kalem, pintar, ganteng, dan sangat sopan. Hanya kepada dia saya memberikan cinta saya lebih daripada lelaki lain. Bersediakah anda mengijinkan saya melanjutkan cinta saya kepada lelaki ini, kalau anda menjadi suami saya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kaget mendapat pertanyaan itu. Petir serasa menyambar. Perasaan mendadak hendak emosional. Hati yang tenang seperti musim semi menyejukkan seakan berubah menjadi badai di tengah gurun yang bergemuruh. Degup jantung hampir berhenti berdetak. Pikirku, berani sekali dia berbicara seperti itu Cemburukah aku? Bagaimana bisa ia membanding-bandingkan aku dengan lelaki lain? Pantaskah seorang akhwat melontarkan pertanyaan seperti itu?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud melontarkan pertanyaan seperti itu?” aku bertanya balik dengan nada agak emosional. Ingin sebenarnya aku mengendalikan diri dari sikap emosionalku yang mungkin mengganggu proses paling bersejarah ini &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang jelaskah pertanyaan saya? Bersediakah &lt;i style=""&gt;akhi&lt;/i&gt; mengijinkan untuk melanjutkan cinta saya kepada lelaki itu, jika anda menjadi suami saya?” Maya bukannya menjelaskan, tapi malah menegaskan kembali pertanyaan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Maya menjawab, dengan kesan tenang. Tak ada tanda raut wajah yang menyimpan penyesalan. Sebaliknya wajahnya masih tetap kelihatan teduh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lelaki itu adalah Muhammad&lt;i style=""&gt; Sallahualaihi wa salam&lt;/i&gt;!”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku malu. Diam-diam ternyata ia membalas pertanyaan sembako dengan pertanyaan yang sebenarnya telah aku tanyakan pada Maya. “Siapakah lelaki yang &lt;i style=""&gt;ukhti&lt;/i&gt; cintai?” Maya seakan berkata kepadaku ; satu sama!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa lanjut ke pertanyaan berikut?” Maya mengingatkan. Tadi aku sempat terdiam beberapa saat setelah mendapat jawaban yang &lt;i style=""&gt;mengejutkan.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah melakukan proses taaruf, apakah &lt;i style=""&gt;akh&lt;/i&gt; akan melanjutkan ke proses khitbah lalu nikah? Atau masih butuh waktu dan meminta saya menunggu, dengan alasan yang tidak syar’i dan terlalu duniawi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagiku, menikah adalah satu proses yang perlu disegerakan. Segera. Bukan tergesa-gesa. Aku ingin menyegerakan nikah atas seijin Allah tentu saja,” jawabku padat langsung pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pokok persoalan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik. Kapan?” kata Maya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi maaf, sebelum menjawab itu... boleh aku bertanya kepada Abi dan Umi?” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, &lt;i style=""&gt;tafadhol&lt;/i&gt;.” Maya mempersilahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini perhatianku tertuju kepada orang tua Maya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i style=""&gt;Abi&lt;/i&gt;..., &lt;i style=""&gt;Umi&lt;/i&gt;...Melalui kesempatan ini.. saya... ingin melamar Maya untuk menjadi istri saya. Berkenankah &lt;i style=""&gt;Abi&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Umi&lt;/i&gt; memberi restu?” ucapku agak terbata-bata. &lt;i style=""&gt;Abi &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Umi &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saling pandang. Tersenyum wajar melihat kegugupanku.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sudah mantap dengan pilihanmu menikahi Maya?” ujar ayah Maya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Insya Allah saya sudah mantap.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau sudah mantap. Menyegerakan pernikahan itu lebih baik.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban langsung dari ayahnya, Maya salah tingkah. Mendadak wajah Maya bersemu merah. Seperti wajah Aisyah, yang oleh Rasulullah disapa&lt;i style=""&gt; Khumairah.&lt;/i&gt; Ia makin salah tingkah saat aku mengucapkan “Maya, maukah kau menikah denganku?” lafadzku mantap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tegal, 23 Desember 2009&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Selesai menjelang pagi, dalam interval waktu 19.30 - 23.47 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2203004710344882134?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2203004710344882134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2203004710344882134' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2203004710344882134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2203004710344882134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2010/04/rahasia-maya_20.html' title='Rahasia Maya'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-7268662563604273604</id><published>2009-10-22T00:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T00:27:34.125-07:00</updated><title type='text'>Dari Akhwat untuk Ikhwan</title><content type='html'>Aku ingin bicara atas nama Wanita, terlebih Akhwat (kalau boleh sih).Apa beda?,silahkan antum memaknainya..&lt;br /&gt;Tolong untuk para Ikhwan (atau yg merasa sebagai Muslim) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, but itu fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi. Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami. Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. But, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada antum (mungkin) but suka karena diperhatikan "lebih".&lt;br /&gt;Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci.&lt;br /&gt;Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama Ta'aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya. Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, pahami arti Cinta seperti pemahaman Umar Al Faruq.&lt;br /&gt;Bukan mengajak kami ke bibir neraka. Dengan SMS-SMS mesra, telepon sayang, hadiah-hadiah ungkapan cinta dan kunjungan pemantapan yang dibungkus sebuah label : Ta'aruf.&lt;br /&gt;Tolong, kami hanya ingin menjaga diri. Menjaga amal kami tetap tertuju pada-Nya. Karena janji Allah itu pasti. "Wanita baik hanya Diperuntukkan Laki-laki baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu.&lt;br /&gt;Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu.&lt;br /&gt;Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu.&lt;br /&gt;Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu.&lt;br /&gt;Jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beda... Persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus...&lt;br /&gt;Beda itu bernama "Rasa" dan "Pemaknaan".&lt;br /&gt;Bukan, bukan seperti itu yang dicontohkan Rasulullah.&lt;br /&gt;Antum memang bukan Mush'ab.&lt;br /&gt;Antum juga tak sekualitas Yusuf As.&lt;br /&gt;Tetapi Antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova.&lt;br /&gt;Karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah : Segeralah Menikah atau Jauhi Wanita dengan Puasa.&lt;br /&gt;Tolong, sebelum antum memutuskan untuk mendatangi kami jawab dulu Pertanyaan ini dengan Jujur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setelah 3 bulan antum mendatangi dan menyatakan Cinta, antum masih belum siap untuk mengikrarkan dalam sebuah Pernikahan ?&lt;br /&gt;2. Ataukah antum masih butuh waktu lebih lama dan meminta kami menunggu, dengan alasan yang tidak syar'i dan terlalu duniawi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Jawabannya : "Ya !"&lt;br /&gt;"SELAMAT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti antum lebih pantas masuk surga dibandingkan Ali bin Abi Thalib. Dia baru berani mengatakan Cinta kepada Fathimah, setelah menikah. Ali, pemuda kesayangan Rasul, tetapi menunggu waktu bertahun-tahun untuk mengatakannya. Bukan karena dia pengecut tentu saja justru karena dia adalah laki-laki kualitas Surga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, kami tidak ingin menyakiti hati calon Suami kami yang sebenarnya. Mereka berusaha untuk menjaga Hijab, agar datang kepada kami dalam kondisi suci hati, tetapi kami malah menjajakan Cinta kepada laki-laki yang belum tentu menjadi suami kami. Atau antum sekarang sudah berani menjamin bahwa antum adalah calon Suami kami sebenarnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, Wanita itu lemah dan mudah ditaklukkan. Sebagai Saudara kami Tolong Jaga kami. Karena kami akan Kuat menolak rayuan Preman, but bisa jadi kami Lemah dengan Surat Cinta kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahi-Nya ?&lt;br /&gt;Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhoi-Nya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma saat Menikah, tetapi saat pertemuan yang juga bebas dari maksiat. Allah Maha Pencemburu, dan Dia Maha Memiliki kami.&lt;br /&gt;So,,, Mintalah kepada-Nya sebelum mendatangi kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***dari sebuah milis ketika aktivis dakwah jatuh cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-7268662563604273604?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/7268662563604273604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=7268662563604273604' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/7268662563604273604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/7268662563604273604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/10/dari-akhwat-untuk-ikhwan.html' title='Dari Akhwat untuk Ikhwan'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2388722918559543019</id><published>2009-08-11T22:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T22:03:09.003-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Pesan yang Memunculkan Kesan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah adalah kekuatan. Ia memiliki kekuatannya tersendiri. Lewat kata-kata, sebuah kisah dirangkai sehingga menjadi cerita. Kekuatan cerita itu mengabadi, dan tak lekang lelah waktu. Mengenai ini saya sadur bebas dari pepatah Yunani yang berbunyi, Scripta Manent Verba Volant. Yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan sebuah kisah sejatinya terletak pada cara menyampaikan, bertutur, berimajinasi dan kecermatan memilih diksi. Melalui proses menulis kreatif, akan mampu menghasilkan karya yang menggugah, menggerakkan, menggetarkan, dan sekaligus mendapat pencerahan. Cerita pendek adalah salah satu diantaranya. Dan pesannya adalah kekuatan itu sendiri. Pesan yang memunculkan kesan tersendiri bagi pembacanya.&lt;br /&gt;Cerpen. Cerita Pendek. Agaknya inilah media yang dipilih oleh teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) Tegal dalam mengekspresikan kegundahannya yang telah menumpuk dan terlampiaskan dalam bentuk cerita pendek. Membacanya membawa kita mengembara pada alam imajinasi tanpa batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen memang bukan fakta, tapi biasanya ia berangkat dari realita. Ia bisa juga terlahir atas sebuah reaksi dari sebuah peristiwa-peristiwa. Apapun peristiwa itu, selama itu menyentuh nurani, maka oleh tangan-tangan kreatif, akan lahir sebuah karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ini kita membaca cerpen karya Kelopakbiru yang ia beri judul ‘Piring.’ Sebuah kisah yang berawal dari hal sederhana namun bisa menjadi bacaan yang luar biasa dan berbobot! Kisah ini tentu tidak akan terlahir ketika tak pandai-pandai membidik angle yang biasanya luput dari incaran penulis. Apalah arti sebuah piring? Bukankah yang lebih penting adalah isinya? Mungkin gambaran itulah yang kerapkali terlintas dalam benak kita. Tetapi begitulah. Kelopakbiru dengan segenap keluwesan bahasanya memiliki daya magis tersendiri. Dan tentu saja itu akan terasa setelah setelah kita menyelami kata-katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai angle, kita juga bisa belajar dari ‘Suara Adzan Di Jantung Muadzin’ yang ditulis Kaisar. Ini mengingatkan kita, betapa seorang muadzin sejatinya adalah tugas mulia. Satu kemuliaan yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang bergetar manakala mendengar suara adzan.” Mendengar saja membuat hati saya bergetar, apalagi kalau melantunkan,” begitu kata sang muadzin yang dalam kisah itu bernama Wak Sur. &lt;br /&gt;Tahukah kamu, sedemikian mulia dan ikhlasnya melantunkan adzan mengingatkan orang-orang kepada Tuhan, di jantung muadzin pun terdengar suara adzan meski jasadnya telah terpisah dari raga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan, cita-cita, keinginan dan juga mimpi bisa terwujud lewat kata-kata. Namun, ketika itu belum tercapai sekarang, setidaknya mereka-mereka yang telah menuliskan apa yang diimpikannya telah melangkah ke depan untuk meraih mimpi itu. Dan, tentu itu akan terjadi selama dalam proses perjalanan meraih mimpi tetap dibarengi dengan upaya melatih kemampuan diri ke arah itu. ‘Bukan Mimpi yang Terpenggal’, ‘Bawang untuk Gaza’, dan ‘Kado untuk Istriku’ adalah gambaran tentang mimpi-mimpi dan harapan-harapan itu. Kisah-kisah lain yang terangkum dalam antologi cerita pendek ini juga tak kalah menarik untuk dibaca. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2388722918559543019?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2388722918559543019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2388722918559543019' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2388722918559543019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2388722918559543019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/08/sebuah-pesan-yang-memunculkan-kesan.html' title='Sebuah Pesan yang Memunculkan Kesan'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-4168093277403574416</id><published>2009-08-11T02:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T02:32:14.941-07:00</updated><title type='text'>Membudayakan Aktivitas Literat</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Buku, dalam pengertian saya ketika masih di bangku sekolah dasar, adalah kumpulan kertas bergaris yang dijadikan tempat untuk menulis dengan pensil. Tetapi tidak untuk kini, pengertian buku yang saya dapat justru berbeda jauh dengan pengertian buku ketika saya masih kecil.  Pengertian buku yang saya maksud lebih mengarah pada bacaan, dan bukan kertas bergaris. Ia adalah lembaran-lembaran kertas berisi kumpulan gagasan penulis yang terangkum. Dahsyatnya sebuah buku lebih mengarah kepada bagaimana ide itu berbicara dan memengaruhi pembaca. Di dalamnya terdapat proses kreatif, karena sebuah buku mampu mengondisikan para pembaca untuk terus berolah pikir. Alasan kenapa buku itu berpengaruh, karena apa-apa yang tertulis di dalamnya secara intelektual dapat dipertanggungjawabkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalam Jauhari dalam esainya, “Berguru pada Buku,” menyatakan, dengan cara sedemikian rupa, buku memang bisa memengaruhi dan mengajarkan banyak hal kepada pembaca. Masih menurut Kalam, buku memiliki setidaknya tiga efek konstruktif. Ketiga efek konstruktif diantarannya adalah buku dapat menjadi guru bagi pembentukan identitas sosial (atau perseorangan), bagi pembentukan relasi sosial dan bagi pembentukan sistem-sistem pengetahuan dan kepercayaan sosial atau dalam istilah lain disebut dengan ideasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca adalah salah satu bentuk interaksi intelektual yang tak jauh dengan buku. Yaitu interaksi yang bisa dikontrol penuh pembaca. Bisa menutup jika merasa kantuk atau bosan, melompati halaman atau kalau penasaran mengintip halaman akhir buku. Tak hanya itu, satu kelebihan aktivitas literat adalah kita bisa menunda proses membaca, menyimpan kenikmatan itu di lain waktu atau langsung melahapnya sampai habis. Dan pada saat-saat itulah muncul peluang mengolah isi bacaan. Itu adalah hal yang sangat berbeda seperti kita menonton film yang menyajikan pengalaman estetis. Penonton, seperti halnya pembaca dalam aktivitas literat, tidak bisa menunda klimaks kecuali menyaksikan tontonan yang sedang berjalan hingga usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bacaan, bisa bersifat aditif. Artinya seseorang bisa merasakan keranjingan baca, atau yang biasa disebut dengan bookish (kutu buku). Baginya dunia seolah-olah belum lengkap kalau belum menyentuh dan membaca bacaan. Keasyikan membaca buku, seperti yang dilansirkan oleh Roland Barthes pemikir Prancis, dibangkitkan dari kemampuan teks merangsang kreativitas pembacanya untuk menciptakan teks-teks baru di kepalanya, termasuk ketika ia membayangkan, menafsirkan atau mengisi apa yang tidak tertulis di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membaca, meminjam ungkapan Budi Darma, tidak berarti selesai segalanya. Tapi justru merupakan awal dari pengembaraan pikiran, perasaan dan naluri pembaca lantaran berbagai bacaan yang memukau akan meninggalkan kesan yang sukar terlupakan. Pengembaraan yang ditawarkan oleh bacaan yang inilah yang kemudian dapat menambah wawasan. &lt;br /&gt;Ketika membaca sudah menjadi kebutuhan, maka tak ada cara lain selain menuangkan segala bentuk pengetahuan yang selama ini mengendap untuk ditorehkan ke dalam satu bentuk aktivitas yang tidak jauh berbeda dari dunia intelektual yaitu menulis. Menulis sebagai salah satu bentuk ketrampilan berbahasa dinilai ampuh untuk mengabadikan suatu pemikiran. Tulisan-tulisan yang bernuansa intelektual biasanya menggabungkan gagasan-gagasan untuk kemudian membentuk satu gagasan baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dalam pepatah Yunani menyatakan bahwa yang tertulis akan mengabadi dan yang terucap akan berlalu bersama angin (scripta manent verba Volant). Pepatah ini setidaknya mengingatkan kepada kita akan dua aktivitas kebahasaan: menulis dan berbicara. Apa yang tertulis tidak akan mudah sirna ketika aktivitas kebacaan secara kontinyu dibudayakan, dan itu akan membekas dalam ingatan, kecuali kalau daya ingatnya berkhianat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah mengabadi di sini tidak lantas menafikan bahasa ucap, hanya saja nilai ‘mengabadi’ itu terbantu karena memang tersurat pada buku. Sehingga kemungkinan untuk lupa dapat dengan mudah dikembalikan seperti pada mulanya yaitu dengan membaca kembali lembaran-lembaran yang sudah lama mengendap dalam ingatan. Berbeda dengan bahasa ucap, yang mengandalkan kemampuan daya ingat untuk mengingat apa-apa yang terucap. Pernyataan itu sempat disuarakan Pramoedya Ananta Toer yang menyatakan bahwa bahasa lisan biasanya hilang bersama lenyapnya per generasi dari masyarkat, tetapi tidak untuk bahasa tulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada sebagian orang bisa mengingat dengan baik apa yang diucapkan oleh seseorang, tetapi cakupannya terbatas, yakni sebatas pada ucapan-ucapan penting yang singkat, dan biasanya berupa nasehat. Tetapi tetap saja ketika itu tidak ditulis, suatu saat nanti akan pudar, karena sewaktu-waktu, daya ingat juga bisa berkhianat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terucap, apalagi ketika disampaikan dengan gaya bicara memukau, mungkin lebih mudah diingat seketika itu. tetapi beberapa saat setelah itu tidak terekam sempurna apa yang barusan terucap, dan hal itu tidak terjadi pada aktivitas tulis. Kecuali tulisan itu koyak, tidak terawat, dan sedikit kemungkinan hal itu terjadi. Pada dasarnya keberadaan buku itu benar-benar dihargai, karena didalamnya tertulis berbagai macam gagasan-gagasan intelektual yang dapat dijadikan sebagai bahan referensial ketika menulis, bahkan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setara dengan pepatah itu Danil Dakidae dalam bukunya “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru” menuliskan bahwa setiap buku dari pengarang manapun yang pernah melihat terbit dan terbenamnya matahari, tidak lain merupakan kata pengantar kepada buku lain lagi kelak dikemudian hari, yang jauh lebih penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahsyatnya Sebuah Bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat cerita, bagaimana Pramoedya Ananta Toer menulis dan menjadikannya tulisan itu sebagai bacaan. Dengan bahasa khas yang garang dan meledak-ledak, tidak bertele-tele, ia menulis banyak hal yang menurutnya tidak beres dan perlu diluruskan. Ia menulis apa saja yang perlu ia tulis. Karena ia memiliki prinsip, “Semua itu harus ditulis. Apa pun…Jangan takut  tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena prinsip Pram tersebut, sampai-sampai sudah tak terhitung karya-karya yang ia hasilkan dari olah pikir Pram menuliskan realita yang ada. Karena saking garang, berani dan meledak-ledaknya, ada banyak karya Pram yang ditolak penerbit karena cukup beresiko, tentu saja menurut ukuran pemerintah kolonial pada masa itu. Bahkan karya-karya yang sudah terbit pun ditarik dari edaran oleh pemerintah kolonial masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia berada dalam kungkungan sel, Pram justru produktif. Pram bebas menulis. Hanya saja ia dilarang mengedarkannya di luar kamp, bahkan orang-orang yang berhubungan dengan dunia tulis menulis pun dilarang menemuinya. Tetapi ia tak kehabisan akal, Pram menyelundupkan naskah-naskahnya kepada setiap orang yang mengunjunginya untuk dikirimkan kepada penerbit. Tentu saja hal itu sangat beresiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penarikan naskah-naskah Pram pada masa itu setidaknya menggambarkan betapa dahsyatnya bacaan. Mungkin pemerintah kolonial masa itu merasa dalam keadaan bahaya ketika naskah yang mencatat segala kebobrokan akan dengan mudah terbongkar khalayak hanya dengan melalui bacaan. Dalam situasi seperti itu lah sebuah tulisan berfungsi sebagai pisau pembedah sesuatu yang sudah lama susah untuk disayat hingga isi yang ada didalamnya dapat dikeluarkan. Dapat dilihat dan dinilai khalayak apakah selama ini apa yang dilakukan itu adalah pantas dan memang perlu dilakukan, atau malah sebaliknya. Lebih tepatnya buku itu memfungsikan diri dengan memberi pengaruh dan  membentuk ide bagi para pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan pihak yang meminta untuk menarik buku dari edaran tidak karena ‘senjata’ yang Pram bawa, melainkan karena mereka percaya bahwa sebuah bacaan tertentu tidak akan pernah kekurangan para pengagum pemilik gagasan yang siap menjadi pelopor karya-karyanya kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi prinsip Pram dalam menulis, mengingatkan saya pada Ime Kertesz, sastrawan yang memuja kebebasan berekspresi dan sangat antipati pada sastra yang ditunggangi oleh muatan-muatan politis dari luar keindahan sastra itu sendiri. Kertesz berkata bahwa ia menulis untuk dirinya sendiri dan tanpa pretensi apa-apa untuk dibaca atau memengaruhi orang lain. Kertesz beranggapan bahwa pada akhirnya nanti penulis akan melihat dirinya sendiri, dan sehingga ia nanti akan menulis untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedahsyatan lain sebuah bacaan adalah bagaimana bacaan itu membentuk pola budaya perilaku, mulai dari tingkah juga cara bertutur. Meminjam istilah Sutarji Calzoem Bahri, bahwa membaca (sastra) juga membuat orang menjadi berbudaya. “Orang berbudaya baca sastra” adalah semboyan yang tertulis pada majalah sastra Horison. Saya sepakat bahwa  aktivitas literat itu perlu dan harus dibudayakan dan diberdayakan. Ini bias dilakukan dengan membuat komunitas-komunitas penulis, mendirikan rumah baca, atau perpustakaan. &lt;br /&gt;Ada satu ungkapan lain yang menuliskan bahwa bangsa yang besar terlahir dari tradisi membaca yang kuat. Kebesaran bangsa-bangsa itu, kalau ditelaah lebih jauh adalah bisa menjadi maju ‘hanya’ karena menanamkan aktivitas kebacaan yang ketat. Membaca memang perkara ringan-ringan susah. Tetapi bukan alasan untuk tidak membaca ketika malas sudah bergelayut. Seandainya saja, malas dapat dihapuskan mungkin tak akan ada banyak bangsa yang ketinggalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah membuktikan bahwa tradisi membaca yang baik telah melahirkan peradaban emas sepanjang masa. Hal ini sangat penting bagi siapapun yang berusaha mempelajari realitas semesta. Beberapa alasan untuk menguatkan pernyataan segala peradaban pada masa lampau semuanya dimulai dari tradisi membaca yang kuat. Ter gambarkan seperti pada peradaban Yunani yang dimulai dengan Iliad yang ditulis oleh Homer. Karya Newton yang membangkitkan peradaban Eropa. Pun halnya dengan peradaban Islam yang bangkit setelah turun wahyu kepada Muhammad, sang nabi terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah jauh-jauh untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya sebuah bacaan. Dalam keseharian saja bisa terlihat siapa-siapa saja yang suka baca dan tidak sama sekali. Perbedaan keduanya akan terlihat jelas. Orang yang biasa membaca, akan begitu mudahnya berbicara, karena perbendaharaan katanya begitu banyak. Tentu isi bicara yang berbobot, yang mungkin dapat dijadikan sebagai bahan referensi. Apa yang terujar biasanya berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi orang yang tidak suka baca, orang tersebut akan begitu susahnya untuk bersuara, kalaupun berbicara, apa yang terucap biasanya bukan hal baru yang semua orang sudah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa banyak belajar dari banyak orang, atau bahkan dari buku itu sendiri. Perlu diketahui bahwa buku adalah guru yang baik dan tak pernah marah. Guru yang berbeda dalam pengertian konvensional yang dapat diajak bicara ketika mengalami kesulitan. Ketika seseorang berhadapan dengan bacaan, ia tak mempunyai  privilege untuk menanyakan kepada pengarangnya. Karena tak semua orang kenal dengan pengarangnya. Kalau pun ada upaya kearah itu, diperlukan usaha keras otak untuk menjawab pertanyaan yang masih mengendap ketika telah usai membaca buku tersebut. Dari situ lah proses kreatif muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pungkasan dalam tulisan ini, saya hanya akan menegaskan kembali betapa pentingnya membudayakan aktifitas literat, yaitu aktifitas yang menggeluti dunia kebacaan. Seperti apa yang dikatakan Che Guevara. “Sempatkan waktu luang untuk baca.” Sampai-sampai Pablo Neruda yang mengenal Che secara pribadi merasa terharu, karena ketika Che ditangkap di hutan Bolivia dalam ranselnya ditemukan kumpulan puisi Neruda. Di sela-sela masa gerilnya, masih saja ia menyempatkan untuk membaca.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-4168093277403574416?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/4168093277403574416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=4168093277403574416' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/4168093277403574416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/4168093277403574416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/08/membudayakan-aktivitas-literat.html' title='Membudayakan Aktivitas Literat'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-29235130581211483</id><published>2009-07-08T21:01:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T21:03:17.570-07:00</updated><title type='text'>"Sepertinya Hubungan ini Mesti Kita Akhiri..."</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemesraan itu sepertinya terlalu dini untuk dirasakan. Kemesraan itu tak semestinya kita jadikan sebagai sapaan. Kau sapa aku dengan sapaan sayang, begitu pula sebaliknya aku menyapamu dengan sapaan sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang...,” begitu kita pernah saling  menyapa. Mari, mulai detik ini ungkapan perasaan sayang itu cukuplah kita simpan saja untuk nanti ketika kita telah melewati mitzaqan ghalidzan. Bukankah itu jauh lebih mulia ketika diungkapkan kelak kepada pendamping hidup kita. Kalau memang itu kamu yang akan menjadi istriku, dan aku yang akan menjadi suamimu, ya mari kita simpan untuk nanti pada masanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat kesempatan ini, aku hanya ingin berpesan, jangan pernah merasa kalau aku melupakanmu karena akhir-akhir ini aku jadi jarang menyapamu. Jangan pernah merasa aku  mengabaikanmu karena kini aku jarang mengucapkan selamat pagi, ketika matahari beranjak meninggi. Jangan pernah merasa kalau akhir-akhir ini aku jadi jarang mengucapkan apa kabar setelah menyapa “Selamat pagi, cerahkah kau pagi ini?” &lt;br /&gt;Justru karena aku menyayangimulah aku melakukan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tahu kenapa? Sebab aku menghormatimu sebagai perempuan. Sebab perempuan itu mulia, dan tak ada alasan bagiku untuk membuatnya jadi sebaliknya. Kita perlu hati-hati membawa hati. Hati, meski letaknya tersembunyi, tapi dampaknya tampak sekali, begitu kata Mohammad Faudzil Adzim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tentu ingat, bagaimana kita saling tatap. Pada tatapan mata itu ternyata menyimpan seribu keinginan saat-saat tak terbayangkan. Pada mulanya adalah tatapan. Matamu itu, mata perempuan. Dan aku mata lelaki. Mata kita sudah semestinya menundukkan pandangan. Tetapi kenapa kita malah saling tatap? Terkadang kau menatap mataku tanpa sepengetahuanku, begitu pula aku menatapmu tanpa sepengetahuanmu. Dan kau benar-benar meresapi benar tatapanmu melihat mataku ketika melihat mataku pada sebuah lembar foto. Bahkan kau sampai pernah bilang, “Tatapan mata itu... tak mungkin aku melupakan...” Subhanallah! Sudah begitu jauhkah kita melangkah. &lt;br /&gt;Kau tentu ingat, ketika tangan kita bersentuhan yang terkesan tak disengaja namun kita pura-pura tak tahu kalau sebenarnya kulit kita bersentuhan. Dan, ketika kita sadar, kita buru-buru melepaskan genggaman masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu apa yang aku rasa sebenarnya ketika itu? Aku seperti tengah menggenggam bara api! Ya bara api yang seolah ditempelkan menggunakan perekat yang begitu erat sampai-sampai aku tak mampu melepasnya. Hendak berontak tapi tak kuasa. Mengingat peristiwa ini, aku jadi malu lantaran teringat pada suatu riwayat seorang ulama yang mengisahkan kalau dirinya lebih baik menggenggam bara api daripada harus bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tentu juga ingat, ketika kita begitu dekat, kau selalu tak pernah lupa untuk mengingatkan aku untuk shalat. Di sepertiga malam kau tak pernah absen membangunkanku untuk menunaikan tahajud melalui nada panggilan tak terjawab dan disusul pesan singkat, “Ka bangun... tahajud ka...” Memastikan apakah aku sudah bangun atau belum, kamu menyusulnya dengan menelepon di pagi sebelum cahaya. Masih dengan perkataan yang sama. Suara khas orang yang baru terbangun dari tidur. “Ka bangun...tahajud ka....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kita pernah berlomba, siapa membangunkan lebih dulu untuk shalat tahajud maka kita membuat kesepakatan agar yang telat bangun diberi tugas membuat cerpen dengan tokohnya adalah kita sendiri. Lihat! Bahkan kita ingin mengabadikannya lewat tulisan, padahal belum tentu apakah perasaan sayang kita abadi ataukah hanya nisbi?&lt;br /&gt;Sepintas apa yang kita lakukan -mulai dari mengingatkan shalat, saling memacu untuk berkreasi pada aktivitas literat- itu mulia. Tetapi tidakkah kau pernah merasa atau memikirkan hal lain yang jauh dari kelihatannya mulia? Aku merasa bahwa giatnya kita shalat tepat waktu itu lantaran karenamu, bukan karena Allah. Pernahkah kau memikirkan kalau shalat tahajud yang aku dirikan itu karena dibangunkan olehmu, dan bukan karena Allah. Pernahkah kau berpikir, kalau aktivitas menulisku itu semata-mata hanya karenamu yang begitu banyak memberikan inspirasi dalam menulis, dan bukan karena Allah yang telah memberi karunia kepadaku bisa menulis melalui kekuatan Al Qalam_Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau memang demikian begitu aku sama saja telah melupakan Allah! &lt;br /&gt;Naudzubillahmindzalik, Ukhti....&lt;br /&gt;Kita tidak semestinya terjebak dalam lingkaran ini. Kalau pun memang sudah terjerambab tak ada cara lain selain mengakhiri hubungan ini. Saya pikir ini adalah jalan terbaik, agar kita tidak terlampau jauh melangkah tanpa menapaki lebih dulu mitzaqan ghalidzan. Saya pikir ini adalah cara terbaik, ketika seribu satu cara lain yang telah saya pikirkan tapi tak jua bertemu jawab yang pas di hati. Ya, kalau memang ingin melanjutkan kemesraan itu, tak ada cara lain selain dengan mengakhiri hubungan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Apakah kau setuju untuk mengakhiri hubungan ini? Ya, mengakhiri saja hubungan ini dengan satu kata: pernikahan! Sebab dengan begitu, kita lebih aman dari tatapan mata dan juga kata yang bermuara fitnah. Sebab dengan begitu kita lebih terjaga. Sebab itu, aku mengajakmu menikah. Sebab menikah akan menjadikan kita mulia.&lt;br /&gt;Ya, menikah! Menikah adalah satu urusan yang perlu disegerakan, begitu Islam mengajarkan. Menyegerakan menikah tidak sama berarti tergesa-gesa untuk menikah. Untuk masalah ini, sudah disampaikan dengan amat baik oleh Mohammad Faudzil Adzim dalam buku yang menginspirasiku untuk sesegera mungkin menyegerakan menikah. Buku itu tak lain berjudul Kupinang Engkau dengan Hamdallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kesempatan ini pula, aku ingin meminangmu. Kalau kau menerimaku, aku ucapkan alhamdulillah, tapi kalau kau menolakku aku lantangkan Allahu Akbar! Sebab pangkal dari semua itu adalah tidak lain hanyalah ridla Allah Swt. Not more! Sebab dengan begitu aku masih bisa tersenyum. Sebab aku ingin selekasnya melewati masa-masa yang dalam AlQur’an disebut sebagai mitzaqan ghalidzan, perjanjian yang berat. Sebab aku tak ingin mati dalam keadaan bujang. Sebab aku ingin pula memberikan sumbangsih sesegera mungkin untuk bisa menambah bobot bumi dengan kalimat Laa Ilaaha ILLallah!. Sebab aku tahu, bahwa melaksanakan ibadah nikah itu tidak hanya denganmu. Sebab aku tahu, bahwa muslimah itu tak hanya kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-29235130581211483?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/29235130581211483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=29235130581211483' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/29235130581211483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/29235130581211483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/07/sepertinya-hubungan-ini-mesti-kita.html' title='&quot;Sepertinya Hubungan ini Mesti Kita Akhiri...&quot;'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-3851092687932810751</id><published>2009-07-08T20:25:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T20:31:50.106-07:00</updated><title type='text'>Kemarin Ada yang Mengajakku Menikah...</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin ada yang mengajakku  menikah, apa kau  merasa baik-baik saja. Atau kau merasa tidak ada apa-apa karena waktumu untuk kegiatanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pesan singkat masuk saat aku tengah mengikuti hari pertamaku di sebuah tempat mulia yang memberiku amanah untuk menjadi salah satu tim untuk menyiapkan peradaban. Ya, begitulah mereka mendefinisikan satu kata: mengajar dengan deretan kata memanjang. Menjadi salah satu tim yang bertugas untuk mencetak generasi penerus peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu datang menyentakkan lantaran tak terduga datang tiba-tiba. &lt;br /&gt;Pesan itu datang mengagetkan namun  tak mengejutkan.&lt;br /&gt;Semua  lantaran aku memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, mungkin belum saatnya kau tahu siapa yang mengirim pesan singkat itu kepadaku. Tetapi yang jelas yang mengirimi saya pesan singkat semacam itu tentu menyimpan maksud dan tujuan tertentu. Apa dan maksud tujuan itu, kawan tak perlu menebak-nebak pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu waktu lama untuk menjawab pertanyaan itu. Begini aku langsung menjawabnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dia baik agamanya, baik akhlaknya, dan kau merasa nyaman dengannya, menikahlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi... jawaban yang aku peroleh menegaskan kalau ia sebenarnya tak suka dengan jawaban  yang aku beri. Padahal, saya meyakini itulah jawaban terbaik yang saya punya. Memang ada segudang hadits yang bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Tetapi saya bukan tipe orang normatif yang selalu menuliskan seabrek referensi secara utuh. Bagi saya, ketika intisari sudah mengena dan sadar kalau itu berkenaan dengan satu landasan tertentu, dan tepat cara menyampaikannya itu baru luar biasa menurut saya.&lt;br /&gt;Kawan, kau ingin tahu, jawaban apa yang ia berikan kepadaku...&lt;br /&gt;“Menyakitkan! Terimakasih. Aku tak menyukainya. Aku sayang pada seseorang...Hanya ia yang aku inginkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu jangan terima ajakannya. Menikah memang harus ada juga landasan suka. Dan itu jauh lebih mulia kalau landasan utamanya karena agama,” begitulah jawaban yang aku lontarkan lagi kepadanya dengan alasan seorang perempuan juga berhak untuk menerima atau menolak ajakan seseorang untuk menikah. Kemungkinan itu menempati porsi yang sama besarnya. Dan setelah itu ia tak membalasnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hari di pagi itu saya dimintai pendapat seseorang yang diajak menikah. Maka pada malam harinya saya yang malah ditawarin untuk menikah. Ada seorang akhwat menawarkan akhwat lain untuk diperkenalkan. Kawan, perlu diingat, ajakannya ini tidaklah main-main. Pengertian kenal di sini yang dimaksud bukanlah kenal biasa. Melainkan satu proses awal sebelum menuju proses khitbah menuju nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdesir bukan main hati saya ketika mendapat tawaran...“Assalamualaikum. Mas Ali, afwan mau tanya. Mohon jangan tersinggung. Begini, saya punya teman akhwat. Beliau sudah bekerja dan sedang menyelesaikan tugas akhir. Beliau siap menikah. Antum mau tidak saya perkenalkan dengan beliau? Afwan jika lancang.W3”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah kedahsyatan berpikir affirmatif? Saya memang termasuk –lebih lengkapnya menggelompokkan diri- ke dalam orang-orang yang ingin menyegerakan menikah. Tetapi tidakkah ini terlalu dini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, sungguh, saya tak mampu menjawab ajakan itu. &lt;br /&gt;Entah kapan saya bisa menjawabnya. &lt;br /&gt;Entah kapan kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-3851092687932810751?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/3851092687932810751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=3851092687932810751' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/3851092687932810751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/3851092687932810751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/07/kemarin-ada-yang-mengajakku-menikah.html' title='Kemarin Ada yang Mengajakku Menikah...'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2146429933018106094</id><published>2009-06-13T03:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-13T03:39:07.743-07:00</updated><title type='text'>Hati-hati Bawa Hati</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Susahnya punya hati. Letaknya tersembunyi, tapi geraknya tampak sekali.” &lt;br /&gt;Begitu kata Mohammad Faudzil Adzim mengawali pembahasan Kupinang Engkau dengan Hamdallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi merasa tersindir, dan bahkan amat tersindir mengingat saya belum memiliki istri, eh, maksudnya belum sepenuhnya bisa menjaga hati. Sejauh ini hanya baru sebatas usaha untuk sebisanya, semampunya bisa menjaga hati dari sesuatu yang bisa menciderai hati selama masih sendiri. Adapun ketika hati ternoda oleh cela, itu tak lain karena lemahnya hati yang saya miliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ighfirni Yaa Ghaffar. Semoga saya, anda, kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, lebih baik punya istri. Kalau tersenyum ada yang menanggapi. Kalau berekspresi ada yang memahami. Sikapnya lembut tak bikin keki kadang malah memuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan tak pernah ingkar janji, kalau terus menjaga diri, akan mendapat pendamping yang lurus hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata ini saya lebih tersindir lagi. Pikir saya pintar benar sosok yang satu ini menyindir. Tetapi memang benar demikian adanya. Ketika kita saya belum punya istri, (eh salah lagi, maksudnya belum bisa menjaga diri), ya memang mungkin sudah sebaiknya memiliki istri yang bisa menanggapi senyum, menanggapi ekspresi, yang memiliki kelembutan dan... lho kok malah jadi membicarakan istri ya, bukannya hati. Tapi yang jelas, sejauh ini pula saya terus menjaga diri sampai diri ini mendapat pendamping yang lurus hati lantaran masih sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh,belum lama bilang masih sendiri, Bang Faudzil ngeledek lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kalau masih sendiri, hati-hati bawa hati. Kalau sibuk mencari perhatian, kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan, (maunya sih kukatakan memperbaiki iman). Tanpa susah-susah membayangkan saat-saat tak tebayangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berdaya aku dibuatnya. Sindirannya luar biasa lantaran membuat aku tak berdaya menjawabnya. Belum sempat saya mengomentari, eh, ia malah melepaskan serangan kata yang datang bertubi-tubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun kalau sudah beristri, jangan lupa mengingatkan. Kalau ada yang dilalaikan &lt;br /&gt;tentang perkara yang disyariatkan. Tapi kalau ia memelihara kewajiban, ingat-ingatlah untuk memberi perhatian. Jangan sampai menunggu peringatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pebincanganku dengan Mohamad Faudzil Adzim mengingatkan saya pada peristiwa yang maksudnya lebih kurang senada. Ketika itu, saya terus mendapat cecaran pertanyaan yang bernada menyindir, namun dikemas dalam bentuk kelakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhi, antum itu sudah terlalu banyak aminah, tetapi tidak satu Aminah pun kau miliki,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maisyah sudah ada, kapan akan punya Aisyah, Akhi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian dahsyatnya sindiran yang nyaris datang bertubi-tubi, sampai peristiwa itu terbawa mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika di malam yang tenang, aku tertidur setelah merenungi berbagai macam sindiran yang sedianya memang diarahkan kepadaku. Setelah beberapa kejap tidur, suasana  membawaku ke alam bawah sadar. Entah kenapa tahu-tahu saya berada pada suatu tempat, yang hanya ada saya seorang diri, dan tak ada siapapun. Aku melihat di sekelilingku, bentangan luas tak terhingga seperti awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba ada satu titik yang mendekat ke arahku. Semakin dekat, semakin tampak jelas rupanya. Sosok yang datang itu bersayap seperti malaikat. Dan itu memang malaikat ketika ia memperkenalkan dari,”Aku malaikat datang dari surga membawa bidadari.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok malaikat itu datang tak sendiri melainkan berdua dengan seseorang yang dilihat dari penampilannya adalah seorang perempuan. Saya tak bisa melihat wajahnya lantaran tertutup burkah. Kepalanya menundukkan pandangan. Sekilas tampak ia menatapku dibalik cadarnya, hanya ketika saya balik menatapnya, ia buru-buru menundukkan pandangan. Mungkin malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Ali, ini saya bawakan calon  istrimu! Menikahlah dengannya, dan perbanyaklah keturunan agar bisa menambah bobot bumi dengan kalimat LAAILLAAHAILLALLAH.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terperangah mendengar itu. Sosok perempuan bercadar itu masih tertunduk malu. Merasa penasaran, saya pun menanyakan siapakah sebenarnya yang akan menjadi istriku nanti. Saya penasaran dengan sosok yang katanya adalah calon istriku itu. Bidadari Syurga. Bidadari yang didatangkan langsung bersama malaikat dari syurga. Bidadari yang datang dari syurga. Ah, siapakah ia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan pun terturutkan. Malaikat itu membukakan cadar penutup wajah. Hati saya berdesir-desir. Degup jantung naik turun lantaran dibombardir rasa penasaran yang begitu hebat. Secara perlahan cadar itu dibuka. Gerakan membuka cadar tampak sekali hati-hati, pelan, pelan sekali seperti gerak slow motion dalam adegan film. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika cadar itu hampir tersingkap... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh teramat sangat saya sayangkan... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terbangun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebel!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2146429933018106094?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2146429933018106094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2146429933018106094' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2146429933018106094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2146429933018106094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/06/hati-hati-bawa-hati.html' title='Hati-hati Bawa Hati'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2131401500020070055</id><published>2009-06-13T03:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-13T03:37:08.328-07:00</updated><title type='text'>“Perempuan itu Mulia!”</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Totem pars pratoto&lt;br /&gt;Sebagian yang diseluruhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cowok itu...BRENGSEK!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu muncul dari seorang perempuan, yang menurut pengakuannya dicintai, dikagumi, dan disayangi oleh banyak laki-laki. Begitu banyak lelaki yang mengharap uluran cintanya. Tetapi anehnya bukan bahagia yang ia dapatkan, melainkan luka yang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang saja luka yang ia rasakan, karena semua lelaki yang menghampirinya itu rata-rata memberikan sesuatu yang semu. Yang kadar kesenangannya hanya sesaat. Berharap beroleh kesenangan sejati, tapi yang ia dapatkan adalah luka hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang tampak kelihatan tangguh, tegas dan pantang menyerah. Tapi siapa sangka dibalik ketangguhannya sebagai seorang perempuan ia sejatinya rapuh, dan begitu mudahnya dipatahkan pertahanan bentengnya oleh makhluk bernama laki-laki. Ia seperti bersembunyi dibalik perangai tangguh. Sedemikian sering serangan yang terus memborbardir dari berbagai penjuru membuatnya hampir tak berdaya. Dalam ketakberdayaan itulah ia memberanikan diri untuk membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku adalah pembunuh. Untuk kesekian kalinya, aku telah membunuh perasaan laki-laki terhadapku.” Meski pembunuhan itu ia lakukan dengan penuh rasa iba dan diluar keinginan yang begitu hebat. Tetapi ia tetap melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia akan murung beberapa hari sebelum akhirnya pulih kembali seperti sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membunuh adalah jalan terakhir agar perasaan itu tak hidup lagi. Membunuh adalah satu-satunya cara untuk bisa menghentikan langkah yang bisa mematikannya. Membunuh adalah pilihan ketika cara-cara halus dengan mendiamkannya, mengacuhkannya, tak membuat laki-laki berhenti mengejarnya. Ya membunuh! Ia menjadi seorang pembunuh!! Kepadaku, ia memberikan daftar nama-nama yang sudah ia bunuh dengan cara yang sama. Aku hanya terperangah tak percaya sambil berkata,”Sadis benar kamu ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatinya, sebenarnya muncul perasaan bersalah lantaran terlalu banyak perasaan yang dibunuh dengan tangannya. Meski  tindakan itu diyakininya sebagai kebenaran, dan memang itulah kebenaran, tetapi perasaan bersalah itu tetap saja ada. Dan selalu menghiasi hari-harinya. Takut kalau-kalau ia akan membunuh lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kesan yang seakan melepas ketergantungan terhadap laki-laki, walau sebenarnya ia sangat merindukan, mengharapkan sosok yang membawakanya cinta suci melalui ikatan pernikahan. Hanya saja karena terlalu sering menemui beberapa laki-laki yang kebetulan berkepribadian brengsek, ia dengan mudahnya mengambil kesimpulan, bahwa sebagian laki-laki itu mewakili semua karakter kebrengsekan beberapa lelaki. Bahkan ketika ada seseorang yang berusaha serius mengajaknya menikah, entah sadar atau tidak, ia juga menyatakan bahwa laki-laki itu brengsek. Bahkan, ketika ajakan itu dilakukan dengan cara yang santun sekalipun! &lt;br /&gt;Beruntungnya sejak awal, lelaki itu mengatakannya dengan sesuatu yang membuatnya perlu waktu untuk dirinya pikir-pikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin kita segera dipertemukan sebagai pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, dan canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi kehidupan rumah tangga. Kalaupun ada butir-butir bening yang menetes dari sudut air mata, semoga itu adalah air mata kebahagiaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau menerimaku (menjadi suamimu) aku ucapkan alhamdulilah, tetapi kalau sebaliknya aku lantangkan Allah Akbar!  Sebab dengan begitu aku masih bisa tersenyum. Sebab itu pula, meraih atau tidak mendapatkanmu, cinta akan tetap saya dapatkan, karena saya melakukan ini semata-mata hanya untuk menjaga diri. Tak apa, kau tak menerima, masih ada banyak muslimah lain yang akan menerimaku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu bersyukur dan tak begitu gampang larut dalam gulana rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kembali ke cowok brengsek tadi. Aku hanya tersenyum ketika mendengar perkataannya semacam itu. Seperti tak pernah terpikir lebih dulu, bahwa kebrengsekan seseorang itu tidak hanya dilakukan oleh laki-laki. Semua orang berpeluang melakukan kesalahan, karena sejatinya akhir pada sebuah penilaian itu hanya ada dua, baik dan buruk. Bukan tampan dan tak tampan, cantik dan tak cantik. Dan, itu kaitannya dengan hati. Dan hati ada kaitannya dengan rasa. Brengsek berarti masuk kategori penilaian buruk. Dan penilaian itu erat kaitannya dengan pikiran seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totem pars pratoto. Sebagian untuk seluruh. Begitulah pernyataannya kalau dikategorikan dalam majas.  Saya meyakini dengan sepenuh hati, rasa, dan pikiran kalau pendapat itu keluar ketika hati, rasa dan pikiran itu sedang kalut, tidak dalam keadaan selaras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sama sekali tak terganggu ketika ada perkataan senada macam itu. Yang namanya pendapat itu sifatnya subjektif. Karena subjektif itulah, yang bertanggungjawab terhadap opini itu tentu saja si pelaku yang memberi penilaian itu tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa membayangkan, apakah nanti ketika ia menemukan sosok lelaki yang setampan Ali, sebaik Abu Bakar, seberani Umar, secerdas Usman maka akan mengalihkan pendapatnya menjadi Laki-laki itu baik! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berharap selaksa energi positif akan segera memenuhi ruang hatinya. Dan, sepercik energi positif itu sebenarnya telah ia dapatkan. Hanya saja yang jadi masalah, ia menampungnya di tempat yang khusus atau malah membiarkannya begitu saja. Salah satunya adalah ketika ia mengirimkan pesan singkat bahwa cowok itu brengsek, untuk meneguhkan penilaiannya itu, kepada seorang lelaki yang ia merasa nyaman ketika berada di dekatnya, ia  langsung mendapat jawaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan itu... MULIA.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2131401500020070055?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2131401500020070055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2131401500020070055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2131401500020070055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2131401500020070055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/06/perempuan-itu-mulia.html' title='“Perempuan itu Mulia!”'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-1344167357309952254</id><published>2009-04-11T04:57:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T05:01:23.281-07:00</updated><title type='text'>Kesalahan Terindah adalah Menyatakan Cinta</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu, kata-kata ini tidak akan pernah aku ucapkan pada satu orang perempuan pun kecuali satu, dia adalah ******* *****1!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kesalahan terindah adalah mengungkapkan perasaan cinta kepada lain jenis. Itu adalah kesalahan yang teramat fatal, sebab cinta hanya berhak dirasakan, diutarakan, diungkapkan hanya dan hanya jika setelah melalui proses ikatan pernikahan. Itulah cinta yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Kalau ada yang menyatakan cinta sebelum pernikahan itu berlangsung, itu sama saja omong kosong. Kalau pun aku, kau, atau dia terjebak melakukan itu, itu sama saja berarti melakukan kebohongan. Ketika sadar bahwa itu sebuah kesalahan, mari kita sebisanya, semampunya, untuk bisa lebih berhati-hati baik dalam bersikap, berucap, maupun bertindak. &lt;br /&gt;Cinta itu sejatinya indah, bukan sebaliknya. Itu yang perlu digarisbawahi. Ketika ada cinta yang menyakitkan, itu perlu dicurigai kalau itu sebenarnya bukan cinta. Cinta itu, sekali lagi, indah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kadang bertanya, apakah selama ini kekhilafan, dimana banyak orang terjebak di dalamnya, berlandaskan pada kesungguhan atau hanya sebatas permainan belaka kata? Apa benar yang selama ini diungkapkan adalah sebenarnya cinta?&lt;br /&gt;Dalam pencarian tentang makna cinta, saya menemukan sebuah hadits yang isinya sebagai berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada seseorang berada di samping Rasululllah Saw, lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasul tadi berkata, ’Aku mencintai dia ya Rasulullah...’ ‘Apakah kau telah memberitahukan kepadanya?” jawab Rasul. Orang tersebut menjawab belum. Lalu nabi berkata,’Beritahu dia.’ Kemudian orang tersebut memberitahukan kepadanya sambil berkata, ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah,’ Orang yang dicintai itu menjawab,‘Semoga Allah mencintaimu karena kau mencintaiku karena_Nya’2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, ada seorang lelaki mengirimkan hadits itu melalui pesan singkat kepada sebuah nama, seorang perempuan. Ia sendiri tak tahu bagaimana bisa mengirimkan kepadanya. Apa naluri lelakinya yang bergerak dan langsung menemukan namanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertegun setelah melihat pesan di item terkirim di ponsel. Tertegun ia menatapnya. “Apa benar yang saya lakukan ini? Apa tidak akan menimbulkan beragam tafsir atau kesalahpahaman, mungkin?” kata lelaki itu dalam benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mudah-mudahan saja tidak. Perempuan itu, pikirnya, adalah seorang muslimah yang mengerti akan ini. Lagipula ia tak menambahkan atau mengurangi redaksi dalam hadits itu. Ia mengirimkannya dalam bentuk utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak disengaja, ternyata ia juga mengirimkan pesan yang sama kepada satu nama lain. Pesan itu langsung beroleh respon, dan menanyakan apa maksudnya. Tanpa pikir panjang, ia jawab saja apa adanya, kalau itu hadits. Sudah hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya jawaban itu tak membuat ia puas, sampai-sampai perempuan itu menegaskan pertanyaannya lagi. “Iya tahu itu hadits, tapi apa maksudnya?” Ielaki itu hanya diam, membiarkan dirinya larut dalam beribu penafsiran, menerka maksud mencari makna. Wajar  perempuan itu ingin tahu jawaban yang sebenarnya lantaran lelaki itu pernah menyatakan sesuatu yang membuat hatinya menjadi bergetar, “Aku mencintaimu karena Allah” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pernyataan itu menjadi bahan renungan buat lelaki itu. Apakah benar ia mencintainya karena Allah? Bukankah cinta itu hanya berhak dirasakan setelah menikah? Memang sepenuhnya ia sadar, tindakan itu adalah sebuah kesalahan (terindah). Lebih-lebih dalam hatinya sempat berkomitmen, untuk mengungkapkan itu hanya pada perempuan yang telah ia nikahi nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ikrar itu telah ia langgar dengan mengatakan cinta kepada perempuan sebelum menikah. Meski belum ada kesepakatan diterima atau tidak tapi itu menyisakan satu penyesalan yang teramat dalam. Jawaban yang diperoleh ketika menyatakan hanya berupa, “Bismillah saja, kita lihat saja nanti ke depan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kisah lelaki itu. Petualangan cinta lelaki itu sejatinya menarik untuk dikisahkan lantaran ada semua unsur pendukung untuk membuat cerita. Ada alur, konflik, plot, setting, dan juga tokoh tentu saja. Saya juga menangkap beragam ekspresi (bahagia, kecewa), dialog-dialog menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, Putri Salju mengabarkan kepadaku mengenai hadits itu. Hadits yang aku kirimkan kepadanya karena begitu penasarannya aku. Ia memang tak langsung merespon ketika saya meminta komentarnya tentang hadits itu, apakah itu bisa dijadikan landasan seseorang untuk menyatakan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Salju ternyata mendiskusikannya dengan orang-orang yang capable untuk masalah ini. Hadits itu memang benar adanya, tetapi itu tidak berlaku jika menjadi dalil seseorang menyatakan cinta kepada lawan jenis, Hadits itu lebih bermakna kepada satu ikatan dalam bingkai cinta ukhuwah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika ingin merasakan betapa indahnya cinta, maka menikahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  1. Istriku nanti&lt;br /&gt;  2. Hadits Riwayat Anas bin Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-1344167357309952254?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/1344167357309952254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=1344167357309952254' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/1344167357309952254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/1344167357309952254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/04/kesalahan-terindah-adalah-menyatakan.html' title='Kesalahan Terindah adalah Menyatakan Cinta'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2298565675037389448</id><published>2009-04-11T04:54:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T04:56:38.223-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Kau Mencintaiku?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, secara tiba-tiba pertanyaan itu muncul dan tertuju pada seorang lelaki, dari seorang perempuan. Awal, ia tak bisa menebak bagaimana pertanyaan itu bisa muncul kepadanya. Tapi satu kepastian ia dapatkan beberapa waktu berikut, kalau ternyata itu adalah sebuah respon dari surat yang pernah lelaki kirimkan kepada perempuan yang memberikan pertanyaan itu : Bagaimana kau mencintaiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya isi surat itu lebih merupakan pada satu sikap pasrah atas segala usaha yang kini tengah ia perjuangkan untuk mendapatkan cinta perempuan itu. Satu sikap pasrah yang hanya pantas ditujukan kepada_Nya, bukan yang lain!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatinya bergetar mendapat pertanyaan itu tiba-tiba. Nyaris ia tak bisa berkata apa-apa. Satu pertanyaan sederhana, namun tak sesederhana ketika harus memberikan jawabnya.Yang lebih membuatnya tercengang, pertanyaan itu terujar dari lisan seorang perempuan dengan begitu tenangnya. Bagaimana kau mencintaiku? Ah, pertanyaan itu benar-benar mengganggunya.&lt;br /&gt;Di tengah bergetarnya hati, berdegupnya jantung, ia pun menjawabnya. &lt;br /&gt;“Saya mencintaimu karena Allah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu menjelaskan pula, pula kalau sebenarnya perempuan itu memang ada dalam semua kriteria yang diidamkan, seperti yang dirinya tulis dalam daftar cinta di buku harian. Daftar cinta adalah salah satu bentuk model keinginan yang ia harapkan, ia impikan, lalu ia tuliskan di catatan harian. Tampaknya ia salah satu orang yang memercayai relativitas (hukum ketertarikan). Ketika menarik keinginan, maka keinginan itu akan mendekat!&lt;br /&gt;“Dengan perasaan cinta itu pula saya bisa menulis beberapa cerpen, yang memang sepenuhnya terinspirasi darimu,” jawabnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata, semua jawaban yang ia lontarkan belum memberikan jawaban sebenarnya. Ia sadar itu, lantaran menjawab dengan ketergesaan di tengah gelisah hati yang menghunjam. Namun, dari situlah, muncul pertanyaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawaban seperti apa yang kau harapkan, perempuanku?”&lt;br /&gt;Begitu perempuan itu meminta jawaban selengkapnya, ia pun berusaha memberikannya dengan lebih dulu menenangkan hati yang bergetar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya ada satu hal lagi jawaban yang akan saya berikan. Hanya saja, jawaban itu akan kau dapatkan kalau memang kau sudah jadi istriku nanti. Itu artinya ada satu hal yang tak ingin aku ceritakan bagaimana seharusnya aku mencintaimu, karena sebenarnya perasaan cinta dan bagaimana seharusnya itu hanya dan hanya jika bila dirasakan pada muara yang satu, yakni ikatan pernikahan. Karena kau memang belum menjadi istriku, jawaban yang lengkap pun belum kau dapatkan, akan kujawab nanti setelah menikah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, itulah jawaban yang saya inginkan untuk pertanyaan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, kau tentu penasaran seperti apakah surat itu, sampai perempuan itu melontarkan pertanyaan, bagaimana kau mencintaiku? Begini isi lengkap surat itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup lama aku mengenalmu, dan selama itu pula kau mengenalku. Dan semasa perkenalan itulah sempat muncul getaran lain ketika aku berada dekat denganmu. Mengenai apa yang aku rasakan, sudah aku utarakan kepadamu. Mengenai seperti apa hasilnya, itu sudah menjadi keputusanmu. Meski kita tak bisa menerka, apa yang akan terjadi kelak, apa kau akan bersanding denganku, atau sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun itu sudah benar-benar menjadi keputusanmu, dan sudah dipertimbangkan secara matang, aku menerima. Dan, ini bisa menjadi pelajaran berharga buatku bagaimana seharusnya saya berbuat, bersikap, dan juga berucap ketika menghadapi permasalahan yang sama seperti yang pernah terjadi antara aku terhadapmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman itu membuatku semakin mantap untuk berketetapan, apa yang akan aku ucapkan, lakukan, dan aku pikirkan sehingga menjadi sesuatu yang bernilai ibadah. Semua dilakukan semata-mata demi menjaga diri. Dan, kalau pun saya menemui pengalaman yang sama, saya akan mengatakan langsung dengan satu  pernyataan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maukah kau bicara soal masa depan denganku?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa juga dengan ungkapan yang ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah kau menjadi ustadzah buat anak-anakku nanti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir pertanyaan ini adalah kalimat sederhana, dimana kalau dia mau, ya Alhamdulillah, dan itu berarti rencana bisa diteruskan. Bila tidak ya tidak mengapa, toh ibadah nikah, tidak harus selalu dengan dia. Dengan siapapun tetap dapat pahala, asal ikhlas sama ikhlas. Daripada lama terkatung katung, antara rindu dan ketidakpastian, kan lebih baik segera ditanyakan. Oke atau tidak, selesai :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bisa berarti, aku harus mengulangi pertanyaan ini secara tulus pada muslimah lain. Yang penting, aku sudah punya kesiapan menghadapi kenyataan. karena itu adalah modal awal dari hilangnya kegundahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meyakini, bahwa yang akan menjadi istriku hanyalah yang ditakdirkan_Nya untuk menjadi istriku. Walaupun seseorang telah memakai gaun pengantin, telah duduk dua saksi dan bertatap wajah dengan penghulu, kalau bukan jodoh kita dalam catatan takdir, maka kita tidak akan pernah bisa kita raih sebagai istri. Sebaliknya kalau memang seseorang itu memang  jodoh kita dalam kehendak_Nya, maka sekalipun sekarang masih berada di ujung kutub utara, maka Allah akan hantarkan ia kepadaku, atau aku yang dihantarkan_Nya untuk menemuinya dia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang takdir tidak bisa dipaksa. Kalau tidak mau, yang lain pasti mau! &lt;br /&gt;Siapa yang lain itu? Ya aku cari lagi dan tanyakan lagi seperti tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana bukan pemikiranku? sepanjang kita siap menerima siapapun yang ditakdirkan_Nya buat kita, maka Insya Allah hidup ini akan terasa mudah, indah, berkah dan bernilai ibadah.&lt;br /&gt;Dan, ketika nanti aku menemukan pengalaman yang sama, dan aku tidak mampu mengungkapkannya secara lisan, maka akan aku kirimi dia surat. Surat itu sudah aku siapkan, dan sewaktu-waktu siap untuk dikirimkan. Lebih jelasnya, surat itu aku lampirkan seperti yang tertulis di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan setiap sesuatu berpasang pasangan.&lt;br /&gt;Dan Dialah yang menjadikan manusia berjodoh jodoh, agar hadir kedamaian hati&lt;br /&gt;dalam kebersamaan pada ikatan nikah tadi, bersemi kasih dan berkembang cinta&lt;br /&gt;bersama waktu yang dijalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biru...(Akan kupanggil ia dengan sapaan yang ia sukai) cukup lama saya mengenalmu, demikian juga kau terhadapku. Kau mengenal kekurangan yang ada pada diriku, saya pun mengenal kebaikan kebaikan yang ada pada dirimu. Begitu juga sebaliknya. Hari ini lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada padaku, sepenuhnya menyadari kelebihan dan keterbatasanmu. Dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan hambaNya. Maka hari ini kuutarakan niat bulatku untuk mengajakmu menjalani kehidupan keluarga, aku mengajakmu untuk beribadah memelihara diri dan keluarga dari api neraka. Bersamamu kita membesarkan anak anak kita. Tak ada yang kujanjikan kepadamu, selain harapan hidup lebih baik di sini dan nanti, lewat kepaduan dan saling memahami dan mengerti antara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berpikir bahwa ide ini layak untuk dipertimbangkan. Maka marilah kita masing masing berdo'a :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah kalau dia (aku sebutkan namamu dalam do'aku dan kau sebutkan namaku dalam do'a mu. OK ?) baik buat akhirat saya, agama saya dan dunia saya, Maka jadikanlah hati saya mudah untuk menerima dia dan lapangkanlah jalan kami untuk melangsungkan pernikahan dan hidup tentram sesudahnya. Tapi bila dalam pandanganMu, dalam Ilmu Mu yang Maha Meliputi segala sesuatu, ternyata dia tidak baik buat akhirat saya, agama saya dan dunia saya. Maka mudahkanlah saya untuk mendapatkan yang lebih baik dari dia, dan mudahkanlah dia untuk mendapatkan yang lebih baik dari saya. Padamu kami bertawakkal, dan padaMu kami berserah diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah, akan ada petunjuk dari Allah untuk kita. Sehingga mudah bagimu untuk memberikan sebuah keputusan atau lebih tepatnya sebuah jawaban menerima/menolak ajakanku. Kalau iya, maka mari kita bicarakan kelak, apa yang harus kita persiapkan, sehingga masing masing kita bisa hadir dalam sosok yang lebih baik lagi dari sekarang ketika berganti posisi dari ’kakak - adik’ menjadi istri atau suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau pun tidak, aku tidak menyesal, semoga saja kau mendapatkan yang lebih baik dariku, sebagai mana aku pun mendapatkan yang lebih baik darimu. Dan apa yang telah terjalin di antara kita tetap akan menjadi bagian yang sangat indah dalam hidupku. Aku takkan melupakannya. Kita akan tetap sebagai ‘kakak-adik-. Setidaknya dengan kepastian jawabanmu,. aku berhenti berangan angan, ingin menjadikan kau sebagai istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila di dunia ada syurga, &lt;br /&gt;Maka itulah kehidupan rumah tangga yang romantis dan harmonis. &lt;br /&gt;Bila di dunia ada neraka, &lt;br /&gt;Maka itulah kehidupan rumah tangga yang tak selaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagialah mereka yang diamnya berfikir, &lt;br /&gt;memandangnya mengambil pelajaran, &lt;br /&gt;mendengarnya mengambil hikmah, &lt;br /&gt;dan dalam tindakannya orang mengenal indahnya Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2298565675037389448?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2298565675037389448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2298565675037389448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2298565675037389448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2298565675037389448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/04/bagaimana-kau-mencintaiku.html' title='Bagaimana Kau Mencintaiku?'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2069447601277530600</id><published>2009-03-07T19:39:00.000-08:00</published><updated>2009-03-07T19:42:36.723-08:00</updated><title type='text'>SMART STUDENT COME FROM NICE TEACHER</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku mengulang sejarah baru. Menjadi pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Bahasa Asing,  International English Center. Akan kubuat hari-hariku pertemuanku perdana mengesankan, dan akan kujadikan pengalaman itu menjadi menyenangkan. Mendengar gambaran singkat dari Andini kemarin, sepertinya kelas yang saya handle akan benar-benar menarik dan menantang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga anak kembar yang aku ajar dalam kelompok belajar. Satu siswa laki-laki dan dua perempuan. Namanya Bagas, Mutia Arum, dan Mutia Citra. Ketiganya memiliki kesamaan sifat:Sensitif! Itu artinya saya harus lebih jeli membaca perangai ketiganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya menghadapi anak kembar tiga. Saya juga berhadapan anak hiperaktif. Ya, ada satu anak yang tak bisa diam barang sejenak. Selalu saja ada yang dikerjakannya. Saya jadi ingat, ketika saya mengajar di SDIT Sabilul Huda Kota Cirebon. Walau pun saat itu kapasitasnya sebagai guru pengganti. Kebetulan saat itu menggantikan kelas Ruswanto. Pada kesempatan yang baik itulah, saya pertama kalinya menghadapi anak hiperaktif yang begitu temperamental. Diganggu sedikit saja, ‘meledaklah’ amarahnya. &lt;br /&gt;Pernah dirinya merasa kenyamanannya saat menggambar terganggu, ia pun mencecar si pengganggu sampai dapat dan diajak duel, setelah puas mengajak damai. Ia juga kerap melakukan sesuatu yang tak terduga, mengejutkan, sekaligus mencengangkan! Misal, tiba-tiba ia ke depan kelas, dan langsung merobohkan papan penyangga whiteboard. Jatuhlah papan tulis itu hingga membuat suara gaduh. Setelah itu emosi anak itu reda seketika dan duduk manis di kursinya seperti tak terjadi apa-apa. Tak hanya itu, saat shalat duhur berjamaah juga kekhusyukannya terusik. Baru saja, mengangkat tangan mengucap, Allahu Akbar... tiba-tiba dari belakang temannya yang usil menggoda. “Gendut-gendut... Gendut gendut...” Blar! Hilanglah seketika konsentrasi menghadap Sang Pencipta. Terjadilah kejar mengejar di antara barisan shaf. Dapat, terjadi duel yang sengit. Setelah merasa cukup damai lagi lalu melanjutkan shalat yang tadi terpotong. Tenang kembali seperti tak terjadi apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi lantaran wajahnya yang ngegemesin, sampai-sampai teman-temannya banyak yang iseng godain.  Kalau digambarkan, perangai dan postur tubuh anak itu seperti Giant, dalam film kartun Doraemon. Ah, saya jadi penasaran, kira-kira seperti apa anak hiperaktif yang akan saya temui nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensitif, dan hiperaktif. Dua kata sifat murid-muridku yang telah kugenggam. Ada satu lagi anak yang tak bisa saya definisikan kata sifatnya. Anak itu kerap bertanya pada hal-hal yang tak semestinya. Solusinya hanya satu untuk anak yang selalu pintar-pintar bertanya, yaitu pandai-pandai menjawab!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah permata-permata masa depan yang akan mencerahkan. Untuk membuat permata itu berkilau, gurulah yang memolesnya. Saya percaya, bahwa smart student come from nice teacher! Itu artinya saya harus menjadi guru yang baik!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm! Sinyal atau tanda-tanda saya akan menjadi guru yang baik, rupanya sudah kulihat. Sebelum saya mendapat kelas mengajar, secara kebetulan saya diajak Paman untuk menjadi panitia di sebuah acara pelatihan guru TPQ. Trik, Metode mengajar, sampai sesi Psikologi anak pun saya serap habis-habisan secara gratis. Saat itu saya memosisikan diri sebagai spon yang mampu menyerap apa saja sesuatu yang berkaitan dengan air.  Yang lebih memantapkan lagi, secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku hebat, Quantum Teaching, karya Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nouri yang diterbitkan KAIFA. Buku itu membuat saya menjadi makin percaya diri to be a nice teacher!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2069447601277530600?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2069447601277530600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2069447601277530600' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2069447601277530600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2069447601277530600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/03/smart-student-come-from-nice-teacher.html' title='SMART STUDENT COME FROM NICE TEACHER'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-4614241847728043573</id><published>2009-03-07T19:34:00.000-08:00</published><updated>2009-03-07T19:39:05.480-08:00</updated><title type='text'>Ruang Tersendiri Film &amp; Sastra</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya sastra dipilih untuk sebuah produksi film memang bukan hal baru. Sisi positifnya bisa memacu seseorang meningkatkan minat baca lantaran ada tendensi menjawab rasa penasaran setelah menyaksikan sebuah tontonan. Orang yang memiliki sense of curiosity yang tinggi biasanya ada kecenderungan mencari asal bagaimana sebuah sajian tontonan itu berasal. Itu artinya, jika muncul rasa penasaran dari apa yang telah disaksikan pada sebuah tontonan, seseorang cenderung membaca karya asal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, masalah yang terjadi sudah selaraskah  budaya nonton dengan budaya membaca kita? Keterkaitan keduanya tentu saja ada ketika dipadukan, asalkan kepaduan itu masih selaras dari maksud tuturan teks awal. Membandingkan keduanya (membaca dan menonton) memang menjadi satu hal menarik yang perlu kita kaji sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya nonton yang saya amati dewasa ini baru sampai pada batas mencari hiburan semata. Penonton masih belum sepenuhnya apresiatif lantaran yang dicari hanya kepuasan parsial. Mengenai proses pembelajaran yang bisa didapat dari sebuah film masih jauh panggang daripada api. Padahal film adalah cerminan realitas, perangsang imajinasi, pembentuk identitas, dan dunia yang mencipta pencitraan. &lt;br /&gt;Pembentukan identitas yang dimunculkan dari film tidak terlepas dari apa tema yang diangkat, siapa yang menjadi pemain, siapa yang mengelola bioskop sebagai lanskap luar  yang mengalasi layar putih itu, dan siapa yang menjadi penontonnya. Pengalaman menonton, berada dalam gedung bioskop, dan tingkah laku menikmati sajian film merupakan proses resepsi maupun respon atas identitas dari pencitraan yang ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara membaca adalah gerbang untuk menjadi orang yang berpengetahuan. Ia menjadi salah satu aktivitas literat kelas berat, namun menyenangkan ketika sudah mendalaminya. Pada sebuah bacaan, disitulah ide-ide tertata pada kata-kata. &lt;br /&gt;Sastra dan Film&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film seperti yang dinyatakan Asrul Sani adalah bidang seni yang menggunakan citra sebagai mediumnya. Ia adalah kontinuitet gambar-gambar, karena itu bersifat grafis. Sementara kata-kata dalam sastra punya peran membangun cerita, seterusnya cerita mengandaikan urutan dalam waktu, sedangkan perkembangan  peristiwa memerlukan keterangan tentang sebab akibatnya. Sebaliknya film menunjukkan perkembangan ceritanya tidak dengan memperlihatkan perkembangan  dari satu waktu ke waktu, tetapi dengan memperlihatkan perpindahan dari satu ruang ke ruang yang lain. &lt;br /&gt;Keduanya pun bisa menyatu atau lebih tepatnya disatukan dengan makin maraknya film yang diangkat berdasarkan sebuah novel laris. Alih-alih mendulang kesuksesan yang sama, sebuah novel pun diangkat ke layar lebar. Peluang adanya pasar, didukung dengan kekuatan modal dan kreativitas pelaku sinematografi, sebuah karya sastra dalam bentuk teks diangkat menjadi film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemungkinan adanya perbedaan interpretasi bahkan terasa jauh dari sebuah tuturan teks bisa saja terjadi. Ini wajar, karena sejatinya sastra memiliki ruang tersendiri untuk bisa dinikmati, dan diresapi. Ia justru lebih menarik dan seksi untuk dinikmati ketika ia masih sebagai teks yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun sama halnya dengan karya film (sinematografi). Ia memiliki ruang tersendiri untuk bisa diapresiasi, diserap pesan yang ingin disampaikan melalui ranah audiovisual. Proses apresiasinya melibatkan seluruh indra, terutama pada indra lihat, dengar, dan rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan terjadinya misinterprtasi tentu saja ada. Sebut saja dalam novel Da Vinci Code ketika difilmkan ada banyak bagian penting yang hilang. Laskar Pelangi, Sajadah Cinta, dan baru-baru ini adalah Perempuan Berkalung Sorban pun mengalami nasib yang sama. Karya-karya itu jauh lebih berkesan dinikmati sebagai teks novel, tenimbang jika diangkat ke layar lebar. Selain karena keterbatasan ruang dan waktu, sebuah film juga harus benar-benar dimainkan oleh seorang profesional. Berbeda dengan ruang sastra. Ia tidak terikat oleh ruang dan waktu. Imajinasi yang dihasilkan bebas mengembara sampai pada batas angka dibagi nol alias yang tak terhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besar kemungkinan ketidakselarasan itu terjadi lantaran film tersebut 'hanya' merekonstruksi teks dari buku ke film. Sikap semacam ini tentu rentan menjadikan penonton yang sudah membaca karya satra itu, ketika menonton filmnya akan dibawa ke dalam kegiatan menonton yang 'hanya mencocok-cocokan' yang ada di buku apakah ada juga di dalam film; memperbandingkan intensitas sensasinya: sedih di buku atau sedih di film, lucu di buku atau di film, tegang di buku atau di film, dan seterusnya. &lt;br /&gt;Tetapi itu bisa berbeda ketika film yang diadaptasi dari karya sastra (katakanlah novel) diangkat dengan mengambil sisi atau angle (sudut pandang) lain. Mulai dari cara bercerita (point of view), penekanan cerita, interpretasi cerita, dan lain sebagainya. Dalam pandangan Embie C Noer besar kemungkinan penonton akan terlibat sama segarnya seperti ketika dia membaca novelnya. Keberhasilan menemukan bentuk semacam inilah yang banyak menjadikan karya film yang mengambil karya satra sebagai script, menjadi karya yang juga memiliki nilai yang sama agungnya, sama kharismatiknya, sama orisinalnya, dengan karya sastra yang dipilihnya sebagai bahan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bisa berarti bahwa bisa saja sebuah karya apapun menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya yang berbeda, tetapi ketika hanya mengadopsi penuh, tidak menutup kemungkinan hasil dari karya itu tak seksi lagi untuk dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-4614241847728043573?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/4614241847728043573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=4614241847728043573' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/4614241847728043573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/4614241847728043573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/03/ruang-tersendiri-film-sastra.html' title='Ruang Tersendiri Film &amp; Sastra'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-6087641911373286203</id><published>2009-02-09T00:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T00:55:41.742-08:00</updated><title type='text'>Karya yang Terlahir karena Sesuatu</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semangat dan energi dari seorang Ali Irfan yang saya kenal, nampaknya tak pernah padam. Kumpulan cerpen ini lebih mengukuhkan bahwa ide atau gagasan yang berlompatan dalam pikirannya tersalurkan melalui tulisan. Bukan hanya sekedar sebagai bacaan, tapi lebih dari itu adalah mampu menginspirasikan kita semua akan makna dari suatu cerita. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Pergulatannya di dunia jurnalistik sangat berpengaruh dalam gaya bertutur dan pemilihan kata. Maka tak megherankan bila beberapa cerpennya lahir karena adanya “sesuatu” yang terjadi. Semisal yang berjudul Eksekusi, terinspirasi dari kasus bom Bali. Manakala kiai kharismatik K.H. Syarief Muhammad bin Syech yang sangat akrab disapa Kang Ayip Muh wafat, hatinya gelisah dan lahirlah cerpen Menyentuh Keranda. Adanya “sesuatu” yang terjadi, jelas erat kaitannya dengan dunia jurnalistik. Cerpen berjudul Deadline! sangat kentara darah kewartawanannya tak terpisahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan dari seseorang yang konsisten bergelut di dunia jurnalistik, diantaranya adalah peka terhadap dinamika kehidupan, mampu merangkai huruf, kata, dan kalimat menjadi satu kesatuan arti secara lancar. Hal ini amat membantu kejernihan alur pikir sang penulis dalam menorehkan gagasan. Pergaulan dan pengalaman Ali Irfan di lingkungan pondok pesantren dan komunitas dakwah kampus pun telah menginspirasikan karyanya yang bertajuk Ratapan Semu Iblis dan Malaikat Seribu Cahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saya sebutkan tadi bahwa instink jurnalisnya terus bergerak mengendus penggalan berbagai peristiwa. Mencoba merekam kejadian yang menyentuh hatinya, kemudian memaknai yang tersirat dari yang tersurat mejadi cerita pendek. Seribu kata, seribu makna niscaya tak akan pernah habis dalam menguraikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pembaca dapat memetik inspirasi dari kumpulan cerpen ini. Dan saya percaya, sang penulis tak akan pernah kehabisan gagasan dan kata-kata dalam membuat karya-karya selanjutnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanto,Sy&lt;br /&gt;Praktisi Media &amp; Creative Director Forum Bela Budaya Cirebon&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-6087641911373286203?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/6087641911373286203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=6087641911373286203' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/6087641911373286203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/6087641911373286203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/02/karya-yang-terlahir-karena-sesuatu.html' title='Karya yang Terlahir karena Sesuatu'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2147386523452399134</id><published>2009-02-09T00:43:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T00:46:09.723-08:00</updated><title type='text'>Tentang Cinta, Malaikat, dan Kematian</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cinta, malaikat, dan kematian adalah tiga unsur berbeda tergabung karena sesuatu dan menjadi dalam satu frase: antologi cerita pendek. Ketiganya menyatu lantaran ada sesuatu. Atau dengan lain perkataan, sesuatu menyatukan ketiganya. Sesuatu itu tak lain adalah rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang sifatnya abstrak namun ada dan bisa dirasakan seperti halnya cinta, malaikat, dan kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita uraikan secara mendetil, sejatinya cinta adalah sesuatu yang abstrak dan bisa dirasakan. Di dalam cinta terkandung energi yang benar-benar menggerakkan manusia untuk hidup. Bahkan lebih hidup! Sebuah keberlangsungan berlangsung karena ada cinta. Ia tak perlu definisi, meski ada seribu makna disebalik kata itu. Satu kata yang kerap membuat hati anak manusia bergetar, tersipu, berani, bertahan, setia, bahkan berselingkuh! Satu kata yang terakhir bisa (atau biasa) terjadi manakala menemukan cinta yang lain lalu enggan melepas yang sudah digenggaman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tak ada keberanian mengungkapkan, cinta pun bisa mengarahkan seorang anak manusia menjadi pencuri. Ini terjadi seperti dalam sebuah pengakuan, Akulah Pencuri Itu. Sadar bahwa mencuri perbuatan yang berdampak pada sebuah dosa, seorang anak manusia pun mengakui perbuatannya dengan mengaku dirinya sebagai pencuri. Dalam pengakuannya ia bilang, setidaknya dengan mengakui itu, akan memperingan mizan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan nanti. Inilah pentingnya memaknai sebuah kejujuran. Bukankah jarang-jarang ada pencuri mau mengaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala tak ada keberanian membalas, kaum hawa pun, cukup membalasnya dengan diam. Sebuah jawaban yang menimbulkan rasa penasaran lelaki meski ada sabda nabi yang mengatakan, diamnya perempuan adalah sikap menerimanya. Sampai-sampai dengan tingkat kepercayadirian yang tinggi, kaum adam harus mengatakan, Sebenarnya Kau Mencintaiku, Hanya Saja Kau Tidak Mengatakannya. Namun ada sebagian bagi kaum hawa yang berprinsip bahwa diam saja tidak cukup. Mungkin terjadi karena ada kekhawatiran cintanya tak berbalas. Maka dengan sekuat tenaga, seorang Rahma Syifa memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mengekspresikan rasa seperti dalam cerpen Lelaki yang Datang Lewat Mimpi. Kesetiaan pun diuji dalam Lelaki yang Tak Pernah Tidur lantaran menunggu kedatangan bulan yang kerap mengganggu hatinya. Keinginan untuk bercinta dengan bulan pun muncul meski urung lantaran mempertimbangkan kesetiaan seorang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang mengajarkan seseorang untuk berkhianat, selain tentunya mengajarkan kesetiaan. Kalau ingin tahu apa itu kesetiaan, belajarlah pada Malaikat! Ia makhluk Tuhan yang tingkat kesetiannya sudah teruji. Dengan anugerah kesempurnaan yang tiada tara, sebenarnya manusia bisa seperti malaikat tanpa harus menjadi malaikat. Bahkan seseorang bisa mendatangkan Malaikat Seribu Cahaya yang langsung diturunkan dari langit. Tetapi keegoan yang melekat pada diri manusia malah membuatnya kadang kebablasan lantaran muncul keinginan memiliki Dua Helai Sayap Jibril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, seberapa jauh manusia berpetualang menyelami hidup, pada akhirnya akan bermuara pada satu, yakni kematian. Ia adalah akhir yang pasti, tetapi kapan waktunya masih menjadi misteri. Kematian tak perlu dicari, karena sejatinya ia akan datang sendiri menghampiri. Yang patut diperhatikan adalah bagaimanakah kita seharusnya mati?  Kisah mengenai kematian, mulai dari kematian yang sederhana, kematian yang belum saatnya, sampai bunuh diri telah saya tuangkan dalam Senja Di Atas Kereta, Menyentuh Keranda, Deadline!, Eksekusi, Qasidah Gurun, Suara Adzan di Jantung Muadzin, dan Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Irfan. Tegal, 2 Februari 2009. 14.44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2147386523452399134?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2147386523452399134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2147386523452399134' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2147386523452399134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2147386523452399134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/02/tentang-cinta-malaikat-dan-kematian.html' title='Tentang Cinta, Malaikat, dan Kematian'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-6154623418610879606</id><published>2009-02-06T00:57:00.000-08:00</published><updated>2009-02-06T01:02:17.244-08:00</updated><title type='text'>Aku, Wimar Witoelar, dan Fira Basuki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SYv8Zh-QFDI/AAAAAAAAAHY/1VCM-btVy3A/s1600-h/post.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SYv8Zh-QFDI/AAAAAAAAAHY/1VCM-btVy3A/s320/post.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299606902077920306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ini pengalaman yang belum aku kisahkan kepada kalian. Kisah lama memang, tapi itu tak apa kan? Saya memercayai, sebuah pengalaman yang dituliskan akan menjadi kisah mengabadi yang sewaktu-waktu bisa dibuka kembali. Saya menyebut hari itu terlalu indah untuk dilewatkan, karena benar-benar memicu aktivitas saya dalam menulis. Begini kisahnya...&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;haripertama:sembilanseptemberduaribuenam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertemu dua sosok berbeda. Buku menyatukan mereka. Dekat seperti sahabat, bahkan seperti ayah dan anak! Mereka Wimar Witoelar dan Fira Basuki. Saya mengenal keduanya pada sebuah buku biografi berjudul “Heal Yeah: Wimar Witoelar &amp; Fira Basuki.” Penulis buku itu Fira Basuki. Seorang jurnalis, penulis juga novelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul delapan malam saya sudah berada di salah satu stasiun radio di Cirebon. Ikut acara talk show. Niat awal wawancara Wimar Witoelar dan Fira Basuki buat majalah kampus yang saya kelola, majalah FatsOeN. Tetapi entah, ketika keduanya datang, mental tiba-tiba down. Memang saat itu ada banyak orang. Rombongan Wimar datang dengan dua mobil, yakni terdiri dari orang-orang Intermatrix, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Public Relation milik Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak punya banyak kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Wimar karena sejak kedatangannya langsung disambut kru radio. Sesekali saya mengambil gambar keduanya. Sedemikian asyik memotret, sampai hampir lupa pada niatan awal untuk wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik dari sosok Wimar. Sapaan yang ia gunakan menggunakan inisial. Wimar Witoelar ternyata akrab disapa WW (read: wewe, not double u, double u). Katanya nama itu egaliter, yakni mengedepankan persamaan. Ia tak memandang perbedaan dari mana ia berasal, mulai dari agama, ras dan lainnya yang sekiranya mengindikasikan ada jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaanya begitu melekat. Padahal ia bukan orang biasa lantaran kapasitasnya yang memang tidak diragukan lagi. Meski saat kecil sempat dicemooh sebagai bebek si buruk rupa (ugly duckling), WW ternyata seorang aktivis kampus, the great communicator, pernah didapuk sebagai news caster VOA, dan karir politiknya jadi Juru Bicara Kepresidenan masa pemerintahan Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firbas juga tak kalah menarik. Gaya penulisannya energik. Ketika kamera menyorot ke arahnya, ia pasang rona senyum pipit. Senyumya khas. Saat duduk di sebuah sofa, tiba-tiba Fira Basuki duduk di kursi persis depan saya. Saya mencoba berusaha bersikap biasa, biar tidak kelihatan canggung, apalagi gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benak saya berucap,  “Ini kesempatan untuk wawancara Fira Basuki!” Saya pun tak melewatkan itu, tanpa menunggu waktu, juga tanpa minta ijin wawancara, saya langsung melontarkan pertanyaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Mbak Fira mengambil sastra dalam kepenulisan?” tanya saya tiba-tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritanya ini wawancara nih?” Jawab Fira seketika dengan senyum khas. Sepertinya ia paham tengah berhadapan dengan wartawan amatiran, he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membalas dengan senyum mengiyakan. Setelah itu Fira menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, karena dunia sastra segalanya bisa mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin dalam kehidupan nyata ketika dalam dunia sastra itu bisa saja terjadi dan sah-sah saja.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ternyata, ia mulai menulis sejak duduk di bangku SD. Saat teman-temannya asyik bermain, ia malah asyik di kamar membuat puisi di buku harian. Tahu Fira suka menulis, ibu tercintanya kasih saran agar Fira ikut lomba penulisan puisi. Namun Fira acuh. Ibu tersayang ternyata punya inisiatif dengan mengisikan formulir pendaftaran. Hasilnya mengejutkan, tak terduga, tak disangka. Fira tampil sebagai juara menulis puisi yang diselenggarakan majalah Bobo. Padahal sama sekali tak merasa ikut lomba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat talkshow mau dimulai, wawancara terpaksa saya hentikan. Saya hanya melontarkan dua pertanyaan. Lagi pula saat itu saya tak tahu harus bertanya apa lagi. I’m speechless! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harikedua:sepuluhseptemberduaribuenam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih mengikuti keduanya saat acara bedah buku di Gramedia. Saya datang ke acara itu lantaran dapat bocoran dari dari salah seorang kru WW, besok ada door prize berupa buku-buku Wimar yang akan diberikan kepada peserta bedah buku. Entah kenapa, saya yakin akan mendapatkan satu buku Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya harapkan ternyata terwujud. Saya adalah orang pertama yang melontarkan pertanyaan dalam forum. Ya demi sebuah doorprize! Sudah jadi kesepakatan awal, setiap penanya akan mendapatkan bingkisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghadiri acara itu bersama Siti Khudriyah, seorang kawan yang juga aktif di FatsOeN. Saya komporin dia bertanya biar dapat bingkisan. Terkesan materialistis memang, tapi tak apa kalau demi sebuah buku yang mencerahkan! Ia pun menurut, bahkan melontarkan pertanyaan terbaik. Ia mendapat satu buku Hell Yeah dan satu bingkisan, yang entah apa isinya. Saya dan Dyah senang lantaran dapat apresiasi menarik dari Wimar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sempat iri karena saya hanya mendapat satu bingkisan, Dyah dapat dua. Ia pertanyaan terbaik, saya biasa-biasa saja. Bahkan Dyah mendapat kehormatan berduet dengan Wimar menyanyikan lagu Hell Yeah! Itulagu favorit Wimar yang hampit diputar di mobilnya setiap kali ia bepergian. Dyah sempat mencoba menyelamatkan diri lantaran tak bisa nyanyi, seperti apa lagunya juga ia tak tahu. Meski sempat diputar juga itu baru pertama kali dengar. Pakai bahasa inggris pula. Tapi akhirnya setelah didesak, ia pun ke depan bersama Wimar. Ya, tidak terlalu memalukan memang, Di depan Dyah cuma pegang microphone! Saya lupa menanyakan bagaimana isi benak Dyah saat tak di depan bersama Wimar. Oh, iya. Bingkisan yang Dyah peroleh ternyata isinya sebuah kaos ekslusif Wimar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran belum tahu apa isi bingkisan kecil, saya langsung membuka bingkisan. Saya sobek kado pembungkus dengan tergesa-gesa. Surprise Alhamdulilah! Isi bingkisan itu ternyata sebuah buku berbahasa Inggris. Judulnya No Regrets, A Reflection of Presidential Spokesman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dipikir-pikir, ternyata saya dapat buku yang bernilai lebih. Sebab, apa yang didapat oleh kawan saya, pernah saya baca habis dalam waktu kurang dari dua hari. Yah, FatsOeN memiliki buku itu dua hari sebelum kedatangan Wimar di Cirebon. Tentang kaos itu, saya berkomentar dalam benak, book is more important than t-shirt!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas usai acara, saat acara book signing, beberapa orang sudah memanjang menanti giliran untuk menanti tanda tangan. Wimar berkomentar  ketika saya menyodorkan No Regrets? “Wah, kau dapat dari mana buku langka ini?” Jawab saya, melontarkan pertanyaan pertama saat diskusi buku dimulai.  Komentar lain yang tak kalah menarik terujar dari Fira Basuki, “Wow the great book! Buku mahal neh, seratus ribu lho,” kata Fira. Saya hanya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, pasti saya bikin buku sepertimu Fira...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-6154623418610879606?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/6154623418610879606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=6154623418610879606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/6154623418610879606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/6154623418610879606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/02/aku-wimar-witoelar-dan-fira-basuki.html' title='Aku, Wimar Witoelar, dan Fira Basuki'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SYv8Zh-QFDI/AAAAAAAAAHY/1VCM-btVy3A/s72-c/post.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-3936514334855410889</id><published>2009-01-14T18:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-14T18:40:53.091-08:00</updated><title type='text'>Lelaki yang Datang Lewat Mimpi</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mimpi itu telah datang tiga hari berturut-turut dalam tidur gadis berjilbab lebat. Rahma nama perempuan itu. Lengkapnya Rahma Syifa. Mimpi itu merasuk ke dalam benaknya. Dan benar-benar mengganggu perasaannya. Malam-malam berikut ia malah sampai tak bisa tidur lantaran selalu menebak-nebak apa sebenarnya makna disebalik mimpi itu? Satu mimpi yang datang tiga kali berurutan di tiga malam berbeda. Sebuah mimpi yang membuat hatinya bergetar. Mimpi yang seperti bukan mimpi padahal itu adalah sebenar-benarnya mimpi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam tidurnya Rahma memimpikan ada sesosok lelaki yang datang menghampiri ketika dirinya tengah duduk-duduk di masjid. Lelaki itu tersenyum mendekati. Tanpa disangka-sangka sebelumnya, ia mengajak Rahma shalat empat rakaat di masjid di tengah hari. Saat mimpi, ia merasakan seperti sebenar-benarnya duduk dalam teras masjid. Ia merasakan benar bagaimana ia shalat seperti halnya orang shalat. Ia merasakan benar senyum yang tanpa kata-kata itu, tapi ia memahami kata-kata yang terangkum terkulum senyum. Adakah mimpi itu menyiratkan pesan, akan datang seorang lelaki yang akan melamar lalu menikahinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari pertama bermimpi memang tak begitu tampak jelas siapa lelaki itu. Wajahnya samar, tapi dari senyumnya ia kelihatan sosok lelaki yang baik hati. Senyum yang penuh keikhlasan. Rahma mencoba meraba-raba, mengarah pada beberapa nama lelaki yang ia kenal dan ia mengenalnya namun tak jua ia temukan siapa sosok laki-laki dalam mimpi. Rahma terbangun dalam mimpinya seusai salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kedua tetap sama. Wajah lelaki itu masih samar. Dan benar-benar membuatnya penasaran. Mimpi Rahma pun masih sama. Duduk di teras masjid, ada lelaki datang tersenyum, lalu mengajak shalat, dan entah kenapa ia menurut saja. Hanya ada sedikit gambaran yang hadir dalam mimpi itu. Lelaki itu mengenakan baju koko hijau pupus.Tapi detil wajah, tak mampu ia gambarkan meski hanya dalam sketsa. Apa yang ia alami di mimpi kedua pun masih sama: ia terbangun seusai salam penanda shalat telah usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ketiga baru semuanya terjawab. Wajah lelaki dalam mimpi itu sudah tak samar lagi. Rupa tampak begitu jelas. Mimpi-mimpi sebelumnya seperti meninggalkan sketsa wajah. Hari ketiga itulah penyempurnaan sketsa itu dalam rupa sesunguhnnya. Dan subhanallah, Rahma benar-benar mengenal lelaki itu! Lelaki itu ia kenal lewat tulisan-tulisannya di koran. Tapi bagaimana bisa datang lewat mimpi, itu yang ia tak tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahma memang mengenalnya lewat tulisan. Juga saat kesempatan acara pelatihan jurnalistik di kampus. Saat itu Rahma sebagai peserta, dan ia pembicara. Rahma memang sempat dibuat kagum mendengar ketika ia berbicara, juga kagum saat membaca tulisan-tulisan lelaki itu yang menawan. Gaya bahasanya benar-benar memikat. Sudah. Hanya sebatas itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi mimpi itu? Bagaimana bisa sosok lelaki yang tak mengenalnya bisa hadir dalam mimpi? Dan yang lebih Rahma tak tahu, dan membuat ia terheran-heran, mimpi itu datang tiga hari berturut-turut dengan ritme berbeda. Alur dalam mimpi itu layaknya kamera yang mencari titik fokus. Awal terlihat samar, tapi ketika menemukan titik fokus baru objek terlihat jelas. Apa yang Rahma alami menyisakan pertanyaan sangat mendalam. Pertanyaan yang membutuhkan jawaban, berupa sebuah tafsir mimpi yang ia merasa seperti bukan mimpi. Ia merasa tak kuasa mengalami mimpi yang tak biasa. Hatinya benar-benar tak bisa diterka. Bahagia, berdebar, takut, dan malu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sedemikian mengganggu perasaannya, Rahma pun memberanikan diri memberi tahu lelaki yang datang lewat mimpinya melalui SMS. Nomor handphonenya ia dapatkan dalam curiculum vitae saat ia ikut sebagai peserta pelatihan jurnalistik. Rahma mencatat dalam block note ketika itu. Gelombang elektromagnetik membuatnya berani mengatakan sesuatu yang sifatnya rahasia tanpa harus berhadapan, bertatap wajah, bertemu muka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui SMS, pesan ia tuliskan. Ia menuliskannya tak seperti layaknya SMS. Kata-katanya hampir tak ada yang disingkat. Rahma sempat berpikir, akankah dirinya lancang membicarakan ini kepada seorang lelaki yang ia kenal, tapi lelaki itu tak mengenalnya? Ia memang telah berpikir seribu kali melakukan ini. Tapi sebuah penasaran yang sangat, perasaan yang entah, rasa ingin tahu yang mengganggu, membuatnya ia benar-benar berani. Dan akhirnya ia pun benar-benar melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di  sebuah desa kecil di Tegal, yang jaraknya 80 kilometer dari kota di mana Rahma tinggal, handphone seorang lelaki menimbulkan nada pesan diterima. Seketika lelaki itu membuka pesan itu yang muncul dari nomor tak dikenal. Ia lalu membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamualaikum. Mohon maaf seandainya saya mengganggu. Sudah lama saya tidak pernah melihat di Cirebon. Kalau boleh tahu, sekarang tinggal dimana? saya berharap kau mau membalas sms ini, karena beberapa hari ini saya memimpikanmu. Maaf kalau saya lancang, ini bukan dibuat-buat. Datang dengan sendirinya. Terimakasih. Saya Rahma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Rahma ragu untuk menuliskan namanya dalam pesan itu. Tapi ia yakin, kalau lelaki itu pastinya akan bertanya balik mengenai siapa ia sebenarnya. Setelah menungu lumayan lama, pesan itu pun berbalas. Rahma senang bukan main mendapat balasan sms yang sebenarnya memang ia tunggu-tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“W3. Kok bisa begitu? Rahma yang mana ya, brgkali sy lupa. Ap kita sdh saling kenal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahma membalas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pun tidak tahu. Mungkin lupa karena kau orang yang cukup dikenal. Saya ingin kau memberikan solusi atau tafsiran tentang mimpi saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mengabaikan pesan balasan Rahma. Seperti tak mau ambil pusing orang iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelumnya saya sudah mengenal dari tulisan di koran dan saat mengisi pelatihan di kampus. Kalau saya tafsirkan takut di bilang lancang karena mimpi saya alami tiga beturut-turut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih abaikan pesan. Tetapi pesan berikutnya selalu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mimpinya, saya duduk di teras masjid tiba-tiba kau datang dengan mengenakan koko hijau. Kau tersenyum, dan mengajak saya shalat. Entah kenapa saya nurut. Maaf kau saja yang menafsirkan sebelum saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap lelaki itu tak membalas pesan. Selang hampir satu jam, pesan berikut datang. Ada kata maaf. Namun lelaki itu tetap membacanya dengan perasaan yang mungkin terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana tafsirannya? Maaf saya terlalu terburu-buru karena mengganggu hati saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih saja tak berbalas. Hampir Rahma kecewa. Tapi ia tak berhenti. Serangan SMS terus dilancarkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa kau tidak memberi tahu saya tafsirannya. Hati saya benar-benar terganggu, dan menjadi penghalang bagi saya dalam bertaqarub pada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu terkejut mendapat pesan terakhir yang ia baca. Awal sebenarnya ia tak ingin meladeni. Tapi ia justru bergetar ketika dirinya menjadi penghalang seseorang kepada Tuhan. Rahma menyebut nama Allah! Sebuah NAMA yang begitu menggelisahkan hatinya. Akhirnya ia pun membalas pesan itu, dengan mencoba menebak terkaan tafsir apa yang dialami Rahma. Lewat rekaman mimpi yang dikirim lewat SMS, diam-diam lelaki itu menafsirkan mimpi Rahma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bismilahirahmanirahim. Biar kutebak. Apa kau menafsirkan sosok lelaki itu akan datang membawa niat suci meminta jadi imam dalam hidupmu? Berharap saja yang terbaik sama Allah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahma bahagia bukan main mendapat balasan itu. Bahagia lantaran jawaban itulah yang sebenarnya yang ia harapkan. Entah kenapa sejak mimpi itu, pikirannya selalu tertuju pada sosok lelaki yang hadir dalam mimpi. Ia mengenalnya, tetapi tidak untuk sebaliknya. Tapi ia tak peduli. Yang penting ia bahagia. Sedemikian bahagianya, sampai-sampai tanpa sadar ia membalas pesan yang sebenarnya membuat ia malu dan terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bolehkah aku mendengar suaramu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pesan yang tertulis di alam bawah sadar. Melihat pesan yang sudah terkirim ia terkejut bukan main. Ia bingung harus berbicara apa kalau nantinya lelaki itu benar-benar menelepon! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh. Telepon aj skrg. Pulsaku g cukup buat nelp,” balas lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya telpon tapi kau saja yang ngomong ya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi ia menuliskan pesan singkat lagi. Ketika menuliskannya ia seakan berada dalam alam bawah sadar. Saat menerima pesan, lelaki itu tersenyum tanpa berkata-kata. Mungkin membayangkan apa sebenarnya yang sedang dialami perempuan bernama Rahma Syifa itu? Tapi dengan satu kata, lelaki itu membalas pesan. Hanya satu kata dengan tiga titik di belakangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati berdebar Rahma mendengar suara lelaki itu lewat bantuan gelombang elektromagnetik! Hanya lelaki itu yang bicara, dan tidak untuk Rahma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan...inilah perbincangan searah lewat telepon antara Rahma dan lelaki itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamualaikum. Baru kali ini aku menemui sosok aneh seperti Rahma. Menelepon tapi tak mau bersuara. Tapi tak apa. Oh ya, masalah mimpi sebenarnya...” Klik!! Telepon itu langsung Rahma matikan. Entah karena malu atau bahagia. Lisan Rahma benar-benar tak mampu berkata-kata. Lelaki itu hanya tersenyum. Tersenyum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegal, 12 Januari 2009&lt;br /&gt;Selesai Pukul 17.03 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-3936514334855410889?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/3936514334855410889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=3936514334855410889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/3936514334855410889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/3936514334855410889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2009/01/lelaki-yang-datang-lewat-mimpi.html' title='Lelaki yang Datang Lewat Mimpi'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-873992243577852262</id><published>2008-12-03T01:00:00.001-08:00</published><updated>2008-12-03T01:00:51.638-08:00</updated><title type='text'>Seperti Menemukan Kata Baru</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Asing di daerah orang, wajar. Tapi bagaimana kalau yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terjadi malah sebaliknya? Itulah hal yang nampaknya sepele, yang saya alami dan renungkan. Peristiwa ini terjadi di hari-hari pertama ketika saya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;back to basic, &lt;/i&gt;alias pulang kampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di tanah kelahiran, saya justru merasakan itu. Bisa jadi, karena banyak nilai lama yang saya tinggalkan. Yang paling utama sekali adalah masalah bahasa, yakni bahasa Tegal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lama tak terucap di lisan membuat bahasa kelahiran itu terasa asing di telinga. Benar kata para linguist, bahasa itu lanyah karena terbiasa. Ia adalah sebuah kebiasaan&lt;i style=""&gt;. Language is habit!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mendengar ibu, adik-adikku, tetangga berbicara, &lt;i style=""&gt;subhanallah&lt;/i&gt;! saya merasa seperti menemukan kosakata baru. Padahal, sejatinya kata-kata itu telah lama saya kenal. Ia hanya mengendap di memori yang kini perlahan-lahan terbuka kembali. Namun sungguh susah sekali terucapkan di lisan saya untuk saat ini (karena saya yakin, suatu saat saya juga pasti bisa berdialek Tegal. Tunggu saja tanggal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mainnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hehehe &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada sebuah artikel media lokal, saya mesti mengernyitkan dahi ketika membaca percakapan antara Dalang Ki Entus Susmono dengan Bupati Tegal Agus Riyanto. Sekali lagi, saya seperti menemukan bahasa baru! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;”&lt;i style=""&gt;Senenge muter-muter, plipiran, pijar wong jaman transparansi kok ya, kawa kaya kue. Mbok langsung des des des! Pluntrah-pluntrah bae, blakasuta, aja gemremeng ning buri,” kata Ki Enthus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Makasih Wa, Sisan sampeyan njambak apa ngompoli, aku tha-maaf lho-nganggep kaya lagi neggendong bayi,”canda bupati. “ Enyong tah batine apa ngomong kaya kiye, bisa-bisa diarani pimen-pimen. Mung ngilangaken kewajiban, sebagai kanca. Di trima apa ora, mangga. Embel-embel blas laka. Apa maning tujuan sing ala,”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;jawab bupati ringan. Ia menganggap&lt;i style=""&gt; paidonan&lt;/i&gt; (ledekan_ mudah-mudahan saya tak salah mengartikan)&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;itu sebagai masukan baginya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Setelah melalui proses berpikir yang panjang, barulah saya paham maksudnya kemana. Kutipan pertama saya menilai lontaran ditujukan untuk Bupati Tegal Agus Riyanto lantaran tiap kali bicara tidak langsung pada pokok persoalan seperti ketika ia menulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(Sebenarnya ia banyak menggunakan teknik bercerita ketika menulis sebelum sampai pada pokok persoalan. Tapi di mata Ki Dalang yang gaya bicaranya&lt;i style=""&gt; tanpa tedeng aling-aling&lt;/i&gt; caanya itu buang-buang energi. Sehingga ketika tak bisa memahami lebih dulu karakter yang berbicara, bisa-bisa orang lain keliru menyangka negatif). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hasil menerjemah bebas saya seperti ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Zaman keterbukaan kok kalau bicara banyak basa-basi. Kenapa tidak langsung saja pada pokok persoalan” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Terimakasih, Pak. Sekalian saja bapak menjambak dan mengencingi saya. Maaf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maaf, saya melakukan semua itu ibarat sedang menggendong bayi,” canda bupati. “ Apa untungnya saya bicara seperti itu. Takut terjadi apa-apa. Hanya menggugurkan kewajiban teman. Diterima atau tidak, silahkan. Nggak ada maksud apa-apa. Apalagi tujuan jahat”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jujur, saya menerjemahkan bebas pernyataan Ki Dalang lantaran ada beberapa kata yang, maaf sekali,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya tak tahu maknanya seperti &lt;i style=""&gt;plipiran, blakasuta, dan pluntrah-pluntrah!&lt;/i&gt; (Ki, tolong bantu saya menerjemahkan, :D) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kadang saya berpikir, apa yang sebenarnya terjadi pada diri?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satu pertanyaan yang saya sendiri tak tahu jawabnya. Banyak kawan bilang, sebagai asli anak Tegal, yang setiap kali bicara medhok pisan, tak secuilpun melekat ketegalan pada diri. Entah apa sebabnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kalau dipandang dari kacamata sosiolog, apa yang saya alami adalah sebuah kewajaran. Lantaran saya berinteraksi di lingkungan yang memang di dalamnya tidak atau jarang ada orang-orang asli Tegal. Sehingga ini berpengaruh pada dialek Tegal yang khas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bahkan, yang paling ekstrem, kawan saya sempat mempertanyakan ke-Tegal-an saya, hanya karena cara bicara saya lancar berbahasa Indonesa seperti air. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saya ingat ketika memperkenalkan diri di depan kelas saat pertama kali masuk kuliah. Suasana sempat heboh! Heboh lantaran dosen melontarkan candaan bernuansa primordial yang tentu saja diarahkan kepada saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Oh, wong Tegal... kamu tahu? Di Tegal itu nggak ada RRI ya. Masalahnya kalau ada, bisa merusak bahasa Indonesia. Bisa-bisa bukan mendengarkan berita, tapi malah mendengarkan lelucon.” Terang saja kelas langsung gerr!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saya sempat bertanya dalam &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hati, apa iya bahasa Tegal merusak tatanan bahasa Indonesia?” Ah, bukankah bahasa Tegal itu unik dan menarik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saya hanya tersenyum meski banyak yang meledek dengan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;istilah &lt;i style=""&gt;inyong, kowen, kuwe, bul, embuh, &lt;/i&gt;dan aksen Tegal lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saya juga masih bisa tersenyum ketika ada teman yang meledek saya dengan candaan yang mungkin sangat menyinggung perasaan Wage Rudolf Supratman (Walau pun dilontarkan dengan konteks candaan).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bayangkan saja,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ku” dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lirik lagu Indonesia Raya tanpa minta ijin sama pencipta lagu diubah seenak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;udel diganti dengan “&lt;i style=""&gt;nyong.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Terlepas dari banyaknya ledekan yang menilai bahasa Tegal setidaknya itu menandakan bahwa bahasa Tegal itu menarik. Betapa tidak, Cici Tegal yang Asli Betawi juga ketiban berkah mengadopsi bahasa Tegal di dunia entertainment. Parto Patrio, Djamal Bulat, si pemeran Kenthung dalam Tuyul dan Mbak Yul, pun bernasib sama: populer karena ketegalannya! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-873992243577852262?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/873992243577852262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=873992243577852262' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/873992243577852262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/873992243577852262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/12/seperti-menemukan-kata-baru.html' title='Seperti Menemukan Kata Baru'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-8634133040562061078</id><published>2008-12-03T00:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T00:57:39.176-08:00</updated><title type='text'>Memperbaiki Daya Ingat yang (Kadang) Berkhianat</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;"Tulislah apa saja yang terpikir, dan tergambarkan dalam benak. Jangan berhenti sebelum ada aba-aba stop. Tulis saja, walau ide mentok. Saat benar-benar tak ada yang untuk dituliskan, tulis saja, mentok, mentok, mentok. Saat tak ada ide, tulis saja, nggak ada ide, nggak ada ide -sampai kembali menemukan ide melanjutkan tulisan. Pokoknya jangan berhenti sebelum ada aba-aba stop!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Itulah simulasi yang kerap saya gunakan ketika mengawali sebuah tulisan. Bagi pemula cara ini terbukti efektif. Ada banyak hal-hal tak terduga yang dihasilkan dari metode macam ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sejatinya cara diatas saya adopsi dari Novakovich dalam buku Berguru Pada Sastrawan Dunia. Cara itu pula yang digunakan Hernowo. Untuk mengingatkan daya ingat -yang biasanya kerap berkhianat- Hernowo mengawali simulasi menulis tersebut dengan sebuah kalimat, "Saya ingat..." dan kita tinggal lanjutkan saja mau diisi tulisan apa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Baru-baru ini, metode macam ini saya praktekkan saat Trainning Jurnalistik di Pondok Pesantren Miftahul Muta'alimat Babakan-Ciwaringan Cirebon. Hasilnya sungguh luar biasa. Ada kejujuran, keluguan, bahkan kelucuan tergambarkan lewat goresan pena dan selembar kertas selama lima menit. Ya, saya memberi waktu mereka menggali daya ingat dalam simulasi itu lima menit, tidak lebih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lewat simulasi itu, kejujuran mereka tergambarkan. Walau seceria apapun mereka ternyata sebagian besar masih merasa kesepian, merindukan ibu, ayah saudara dan keluarga. Seperti yang terujar dari beberapa tulisan mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;"Saya ingat, ketika pertama kali ke pondok saya tiba-tiba ingat ibu, teman-temanku di rumah."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;"Saya ingat, ketika ibu datang ke pondok, ibu langsung memelukku, membawakan makanan kesukaanku,"&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tentang keluguan bisa tergambarkan dari beberapa tulisan mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;"Saya ingat, pernah ikut pelatihan menulis saat kelas satu. Semua peserta diminta menulis puisi, lalu dibacakan ke depan. saya takut, terus apalagi ya, aduh gimana neh, ga bisa nulis. Ah sudahlah segini saja, hehehe."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;"Saya ingat ketika itu ada suara cowok memanggil namaku. saat menoleh ke belakang, tanpa banyak basa-basi, ditambah dengan mimik wajah yang memerah dan suasananya tegang, ia berkata, mau nggak kau jadi bidadariku?" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ini hanya satu dari beberapa metode memperbaiki daya ingat. Tapi terbukti efektif. Buktinya bisa dibaca dari tulisan-tulisan di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;blog ini. Tentu saja, itu akan jauh lebih efektif, kalau kita juga banyak baca buku (atau membaca banyak buku?). Mudah-mudahan, daya ingatmu tak berkhianat lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-8634133040562061078?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/8634133040562061078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=8634133040562061078' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/8634133040562061078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/8634133040562061078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/12/memperbaiki-daya-ingat-yang-kadang.html' title='Memperbaiki Daya Ingat yang (Kadang) Berkhianat'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-7896480328067518325</id><published>2008-11-15T01:55:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T02:06:32.373-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SR6d-Agw0FI/AAAAAAAAAGQ/QeM4GVdgbQI/s1600-h/hukum.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SR6d-Agw0FI/AAAAAAAAAGQ/QeM4GVdgbQI/s320/hukum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268822302684926034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;EKSEKUSI&lt;br /&gt;Oleh Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah itu telah disiapkan. Orang-orang terdekat menyiapkannya setelah ada ketuk palu keputusan mati yang dijatuhkan hakim. Awal bulan ini eksekusi akan dilakukan. Delapan tahun sudah tanah berukuran dua kali satu meter itu menunggu kepastian. Sebuah kepastian waktu ketika empat butir timah panas menembus jantung, menghentikan detak napasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari empat peluru itu berisi peluru tajam. Peluru itulah yang akan mengoyakkan jantung. Tuhan pun turut merancang skenario eksekusi. Rencananya satu dari beberapa peluru itu adalah Izrail yang akan menyamar menjadi peluru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu begitu tenang seperti angin pagi. Bahkan sejak saat itu ia selalu tersenyum. Seolah telah ditampakkan di hadapannya bentangan telaga kautsar yang mengalir menyejukkan di sungai-sungai surga. Alangkah bahagianya masa menjelang kematian yang seperti itu. Sungguh, pembawaannya benar-benar tenang. Padahal, tak lama lagi napasnya akan berakhir di ujung peluru yang telah dilegalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangannya menghadapi kematian justru membuat sebagian orang gerah, karena tak muncul sedikit pun penyesalan atas peristiwa di Bali, 2 Oktober 2002. Tatapannya seakan berkata, kematian adalah kehidupan sebenarnya. Sungguh, kematian yang tidak sederhana namun begitu istimewa di mata orang-orang terdekat. Mereka menganggap kematiannya sebagai kematian istimewa, karena telah menegakkan syariat walau dengan konsekuensi melenyapkan ratusan jiwa dan ratusan korban terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala hal  terkait proses pemakaman telah disiapkan. Mulai dari kain kafan, sebidang tanah, dan keranda pun disiapkan khusus. Orang-orang pilihan telah ditentukan, mulai dari siapa yang memandikan, mengafani, membawanya ke rumah terakhir, hingga yang mengebumikan. Bahkan diam-diam ada sebagian orang yang tengah menghapalkan bacaan shalat jenazah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Malaikat Izrail tampak tengah berbincang dengan Tuhan mengenai tugas yang harus ia laksanakan. Kali ini ia diminta menyamar menjadi peluru untuk mengambil nyawa salah seorang penduduk bumi karena masa tinggalnya selesai sudah. Penasaran, ia pun melihat catatan di lauh mahfudz. Di sana tertulis nama lelaki yang memang masa hidupnya harus disudahi di ujung peluru. Di sana juga tertulis bahwa untuk melaksanakan tugas itu ia harus menyamar menjadi peluru.  Pantang membantah perintah, amanah itu ia perturutkan. Ia pun seketika menjadi butir peluru untuk menjemput ruh. Demi memuluskan niatnya, Izrail menyelusup ke dalam butir-butir peluru yang akan dilesatkan pada senapan regu penembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dekat hari pelaksanaan eksekusi, ia justru makin merasakan ketenangan tak terperi. Sebuah ketenangan yang tak dirasakan orang lain. Istri tercintanya terlihat tabah menghadapi kenyataan. “Ia akan syahid,” katanya. Tak terlihat wajah sedih yang terbalut di kerudung lebatnya. Ia bahkan turut tersenyum. Ia teringat sebuah percakapan kecil dengan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umi, ternyata aku dulu yang akan ke syurga. Peluru-peluru itu akan mengantarku ke sana. Jangan lupa kau ajarkan apa yang telah aku titipkan tadi, ” katanya dengan nada ringan penuh kelakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban itu, istrinya hanya tersenyum. “Ya, Abi, aku akan menyusulmu di sana.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sunyi. Hanya ada beberapa bintang gemerlap yang menggantung di bentangan langit  menjelang pagi. Eksekusi tinggal beberapa detik lagi. Ia akan dieksekusi tengah malam lebih lima belas menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regu penembak tanpa ragu membidikkan senapannya. Mereka telah disiapkan khusus untuk ini dan terlatih. Mendapat tugas melenyapkan lelaki itu bagi mereka adalah mulia. Mereka justru dengan senang hati melakukannya, karena orang yang akan diekseskusi ini sama sekali tak menampilkan kesan takut. Berbeda dengan para terpidana mati lain yang takut mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan ini terlihat jelas lantaran saat eksekusi kedua matanya tak ditutup, tidak seperti lazimnya. Lelaki itu memintanya sendiri. Mungkin untuk menunjukkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia meyakini butir peluru itu adalah Izrail yang diutus untuk mengantarnya menemui Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intruksi penanda eksekusi tinggal menunggu detik. Dalam hitungan ketiga, pelatuk para regu tembak masing-masing akan ditarik untuk melesatkan. Izrail yang menyamar jadi peluru pun turut bersiap diri untuk menunaikan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama Izrail tinggal di dalam senapan bersama peluru-peluru lain. Demi sebuah amanah, meski harus menempati ruang sempit tanpa sekat pun tak masalah. Ia memang tak bisa banyak bergerak. Sayap-sayapnya ia lipat sedemikian rupa. Penyamarannya lebih canggih dari cara yang biasa dilakukan intelijen.&lt;br /&gt;Sempat suasana gerah di dalam senappan membuatnya kepanasan dan ingin sekali mengipaskan sayapnya untuk memberi angin pengusir gerah, Hampir saja tindakan itu ia lakukan. Tapi ia sadar, bahwa dirinya tengah dalam masa bertugas. Apa jadinya nanti kalau tiba-tiba peluru-peluru lain terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya eksekusi pun tiba. Satu persatu-persatu peluru itu melesat. Izrail tinggal menunggu giliran melesat tepat ke arah jantung. Lesatan peluru tak membuat lelaki itu gentar. Peluru-peluru itu justru diterimanya dengan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat di mata lelaki itu lesatan butir-butir peluru itu bertasbih. Ia terkesiap ketika melihat sebutir peluru yang beda di antara peluru-peluru lain. “Izrail!” kata laki-laki itu. Merasa terkejut dan penyamarannya telah diketahui, Izrail pun menunjukkan aslinya. Dalam pandangan lelaki itu, seketika peluru itu langsung berubah mengeluarkan sayap-sayap. Tidak sampai hitungan detik bentangan sayap itu langsung menubruk dan dalam hitungan tidak kurang dari kecepatan cahaya, Izrail membawa lelaki itu terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia melihat ke bawah, lelaki itu melihat dirinya tergeletak berdiri sambil tersenyum. Kedua tangannya masih diikat pada sebuah tiang setinggi lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya tenang, menutup perlahan sesaat setelah butir peluru menghentikan detak jantung seketika. Dari awal memang sudah enggan kedua matanna ditutup dengan kain hitam saat eksekusi.&lt;br /&gt;Tanah, kafan, dan keranda pun siap menunggu kedatangan jenazah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-7896480328067518325?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/7896480328067518325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=7896480328067518325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/7896480328067518325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/7896480328067518325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/11/eksekusi-oleh-ali-irfan-tanah-itu-telah.html' title=''/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SR6d-Agw0FI/AAAAAAAAAGQ/QeM4GVdgbQI/s72-c/hukum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-4227538690282929706</id><published>2008-09-19T01:03:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T01:09:35.594-07:00</updated><title type='text'>NEK, SEBAIKNYA KAU MATI SAJA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SNNeJ5N_A1I/AAAAAAAAAFU/Jk_4xoj8dtA/s1600-h/nenek.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SNNeJ5N_A1I/AAAAAAAAAFU/Jk_4xoj8dtA/s320/nenek.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247641514888069970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depan pelataran rumah, seorang perempuan tua duduk di atas kursi malas. Matanya menatap kosong. Sesekali ia menggerakkan kursi malasnya yang hampir saja diam dengan tangan yang masih menyimpan sisa-sisa tenaga saat masih muda. Ia pun menggerakkan pelan, perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerut kulitnya begitu kentara terlihat. Pun jika dilihat dari kejauhan. Rambut masih legam panjang, tidak seperti nenek pada umumnya yang sudah memutih di usianya. Kata ibuku, perempuan tua itu sewaktu masih muda keramas dengan merang, sisa pembakaran jerami padi yang ada di sawah-sawah. Hanya ditambahkan sedikit air, lalu dibasuh rata dari ujung sampai pangkal.  Demikian halnya dengan gigi yang masih tertata rapi, leng-kap dan tak ada satu pun tanggal. Masih gigi asli. Masih kata ibuku, katanya orang-orang zaman dulu itu merawat gigi dengan remukan batu bata dari tanah liat sebagai odol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, terdengar hentakkan batuk perempuan tua. Sebelumnya ia tengah asyik dengan kinang yang bermain-main dimulutnya. Bibirnya memerah keemasan. Bahkan cairan merah itu mengalir melewati kedua sudut bibir. Lama aku menatap. Batinku berkata, seolah-olah sedang menatap drakula yang habis menghisap darah dengan kedua taring. Aku takut. Kalau-kalau ia berubah jadi drakula yang siap menerkamku seketika, padahal aku tak mau mati konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek itu hidup seorang diri di sebuah rumah tua. Tak jauh dari rumahku. Anak-anaknya sudah tak bersamanya lagi. Bahkan hampir dipastikan mereka tak ada yang menjenguknya. Entah kesibukkan macam apa yang dialami sampai-sampai mereka lupa bahwa ada seorang tua renta tak berdaya selalu mengharap kedatangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kepergian anak-anaknya merantau ke kota, ia makin sering didera penyakit. Sakitnya bertambah parah setelah sekian lama menunggu, anak-anaknya tak jua pulang menemui. Yang diderita tak hanya pada tubuh yang makin rapuh, pada tulang yang sudah tak mampu menopang berdiri tegap, melainkan juga pada sakit perasaaan yang sudah lama terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara waktu begitu sombong. Berlalu tanpa menghiraukan siapa dan memeduli-kan apa. Waktu tak pedulikan itu. Sementara anak ayam berkicau di samping rumah, en-tah berteriak mencari induk ayam ataukah meminta makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lamunan aku berkata, “Nek sepatutnya di saat sekarang ini kau tak sendiri. Seharusnya bukan ayam-ayam itu yang menemani hari-hari nenek.” Keseharian si nenek memang tak lepas dari mengurus anak ayam yang memang sudah ia anggap sebagai teman. Atau mungkin dianggap sebagai anak sendiri. Ia tak pernah lupa memberi mereka makan. Entah dengan bekatul, beras bahkan sisa makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja ayam-ayam itu adalah anak-anaknya pasti terasa senanglah hati nenek. Tak kesepian seperti sekarang ini. Meskipun dibiarkan bebas berkeliaran, toh mereka itu pada pulang di sore harinya. Angan sekedar angan. Tetap saja mereka tak akan menjelma jadi anak-anaknya yang telah lama pergi entah kemana. Tak pernah pulang, tak ada kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, ia mendapati ada yang kurang pada anak ayam itu ketika pulang di senja hari. Panik ia bukan main. Ia lantas mencari ke setiap sudut. Berteriak. Teriak-kannya menjadi perhatian tetangga, termasuk ibuku. Meski dengan langkah tertatih ia te-tap mencari anak ayam yang hilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali bertemu orang yang kebetulan berpapasan, pasti ia ditanya. “Apa kau meli-hat anak ayam milikku?” tanyanya masih dalam kepanikkan. Orang yang tak suka ditanya, menyebut dalam hati bahwa si nenek itu telah gila. Dalam benak ia berkata, kehilangan anak ayam saja, paniknya bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa tiba-tiba orang itu mendapat umpatan, “Dasar orang tidak tahu diri,” Kontan orang itu terkaget dan langsung beringsut menghindar dari umpatan si nenek. Si nenek marah. Indera dengarnya begitu tajam. Kata-kata itu tertangkap di telinganya. Dan orang itu lebih memilih menghindar bermasalah dengan si nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai gelap. Suasana hening. Sebentar lagi adzan magrib bergema. Di sekitar su-dah tidak ditemui suara decit anak ayam. Semua ayam milik penduduk sudah ngandang. Tak henti nenek itu terus mencari. Ia sempat kecedwa, namun buru-buru ia menepis. Ia yakin, anak ayam itu tak jauh dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu terdengar suara decit anak ayam. Si nenek merasa yakin, suara itu suara anak ayam yang ia cari. Dugaannya benar. Ia mendapati kaki anak ayam itu kena jeratan seutas tali di sebongkah kayu hingga ia tak bisa bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah nenek yang tinggal bersebelahan. Saat ia merasa kehilangan anak ayam, gemparlah semua orang sekampung. Setiap orang yang jadi lawan bicaranya tak lepas dari obrolan tentang anak-anaknya yang hingga kini belum pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini aku tak pernah melihat si nenek itu duduk di beranda rumah tuanya. Seperti biasa, duduknya si nenek tidak lain mengharap anak-anak pulang menemuinya. Ia berharap bisa memeluk mereka. Sebuah keinginan yang hingga kini belum terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku makin tak enak saja. Kebiasaanku menyapa tiap pagi saat ia duduk di pelataran rumah tak bisa aku lakukan lagi. Ia sudah jarang ada disana, entah kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, aku memberanikan diri menemui nenek itu. Sebelumya aku hanya menemui dia di depan rumah saja. Tak pernah aku masuk ke dalam rumah. Pintu rumahku buka perlahan. Aku merasakan aroma aneh. Tapi coba kutepis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nek…nenek,” aku menyapa. Tak ada sahutan. Sekali dua kali tak ada sahutan. Suasana rumah sepi. Jelaga bergelantungan di bawah langit-langit. Kakiku melangkah mencari dimana nenek berada. Mungkin ia sedang istirahat di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nek,”aku menyapa pelan sambil membuka pintu perlahan. Terdengar suara erangan tak berdaya. Ia terbaring lemah diatas tempat tidur kumal. Bekas merah kinang bercece-ran kering di lantai. Ternyata ia tengah bergelut dengan penyakit yang telah lama meng-gerogotinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek baik-baik saja?” tanyaku pelan. Saat aku bertanya, ia tengah sibuk mencari si-sa-sisa napas seolah hendak lepas. Napasnya tersengal. Aku merasakan ia benar-benar ter-siksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nek, kenapa kau tidak mati saja menemui suamimu yang sudah meninggal beberapa puluh tahun lalu. Mungkin saja anak-anakmu sudah berkumpul di sana, dan tinggal me-nunggu nenek saja. Dari pada harus hidup seorang diri tanpa satu pun keluarga yang me-ngurus nenek. Anak-anak yang tega membiarkan hidup sendiri sampai saat ini tak per-nah memberi kabar. Sudah sukseskah jadi orang atau malah sebaliknya menjadi gelan-dangan hingga ia merasa malu dan tak mau pulang. Syukur kalau mereka  masih hidup. Bagaimana kalau sudah mati, dimana mereka dikubur ia tak tahu,” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pyarr! Tiba-tiba aku tersadar. Pecahan gelas menyadarkanku dari lamunan. Hampir saja nenek itu terjatuh. Buru-buru aku menyangga tubuh lapuknya. Ah, nenek kenapa tak bilang mau ambil segelas air dalam gelas itu.&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;Lho, kenapa jadi aku yang menyalahkan nenek. Kalau aku tak melamun, mungkin tak begini akhirnya. Ini salahku. Aku melamunkan kondisi nenek renta yang hidup sebatang kara. Harapku sebaiknya ia cepat mati saja, agar deritanya tak berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jangan seperti anak-anak nenek,” ia seketika berujar. Dari ceritanya terlihat diwajahnya yang penuh tanya. Seolah-olah ia menyesal telah melahirkan anak yang tidak ada bakti sama sekali. Entah salah apa yang nenek perbuat. Nenek mencoba merenungi masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Nek,” aku mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku membayangkan. Anak macam apa yang tega membiarkan ibunya sendiri hidup tanpa ada yang menemani. Aku yakin, tak akan ada yang mau bernasib seperi nenek yang sedang berada di hadapanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nek, aku berharap masa tua nenek tidak digunakan untuk mengumpat anak-anak nenek, apalagi sampai mengutuk jadi batu seperti dalam legenda Malin Kundang. Aku yakin, setiap kata yang terujar dari seorang ibu pasti nyata dan bernilai doa. Bukankah surga ada di bawah telapak kaki ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek nggak bakalan mengumpat anak sendiri,” kata-kata itu terujar seketika dari mulut nenek. Sempat membuatku kaget. Pikir kecilku,  apa ia tahu apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang aku pikirkan hanya terucap dalam benak. Apa ia bisa membaca pikiran seseorang? Mudah-mudahan tidak! Itu hanya sebuah kebetulan. Tapi apa mungkin? Batinku berkecamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap saat nenek selalu berdoa. Semoga mereka baik-baik saja. Nenek sudah tua. Nenek serahkan semuanya kepada yang kuasa,” katanya. Saat itu aku diam seribu bahasa dan hanya mendengar tiap kata yang terujar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memintaku mengambil segelas air. Aku menurut saja dan langsung pergi ke dapur. Aku tak mendapati air di sana. Kering tak ada air tersisa meski setetes. Untuk masak air pun tidak memungkinkan. Dapur nenek sepertinya sudah lama tak berasap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ambil saja di rumah, pikirknya saat itu. Aku beringsut keluar menuju rumah untuk mengambil segelas air. Kubuatkan segelas teh pahit kesukaannya yang biasa ia minum. Aku tahu, ia tidak meminum air putih. Katanya air putih itu tidak berasa. Bahkan tak jarang memakan teh hitam sebagai camilan selain kinang. Teh hitam pekat selesai sudah kubuat. Aku bergegas menuju rumah nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana, nenek malah tertidur. Aku coba membangunkannya. Tapi nenek tak menyahut. Kemudian aku duduk disampingnya. Maksudku biar ia bangun. Entah kenapa ia tak juga bangun. Cukup lama di sana. Setelah kupegang denyut nadinya, ternyata ia sudah tak bernapas.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-4227538690282929706?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/4227538690282929706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=4227538690282929706' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/4227538690282929706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/4227538690282929706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/09/nek-sebaiknya-kau-mati-saja.html' title='NEK, SEBAIKNYA KAU MATI SAJA'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SNNeJ5N_A1I/AAAAAAAAAFU/Jk_4xoj8dtA/s72-c/nenek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2684819902438488801</id><published>2008-09-19T00:50:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T00:58:04.539-07:00</updated><title type='text'>IMPIAN SEMU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SNNbcOzGimI/AAAAAAAAAFM/ghYG56KWzvQ/s1600-h/anak_jalanan.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SNNbcOzGimI/AAAAAAAAAFM/ghYG56KWzvQ/s400/anak_jalanan.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247638531383659106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaannya begitu jauh dari jamahan kepedulian banyak orang. Tak sedikit orang memicingkan dan memalingkan wajah saat bertemu. Ia juga seorang manusia yang mempunyai mimpi. Namun untuk mencapai itu semua terasa berat. Panas terik menjadi hal yang biasa. Ia hanyalah orang kecil, orang-orang menyebutnya sebagai gelandangan dan pengemis. Di sebuah gubuk kecil, terlihat bocah kecil bercengkerama dengan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak, aku ingin jadi orang kaya,” kata Yitno kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jangan bermimpi, kita bertahan hidup saja sudah beruntung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yitno ingin sekolah, Mak. Ingin jadi orang pinter,” Yitno tetap ngotot. Namun tetap saja ibunya memberi jawaban yang sama. Keinginan Yitno dianggap sebagai igauan bela-ka, tak pernah ditanggapi serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prayitno, nama lengkapnya. Tubuhnya kurus bersarungkan sarung sebagai selimut menemani waktu menjelang tidurnya malam itu. Ibunya menaruh harap agar anaknya bisa lekas lelap. Matanya yang masih terbuka lebar membuat ibunya merasa kelu harus menjawab apa selain jawaban yang sama. Ia sadar tentang keinginan yang ada dalam hati anak semata wayangnya. Ia sendiri lumayan heran, belakangan ini anaknya terlalu rewel dan banyak menanyakan yang macam-macam. Sampai-sampai bingung harus menjawab apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika Yitno menanyakan dimana bapaknya. Mendengar itu, hati ibunya semakin tersayat, karena ia harus mengingat suaminya yang tewas mengenaskan saat kecelakaan tiga tahun lalu. Usia Yitno masih terlalu dini untuk mengetahui bahwa ayahnya telah tiada. Bocah itu berusia tujuh tahun. Di usianya yang sekarang, seharusnya sudah berada di bangku sekolah. Namun pada kenyataanya hingga saat ini ia masih belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan sekolah, untuk bertahan hidup saja sudah beruntung. Begitulah ucapan yang sering terujar dari ibunya agar Yitno tidak berpikiran terlalu muluk. Saat Yitno menanyakan keberadaan ayah, ibunya hanya menjawab, “Bapak ada di tempat yang jauh, suatu saat nanti kita akan menyusulnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari sudah malam, ayo cepat tidur. Besok pagi harus kerja. Kalau tidak mau makan apa nanti,” bujuknya penuh harap. Yitno pun menurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah terlalu lelah seharian mengemis di jalanan hanya untuk bisa bertahan hidup. Pun halnya dengan ibunya. Ia harus pergi ke tiap-tiap rumah sekedar meminta sedekah belas kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit orang acuh. Menyebutnya hina dan jijik. Ada pula yang bilang pemalas. Hanya pura-pura saja. Sering pintu langsung ditutup saat datang. Pernah harus pulang dengan tangan hampa karena tak seorang pun memberikan sedikit apa yang dipunyainya untuk si pengemis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara malam terasa dingin. Tubuh kurus sudah tergolek lelap bersama balutan sarung sebagai selimut. Tampak ia menggigil kedinginan. Sarung yang sudah koyak itu tak mampu menahan hawa dingin yang berhembus hingga malam itu. Bola lampu yang ada di ruangan itu bersinar redup. Membuat kantuk. Remang bola lampu berkekuatan 5 watt memaksanya tidur lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kehidupan Yitno sekarang. Bapaknya hanya mewariskan kemiskinan yang dibebankan pada ibunya. Bahkan anak seusia Yitno harus ikut memikul beban itu meskipun dengan meminta-minta. Mengemis sudah dijadikan profesi. Kemiskinan yang membelit dan tidak mempunyai  ketrampilan apapun memaksa demikian. Walaupun terkadang tak tega melihat anak satu-satunya yang seharusnya berada di bangku sekolah, ia malah berada di jalanan, mengharap belas kasihan setiap oarang yang dihampirinya, mengharap kepingan atau lembaran rupiah yang di keluarkan dari saku ataupun dompet siapa saja yang ditemuainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak punya pilihan. Hidup harus bertahan meskipun dengan mengemis. Sebuah pekerjaan hina di mata kebanyakan orang. Malam semakin larut. Yitno sudah dari tadi terlelap dalam hidupnya meskipun hanya beralaskan tikar dan berselimutkan sarung yang sudah kumal. Sebelum tidur, ia berharap bisa mewujudkan keinginannya yang hingga saat ini belum tercapai. Harapan itu terus diucapkannya sebelum tidur seperti halnya malam kali ini. Harapan lain adalah  menemukan mimpi indah yang seringkali terpotong pagi. Yah! Melanjutkan mimpi indah seperti kemarin. Padahal saat itu ia ingin tetap terus dalam tidurnya dengan balutan mimpi indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa setiap pagi harus berangkat. Apalagi kalau bukan mengemis di jalanan. Sepertinya hari itu hari indah bagi Yitno. Setiap orang yang dimintainya tanpa berpikir lama langsung memberinya lembaran uang ribuan. Lembar demi lembar ia terima dengan senang hati. Bahkan ada yang mengeluarkan dari dalam dompet dan langsung diberikan kepada Yitno. Sungguh jumlah yang banyak untuk ukuran pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang membuat mereka mau memberikan apa yang si pengemis minta. Mungkin karena kasihan melihat anak sekecil itu meminta-minta atau kasihan melihat tubuh kurus berbalut wajah memelas yang melekat. Yitno tak peduli atas dasar apa mereka memberi, yang penting baginya meminta dan menerima. Itu pun kalau dikasih. Kalau tidak, ia tak memaksa.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sesaat Yitno melangkahkan kaki. Baru beberapa langkah ia bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang berdiri santai di halte. Ia menghampiri lelaki itu untuk meminta-minta dengan mengulurkan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namamu siapa?” Tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yitno, Om,” jawabnya singkat.&lt;br /&gt;“Yitno, kamu tidak sekolah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak Om.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang tua kamu dimana?” kata lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yitno diam sejenak setelah  mendengar pertanyaan itu. Ia hanya punya seorang ibu, itu pun sama-sama mengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu dan bapak Yitno ada di mana?” lelaki itu mengulang pertanyaan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu....,” ia agak ragu menjawabnya. Namun dengan perlahan ia berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu mengemis juga. Kalau bapak, nggak tahu ada di mana? Tapi kata ibu, ada di tempat yang jauh. Suatu saat saya sama ibu mau menyusulnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi Yitno disuruh ibu untuk mengemis, begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Om,” jawabnya polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yitno mau sekolah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekolah?” katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang ia langsung mengiyakan tawaran si lelaki itu. Sebuah kebetulan, sekolah adalah keinginan terbesar. Kapan lagi bisa sekolah, pikirnya polos. Saat itu juga ia diajak lelaki itu ke sebuah toko baju untuk membeli seragam sekolah dan sepatu. Tangan kurusnya digandeng oleh lelaki setengah baya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, telapak kakinya tak beralaskan sandal, apalagi sepatu. Alas kaki ketika itu ya telapak kakinya. Meski tak beralas, ia tak terganggu. Telapaknya sudah kebal terhadap duri-duri yang berserakan di jalan. Panas jalan beraspal tak memberikan pengaruh bagi Yitno untuk melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa senang menyelimuti wajahnya. Tak sedikit pun ia menaruh curiga pada lelaki itu. Bahkan sama sekali tak pernah terbersit dalam pikiranya apakah lelaki yang ditemuinya itu adalah seorang penculik, penjahat, atau bukan. Sama sekali tak ada dalam pikiran Yitno saat itu. Lagipula kalau diculik, mau ditebus pakai apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di toko baju lelaki itu tampak sibuk memilihkan baju untuk si bocah kurus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yitno, coba yang ini.” Yitno pun hanya menurut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini terlalu besar, “ komentar lelaki itu sesaat setelah baju itu dikenakan Yitno, dan langsung menggantikan dengan baju lain.&lt;br /&gt;“Nah, kalau yang ini pasti pas, ayo coba yang ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baju itu langsung dikenakannya pada Yitno. Memang benar. Baju itu pas di badan Yitno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah, Mbak, yang ini saja sama sepatu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si lelaki itu mengeluarkan dompet di saku belakang celananya dan diambilnya bebera-pa lembar uang untuk dibayarkan di kasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu itu ikut mengantar Yitno sampai ke rumah. Sesampainya di depan rumah lelaki itu beranjak pamit tanpa terlebih dahulu masuk ke rumah sederhana yang ditempati Yitno dan Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mulai besok, Yitno akan Om jemput dan langsung ke sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Terima kasih, Om.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jangan panggil Om. Panggil saja bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya, Om, eh Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yitno melangkah dengan wajah riang. Kedua tangannya menenteng dua bingkisan seragam sekolah dan sepatu. Tak sabar Yitno ingin menceritakan apa yang baru saja dialaminya di hari itu. Ibu pasti senang, pikir Yitno saat melangkahkan kaki menuju rumah. Sebuah rumah kecil yang letaknya di tengah-tengah pemukiman kumuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak, Yitno pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ibunya di dapur yang letaknya menyatu dengan ruang tamu. Ia langsung menemui ibu yang sedang menyiapkan makan siang, dan langsung menyerahkan uang hasil mengemis hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makan dulu, ibu sudah siapkan sayur asam dan tempe goreng dengan sambal kesukaanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yitno meletakkan kedua bungkusan itu dan langsung mengambil piring untuk makan.Yitno menciduk nasi yang memang tinggal sepiring. Dituangkannya sayur asem dan tempe goreng. Baru saja mau memasukkan suapan pertama, ia dikejutkan teriakan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yitno, apa ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau dapat dari mana? Kau mencuri!,” Yitno terkesiap. Tiba-tiba saja ibunya menghujani dengan pertanyaan seputar bingkisan itu. Seketika Yitno langsung diseret dari tempat ia duduk. Sang ibu langsung mendaratkan gagang sapu di pantat Yitno. Ia mengaduh kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun bu, ampun. Saya tidak mencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin kau bisa dapatkan barang itu kalau tidak mencuri.” Gagang sapu masih bertubi-tubi mendarat di pantatnya. Sementara ia masih tetap pada pendiriannya tidak mencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita ini memang pengemis, miskin dan tak punya apa-apa. Ibu tak pernah mengajarkan kamu mencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah kecil itu masih tersedu. Tak diberi kesempatan membela diri, untuk bicara yang sebenarnya bahwa dirinya tidak mencuri. Teriakan dan pukulan ibunya jauh lebih kuat dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, dari mana kau dapatkan ini.”&lt;br /&gt;Suasana mendadak hening. Ia menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Ibunya hanya diam terpekur, matanya menatap kehampaan. Ibunya sadar bahwa anaknya benar-benar ingin masuk sekolah seperti halnya anak-anak seusianya. Namun, rasa-rasanya tak mungkin bisa membiayai sekolah. Penghasilan mengemis hanya cukup untuk makan, tidak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana haru menyelimuti keduanya. Kini giliran ibunya menitikkan air mata. Nasi yang tadi hendak disantap dihinggapi lalat yang terbang kesana-kemari. Tempe gorengnya sudah tenggelam dalam genangan sayur asem yang sudah tak hangat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baju dan sepatu ini dibelikan seorang bapak yang Yitno temui di jalan buat sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja terucap, ibunya tersentak kaget. Dahinya membentuk gelombang guratan. Ia langsung memeluk erat bocah kecil itu. Perempuan itu teringat suaminya. Mau tidak mau ia harus mengatakan yang sebenarnya meskipun pahit. Menceritakan bahwa ayahnya telah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak Yitno ada di tempat yang jauh. Ia sudah tidak ada di sini lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Bapak Yitno belum mati. Bapak menyuruhku sekolah. Besok Yitno mau diantar ke sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yitno, ia bukan bapakmu!” perempuan itu membentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu tetap berkeras ia menemukan ayahnya. Ibunya kembali memeluk erat lantaran tak bisa berbuat banyak. Hari mulai gelap. Suasana lengang. Sunyi senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini sengaja Yitno tidur lebih awal, karena besok pagi ia harus sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak, besok bangunkan Yitno pagi-pagi ya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.” Jawab ibunya sambil meletakkan bingkisan baju dan sepatu di tempat tidur. Uahm,Yitno memejamkan matanya dan lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pagi yang dinanti tiba.Yitno beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Melihat tingkah anaknya yang tak biasa, perempuan yang tak lain ibunya merasa keheranan. Ketika itu ibunya baru selesai shalat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak, baju dan sepatu Yitno mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baju dan sepatu yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baju yang kemarin dibelikan sama bapak itu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mimpi lagi, ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi lagi. Ah, saya masih ingat benar bapak itu yang membelikan baju dan sepatu itu kemarin untuk sekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya sudah menganggap hal ini sudah biasa. Kemarin juga mengalami hal yang sama seperti saat ini. Paling sebentar lagi  juga sadar bahwa apa yang dialaminya itu adalah mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak ia sering bermain dengan anak Pak Lurah, keinginanya untuk sekolah begitu besar. Wajah Yitno berubah menjadi lain saat ibunya berkata, “Kau baru saja mimpi, Nak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak teringat pada bapak Yitno saat masih hidup. Walau kehidupannya tak jauh beda dengan sekarang, tapi jauh lebih baik. Keinginan ayahnya menyekolahkan Yitno begitu besar. Sampai-sampai ia rela makan satu kali sehari. Rencananya sebagian besar penghasilan sebagai tukang becak, mau ditabung buat biaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa naas menimpa saat tengah menarik becak di siang hari yang panas. Dari arah belakang melaju sebuah mobil kijang berkecepatan tinggi hendak menyalip truk. Dari arah berlawanan juga melaju sebuah mobil bak terbuka yang melaju dengan kecepatan sama. Tabrakkan tak terelakkan. Saling hantam. Mobil kijang terlempar ke arah becak yang sedang melaju di pinggir jalan yang tak lain ayahnya Yitno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Yitno dan ibunya harus bertahan untuk melanjutkan hidup. Suratan memu-tuskan keduanya menjadi gelandangan dan pengemis. Sampai kini, keinginan Yitno ma-sih membekas dalam hatinya. Impian itu tak akan pernah pudar. Ia yakin suatu saat, im-pian itu akan ia dapatkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2684819902438488801?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2684819902438488801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2684819902438488801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2684819902438488801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2684819902438488801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/09/impian-semu.html' title='IMPIAN SEMU'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SNNbcOzGimI/AAAAAAAAAFM/ghYG56KWzvQ/s72-c/anak_jalanan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-5765629516631894479</id><published>2008-09-08T00:10:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T00:19:10.644-07:00</updated><title type='text'>SUARA ADZAN DI JANTUNG MUADZIN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTRzrlAnxI/AAAAAAAAADs/hfDPB1ePqrw/s1600-h/Adzan.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTRzrlAnxI/AAAAAAAAADs/hfDPB1ePqrw/s400/Adzan.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243546551967588114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin mendadak menghentikan langkahnya saat menuju ke utara. Sayup-sayup terdengar lemah suara adzan menyapa di sebuah surau. Seruannya seperti tak diindahkan oleh mereka yang tengah sibuk mencari tuhan-tuhan kecil. Lantunan hampir saja melenyap. Bukan karena desau angin, melainkan karena suara kakek berusia 85 tahun itu memang sudah tak lagi merdu untuk didengar.&lt;br /&gt;Angin mencoba mengatur patah-patah kata yang beterbangan, untuk digabungkan hingga utuh, supaya tidak salah pesan saat sampai di telinga-telinga masai. Suaranya seperti benang kusut kumal dan basah. Susah diurai dan diberdirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kehampaan, suara itu perlahan-lahan melebur. Ketika lisannya berucap, terdengar nada terbata-bata. Napas seolah mau lepas. Namun, dasar kakek keras kepala, ia tetap memaksa melantunkan adzan di surau. Padahal kondisinya sedang kurang sehat lantaran sudah sepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu jamaah maghrib bermunculan. Satu dua shaf depan terisi sudah. Hati ka-kek bahagia, meski dengan suara seadanya ternyata masih ada yang mau mendengarkan, lalu melangkahkan kaki ke mushalla. Ia tak peduli berapa banyak jumlah jamaah. Baginya, yang terpenting tugas sebagai muadzin tunai. Sedikit banyak jamaah yang hadir tidak menghalangi niatnya untuk mengingatkan mereka-mereka kepada tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah saat musim panen tiba, hampir setiap hari ia di surau. Orang-orang kampung sibuk dengan arit di ladang. Bersuka ria memanen padi yang sudah menguning. Antara sawah dan surau justru lebih ramai sawah. Celakanya saat adzan tiba mereka masih asyik memotong batang padi. Sedikit waktu istirahat, lalu melanjutkan kembali memanen. Entah mereka letakkan di mana agama mereka saat musim panen tiba? Padahal adzan tak ubahnya seperti jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas ketika terlantunkan di tengah hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, akhir-akhir ini jumlah jamaah lebih mendingan dibandingkan ketika kemarau meradang. Ia sendiri heran, kenapa iman harus kendur atau bahkan luntur hanya karena cuaca? Pernah juga ia menjadi imam sunyi. Datang seorang diri, melantunkan azan dan iqamah, sampai shalat sendirian karena tidak seorang pun hadir. Wak Sur, demikian kakek itu biasa disapa hanya bisa menahan napas patah-patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa hidupnya memang ingin dihabiskan untuk beradzan. Ia pernah berkata dengan suara patah-patah di hadapan jamaah shalat, “Selama masih hidup, saya akan tetap adzan. Hanya ini yang saya bisa.” Intinya ia mengutarakan keinginan untuk adzan di surau. Dengan keterbatasan suara yang sangat lirih ia bertakbir, bersyahadat, menyeru shalat dan mengajak ke kemenangan, bertakbir dan bertahlil, mengesakanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat Wak Sur, mendapat sambutan baik. Selama ini memang tak ada yang seistqomah seperti dirinya menjadi muadzin. Siapa mau di tengah pagi buta mesti bangun mendahului suara kokok ayam dan lolongan anjing? Siapa berkenan adzan tengah hari, ketika banyak orang tengah bergelut mencari tuhan-tuhan kecil? Siapa sempat, saat sore hari pergi ke tajug, dimana banyak orang tengah sibuk pulang kerja dengan kondisi letih? Masa maghrib yang begitu cepat sementara lelah belum juga pulih, dan lebih memilih istirahat saat kumandang Isya. Tak ada  yang sesempat itu selain Wak Sur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu desah suara kakek menyebar ke seantero kampung. Lima kali sehari. Subuh, di pagi hari sebelum cahaya. Tengah hari, menjelang, masa dan sesudah senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sempat ada seseorang mendahuluinya adzan. Saat sudah memasuki waktu adzan, Wak Sur belum tampak. Usai shalat, Wak Sur mendekati orang itu. Dengan suara lirih berkata, “Harus dengan amalan apa untuk mengakhiri hari-hari saya yang sebentar lagi mati selain dengan adzan.” Seketika orang itu segera meminta maaf lantaran merasa telah lancang, mendahului sang kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ada satu hal yang tak ingin diingat lagi oleh lelaki tua itu. Masa lalu. Ya, masa lalu. Tak ingin secuil pun  kenangan hinggap di pikirannya. Ia tak mau mengingat semua itu. Karena itulah ia menjadi sebatang kara. Kebiasaan laknat membuatnya kehilangan istri yang dicintainya. Masa di mana, saat mudanya lebih banyak dihabiskan di meja judi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai nelayan, ia sebenarnya lihai memainkan jala dan menangkap ikan. Hanya saja, hasil melaut ia pertaruhkan di antara lembar-lembar domino, membiarkan istrinya yang sedang mengidap asma di rumah sendiri, kesepian. Tak peduli dapur sudah lama tidak berasap. Tapi, semua itu tak membuatnya berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaut bisa seharian tanpa peduli waktu. Purnama - saat air laut pasang - adalah malam yang tak pernah ia lewatkan. Membuatnya dengan mudah menjebak ikan-ikan yang tampak dalam pandangan mata di bawah siraman terang bulan. Hasil melaut saat bulat bulan sempurna biasanya melimpah. Ia senang bukan main. Itu artinya kesempatan untuk bertarung di meja judi jadi lebih banyak. Peluang untuk menang pun dalam piki-rannya akan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, ia pulang melaut pukul dua pagi. Tidak langsung  menuju rumah, melainkan langsung menuju ke tempat teman-temannya mengadu. Ia yakin, kekalahan beberapa waktu lalu akan terbayar malam itu juga. Di meja judi ia bisa seharian. Waktu terlewatkan  begitu saja. Subuh masih tetap jalan. Hingga matahari terbit, ia masih asyik masyuk diliputi iming-iming kemenangan peraduan. Hari beranjak siang, ia masih belum  beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu benar-benar miliknya. Semua taruhan lawannya terkuras habis. Berpindah di genggamannya. Ia menang telak! Tepat tengah hari, ketika semua sudah usai, para pengadu nasib tergeletak kelelahan. Dan tidur di bangsal-bangsal beralaskan tikar kumal. Kartu domino dan kulit kacang masih berserakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa tapak kaki melangkah menuju rumah, langkah kaki seketika terhenti. Ia merasakan seperti ada desir angin yang menyentuh hati saat tiba-tiba terdengar suara adzan di tengah hari. Lantunannya mengalir syahdu. Ia langsung lemas. Air matanya tiba-tiba menderas membasahi kedua pipi. Seluruh tubuhnya merinding. Hatinya bergetar. Lisannya tak mampu berucap. Seketika bergenggam uang di tangan ia lepaskan. Dua orang rekannya yang kebetulan saat masih terjaga setengah heran dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingat istri yang terbaring lemah. Tanpa berpikir panjang, setelah adzan usai, ia berlari kencang ke rumah. Saat tiba, langsung bersimpuh di kaki istrinya yang tengah sekarat. “Ajari aku wudlu, aku ingin shalat” katanya lirih. “Aku ingin shalat, ajari aku wudlu,” katanya sambil menggoyangkan tubuh istrinya. Tubuh perempuan di depannya tak bergerak sama sekali. Ia baru berhenti ketika sadar bahwa istrinya sudah tak memiliki napas. Ia tak mampu melakukan apa-apa. Hanya meneriakkan, “Tidak!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu, ia lebih memilih menyendiri. Hingga tersadarkan bahwa ia telah menyia-yiakan waktu untuk urusan yang tidak perlu. Sejak saat itu pula ia merasa menjadi lelaki paling bersalah di dunia. Ia menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, hari-harinya kini lebih banyak ia habiskan untuk melakukan hal yang sekiranya bisa menghapus dosa masa lalu. Setiap kali mendengar adzan, merinding ia dibuatnya. Sejak saat itulah, ia menghadap Kyai Mashudi meminta mengajarinya adzan. Ia bertekad untuk menjadi seorang muadzin. Pikirnya, mendengar saja membuat hati bergetar, apala-gi melantunkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu itulah yang benar-benar tak mau diingat. Ia adalah kini. Seorang lelaki tua yang hidup sebatang kara, yang tidak melewatkan untuk mengumandangkan adzan. Hing-ga di usia senja.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan Wak Sur makin lama makin memprihatinkan. Jalannya saja sudah tertatih. Suaranya sudah melenyap. Sesekali batuk ketika melantunkan adzan, sampai terdengar ke pengeras suara. Wak Sur susah dicegah. Tekadnya benar-benar  sudah bulat. Ingin adzan sampai mati. Kalau belum mati, ia akan tetap adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Wak Sur melantunkan adzan subuh. Suara yang terdengar dalam lantunan adzan nyaris hampa. Seperti suara berbisik. Tanpa ekspresif, tanpa penjiwaan. Sama sekali tak menggerakkan hati untuk segera beranjak. Menyaksikan hal itu, para jamaah sempat saling tatap. Keagungan Sang Pemilik Semesta ia lantunkan lirih. Syahadat, mengesakan Tuhan dan bahwa Muhammad Rasul terakhir, ia lantunkan dengan mengandalkan suara-suara yang hampir patah. Seruan shalat, menuju kemenangan. Dan, selesai mengucap Lailahaillallah ia ambruk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera tiga orang dari jama’ah sholat subuh membopongnya ke Rumah Sakit Pertamina. Ia masih sadar ketika ia berada saat dalam perjalanan menuju Rumah sakit, sekonyong - konyong ia berdzikir seakan-akan tidak pernah terjadi apapun. Sesampainya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), ia disambut seorang dokter cantik nan muda berjilbab, Dr. Hanum namanya. Setelah diperiksa ternyata ia mengalami peradangan mematikan yang menyerang sebagian besar jantung.&lt;br /&gt;                                         &lt;br /&gt;Setelah itu Wak Sur tak bergerak. Meninggal? Memastikan akan kematian Wak Sur, Dr. Hanum meletakkan stetoskopnya di atas dada Wak Sur. Dr. Hanum terkejut saat menempelkan stetoskop bukan mendengarkan detak jantung melainkan mendengar suara adzan. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhaduallailahaillallah.” Dokter Hanum terkejut mengernyitkan dahi. Memastikan kebenaran apa yang ia alami, ia kembali meletakkan stetoskop di atas dada Wak Sur, suara adzan masih terdengar di telinganya hingga sampai selesai. Itu benar-benar suara adzan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-5765629516631894479?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/5765629516631894479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=5765629516631894479' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/5765629516631894479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/5765629516631894479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/09/suara-adzan-di-jantung-muadzin.html' title='SUARA ADZAN DI JANTUNG MUADZIN'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTRzrlAnxI/AAAAAAAAADs/hfDPB1ePqrw/s72-c/Adzan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2872959104875801543</id><published>2008-09-08T00:06:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T00:09:13.826-07:00</updated><title type='text'>BERLABUH DI MERAPI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTPaFnTYGI/AAAAAAAAADk/6ThWXC1f4_8/s1600-h/gembel.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTPaFnTYGI/AAAAAAAAADk/6ThWXC1f4_8/s320/gembel.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243543913256673378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi merapi masih diselimuti kabut tebal. Hamparan hijau tampak sejuk dipandang dan rapi. Gemericik air sungai riuh meramaikan suasana pagi. Sementara buluh embun masih menempel di atas daun-daun dan rerumputan. Pak Karso masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Sehabis shalat subuh, ia langsung memeluk bantal melanjutkan tidur yang sempat tertunda semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang nanti rencananya akan merumput untuk kawanan mendo di belakang rumahnya. Pagi-pagi rumput masih basah sehingga ia masih belum mau beranjak. Sementara Mbok Dijah, istri Pak Karso sedari pagi sudah berasap di dapur, seperti biasa menyiapkan sarapan, persiapan untuk makan siang hingga makan malam. Di Jawa, sudah terbiasa memasak sekaligus untuk makan satu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengasap seperti biasanya Mbok Dijah berangkat ke sawah untuk menyiangi rerumputan liar yang tumbuh di ladang miliknya. Di atas petak sawah, tumbuh padi yang mulai menguning. Tidak untuk waktu yang lama, padi yang sudah menguning itu akan segera dipanennya. Biasanya selepas dari sawah ia mampir ke hutan mencari kayu bakar. Jarak tempat mencari kayu bakar dari sawah tidak terlalu jauh, tempatnya bersebelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari perlahan menanjak, sengatan di kala siang terasa begitu hangat. Pak Karso sudah berangkat merumput. Dengan ditemani keranjang dan sabit ia mulai membabat hijau rumput yang tumbuh subur di kebun, bahkan tak jarang untuk mendapatkan rumput segar ia sempatkan mendaki hingga ke tengah-tengah Merapi. Naik turun bukit sudah menjadi hal biasa bagi Pak Karso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditatapnya gundukan tanah kokoh yang menjulang tinggi dihadapannya, alih-alih melihat kepulan asap dari puncak merapi. Tak lama setelah itu, kembali ia merumput, keranjangnya masih setengah diisi rumput. Sebelum rumput itu penuh dan keranjang tak mampu menampungnya, ia tak akan pulang. Pantas saja, ternak pak Karso gemuk-gemuk. Padahal tubuhnya tak segemuk kawanan kambing yang ia pelihara. Kurus tapi masih kuat menempuh kiloan jarak menanjak. Akhirnya, keranjang itu penuh dengan rumput dan pak Karso pun bersiap-siap untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkejut Pak Karso ketika sampai di perkampungan, lalu lalang semua warga dengan bawaannya masing-masing. Ibu-ibu dengan bayi yang digendongan, bapak-bapak dengan beban pikulan di kedua pundak bahkan ada yang dibuntal dengan kain sarung. Entah apa yang ada dalam buntalan kain itu, beras, hasil kebun ataukah helai pakaian. Bahkan ada warga yang menggandeng, memboyong puluhan hewan ternak!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diletakkannya beban rumput yang melekat dibelakang pundak Pak Karso. Ia menatap heran. Semua-mua orang  sibuk mengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merapi dalam keadaan bahaya!” ucap seorang warga kepada Pak Karso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merapi mulai bereaksi!” ucapnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan Merapi? ucap Pak Karso sambil menatap gundukan tanah yang menjulang yang tampak kokoh dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak ada beberapa petugas, entah dari instansi mana, melakukan sweeping terhadap warga untuk segera mengungsi dari pemukiman dekat Merapi. melihat hal semacam itu, Pak Karso malah makin kebingungan, tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merapi dalam keadaan bahaya, demi keselamatan, diharapkan semua warga yang berada di lereng merapi agar secepatnya mengungsi,” ucap seorang petugas menggunakan megaphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada yang aneh dengan Merapi.” ucap Pak Karso kepada petugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merapi mulai bereaksi dan diramalkan untuk waktu yang tak lama akan meletus. Merapi dalam keadaan bahaya. Semua warga diharuskan mengungsi,” jelas petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Karso tak menyambut baik penjelasan petugas itu, baginya tak ada yang aneh dalam merapi. Merapi tak akan meletus, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah puluhan tahun saya hidup dengan merapi. Hari-hari saya ditemani merapi dan bahkan untuk makan pun dari gundukan tanah ini,” kata Pak Karso sambil menatap Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua warga selama ini berhubungan baik dengan Merapi. Dan saya lebih mengenal merapi daripada saudara. Bagaimana mungkin saya akan meninggalkan Merapi,” katanya berbicara seorang diri dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum terlihat oleh Pak Karso ada tanda-tanda merapi akan meletus, seperti belum terlihatnya binatang-binatang semisal harimau, kera, rusa yang turun dari gunung, semua akan baik-baik saja, Pak Karso membatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara petugas itu kembali menyerukan warga untuk mengungsi. Rumah Pak Karso berada di pinggiran lereng merapi dan jauh dari pemukiman penduduk sekitar. Dengan tak menghiraukan lalu lalang orang mengungsi, ia mengangkat kembali keranjang rumput yang tergeletak di atas tanah dan membawanya ke rumah. Sesampainya di rumah ia mendapati Mbok Dijah, istrinya sudah tidak ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawanan mendo yang ada dibelakang rumah masih ada di kandang. Kambing-kambing itu tampak tak tenang, terdengar suara berisik debukan kaki-kaki kambing Pak Karso, mungkin lapar. Ternyata benar. Di kandang tak tersedia rumput hijau untuk disantap kambing miliknya. Buru-buru ia menaruh hasil merumputnya dan cepat-cepat diberikan kepada kambing yang sedari tadi mengembik tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pikiran Pak Karso tak tenang, ia dihinggapi gelisah yang tiba-tiba menyerang. Sementara suasana di sekitar tampak lengang. Kopi yang selalu disediakan Mbok Dijah seusai merumput pun tak tersaji, ia tak tahu entah sedang ada di mana istrinya sekarang. Ia mendapati sepi di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grrunngn!!!!, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Hal itu membuatnya semakin panik di kesendirian. Suara gemuruh itu membuat sedikit getaran, sampai-sampai kursi yang ada di dekat meja menjadi sedikit bergeser. Ia benar-benar merasakan getaran itu, cepat-cepat ia menunduk. Getaran itu tak lama dan keadaan kembali tenang, sunyi.  Merasa keadaan sudah aman, tanpa pikir panjang, ia bergegas keluar rumah, menyusul istrinya yang entah ada mana. Pak Karso mendapati kesunyatan, di perjalanan ia tak mendapati orang berlalu lalang, apalagi berpapasan dan saling sapa. Saat itu benar-benar dalam keadaan lengang. Ia terus berjalan seorang diri dengan langkah kaki yang dipercepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, mendadak langkahnya terhenti. Beberapa jenak ia berdiri dan berpikir, teringat kawanan mendo yang ditinggalkannya di rumah. Bagaimana mungkin, aku pergi tanpa mendo, pikirnya.  Setelah berpikir beberapa jenak, ia memutuskan untuk kembali ke rumah dan membawa kawanan mendo untuk diikutkan bersamannya. Terpaksa, ia menyusuri balik jarak yang tadi ia tempuh. Perasaan khawatir akan mendo miliknya terpandar dari raut wajah yang menyimpan seribu kecemasan akan kambing-kambing miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak hendak ke mana, semua warga sudah mengungsi ke utara,” ucap salah seorang petugas yang tadi siang ditemuinya. Pak Karso pun menghentikan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membawa mendo milikku yang masih ada di kandang, kasihan mereka nggak ada  yang ngurus,” jawab Pak Karso ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keselamatan bapak lebih penting, bapak sebaiknya ikut saya ke kamp pengungsian,” tawar petugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Aku akan tetap membawa kawanan mendoku untuk aku ikutkan dalam pengungsian. Saya tidak akan pergi tanpa mendo milikku,” Pak Karso tetap berkeras dalam pendiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak ke sana dulu saja, nanti saya menyusul,” ucap Pak Karso. Tanpa menghiraukan petugas itu, Pak Karso melanjutkan langkah menuju rumah. Tak berselang lama, ia pun sampai di rumah. Namun ia terkejut saat menuju belakang rumah, ia mendapati pintu kandang dalam keadaan terbuka. Kawanan mendo miliknya pun tak ada. Ia panik bukan kepalang. Saat itu ia terburu-buru pergi, sampai-sampai ia lupa untuk menutup pintu kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar lirih suara embikan  dari jarak yang tak begitu jauh dari tempat dimana Pak Karso berada. Cepat-cepat Pak Karso mengarahkan pendengarannya kearah suara embikan itu, alih-alih itu adalah suara embikan kambing miliknya. Dugaan Pak Karso tepat, kawanan kambing miliknya sedang berjalan menuju selatan ke arah merapi!. Pak karso berlari mengejar kambing-kambing yang sedang bergerak menuju selatan. Ia begitu heran, semakin cepat ia melangkah, semakin jauh pula kambing-kambing itu dari penglihatannya. Sampai-sampai  jarak kawanan kambing bergerak tak terjangkau oleh kedua matanya yang sudah tua. Padahal arah selatan adalah arah menanjak, ke puncak Merapi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Karso tampak letih, ia tak bisa melanjutkan langkahnya menanjak, sementara kawanan mendo miliknya masih terus menanjak tanpa menoleh sedikitpun ke arah Pak Karso yang sedari tadi membelakanginya. Kawanan kambing itu semakin menuju puncak. Bentuknya mengecil, mengecil dan mengecil hingga hilang diujung pandangan mata. Tatapan mata Pak Karso tertuju pada puncak merapi tempat kawanan kambing miliknya berada. Subhanallah, kawanan kambing itu mencapai puncak yang mengeluarkan asap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat jelas oleh Pak Karso kepulan asap yang membumbung dari kawah puncak merapi. Semakin lama kepulan asap itu semakin membesar disertai getaran dan hentakan yang cukup berat. Disertai bunyi kedebam, batu-batu bermuntahan dari dalam merapi, tak berselang lama muncul sesosok yang tak asing bagi Pak Karso dari puncak merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok itu mirip dengan beberapa mendo miliknya, tetapi dalam wujud besar dan bertanduk. Kepulan asap seolah berubah menjadi mendo raksasa, menjadi Wedhus gembel. Bergerak menyusuri lereng-lereng Merapi disertai bebatuan yang berguguran. Pohon-pohon pun diterjangnya. Pak Karso hanya terduduk tak bisa berbuat apa-apa saat melihat wedhus gembel itu bergerak cepat kearahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2872959104875801543?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2872959104875801543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2872959104875801543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2872959104875801543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2872959104875801543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/09/berlabuh-di-merapi_08.html' title='BERLABUH DI MERAPI'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTPaFnTYGI/AAAAAAAAADk/6ThWXC1f4_8/s72-c/gembel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-9191815498858826097</id><published>2008-09-07T23:23:00.000-07:00</published><updated>2008-09-07T23:59:18.694-07:00</updated><title type='text'>QASIDAH GURUN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTMwyuJk6I/AAAAAAAAADU/PHOeHJzy0NM/s1600-h/pasir-berbisik.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTMwyuJk6I/AAAAAAAAADU/PHOeHJzy0NM/s320/pasir-berbisik.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243541004787225506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu pucat pasi. Di wajahnya keringat menetes. Ia tampak lelah, juga panik. Berjalan membawa beban diseret sendirian. Perlahan, ia menyeret sesuatu yang tampak berat. Beban itu seukuran perempuan itu. Terbungkus karung goni yang ujungnya diikat dengan ikatan simpul mati. Sesekali matanya mengintai ke arah kanan kiri jalan yang ia lewati. Sekedar memastikan apakah ada orang yang melihat atau mengawasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telapak tangannya mengeras. Terus menerus memegang tali pengikat beban yang tak mampu ia bawa dengan langkah cepat. Ia menyempatkan istirah sejenak. Sekedar melemaskan otot-otot yang tegang. Mengembalikan jiwa-jiwa yang terasa kaku. Juga menghindar dari mentari yang begitu menyengat. Sungguh sengatan yang berbeda yang ia rasakan. Berharap mendapat seteguk air yang bisa mengaliri kerontangnya tenggorokan, namun tak ia dapatkan. Ia hanya berkali-kali menelan ludah sekedar membasahi. Tak siapapun ada. Yang ada hanya hamparan pasir halus yang membentang luas hingga batas mata memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak lelah. Sampai-sampai di sela istirahnya tertidur. Buntalan goni ia jadikan sebagai bantal tempat kepala berpijak. Lelap benar dalam tidurnya. Padahal ia berada ditengah terik. Lengan kirinya menelangkup kedua mata untuk menghindari sengatan matahari, juga terpaan debu yang beterbangan. Sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaan angin membuat perempuan itu terbangun. ”Ah, aku tertidur rupanya,” katanya. Sementara tinggi matahari masih sepenggalah. Ia beranjak dari masa istirah. Membersihkan debu-debu yang menempel di kulit tubuh, juga yang menempel di baju lusuh yang ia kenakan. Beban itu kembali ia seret, melekatkannya ke pundak, sambil berjalan dengan langkah berat. Peluh yang ia kucurkan segera dibasuh dengan lengannya.&lt;br /&gt;Sesekali perempuan itu meringis, menahan perih sakit. Ia tetap berjalan. Di depan masih luas membentang, pandangan mata, masih jatuh pada hamparan pasir. Entah sampai kapan perjalanan yang ia tempuh akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah terpikir oleh perempuan itu untuk meninggalkan saja beban yang ia bawa. Dengan begitu, mungkin tak harus berlelah-lelah. Ia bisa berlari sekuat tenaga dengan lepas tanpa harus terikat beban. Tidak sekali-kali pikiran itu terlintas. Tebersit pun tidak. Tampaknya ia akan selalu menyeret beban yang ia bawa. Entah sampai dimana akhir perjalanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara hari beranjak gelap. Perempuan itu masih tetap berjalan. Angin gurun tak menyurutkan langkah. Dingin menusuk. Suasana gelap. Angin berhembus. Membuat rambutnya terurai membentuk gelombang. Sunyat benar malam itu. Tak ada secercah cahaya bintang pun yang memberikan cahaya. Sekedar menemani perjalanan mengiringi. Jangankan bertabur bintang, bulan pun tak tampak malam itu.&lt;br /&gt;Lajunya saat menapak mendadak terhenti. Merasakan ada sesuatu yang aneh di kepalanya. Pandangan mata seakan-akan berputar. Seakan jadi poros. Memutar, memutar hingga pandangan kabur. Putaran itu semakin kuat dan “Brakk!!” ia tersungkur, menggeletak di atas gurun seraya memeluk beban yang ia bawa. Tak ada suara. Hanya sedikit gemuruh. Gelap semakin pekat. Sunyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sudah kembali muncul. Tak ada kokokkan ayam atau lolongan anjing pernanda pagi. Matanya berkedip-kedip terkena kilauan cahaya. Ia terbangun dari tidak sadarnya. Mencoba beranjak dari geletak, ia tak mampu. Berkali-kali mencoba bangkit, tetapi tak bisa. Ia kesal. Dipukulnya hamparan pasir dengan genggaman tangan. Tak ada air mata yang menetes. Mata yang tak mampu berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah usaha menggapai bangkit, tiba-tiba di depannya hadir sosok lelaki berjubah. Tak mampu ia melihat wajah itu karena semua tertutup jubah yang ia kenakan.. Segera ia memeluk beban yang ia bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum...” lelaki berjubah itu memberi salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa…wa…wa” perempuan  itu gagu. Tak bisa menjawab salam. Diulangnya salam itu hingga tiga kali. Tapi tetap saja, ia tak mampu menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa namamu?” Lelaki berjubah itu kembali menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetar seluruh tubuh perempuan itu. Roman mukanya menyimpan kekhawatiran yang amat dalam. Perempuan itu tak bergeming. Tetap diam dengan tatapan menunduk. Diulangnya pertanyaan itu. Tak lama,  bibir perempuan itu mulai bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Narsih. Nama saya Narsih, Kinarsih.” Jawabnya dengan nada pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kemana kau seorang diri dengan bawaanmu itu,” tanya balik lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu seakan menohok perempuan itu. Dalam diam ia justru bertanya pada diri,“Hendak kemana saya pergi, saya sudah berjalan begitu jauh namun saya tak punya arah. Kemana tujuan yang ingin saya capai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenak merenungi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!!” perempuan itu tiba-tiba seperti orang baru sadar dari lamunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kakiku melangkah bukannya tanpa arah. Tapi saya akan membawa jauh-jauh…,” perempuan itu tak melanjutkan bicaranya. Matanya menatap beban yang ia bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau tak lanjutkan bicaramu. Apa yang kau bawa.” Lelaki itu tampak penasaran.&lt;br /&gt;“Tidak! siapapun tak boleh tahu apa yang aku bawa.” Jawabnya ambil memegang erat bawaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku takkan memaksamu untuk menunjukkan apa yang kau bawa. Ada satu hal yang kau perlu tahu, bahwa tempat ini tak berbatas. Sampai batas yang tak tentu, akan tetap seperti ini. Yang akan kau temui hanya hamparan pasir. Jadi percuma saja kau melakukan perjalanan yang tak kau ketahui arah yang kau tuju. Sebenarnya bagaimana bisa kau ada di tempat ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu diam beberapa jenak merenungi kata-kata lelaki berjubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa saya ada di sini?” katanya dalam benak.  Lalu menerawang jauh ke belakang, mencoba mengingat-ingat bagaimana ia bisa berada di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana begitu tenang. Hanya sedikit gemuruh angin. Juga kicauan burung manyar. Pikirannya, sekali lagi, menerabas jauh hingga sampai pada suatu titik dimana ia berada pada ketidakpercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merabai diri, memegang kedua pipi, tangan kaki dan semua tubuh yang melekat dalam diri perempuan itu. Terasa ada yang aneh saat Kinarsih merabai pergelangan tangan. Ia tak mendapati denyut nadi pergelangan. Ia terkejut saat tangan kanan menekan denyut nadi, urat-urat yang ada dilengannya terburai keluar. Sebagian ada yang putus. Darah yang ada disekitarnya mengering. Perempuan itu dibuat gila tidak percaya melihat urat-urat yang keluar tercerabut laksana akar kehilangan tanah. Yang lebih mencengangakan, sebilah pisau masih menancap di lengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau telah membunuh dirimu sendiri,” ucap lelaki berjubah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tidak, ini tidak mungkin terjadi,” ia mencoba membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi ini sudah terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau salah, ketika kau menghindar dari masalah dengan jalan bunuh diri. Lepasnya raga dari jiwa itu merupakan awal dimulainya kehidupan baru yang tak mungkin dikem-balikan ke keadaan semula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ujaran lelaki berjubah, tiba-tiba saja air mata perempuan itu mengalir. Matanya kini berkaca-kaca. Seketika itu juga, ia merasakan dahaga yang sangat. Ingin sekali rasanya meneguk tetes air. Kepada lelaki berjubah itu ia mengharap seteguk air. “Aku haus, apa  kau punya seteguk air,” kata perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau minum saja darah dan air matamu. Di sini, di hamparan pasir ini, tak akan pernah kau temukan oase untuk orang-orang yang memisahkan raga dari jiwa dengan tangan sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya seorang manusia lemah, yang tak mampu mengemban amanat hidup”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kelemahanmu pula tak bisa dijadikan sebagai alasan untuk kau mengakhiri hidup. Apapaun alasan itu, memisahkan raga dari jiwa adalah hal tak patut. Sekalipun untuk tujuan terhormat, layaknya harakiri. Bunuh diri adalah cara pengecut menuju kematian. Sekalipun dilakukan dengan cara berani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu terduduk diam dihadapan sesuatu yang terbungkus seukuran dirinya. Penyesalan itu datang. Meratap. Dibukanya tali pengikat karung goni itu, perlahan ia membuka tali itu. Ratapannya semakin menjadi ketika ia melihat dirinya terbungkus dalam karung goni itu. Wajah perempuan itu mendadak pucat seperti jasad sendiri yang ia tatap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harap kau orang terakhir yang melakukan tindakan bodoh. Sudah banyak orang-orang sepertimu saya temui. Yang terjadi adalah penyesalan tanpa arti. Mereka pun sama sepertimu yang menyeret jasad sendiri, entah mau dibawa kemana jasad yang sudah membusuk miliknya itu. Mereka, juga sama sepertimu, yang enggan meninggalkan jasad sendiri yang ia bawa. Padahal jasad itu sudah tak berguna. Mereka, termasuk juga kau, tak mampu berbuat apa-apa.  Untuk menggali lubang sendiri pun mereka tak mampu. Sayang, aku tak bisa berbuat banyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata yang terujar membuat perempuan itu merasa tersudutkan. Ia tak mampu bercakap apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku bertanya? Sebenarnya kau siapa,” katanya mengungkapkan pertanyaan yang sudah lama terpendam sejak pertama kali bertemu dengan lelaki berjubah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku malaikat penjaga gurun ini.” Dan setelah itu sunyi. Tak ada kata-kata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-9191815498858826097?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/9191815498858826097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=9191815498858826097' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/9191815498858826097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/9191815498858826097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/09/berlabuh-di-merapi.html' title='QASIDAH GURUN'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SMTMwyuJk6I/AAAAAAAAADU/PHOeHJzy0NM/s72-c/pasir-berbisik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-3979125147136862678</id><published>2008-09-04T01:03:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T01:07:08.906-07:00</updated><title type='text'>DEADLINE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-W7SI6W9I/AAAAAAAAACU/-8TZqoroazY/s1600-h/JAM+PASIR.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-W7SI6W9I/AAAAAAAAACU/-8TZqoroazY/s320/JAM+PASIR.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242074436508212178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 00.15, saat pagi baru mulai beberapa langkah. Sebuah email masuk. Sudah cukup lama saya menanti balasan hasil editan dari Pemred dengan harap-harap cemas. Isinya cukup menyentakkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“PERHATIAN! PERHATIAN! PERHATIAN!&lt;br /&gt;Harap hati-hati, ini pelajaran berharga bagi kita semua tentang tulisan yang bisa berakibat fatal. Cover halaman satu, iklan seharusnya ditulis ......’Tahun yang baru, bukan Tuhan yang baru! Kalo tuhan yang baru, nanti ada kitab baru, nabi baru dst. Untung ketahuan, kalau tidak, kita tamat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu datang saat pagi baru beranjak beberapa menit saat deadline. Saat mata masih menatap layar komputer, memelototi penggunaan tanda baca, pemenggelan kata demi kata, kalimat demi kalimat, mencari kemungkinan ada kesalahan dari setiap naskah yang akan dicetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deadline, bagi saya sudah jadi harga mati. Tak bisa ditawar. Tidak bisa tidak surat kabar harus siap dibawa ke percetakan. Saya mengartikan deadline sebagai garis kematian. Kata itu saya urai bebas hingga menjadi dua kata yang memiliki arti beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dead yang berarti mati, kematian, dan line yang saya artikan sebagai batas, bisa juga berarti baris, mungkin juga garis. Ya, garis atau batas kematian. Media akan mati, ketika sudah ingkar deadline. Batas yang tak bisa ditawar-tawar. Sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu benar-benar membuat saya shock. Membuatku tak mampu berucap apa-apa. Sama halnya dengan Richard, Ade dan juga Ramdhan. Saya tak berani membayangkan, kalau pesan itu terujar langsung dari lisan Pemred, tidak melalui sebuah email. “Pemred pasti marah besar,” pikirku. Pesan yang tertulis dalam huruf kapital dan penuh tanda seru, setidaknya menunjukkan, betapa Pemred benar-benar marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat, suatu ketika Pemred pernah berujar, betapapun lelahnya kita, detail jangan sampai terlupakan. Salah satu huruf saja akibatnya bisa fatal. Jangankan sehuruf, kesalahan menulis pada tanda titik koma saja akan menjadi masalah besar. Apalagi kesalahan logika? Betapa pun kredibilitasnya sebuah media, kerja keras akan menjadi sia-sia ketika terjadi kesalahan dan kita akan dianggap bodoh. Detail, ingat! Lagi-lagi detail. Detail bukanlah perkara sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berubah menjadi Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar fatal dan tidak bisa dimaafkan. Kalau saja itu benar-benar terjadi, maka habislah. Kalimat itu tertera pada redaksi iklan ucapan selamat natal dan tahun baru dari mega proyek yang akan membuat kota ini menjadi lebih berwarna, bangunan sembilan tingkat lengkap dengan segala fasilitas. Mengalahkan Mal terbesar kota untuk saat ini. Tahun depan mega proyek itu dipastikan jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ade, disainer iklan, juga terlihat lemas, tak mampu berkata apa-apa. Saya lihat matanya sudah terlihat lelah, sudah dua hari ini mematut diri di depan layar monitor, mencermati satu demi satu bagian, mencermati kemungkinan ada kesalahan untuk segera ia koreksi. Detail bukanlah perkara main-main. Saya, yang masih shock, seringkali menyalahkan diri. Saya kecolongan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan mengembara kemana-mana, sempat juga membayangkan kalau peristiwa itu benar-benar lolos dan terjadi. Dan, kalau memang itu benar-benar terjadi, mungkin ceritanya akan lain, bisa jadi seperti kisah berikut ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada tanda-tanda langit bakal mendung. Semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala. Sebanyak 200 ribu ekslempar telah tercetak rapi, secepat kilat langsung menyebar di seantero kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, hari itu terasa agak berbeda. Ada perasaan lain yang mengganjal. Tapi apa? Belum terjawab. Berkali-kali saya menghubungi nomor kantor, namun selalu sibuk. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke kantor sehari setelah koran terbit. Sesampainya di kantor, saya melihat semua orang di kantor tampak pucat. Hening. Tidak seperti biasanya. Saya berjalan penuh dengan tanya menuju mejaku. Di meja, sudah tergeletak surat kabar yang masih hangat. Edisi terbaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak?” kata Ilalang, Sekretaris Redaksi tiba-tiba dengan suara parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kesalahan fatal di halaman pertama pada redaksi iklan selamat natal dan tahun baru. Kesalahan terletak pada tahun yang tertulis menjadi tuhan” jelasnya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya membelalak terkejut. Aliran darah dan nafas seakan berenti seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru saya mengecek kebenaran yang disampaikan Ilalang. Saya segera menyambar surat kabar yang tergelatak untuk kubaca detail, saya berharap apa yang disampaikan Ilalang adalah sebuah kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemas sudah persendianku. Apa yang disampaikannya nyata-nyata benar. Kesalahan itu realita yang terjadi sebenarnya. Kesalahan itu benar adanya. Kepanikkan itu semakin menjadi, selang beberapa jam surat kabar itu disebar, telepon tak berhenti berdering memprotes, kita dianggap sebagai media yang menghina keberadaan tuhan dengan melahirkan tuhan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokkannya semua media massa menurunkan headline kemunculan Tuhan baru yang tidak lain diarahkan kepada surat kabar tempat saya bekerja. Sudah bisa ditebak sebelumnya, akan ada ribuan massa dari berbagai institusi agama akan turun ke jalan. Sinyal-sinyal itu sudah terdeteksi sejak mula. Tanda kantor redaksi bakal digerebeg ribuan massa. Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan.&lt;br /&gt;Udara pengap mulai terasa di dalam kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan fatal, pada redaksi iklan halaman depan benar-benar telah menyulut amukkan massa, terutama golongan yang fanatik terhadap agama. Indonesia memang negera demokratis, tapi untuk urusan agama, jika ada yang menyinggung perasaan salah satu agama, bisa-bisa panjang urusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah negeri ini ramai dengan kemunculan nabi baru, kini tanpa ada satu pun yang menginginkan, telah muncul Tuhan baru, dan tidak menutup kemungkinan akan muncul kitab suci, ajaran atau bahkan rumah ibadah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kekhilafan yang tak sengaja. Tapi apa mau dikata, suasana sudah panas. Massa merangsek masuk ke ruang redaksi. Mereka siap mengobrak-abrik kantor, teriakan untuk meminta Pemred keluar nyaris tak henti-hentinya. Keadaan malah semakin berguncang. Meminta maaf sudah bukan waktu yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gantung!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bakar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cincang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rajam yang telah melecehkan keberadaan Tuhan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kira-kira hujatan yang terlontar tiada henti-hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, muncul sekelompok orang yang meneriakkan hujatan itu mendekat ke arahku. Mereka membawa sebilah tongkat. Tongkat yang telah menghancurkan jendela-jendela pintu, juga membuat lebur monitor. Tangan-tanganya siap mengacungkan lempang kayu untuk disabetkan ke arahku. Sementara saya terjebak. Tak saya temukan pintu keluar. Terpojok. Mereka sudah persis di depanku. Tak banyak yang saya lakukan selain melindungi diri dengan kedua tangan yang kulekatkan di atas kepalaku. Dan....Ahh!!! &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Richard menyadarkanku dari lamunan. Cukup mengagetkan, lantaran ia menabok pundakku dengan keras. “Ayo cepetan ganti, bapak sudah menunggu,” katanya. Gelagapan saya mencoba mengembalikan alam bawah sadarku yang terbang entah ke mana, untuk saya tarik kembali ke dalam alam bawah sadar. Lamunan membuatku larut. Sampai-sampai saya lupa, bahwa redaksi yang menuliskan Tuhan mesti diganti Tahun. Awal yang tertulis Tuhan Baru menjadi Tahun Baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saya meralat. Usai menuliskan, saya tetap melototi satu persatu meski mata sudah basah lantaran terlalu lama menatap monitor. Awas jangan sampai ada yang salah. Gelombang warna yang terpancar dari layar monitor memaksa mata berkedip berkali-kali. Halaman demi halaman kupelototi satu persatu tiap kata yang terangkai. Hingga sampai pada satu judul naskah yang persis menggambarkan kondisi saya saat sekarang ini. “Saya Shock!” begitu judul artikel yang sedang saya perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah artikel yang menuliskan perjalanan hidup seorang bos keretek yang penuh drama. Dalam artikel yang saya tulis, dikisahkan, ia mengalami satu fase menuju kema-tian untuk menemui tuhan, namun ia masih bisa dipinjami nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia dalam kondisi koma, tak sadarkan diri selama beberapa bulan. Di rawat, di sebuah ruang khusus. Kebanyakan orang-orang yang koma sudah lanjut. Ia sendiri paling muda. Selama itu pula, dalam alam bawah sadar, ia menemui satu persatu anggota keluarganya. Mulai dari isteri, anak-anak, sampai kerabat dan teman dekat seakan mau pamit dari dunia ini. Untuk pergi menemui mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pasrah. Sampai-sampai dalam artikel itu ia bilang, “Saya pasrah, Kalau pun pinjaman nafas saya sampai detik ini, silahkan ambil,” katanya. Akhir cerita itu, ia selamat setelah melewati operasi yang telah tiga kali gagal, karena ketidaksiapan mental. Setelah sembuh ia berkata, “Mungkin Tuhan masih memberi kesempatan buat orang bejat seperti saya untuk segera bertaubat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat, saat usai wawancara dengan bos rokok asal Malang di suatu hari di awal senja sampai senja itu tenggelam. Saya melihat ia mengambil seratus ratus ribuan sebanyak lima lembar dari dompetnya, lalu dimasukkannya ke dalam amplop putih.&lt;br /&gt;“Sebagai tanda terima kasih,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat diam beberapa jenak. Jantung berdegup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf  Pak, saya tidak bisa menerima ini,” kata saya sesantun mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap wartawan yang wawancara juga saya kasih kok. Hitung-hitung uang bensin,” ia mendesak. Pikirku, saya harus segera pergi dari tempat ini, kalau tidak saya bisa tamat gara-gara menerima amplop itu. Berkali-kali ia mendesak untuk aku menerima amplop berisikan setengah juta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih banyak pak, atas perhatiannya. Bukannya saya tak mau menghormati pemberian dari bapak. Bapak sudah meluangkan waktu interview saya sudah beruntung. Komitmen kami, tidak menerima pemberian dalam bentuk apapun dari nara sumber.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan itu, ia agak terkejut sekaligus tercengang.Di tengah ketercengangannya, saya segera pamit, karena tugas liputan saya sudah usai.&lt;br /&gt;Saya mengendarai sepeda motor, terlihat jelas jarum penunjuk bensin dalam speedometer itu mengarah pada huruf E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di kantor, perut terasa lapar. Beruntung, ibu warung di depan masih buka. Saya menunaikan hajat untuk mengisi kekosongan perut. Sepiring nasi setakaran membukit, dengan lauk ikan kembung dilengkapi sayur daun singkong dan sambal. Rasanya tak terkatakan. Usai makan, saya membuka dompet, dan ternyata kosong, tak ada sepeser pun! “Bu, catat di rekening saya saja ya bu. Bayarnya minggu depan.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-3979125147136862678?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/3979125147136862678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=3979125147136862678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/3979125147136862678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/3979125147136862678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/09/deadline.html' title='DEADLINE'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-W7SI6W9I/AAAAAAAAACU/-8TZqoroazY/s72-c/JAM+PASIR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-3716800411628526633</id><published>2008-09-04T00:50:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T00:59:29.152-07:00</updated><title type='text'>LELAKI YANG TAK PERNAH TIDUR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-UgjzPioI/AAAAAAAAACM/tY0Nh3GRxv0/s1600-h/siluet2.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-UgjzPioI/AAAAAAAAACM/tY0Nh3GRxv0/s400/siluet2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242071778369440386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen : Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu malam mata lelaki itu masih belum terpejam. Hanya ditemani gelap dan asap rokok. Istrinya sudah dari tadi nyenyak dalam balutan selimut. Sesekali ia menatap perempuan yang menjadi teman hidupnya hingga kini. Malam itu benar-benar sunyat. Hanya terdengar suara detak jam dan juga decak cicak yang mengintip malu melalui angin-angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu berjalan perlahan menuju jendela kamar. Dibukanya jendela itu. Slap! seberkas cahaya bulan menyusup dengan kecepatan tiga kali sepuluh pangkat delapan meter per detik. Begitu cepatnya sampai-sampai ia tak bisa mengamati bagaimana cahaya itu bisa menyelasap. Sepertinya, sinar bulan itu sudah menunggu lama untuk mengisi ruang gelap yang ada di sela-sela kamar hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menatap asal sinar itu dengan kagum. Bulatan cahaya lembut itu mengawali dengan senyuman. Lelaki itu pun membalasnya dengan senyuman. Lelaki dan rembulan sama-sama tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak pernah bisa tidur di malam hari, maukah kau menemani aku dalam keterjagaanku,” ucap lelaki itu pelan kepada cahaya bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan selalu ada di waktu malam. Meskipun harus sendiri, ketika semua-mua mata yang ada di bumi sudah terpejam, aku tetap terjaga. Apalagi ada seorang teman, kita bisa berbicara apa saja sampai pagi,” jawab bulan dengan tenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ups! Tutup jendela ini segera, aku takut membuat ia terbangun,” ucap bulan tiba-tiba ketika melihat istri lelaki itu menggeliat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum tidur sayang,” kata perempuan itu sambil merapikan rambutnya yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau buka jendela itu, bukankah udara di luar begitu dingin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya sedang mencari ketenangan. Di luar sana begitu tenang. Kalau mengganggu, baiklah aku tutup saja jendela ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu jarum jam menunjuk angka tiga pagi. Sebentar lagi akan ada suara kokok ayam membangunkan mata yang terpejam. biasanya lengung ayam itu disusul dengan suara adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, sepertinya untuk saat ini kita tak bisa berlama-lama bicara,” ucap lelaki itu sambil mengantarkan cahaya bulan keluar melalui jendela. Bulan itu mengangguk mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu sudah berada di samping istrinya. Begitu cepat istrinya tertidur lagi. Sementara lelaki itu masih terjaga, sambil membayangkan senyum bulan. Tiba-tiba cahaya itu melewati celah-celah jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau apa kau datang lagi,” ucap lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin mengucapkan sampai ketemu lagi, karena waktuku tak lama. Sampai ketemu esok malam. Aku harap walau kau sudah punya istri, kau masih mau untuk sekedar duduk ngobrol menemaniku, karena aku selalu sendiri di malam hari.” Lalu cahaya itu melesat jauh ke langit, melewati terpaan angin pagi. Gelap malam pun berangsur-angsur sirna menjadi pagi yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semalam aku bermimpi Mas berbicara dengan bulan. Kau diajaknya pergi ke bulan bersamanya. Cahaya itu melilit tubuhmu dan menarik ke bulan. Kau benar-benar jahat tak membawaku ikut ke sana, padahal aku juga mau ke bulan,” ucap istri lelaki itu.&lt;br /&gt;Lelaki itu tersentak kaget mendengar ucapan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke bulan? Ah, mama ada-ada saja. Itu kan hanya mimpi. Mimpi kok ke bulan, kenapa tidak ke Mars sana yang sudah jelas-jelas ada pertanda kehidupan,” ucap lelaki itu ringan. Bukankah apa yang diucapkan istrinya itu benar-benar aku alami semalam dan tentang ajakan bulan itu memang benar-benar apa yang ia katakan semalam, lelaki itu terdiam dalam bingung, matanya menatap kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, pagi-pagi kok sudah ngelamun. Apa semalam nggak tidur,” kata istri lelaki itu menyadarkan. Pandangannya menatap perhatian mata lelaki itu yang tampak sekali kelelahan. Mata yang dibuat terus terjaga oleh si pemilik mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, nggak apa-apa kok. Cuma lagi merasakan kehangatan kopi pagi. Semalam memang tidak bisa tidur tetapi tidak sampai pergi ke bulan kok. Itu kan mimpi,” ucap lelaki itu membela diri sambil mencubit kedua pipi istrinya dengan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya seandainya aku jadi ke bulan, kau ingin memesan apa sayang,” Lelaki itu menawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin, bulan itu tak merebut suamiku. Yang aku takutkan ketika kau sudah ke bulan kau tak mau pulang menemui istrimu yang ada di bumi,” ucapnya manja. Lelaki itu terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang lain?” tambah lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…” berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ya. Aku harap kau tidak tergoda oleh seorang nenek yang berkereta dengan kucing kesayangannya di bulan sana. Temani saja ia main, mungkin ia merasa kesepian karena selama ini ia bermain hanya ditemani kucing. Apalagi akhir-akhir ini aku sering tak melihat nenek itu bermain bersama kucingnya. Bila perlu ajak saja ia ke bumi. Barangkali saja ia sudah merasa jenuh hidup di bulan sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak meminta aku membawakan bintang?” lelaki itu menawarkan.&lt;br /&gt;”Tidak! Bagiku kau sudah cukup mencerahkan. Bahkan lebih cerah dari bintang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah obrolan itu berlanjut mengisi suasana sarapan pagi. Lelaki itu lalu duduk dihadapan komputer, jemarinya mulai memijit tuts-tuts aksara yang berbaris acak, tidak runut. Dengan ditemani kopi yang masih hangat, ia menuliskan apa yang baru saja ia bicarakan dengan istrinya. Tentang keinginan istrinya yang tak berlebih, yang memintanya untuk tidak tergoda oleh keindahan bulan, untuk mengajak nenek ke bumi bersama kucingnya seandainya ia jadi ke bulan sana. Bagi lelaki itu obrolan tadi bukanlah obrolan kosong yang tak berarti. Setidaknya obrolan itu menunjukkan kesetiaan sejati yang diperuntukkan bagi suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi gelap tiba, bulan tentu sudah bersiap-siap menemui lelaki itu. Sesuai dengan janjinya semalam. Tetapi akankah lelaki itu ke bulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, lelaki itu sudah berada di balik jendela. Jendela yang terbuka memaksa sinar bulan menyusupi kamar-kamarnya. Aku tahu sudah lama kau menunggu, makanya aku buka jendela ini, tanya lelaki itu kepada bulan. Bulatan cahaya itu tampak senang, terlihat dari pancaran cahaya yang semakin terang, seakan-akan ia mengucapkan terimakasih. Istrimu sudah tidur belum, tanya si bulan itu pelan. Si lelaki menggeleng. Belum, ia sedang membuatkan aku kopi untuk bisa menemanimu ngobrol karena dengan secangkir kopi pahit membuat aku tak akan bisa tidur, kecuali menghabiskan malam bersamamu, jawab lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berselang lama, kopi pahit sudah tersaji di depan lelaki itu. Dalam diam ia berkata, bagaimana mungkin aku akan berpaling dari memiliki istri seorang kau. Aku tak mungkin menafikan keadaanmu, tetapi ada yang aneh dengan rasaku. Ada yang hinggap erat dirasaku, tetapi itu bukan kau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau lelah istirahatlah, jangan kau paksakan,” ucap istrinya sambil memegangi pundak lelaki itu dan mendaratkan dagunya di pundak kiri lelaki itu. Sepertinya istri lelaki itu tak tahu, bahwa ia tak akan pernah bisa tidur di malam hari. Menghabiskan waktu gelap sekedar bercengkerama dengan kesendirian. Entah terbuat dari apa mata lelaki itu, sampai-sampai lelaki itu kuat untuk tidak tidur semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidurlah kau dulu, nanti aku menyusul,” pinta lelaki. Istrinya menggeleng manja. Si lelaki itu mencium kening istrinya. Lalu membopongnya ke tempat tidur. Sekumpulan awan menutup wajah bulan malu-malu melihat lelaki dan perempuan itu bergumul dalam selimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaaan kembali tenang, istri lelaki itu sudah tertidur. Dan si lelaki itu kembali menatap ke luar dari jendela. Mencari-cari bulan di balik awan yang menutupi. Lama juga ia menatap. Akhirnya bulatan cahaya itu muncul juga meski dengan wajah yang masih malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku begitu iri melihatmu. Aku ingin menjadi seperti istrimu, kita akan melakukannya di bulan. Seperti apa yang aku tawarkan semalam, bagaimana apa kau siap untuk pergi sekarang ke tempatku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang?”&lt;br /&gt;“Kapan lagi,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita pergi ke sana, tanya lelaki itu. Aku punya kecepatan, akan aku ubah kau menjadi cahaya, kamu tahu kecepatan cahaya bukan, yaitu kecepatan yang tak tertandingi oleh kecepatan lain di jagad ini. Hitungan detik sebagai satuan waktu terkecil pun belum seberapa. Ketika menjadi cahaya kita akan begitu mudah untuk menuju ke arah yang kita tuju. Dalam hitungan kurang dari detik, kita akan sampai di sana. Kau tak akan mengecewakan aku dengan menolakku bukan? Lelaki itu berpikir panjang mendengar kata-kata itu. Apa salahnya menjadi cahaya, sepertinya itu mengasyikkan, pikir lelaki itu meneruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi singkat memunculkan kata sepakat. Dalam kecepatan cahaya mereka melesat. Si lelaki tak sempat melihat heningnya galaksi malam, bintang-bintang yang bertaburan acak yang dilewatinya pun tak ditemuinya, semuanya berlangsung sangat seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita sudah sampai, kita bisa melakukan apa saja di sini. Jangan khawatir, tak ada orang lain selain kita di sini. Di sini hanya ada nenek, itu pun sudah sakit-sakitan. Sakitnya bermula saat kucing kesayangannya mati terlindas roda kereta miliknya. Dan sejak saat itu ia jarang bermain-main diatas pendaran cahayaku. Sewaktu kecil kau mungkin sering melihat ada seorang nenek bermain-main dengan kucingnya bukan? Itulah nenekku. Kau aku ajak ke sini, karena aku tahu keadaan nenek tidak akan lama lagi, dan aku tak mau sendiri. Aku butuh seseorang yang bisa membuat pendaran cahayaku semakin terang, dan seseorang itu adalah kau, karena kau adalah lelaki yang tak pernah tidur di malam hari. Aku sudah lama memperhatikanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja bulan mulai membelai rambut lelaki itu, belaiannya semakin kuat. Lelaki itu tampak gugup melihat tingkah bulan yang tak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak akan membuat aku redup kan?” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, aku masih punya seorang istri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah istrimu ada di bumi sana, ia tak akan tahu kau ada di sini bersamaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Aku tak bisa melakukan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istrimu ada di bulatan sana,” tunjuknya sambil menunjuk ke arah bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang, biarkan aku pulang,” kata lelaki itu tiba-tiba. Ia tak mau mengkhianati istri dengan bercinta dengan bulan.&lt;br /&gt;“Silahkan kalau kau bisa.” Ucap bulan dengan nada kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tampak kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak akan bisa pulang dengan kecepatan yang aku miliki,” katanya mengan-cam. Bulan itu agak meredup saat lelaki itu tak menerima ajakannya dan itu adalah hal yang tak dinyana oleh bulan sebelumnya. Pikirnya untuk bisa melakukan apa saja dengan lelaki itu, berbicara bebas dan bercinta sepuasnya sampai pagi kandas sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tampak bingung. Ia hanya menatap bulatan kecil yang ada di jauh sana. Dalam diam ia berpikir, bagaimana ia harus pergi dari tempat ini dan menemui istrinya yang mungkin masih dalam tidur. Ingin sekali rasanya gravitasi bulan tak lagi menariknya untuk tetap tinggal dan ia akan melesat meski tanpa kecepatan, karena ia bukan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melayang ke angkasa, melewati kegelapan malam dan sampai ke rumah. Tapi itu masih sekedar angan. Ia belum bisa melakukan itu. Gaya tarik bulan masih begitu kuat menahan massa lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan bingung tiba-tiba ia mendengar suara deheman seorang perempuan tua. Lelaki itu mencari arah suara itu. Tak lama ia mendapati arah suara. Ternyata seorang nenek tua. Lelaki itu berpikir, apakah perempuan tua yang ia hadapi adalah seperti apa yang ada dalam dongeng? Kereta yang ada di sebelahnya, tongkat itu dan seekor kucing mati. Apakah yang saya hadapi adalah nenek yang sering bermain-main dengan kucing di bulan seperti yang aku tahu dalam dongeng? tanya lelaki itu pada diri. Ia tersentak saat si nenek itu mengangguk pelan, “Ya ini aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara parau ia menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat ini aku sudah tak kuat lagi untuk bermain. Apalagi kucing hitam yang biasa menemani bermain sudah mati terlindas roda kereta ini. Kebiasaan nenek yang turun setiap kali purnama sudah sejak lama nenek tidak lakukan, karena sejak saat itu nenek tak mendapati anak-anak bermain gobak sodor di bawah purnama. Anak-anak bumi kini lebih tertarik dengan televisi dan play station.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu-tunggu,” ucap lelaki itu memotong pembicaraan si nenek. “Berarti nenek bisa mengantar saya pulang ke bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tapi mau ke siapa saya ke bumi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini saja, bagaimana kalau nenek ikut saya ke bumi dan tinggal bersama saya dan istri agar nenek tidak sendiri?” Si nenek menggeleng,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat saya di sini, dan saya tidak akan kemana-mana selain bersama bulan. Pakai saja kereta itu,” si nenek menawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah nenek sedang sakit dan butuh perawatan,” kata lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek tidak seperti makhluk bumi yang mesti dirawat dengan berselang-selang infus dan menelan butiran-butiran obat. Sudah, kau pulang saja sekarang, kereta itu akan mengantar sampai ke rumahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi,” ucap lelaki itu, “Bagaimana aku harus membalas kebaikan nenek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan abaikan pendaran cahaya bulan, karena ketika kau mengabaikannya ia akan terlihat murung bahkan meminta awan untuk menutup wajahnya, cukup sederhana bukan,” kata nenek tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah,” kata lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampaikan maaf saya kepada bulan karena aku sempat menaruh pesona akan pendaran cahayanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu urusan gampang,” kata si nenek itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang banyak yang terpesona dengan sebagian sampai keselurahan cahaya yang memendar darinya, sampai-sampai seorang penyair terinspirasi untuk membuat puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu dengan perlahan menaiki kereta yang sudah siap mengantarkannya pulang sedari tadi. Kereta itu mulai perlahan melaju, meninggalkan jejak bulan, nenek dan kucing itu. Slapp!! Seperti memiliki kecepatan cahaya kereta itu melesat cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seketika itu ia sudah berada di luar jendela kamarnya, ia melihat istrinya masih tertidur. Lelaki itu beranjak masuk melewati jendela. Terdengar bunyi berisik, istri lelaki itu terbangun, dan mendapati ada sepasang tangan di bibir jendela yang hendak menggapai-gapai sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Subhanallah Mas!” teriak perempuan itu terperanjat kaget mendapati lelakinya berada di luar jendela dan mencoba masuk melewati celahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cangkir kopi terjatuh, saya mencoba mengambilnya melalui jendela,” ucap lelaki itu pura-pura.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-3716800411628526633?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/3716800411628526633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=3716800411628526633' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/3716800411628526633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/3716800411628526633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/09/lelaki-yang-tak-pernah-tidur.html' title='LELAKI YANG TAK PERNAH TIDUR'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-UgjzPioI/AAAAAAAAACM/tY0Nh3GRxv0/s72-c/siluet2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-8385321376592928337</id><published>2008-09-04T00:43:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T00:47:30.903-07:00</updated><title type='text'>SEBENARNYA KAU MENCINTAIKU, HANYA SAJA KAU TAK MENGATAKANNYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-SFaLzz8I/AAAAAAAAACE/4usPx3MA1GM/s1600-h/aKhwat.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-SFaLzz8I/AAAAAAAAACE/4usPx3MA1GM/s320/aKhwat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242069112908402626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luapan rasa yang lama terpendam tumpah sudah. Tapi hanya menyisakan kecewa yang amat pedih. Kau tetap saja berbohong. Kesalahan fatal itu benar-benar kau lakukan. Ruang hatimu sudah kau isi dengan sesuatu yang abstrak. Menerima seseorang dimana kau ragu untuk menyebutnya ia benar-benar berpengaruh atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mendongakkan wajahmu setelah lama menunduk malu. Seolah ingin berkata kepadaku, kenapa tidak dari dulu kau mengungkapkan itu. Tetapi entah. Aku begitu ya-kin bahwa kau masih mencintaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bohong dengan tidak mengatakan sesegera mungkin bahwa kau juga mengha-rap aku datang memenuhi ruang hatimu yang masih kosong. Tidak diisi dengan sesuatu yang abstrak. Aku hanya tak mau gegabah. Lagipula, perempuan sepertimu biasanya ti-dak mudah untuk menerima seseorang. Entah karena alasan apa kau bisa setengah me-nerima dia untuk mengisi ruang hati yang kosong. Dan lebih-lebih, katamu, ruang hati-mu telah terisi oleh ia yang sejatinya abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin awal Juni benar-benar tak menyehatkan. Siang terasa terik, malam bisa membuat tubuh menggigil. Jaket yang melekat, sedikit membuatmu merasa hangat. Kau ingat, ketika itu aku membawamu di suatu malam. Kau mengenakan sweater hitam seperti warna malam. Di sanalah, aku memposisikan sebagai laki-laki yang tengah berha-dapan dengan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kau tak bicara. Hanya berdiam diri. Semua dengan segala kemungkinan-kemungkinannya telah aku siapkan. Setidaknya itu menunjukkan bahwa aku bukan laki-laki yang mudah rapuh. Aku pikir belum terlambat waktu untuk mengatakan semuanya. Kau sebenarnya tahu apa yang ingin aku katakan, hanya saja kau selalu menutup diri. Walau sebenarnya kau ingin aku sesegera mungkin mengatakannya kepadamu. Tapi kau bilang sudah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku bertanya,” katamu.&lt;br /&gt;“Itu sudah pertanyaan,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menganggguk. Membolehkan ia bertanya, sambil menyeruput jus alpukat yang tinggal separuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa baru sekarang kau mengatakan ini. Kau tahu, sebenarnya sudah lama aku mengharapkan kata-kata itu terujar darimu tanpa harus kau katakan kepadanya,” tanya-nya.&lt;br /&gt;“Karena aku tak mau gegabah. Entah kenapa aku memiliki keyakinan yang begitu kuat bahwa kau tidak mencintainya. Tinggalkan saja dia. Katakan, kau mencintaiku,”&lt;br /&gt;“Tidak,”&lt;br /&gt;“Katakan kau mencintaiku,”&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;“Kau mencintaiku,”&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;“Kau bohong,”&lt;br /&gt;“Aku mencintainya,”&lt;br /&gt;“Bohong,”&lt;br /&gt;“Aku mencintainya,”&lt;br /&gt;“Bohong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat ada kebohongan di wajah dan hatimu. Kebohongan untuk mengatakan bahwa kau mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kau perlu waktu. Tapi kau juga harus tahu, aku tak akan pernah berhenti untuk berusaha memilikimu seutuhnya. Aku ingin kau menjadi milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak...”&lt;br /&gt;“Jangan panggil aku kakak!”&lt;br /&gt;“Kak...”&lt;br /&gt;“Saat ini aku bukan kakakmu. Aku adalah aku,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau belum memberikan jawaban yang sebenarnya. Masih kau simpan rapi. Dalam hati kecil aku berkata, “Baiklah, kau simpan saja dulu. Barangkali suatu saat kau perlu. Aku masih menunggu. Bukan sebuah kesalahan menurutku, ketika aku mengharapkanmu untuk hadir dalam hidupku dalam satu ikatan suci, karena sejatinya kau masih sendiri. Lagipula belum ada yang melamarmu, apalagi kau belum bersuami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pernah bilang bahwa kau sudah dijodohkan. “Oh, ya?” Aku jawab saja tanpa rasa canggung sedikit pun. Aku menjawab tenang karena sejatinya semua orang sudah punya jodohnya masing-masing. Aku sudah punya calon istri, kau sudah punya calon suami. Istriku bisa saja Aisyah, Noura, Nurul, atau bahkan Maria seperti yang ada dalam novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburahman El-Shirazy. Tetapi kenapa aku lebih tertuju kepadamu. Bisa saja ia yang berada di jauh sana. Atau bahkan berada di seberang sana. Di depan, samping, atau belakang. Tetapi kenapa aku lebih tertuju kepadamu? Mengenai kapan ia datang, kita tak tahu. Tapi yang jelas, akan datang pada waktu yang tepat. Nah, sekarang itu tengah aku usahakan biar datang tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Malam tanpa jawaban. Pertanyaan menggantung. Jawaban masih belum terluapkan. Setelah peristiwa itu secara tidak langsung kita bersepakat, untuk selalu menatap malam yang penuh dengan bintang berserakan. Kita sepakat untuk tetap terjaga sampai sebelum cahaya, yang akan muncul sebelum fajar. Menatap gemerlap ribuan batu-batu cahaya yang beterbaran. Kau dan aku percaya bisa saling menatap melalui rembulan sebagai perantara, layaknya cermin yang memantulkan bayangan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bulan keperakan sudah tak terlihat lagi di awan. Hari sudah beranjak siang. Kau bilang, bahwa kau terbaring lemah, saat jantungmu kambuh. Padahal kau sudah jengah menelan pil-pil penenang setiap hari untuk tidak membuat jantungmu bergetar. Bosan merasakan sakit yang tak terperi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu, sebenarnya ada yang lebih sakit lagi dari sakit jantung yang kau derita. Yakni, ketika tiba-tiba teringat peristiwa di suatu pagi. Ketika kau memendam rasa yang begitu lama entah sampai kapan. Dan, ketika kau benar-benar butuh, aku malah pamit baik-baik untuk pergi, katamu. Padahal aku sama sekali tak pergi, aku hanya menguir sejarah untuk masa depan kita nanti, masa depan buat istri dan anak-anakku nanti. Sampai-sampai aku tak tahu harus bagaimana meruntuhkan kerasnya batu yang ada dalam hatimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku, yang sempat mengharapkanmu tiba-tiba membeberkan semua di hadapanmu. Hanya membawa segenggam kata maaf, bahwa selama ini aku hanya telah memainkan peran di sebuah pementasan yang pemerannya hanyalah kau dan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan, peran ini semestinya mesti disudahi sekarang. Aku tak mau larut dalam sandiwara tanpa babak. Sebuah peran yang sebenarnya aku sendiri masih ingin melanjut-kan,” kataku.&lt;br /&gt;Matamu berkaca-kaca mengalirkan butiran bening dan terdiam sesaat mendengar ujaranku yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Kau mau kan, memberi kata maaf untukku,” kataku lagi.&lt;br /&gt;Kau masih saja diam. Biasanya kau tidak sediam ini. Saat aku bercerita kau begitu seriusnya memperhatikan tiap kata-kata yang terujar. Namun sore itu, kau tampak lain.&lt;br /&gt;“Please!”&lt;br /&gt;“Tidak! Katamu tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanyaku penasaran&lt;br /&gt;Hanya diam yang aku dapatkan.&lt;br /&gt;“Cerita ini harus segera disudahi,” kataku.&lt;br /&gt;“Karena sebenarnya aku...”&lt;br /&gt;“Ah, sudahlah jangan dibahas,” katamu tiba-tiba menutup pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ada aura lain di wajahmu ketika aku mengatakan itu. Kata yang belum usai kau ucapkan masih menyimpan tiga titik di belakangnya. Itu artinya ada sesuatu dibalik kata itu. Kata-kata lain yang menyiratkan makna. Kalau boleh menebak, titik-titik itu tak lain sebuah untaian kata yang memintaku untuk tidak mengatakan jangan pergi meninggalkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu itu. Matamu yang bicara. Keyakinanku tentang rasa yang tak pernah bohong. Tapi, cerita ini benar-benar harus diakhiri. Kejora yang lebih cerah telah hadir dalam kehidupanku. Aku sudah lama mengenalnya, bahkan jauh sebelum mengenalmu. Kau pun sebenarnya kenal dekat dengannya, karena ia tidak lain adalah saudaramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mengatakan itu, kau setengah tak percaya. “Nggak mungkin bisa secepat itu. Ka.. sebenarnya...” Kau ulangi kata-kata yang belum selesai kau ujarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu adalah kemungkinan, Aku tahu lanjutan kata-kata itu. Kau akan menga-takan, “Sebenarnya aku mencintaimu hanya saja aku tidak mengatakannya. Itu kan yang ingin kau ungkapkan? Tapi biarlah waktu yang akan menjawab. Kalau selama ini kau tahu, bahwa orang yang begitu kau kagumi sepenuh hati bukan orang lain, melainkan aku, kenapa kau diam saja? Bukankah aku telah mengatakannya kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja, malam itu sedikit pun tak melongok ke langit malam. Padahal, di seberang sana kau menanti gambaran wajahku yang seharusnya terpantul di bulan. Namun yang kau lihat hanya kesan pucat. Terangnya begitu beda. Malam itu aku benar-benar tidak mau menampakkan diri. Aku tak ingin rasa yang mendera kuat itu menjebak kita ke dalam pusaran pasir isap, yang lambat laun akan menenggelamkan aku dan dirimu hingga tak ada seorang pun mampu menyeret kembali ketika telah benar-benar tenggelam. Kata-kataku yang mengatakan tidak akan pernah berhenti untuk mencintaimu sampai kapan pun, untuk sementara aku cabut.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenalmu menjadikan aku belajar lebih banyak dari sedikit hal yang kelihatan-nya sederhana. Tentang rasa. Kau tak ubahnya seorang guru yang memberiku pelajaran mengenai rasa. Dari rasa itulah aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Ketika dulu pernah bilang bahwa aku mencintaimu, tapi sekarang tidak lagi. Rasa itu sudah aku simpan di tempat yang rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku mengerti. Ungkapan cinta bagiku adalah kata-kata sakral yang tak semestinya diucapkan pada sembarang orang. Mengenalmu, dan memimpikan untuk memiliki dan hidup bersamamu adalah kesalahan terindah yang pernah aku lakukan. Aku berharap pengalaman itu tak terjadi lagi. Sebaiknya sampai di sini saja dulu. Aku takut rasa yang dulu untuk mencintaimu muncul lagi. Sementara aku sebenarnya telah mene-mukan yang lain. Tapi aku takkan memberinya cinta. Bukan pula janji. Biarlah mengalir apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepadanya aku hanya bilang,&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu...” Kau tahu bagaimana respon wajahnya ketika aku mengucap-kan kata-kata itu? Wajahnya langsung memerah dengan memunculkan gerak yang salah tingkah.&lt;br /&gt;“Ya aku mencintaimu.” Kau tahu bagaimana respon wajahnya lagi? Wajahnya se-makin memerah dan laku lampahnya makin salah tingkah.&lt;br /&gt;“Kata-kata itu... tak akan pernah aku ucapkan pada satu orang perempuan pun kecuali...” Kau tahu, bagaimana tatapan matanya saat kata-kata itu aku ucapkan. Matanya membelalak menatapku.&lt;br /&gt;“Kecuali siapa?” tanyanya lebih penasaran.&lt;br /&gt;“Istriku.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ribuan bintang, ada satu bintang yang kerlipnya buram. Itulah rindu. Merindukan ia datang menyapa. Kerlip buram itu tidak lain adalah rindu. Kerinduan akan datangnya saat-saat aku dan ia menikmati hujan cahaya malam. Berdua. Tiada seorang pun menganggu. Dan, ketika butir-butir cahaya itu tidak tampak, ia mengubah diri menjadi sosok rupawan di setiap purnama. Ya, ia menjadi rembulan yang menyembu-ratkan cahaya. Ia telah datang meski masih berada dalam ketidakpastian. Memang, hidup ini penuh dengan sesuatu yang tidak pasti. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-8385321376592928337?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/8385321376592928337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=8385321376592928337' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/8385321376592928337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/8385321376592928337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/09/sebenarnya-kau-mencintaiku-hanya-saja.html' title='SEBENARNYA KAU MENCINTAIKU, HANYA SAJA KAU TAK MENGATAKANNYA'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-SFaLzz8I/AAAAAAAAACE/4usPx3MA1GM/s72-c/aKhwat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-6170632289189911449</id><published>2008-08-25T01:11:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T01:19:29.496-07:00</updated><title type='text'>SENJA DI ATAS KERETA</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Cerpen : Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SLJqs2smJyI/AAAAAAAAAAo/3pi7cXDGYEw/s1600-h/kereta.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238366635414660898" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 310px; CURSOR: hand; HEIGHT: 273px" height="298" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SLJqs2smJyI/AAAAAAAAAAo/3pi7cXDGYEw/s320/kereta.jpg" width="323" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki duduk di sisi rel kereta. Sesekali ia mengambil batu-batu kerikil untuk kemudian dilemparkannya. Menatap ia ke kekosongan. Tatapannya tak menentu. Sesekali menatap ke arah depan, kanan dan kiri. Cukup lama ia menatap satu tatapan, bisa sampai setengah jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelahnya ada sebotol mineral. Baru saja ia mengambilnya di jalanan dekat tong sampah. Masih terisi sekitar seperempat botol sedang itu. Ada juga sebungkus nasi di dekat lelaki itu. Bungkus nasi itu sudah tak rapi, tampak kusut kertas warna coklat itu. Pun sama, sebungkus nasi itu baru saja ia ambil dekat tong sampah dekat warteg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup lama aku memperhatikan lelaki itu. Sembari duduk menunggu datangnya kawanan gerbong yang dipandu lokomotif oranye, yang akan membawaku pulang ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, kereta kali ini terlambat tiba di Stasiun Kejaksan. Lelah aku menunggu, hingga pantat terasa panas. Sudah dua jam lebih aku menunggu. Ahh! keterlaluan, desahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya aku yang tampak kepayahan menunggu. Ibu yang menggendong anak dengan barang bawaan sebanyak dua kardus pun sama. Sesekali anaknya menangis. Anak itu baru terdiam, saat ibu memberi asi yang tersimpan dalam buah dada yang sudah tak montok lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak-bapak di samping, juga tampak kesal. Sudah berbatang-batang rokok ia habiskan. Bisa jadi, dalam paru-parunya kini mengepul penuh asap. Masih di keresahan, ia membuka kembali bungkus rokok kretek. Isinya tinggal sebatang. Buntalan tembakau yang masih mengepul tinggal seperempat batang, dipitesnya hingga yang ada hanya lekukan asap yang hampir menemui mati. Bungkus itu diremas-remasnya. Lalu ia lemparkan ke tong sampah dekat tempat ia duduk. Sayang, lemparannya meleset. Tapi, pria yang mengenakan jaket kulit itu masa bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulatan angka yang terpajang di dinding, tepat di atas pintu masuk stasiun menunjuk pukul 17.05 WIB. Itu berarti setengah jam lagi menjadi genap tiga jam. Padahal sudah ada beberapa kereta dari Jakarta menuju Surabaya. Tapi, kereta-kereta itu bukan keretaku. Dua kereta yang telah lewat adalah kelas eksekutif. Satu kereta lagi kelas bisnis. Sementara tiket keretaku, hanya selembar kecil berwarna merah keunguan. Ukurannya tak lebih besar dari kartu kredit. Tepatnya dibagi empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derit roda-roda kereta cukup membuat telinga rasanya ingin ditutup saja. Hentakkannya menimbulkan suara keras. Perputaran roda-roda besi itu layaknya mesin jahit yang sedang dioperasikan. Tapi itu hanya sekilas. Tak lebih dari lima menit, kereta besar itu melanjutkan kembali perjalannnya menyusuri lekungan-lekungan rel kereta yang bertabur kerikil-kerikil tajam. Juga melewati lorong-lorong gelap yang akan ditemui di setiap jarak tertentu. Gandengan gerbong-gerbong itu, hilang dalam pandangan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku masih berada di stasiun. Menunggu Gaya Baru Malam membawaku ke Surabaya. Menemui ayah ibu yang sudah lama tidak aku temui. Pekerjaanku sebagai wartawan menuntut aku kerja lebih. Tak punya banyak waktu luang. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin ke Surabaya. Beruntung, pekan ini libur tiga hari. Ada dua hari libur berturut-turut sebelum libur pekanan. So, Surabaya tak lama lagi aku pulang.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sudah empat tahun aku tak pulang. Setahun lalu, saat masih di bangku kuliah, di sela aku menggarap tugas akhir, aku diterima kerja sebagai wartawan di sebuah media bisnis. Bertolak belakang memang dengan kuliahku, yang memang dipersiapkan untuk menjadi guru. Tapi, saya merasa cocok sebagai wartawan. Saya bangga menjadi wartawan. Kegiatanku di majalah kampus lah yang mengantarkanku hingga aku menjadi wartawan.&lt;br /&gt;Surabaya adalah masa kecilku. Tepatnya di Bungurasih, dekat terminal. Di sana aku menghabiskan masa kecilku. Sesekali bermain di pelabuhan Tanjung Perak. Berenang di tepian tempat kapal-kapal besar berlabuh. Dengan bertelanjang dada, bersama teman-temanku, Iswara, Jabrik, dan Ramon, aku terjun diatas ketinggian mencari koin-koin yang dilemparkan para penumpang kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun lalu, diatas dermaga kapal pesiar, aku menyatakan cinta pertamaku pada Nastiti Prameswari, anak kepala sekolah tempat belajar aku dulu sewaktu SMA. Pak Sudibyo, ayah Nastiti, sampai-sampai memberi syarat. Untuk menjadi suami Nastiti, haruslah ia menjadi seorang guru. Bagiku, itu tak masalah. Apalagi, aku sudah diterima di sebuah kampus, satu-satunya di Cirebon. Aku juga tak habis pikir, kenapa aku bisa sampai Cirebon, padahal, kampus-kampus di Surabaya tak kalah banyak, tak kalah besar.&lt;br /&gt;Kepergianku ke Cirebon saat itu diiringi deraian air mata Nastiti. Jemarinya erat menyentuh jemariku. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Aku usap dengan sentuhan jari tanganku lembut. Seketika itu Nastiti jatuh dalam pelukan seraya berucap, “Aku takut kehilanganmu.” Tiba-tiba saja, butiran air mata jatuh begitu saja tanpa permisi. Buru-buru aku mengusapnya. “Oh, Nastiti,” sebutku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Lelaki yang tadi aku perhatikan saat ia duduk di sisi rel kereta, tiba-tiba saja mendekat kearahku. Nasi bungkus dan botol air mineral ada dalam genggamanya. Aku hanya menatap dengan penuh keheranan. Takut membuat ia tersinggung, aku sunggingkan senyum. Kepadaku ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak lama lagi, keretamu akan tiba. Kau tunda saja perjalananmu lain kali.” Mendengar kata-kata itu, aku seakan menjadi aneh. Ada apa dengan lak-laki ini. Kenapa ia memintaku menunda perjalanan yang memang sudah kutunggu-tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud bapak?,” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tunda saja perjalananmu kali ini, lain kali,” hanya jawaban itu yang terujar.&lt;br /&gt;Aku tak mengerti dibuatnya. Aku anggap saja angin lalu. Siapa lelaki itu berhak melarang aku pergi dengan kereta. Tidak lama, lelaki itu berlalu. Aku pun membiarkannya. Tatapanku tertuju kearah lain. Saat ku coba tatap lagi langkah laki-laki itu, ia sudah tak ada. Ku lirik kanan dan kiri jalan, tidak aku temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tttttttttttttt!” terdengar bunyi kereta. Benar, tak lama kereta yang sudah lama akhirnya datang juga. Derit roda-roda besi berteriak menampar memekikkan.telinga. Sungguh, rasanya ingin kututup saja kedua daun kupingku. “Akhirnya,” kataku senang.&lt;br /&gt;Tepat gerbong kelima, kereta berhenti. Sepintas aku dilanda keraguan, saat hendak menginjakkan pintu gerbong kereta. Keraguan itu datang, karena perkataan laki-laki yang tak aku kenal beberapa waktu lalu. Buru-buru kutepis semua perasaan tak enak itu. Kuyakinkan diri untuk berangkat saat itu juga ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas aku, memasuki gerbong kereta. Berdesakkan. Sementara dalam gerbong, sepintas aku lihat tadi juga sama dijejali penumpang. Dengan susah payah, akhirnya aku dapat menjangkau kereta. Dan masuk dalam barisan gerbong nomor lima. Perlahan-lahan keretaku mulai bergerak. Semakin cepat, cepat dan cepat keretaku melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berdesakkan. Penumpang yang berdiri tak kalah banyak dengan yang duduk. Entah di kursi ataupun duduk diatas lembaran koran yang ngelemprak dibawah. Kutatap ke depan. Sepertinya tak ada peluang ada kursi kosong. Lantas, aku berjalan menuju gerbong-gerbong lain di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta melaju cepat. Sekilas kulihat keluar hamparan padi menghijau, tiang-tiang listrik tampak saling bersambungan. Aku melihat kendaraan-kendaraan lain tampak sabar berhenti di balik palang pintu kereta api menunggu keretaku lewat. Awan yang kulihat kini sedang menuju senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku heran, di gerbong yang berjejal penumpang ini tak ada satu pun kegaduhan. Tak seperti biasanya saat aku naik kereta beberapa tahun lalu. Semuanya terasa sunyi. Yang ada hanya teriakan roda-roda besi. Tak ada obrolan, apalagi candaan. Tangisan anak-anak kecil. Para pedagang asongan pun hanya berdiri mematung tak menjajakan dagangannya. Padahal, hari baru memasuki senja. Apa mungkin semua-mua orang tertidur. Perasaan tak enak coba kutepis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah aku lanjutkan, aku seakan melewati mayat-mayat yang didudukkan. Di tengah penuhnya kereta, tak aku temukan orang bercakap. Yang ada hanya kesunyatan. Sementara hari beranjak gelap. Senja sudah lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku tertuju pada seorang lelaki yang membuat aku tak mau mengalihkan pandangan walau sejenak. Lelaki itu mengenakan jubah hitam yang serba tertutup. Aku terpana. Lama sudah aku perhatikan. Berkali-kali ia menepuk pundak para penumpang kereta. Dan ini yang buat aku terkejut tak percaya, sesaat setelah menepuk pundak, dari mulut orang itu keluar bulatan cahaya yang bersinar kehijauan.&lt;br /&gt;Aku bergegas menuju kearahnya. Memastikan apa yang sedang ia lakukan dengan menepuk pundak. Di tengah usahaku mencapainya, ia masih asyik sibuk mengambil bulatan-bulatan cahaya yang keluar dari mulut para penumpang kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola-cola cahaya itu ia masukkan ke dalam kantong jubah yang ia kenakan. Aneh terasa, sesaat setelah bola cahaya itu keluar, beragam mimik wajah orang-orang itu. Ada yang tampak tersenyum, ada pula yang tampak muram. Hanya satu yang sama: mereka semua diam. Terkejut saat aku mendapati wajah lelaki berjubah itu. Sepertinya aku kenal. Saat aku sapa, ia masih tampak asyik mengambili bola-cola cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf,” kataku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu berhenti sejenak melakukan aktifitasnya memungut bola-bola cahaya. Perlahan ia memutar tubuhnya kearahku. Nyata!. laki-laki itu tidak lain adalah orang yang aku temui di Stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau bisa sampai ke sini, kenapa tidak kau tunda perjalananmu kali ini, lain kali,” kata laki-laki berjubah itu.&lt;br /&gt;“Apa maksud perkataanmu.”&lt;br /&gt;“Sudah jangan banyak tanya, sebaiknya kau keluar dari kereta ini secepat mungkin,”&lt;br /&gt;“Sebenarnya kau sedang melakukan apa di sini,” kataku.&lt;br /&gt;“Aku sedang membantu meringankan lepasnya raga dari jiwa yang begitu pedih bagi mereka-mereka. Suatu saat nanti aku juga pasti menemuimu. Sebentar lagi kereta ini akan hancur,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu keringat mengucur deras.! Yang aku lihat dalam anganku sekarang adalah tergeletaknya mayat-mayat yang berserakan diantara himpitan-himpitan gerbong seperti berita kecelakaan kereta api di media massa yang pernah aku baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, Cepat! Tunggu apalagi. Kereta ini sebentar lagi akan hancur!”&lt;br /&gt;Aku diam tak bisa bergerak sedikitpun. Semua persendianku terasa luruh.&lt;br /&gt;“Dasar keras kepala! Ayo!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika ia menyeretku menuju ke tepi pintu gerbong kereta. Semua terasa cepat, tubuhku terlempar ke dalam kotakkan sawah yang berlumpur pekat. Tubuhku pun terbalut lumpur. Aku sempat berguling-guling ke dalam kubangan lumpur. Tak lama kemudian terdengar sebuah benturan sangat keras. Aku melihat gerbong-gerbong kereta bertumpukkan ringsek tak berbentuk. Dari arah berlawanan, kereta serupa melaju dengan kecepatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu senja berubah menjadi gulita. Bola-bola cahaya terburai beterbangan mengisi kegelapan. Ada yang berubah menjadi kupu-kupu yang tetap dengan cahaya hijaunya. Ada pula yang berubah menjadi lintah menjijikkan yang redup tak bercahaya.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-6170632289189911449?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/6170632289189911449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=6170632289189911449' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/6170632289189911449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/6170632289189911449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/08/senja-di-atas-kereta.html' title='SENJA DI ATAS KERETA'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SLJqs2smJyI/AAAAAAAAAAo/3pi7cXDGYEw/s72-c/kereta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2037929916980034502</id><published>2008-06-26T18:44:00.000-07:00</published><updated>2008-06-26T18:46:48.961-07:00</updated><title type='text'>Malaikat Seribu Cahaya</title><content type='html'>Oleh : Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajiku menari di panggung penuh  kehampaan. Di kesendirian, di atas panggung itu, aku menari mengikuti alunan nada-nada kehidupan. Dinding-dinding, langit-langit, daun pintu dan jendela keheranan menatap aku. Seorang diri yang menari-nari melebur kesunyian layaknya Rumi. Aku begitu larut sampai-sampai berada di ambang ketidaksadaran, sampai di suatu subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan lelah yang aku rasakan, melainkan satu bentuk kepuasan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata. Padahal, diatas pementasan tunggalku tak ada satu pun yang menilai. Aku masih ingin menari, tetapi pagi keburu menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku duduk bersila di sepertiga malam, di tengah balutan sarung beralaskan sajadah, suasana begitu sunyi. Sesunyi hati ini. Segala kelelahan luluh, terasa damai. Kedamaian yang tiada tara. Mungkin kau juga pernah merasakakan sepertiku. Butiran-butiran tasbih kusentuhi satu persatu. Seratus kali, bahkan hingga ribuan kali bertasbih menyebut kebesaran-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, santri-santri masih terlelap dalam tidur di bilik-bilik pesantren yang penuh jelaga bergelantungan. Silir angin menyusup melalui celah-celah kamar membuat jelaga itu bergoyang. Ghoji, tertidur dengan sebuah kitab kuning dipelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini aku tahu, di sela-sela tekunnya membaca kitab, ternyata ada bacaan lain yang benar-benar membuat matanya merasa betah berlama-lama berhadapan dengan kitab kuning. Di sela-sela kitab itu, ada selembar surat cinta. Sepertinya dari seorang kekasih. Ia jadikan surat itu sebagai pembatas. Itu kutemukan tak sengaja. Kitab itu terjatuh saat ia masih tertidur, dan lembaran surat itu terlihat menyelip diantara lembaran-lembaran kitab kuning, Khazinatul Asrar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kali ini ia tertidur cepat. Biasanya tiap malam ia habiskan dengan bercakap-cakap lewat handphone yang ia pinjam dari Rochyat, teman tetangga bilik. Rochyat baru saja diterima sebagai mahasiswa IPB tanpa tes masuk. Entah dengan siapa Ghoji bicara. Yang jelas dengan perempuan. Suara yang diloudspeaker terdengar renyah, dan cukup mengganggu tidurku. Sudah kesekian kalinya aku terbangunkan oleh suara cekikian Ghoji yang entah sedang menertawakan apa. Rayuan-rayuan murahan terdengar jelas di telingaku. Meski aku belum sadar benar dari masa istirahku, percakapannya benar-benar membuat telingaku memekak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kelelapan aku menyayangkan semua provider yang mematok harga murah bahkan sampai gratis di masa-masa orang larut dalam masa istirah. Di saat orang-orang menenggelamkan diri dalam hiruk pikuk pagi sampai sore. Dan malam, disitulah ketenangan sebenarnya ada. Bahkan, di waktu malam, malaikat akan turun membawa butir-butir cahaya menyambangi orang-orang yang sedang asyik bercakap-cakap dengan tuhan, bukannya mendekati orang yang yang tengah asyik berkencan lewat suara. Ya, mereka turun, ke orang-orang yang khusyuk bercakap dengan keberadaan sang Khalik. Membaca tanda-tanda malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika malam telah ditegakkan&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7523541554317581258#_edn1" name="_ednref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Disitulah, Tuhan bersiap-siap mengutus ribuan malaikat turun ke bumi. Beragam makhluk yang terbuat dari cahaya tampak bersinar kegirangan mendapat tugas menemui makhluk bumi, membawa segenggam cahaya untuk bisa dimasukkan ke dalam relung jiwa yang tengah menengadah memanjatkan do’a, melantunkan ayat-ayat suci sekaligus bermuhasabah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari langit ke tujuh, para malaikat mulai beterbangan. Sayap-sayap terbentangkan. Bentangan sayap itulah yang akan meluncur, mengudara melewati langit keenam, kelima empat, tiga, dua sampai langit yang persis di atas bumi tempat kita berpijak sekarang ini. Kalau saja, mereka tetap pada wujud aslinya, niscaya semesta ini tak mampu menampung keberadaan mereka. Betapa tidak, sekali membentangkan sayap, lebarnya jarak langit dan bumi tak mampu mendaratkan sayap. Bagaimana dengan ribuan malaikat yang diutus ke bumi! Atas itulah ribuan malaikat itu menjelma menjadi butir-butir cahaya yang beterbangan di tengah samudera semesta menembus kegelapan. Tampak sebagian dari mereka laksana bintang-bintang gemerlapan yang kau tatap dari bumi tempatmu singgah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, alangkah terkejutnya tatkala malaikat sampai ke bumi. Di awal sepertiga malam, di sebuah pondok pesantren, terlihat beberapa santri lelap dalam tidur. Sesekali terlihat diantara mereka menggeliat. Para malaikat sempat kecewa, kenapa mereka tak bangun-bangun untuk bisa bercakap-cakap bersama Tuhan? Bukankah ini waktu yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aha, terlihat beberapa santri menggeliat lagi. Ia tersadar. Kedua tangannya mengucek mata. Melihat jam di sebuah ponsel miliknya. “Hampir jam dua,” katanya. Malaikat tersenyum. Terlihat ia beranjak dari karpet tempat ia tidur berbantalkan sajadah dan beberapa buntalan sarung. Langkahnya agak sedikit gontai menuju kamar mandi. Mungkin mau buang air kecil, kemudian mengambil air wudlu. Ia belum sadar benar. Ia agak sedikit cerah, tapi tak begitu cerah. Tapi sayang, ia kembali melanjutkan tidur yang terpotong. Bukannya mengambil kopiah dan sajadah, ia malah menyomot ponsel yang ia pinjam. Kemudian menelepon entah siapa. Tapi yang jelas seorang perempuan. Malaikat yang tadi terlihat tersenyum mengernyitkan dahi. Ia hanya melihat butir cahaya yang ia bawa dari langit dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian, ia melesat pergi menjauh membawa segumpal kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Merasa masa istirahku terganggu, aku beranjak dari selembar alas tidur. Kubasuh muka ini dengan cipratan air wudlu. Menoleh ke arah Ghoji, ia acuh. Sepertinya ia benar-benar menikmati perbincangan yang menurutku hanya buang-buang waktu saja, berkencan lewat suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja aku menuju ke surau, mencari ketenangan untuk bisa bercakap-cakap dengan alam. Pukul setengah tiga pagi. Tak terdengar suara meski suara jatuh sehelai daun pun, apalagi suara Ghoji yang tengah asyik menelepon di pagi buta. Katanya, menelepon tengah hingga sepertiga malam murah, bahkan kadang gratis. Modal begadang, cukup buat hati senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah malam-malam dimana ribuan rahmat ditembakkan dari langit. Di mana, dimana cahaya itu. Aku ingin sekali melihat bagaimana cahaya itu ditembakkan malaikat di sepertiga malam. Siapakah orang  yang beruntung mendapat sapaan cahaya yang dibawa malaikat di sepertiga malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah aku menatap gelap, tiba-tiba aku melihat langit hitam itu membelah. Sekilas cahaya merobek gumpalan-gumpalan awan hitam. Cercah bintang-bintang mulai menyurup. Dan sedikit bergeser ketika kilatan cahaya putih menyilet langit. Sunyat. Aku merindukan saat-saat seperti ini.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seribu kali putaran tasbih ini berputar setelah kutunaikan rakaat tahajjud. Butiran biji-biji tasbih kenyang aku sentuh satu persatu-satu. Sebanyak itu pula bibir ini basah dengan kalimat tasbih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brag! Tiba-tiba anganku mengarah pada sesosok rupawan. Di tengah kesunyatan, di tengah surau, saat aku tengah asyik berdzikir, tiba-tiba ada seorang perempuan muda cantik berbalut pakaian tipis menyapaku. “Sentuh aku kang, aku bagian dari pahalamu&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7523541554317581258#_edn2" name="_ednref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;,” katanya dengan suara mendesah seperti suara angin. Mata ini kuat-kuat kupejamkan. Namun terasa pejal. Sepertinya aku memerlukan dua batang lidi yang panjangnya setengah batang korek api untuk membuatku tetap terjaga. Batang korek api seakan berkata, “Tatap dan sentuhlah! Ia bagian dari pahalamu.” Pahala, pahala. Itu bagian dari pahala bagi orang-orang yang telah meluangkan waktu di sepertiga malam untuk bercakap-cakap dengan alam, juga bercakap-cakap dengan Tuhan. Bisikkan, tiba-tiba menyeruak ke telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau kau tak mau sentuh aku. Menarilah saja denganku. Sepintas tadi aku lihat kau tampak gemulai menari sebelum kau hempaskan diri di hamparan sajadah. Ayo, menarilah, sudah lama aku tak menari,” kata perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau diam saja, aku didatangkan ke sini untuk menemanimu yang sedang sendiri. Di tengah malam ini. Berapa kali harus aku bilang bahwa aku bagian dari pahalamu,” tambahnya lagi. Ya, sudahlah kalau begitu biar aku saja yang menari. Ingat, aku menari untukmu,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat dingin menyapaku. Suara desahnya seakan mengharap aku untuk menyentuhnya dan mengajaknya menari. Benarkah, ini bagian dari pahala itu. Aku bimbang. Ah, bagaimana mungkin pahala tersaji gurih dihadapanku. Mata ini kupejamkan rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara jenggeret memecah kesunyian, namun tak menyeretku dalam kekhusyukkan. Di hadapanku, terdengar suara degupan kaki yang menyentak berirama. Suara itu terdengar memutar. Sebuah selendang menyangkut melewati wajahku, bau harum perempuan binal tercium kuat di hidung. Sepertinya tarian itu sudah dimulai. “Ayo, menarilah denganku,” kata itu masih saja terngiang. Haruskah kubuka mata ini lebar-lebar. Ada dua pilihan. Menyeret perempuan itu ke luar surau atau menyetubuhi perempuan itu. Untuk pilihan kedua ini, aku tak mau. Ia belum halal. Lagipula  ini tempat suci. Bisakah aku melalui pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di tengah pejaman mata aku melihat. Ada seberkas cahaya menyapaku. Dengan kecepatannya seberkas cahaya itu melilit tubuh dan menyeretku membahana ke angkasa. “Hei, kau mau bawa aku kemana?” aku mencoba berontak. Namun tetap saja, aku terseret, aku tak mampu berontak. Aku menurut saja, membiarkan tubuh ini terbawa berkas cahaya. Malaikatkah engkau? Kenapa tak kau tampakkan saja rupamu lalu kau pinjami aku sayap agar aku bisa ikut terbang bersama kemana engkau mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pemandangan lain yang aku saksikan di tengah gelapnya malam. Beribu-ribu cahaya melesat cepat menyilet langit. Cahaya apakah itu. Lalu kenapa tiba-tiba menghilang. Aku terhenti di suatu tempat yang tak ada siapapun kecuali aku, seorang diri. Tiba-tiba terdengar suara azan, menggema. Di tempat sesunyi ini. Dari mana arah suara itu. Aku melihat sekeliling, hanya hamparan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, alangkah terkejut saat mata ini benar-benar terbuka. Sebaris orang tampak sedang melakukan jamaah subuh. Subhanallah, jam berapakah ini? Kulihat jam di salah satu dinding sebuah surau. Setengah lima! Setelah itu mereka mengucap salam, dilanjutkan dengan dzikir. Aku buru-buru keluar surau mengambil air wudlu.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7523541554317581258#_ednref1" name="_edn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Qur’an Surat Al Lail Ayat Pertama&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7523541554317581258#_ednref2" name="_edn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Saya kutip dari sajak Joko Supriyadi “Dosa di Shalatku” yang dimuat di Horison Kakilangit 72/Desember hal 20.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2037929916980034502?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2037929916980034502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2037929916980034502' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2037929916980034502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2037929916980034502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/06/malaikat-seribu-cahaya.html' title='Malaikat Seribu Cahaya'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-5715582458406073571</id><published>2008-06-26T18:35:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T01:12:07.098-07:00</updated><title type='text'>Menyentuh Keranda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-YTIPYeCI/AAAAAAAAACc/dfZ2BGSBs2U/s1600-h/sm1yusuf2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-YTIPYeCI/AAAAAAAAACc/dfZ2BGSBs2U/s400/sm1yusuf2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242075945679484962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen : Ali Irfan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh, ia masih sempat menjadi imam, mengisi ceramah pagi di surau pesantren. Selepas shalat ashar, seusai tengokkan salam kedua ia sudah tak bergerak lagi. Tepat pukul 16.15 saat hari menapaki senja, ia sudah tak lagi memiliki nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang saja kabar kematiannya cukup mengagetkan. Orang sepertinya benar-benar langka. Komentar-komentar terus berdatangan. Kenapa harus orang seperti ia yang mesti disudahi pinjaman nafas lebih awal? Masih belum ada orang yang pantas menggantikan seperti adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya masih banyak orang yang belum berlega hati melepas kepergian lelaki kharismatik itu. Tak ada air mata yang mengiringi kepergian sosoknya. Mungkin masih ingat pada sebuah pesan yang pernah ia lontarkan hingga tak ada air mata saat ada kematian. “Tak perlu menangisi sesuatu yang telah pergi, tapi ketika itu bisa membuatmu sedikit tenang, menangislah,” begitu pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian yang begitu indah. Terduduk di tahiyat akhir, dengan telunjuk masih melambangkan bahwa segalanya akan bermuara pada yang satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali semasa hidup ia juga pernah berpesan, “Saya menginginkan kematian yang sederhana.” Dan keinginan itu ia dapatkan. Sebuah kematian sederhana yang tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kematiannya begitu cepat menyebar. Dalam hitungan menit, rumah yang terletak di samping surau pesantren dipadati pelayat. Shalawat menggema tak putus-putus. Wajahnya begitu damai, tenang seakan tak ada beban. Terlihat ia seakan tersenyum. Pelayat berdesakkan ingin menyentuh jenazah terakhir sebelum dikebumikan. Apa? Menyentuh jenazah! Yah, menurut mereka menyentuh jenazah seorang ulama akan  kecipratan berkah. Entah darimana kepercayaan itu timbul. Seolah-olah jenazah itu adalah sesuatu yang sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum prosesi pemakaman. Kerabat keluarga tampak memandikan jenazah, di sebuah tempat tertutup oleh kitaran kain putih membentang persegi. Tampak orang terdekat memandikan. Di bibir jenazah terukir senyum keabadian, seolah tak ada beban, lepas mengabadi. Keranda di depan sudah siap menanti. Lalu lalang orang berdatangan dan semakin banyak saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian terlihat menyolati sebagai bentuk penghormatan terakhir.  Tak putus-putus hingga satu hari satu malam. Kerabat-kerabat berdatangan dari dalam dan luar kota bahkan sampai pelosok. Kebanyakan yang datang dari luar kota mengenakan jubah putih. Kata orang-orang, mereka adalah seorang habib, keturunan rasul Muhammad. Kabar yang begitu cepat.&lt;br /&gt;Sore senja hari hingga beranjak malam, pagi sampai sore lagi para pelayat tidak putus-putusnya. Apa yang membuat kematian itu begitu istimewa. Lalu, dimana kematian yang sederhana. Adakah kematian itu seperti yang diinginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama, santri-santri, pendeta, pejabat, aktifis partai politik sampai artis datang melayat. Terang saja, menyorot perhatian wartawan. Hingga tak heran, hampir semua koran menurunkan headline tentang kematian yang begitu istimewa ini. Turut juga hadir orang biasa, pemulung sampai tukang sampah. Mereka memunguti sisa-sisa botol air mineral dari sebuah jamuan. Shalawat tak henti-hentinya bergema. Kematian siapakah ini. Pastinya, bukan kematian sembarang orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keranda siap diberangkatkan ke pemakaman. Jarak rumah menuju pemakaman, lu-mayan jauh untuk ditempuh jalan kaki. Lima kilometer! Orang-orang di luar sana sudah dari tadi menyemut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terjadi perdebatan, mengenai proses pemberangkatan, apakah menggunakan mobil ataukah diarak jalan kaki. Pilihan mobil jatuh karena alasan keamanan, apalagi melihat begitu banyaknya orang yang berhasrat menyentuh keranda karena alasan keberkahan. Ini tak sepatutnya terjadi karena mengarah pada syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja, perdebatan bermuara pada jalan kaki. Jenazah tetap diarak sampai ke pemakaman. Pasalnya, kematian seperti inilah yang diinginkan jenazah semasa hidup. Dan semua menerima alasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat masih terus menggema tak  putus-putus. Keranda diberangkatkan. Seketika lautan manusia terbentuk. Luasnya melebihi batas pandang. Di kejauhan, yang terlihat hanya butiran-butiran kecil yang bergerak searah. Sebentuk hijau, bertalikan bunga tampak jadi pusat lautan orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pemakaman. Tampak empat orang sedang menggali tanah kubur. Mereka tampak senang, pasalnya tanah-tanah yang mereka gali begitu mudahnya. Jengkal demi jengkal tanah terangkat di ujung cangkul, hingga kedalaman satu setengah meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar suatu kehormatan tak ternilai, bisa menyiapkan tempat peristirahatan terakhir. Kematian siapa lagi, kalau bukan kematian yang istimewa. Keringat mengucur sedikit, tidak terlihat wajah lelah. “Kenapa ya, orang seperti beliau lebih dulu dipanggil?” kata salah seorang diantara mereka. “Setidaknya ini menandakan bahwa kematian itu sebuah kepastian,” timpal seorangnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kalian tak memerhatikan, tak seperti biasanya tanah-tanah ini begitu lunak untuk kita gali,” kata seorang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya ya, padahal yang sudah-sudah tanah tidak selunak ini, bukankah ini musim kemarau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena orang yang meninggal begitu istimewa,” jawab seorang lagi singkat. Mendengar jawaban itu, seketika mereka diam. Hanya ada desau angin. Daun-daun kamboja kering berguguran. Di tanah, sudah berserakan daun-daun kering itu menumpuk.  Tidak lama lagi akan terurai menjadi humus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hening beberapa jenak. Terdengar suara gemuruh dari seberang sana. Keempat penggali kubur itu langsung terkesiap, mencari dari arah mana sumber suara gemuruh itu. Samar-samar suara terdengar dari kejauhan. Terlihat oleh mereka, ribuan orang bergerak menuju arah pemakaman, iringan itu melangkah cepat. “Sepertinya penghuni galian kita telah datang,” kata salah seorang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Nyata! Sesuatu yang dikhawatirkan terjadi. Laju pengiring jenazah terhambat. Sebagian besar orang tampak mendekati keranda. Padahal di sekeliling keranda, melingkar pagar manusia. Keinginan mereka sederhana, ingin menyentuh keranda. Hanya itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan teriakan larangan berhamburan. Petugas keamanan tampak menyeret bebe-rapa orang ke tepi. Mereka mengacaukan suasana. Iringan terus saja berjalan. Pemanggu keranda tampak kewalahan. Beberapa orang juga berebut giliran untuk dapat memanggu keranda. Saya, yang ada ditengah kerumunan itu hanya bisa menatap keriuhan yang terjadi di tengah sana. Saking banyaknya orang berebut menyentuh, sampai-sampai orang yang memanggu keranda itu terangkat di tengah keriuhan suasana. Uniknya iringan itu tetap saja jalan. Kondisi itu benar-benar tak terlelakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati pemakaman, suasana makin gaduh saja. Bahkan makin kacau! Keranda itu hampir saja koyak. Kelambu hijau bertuliskan kalimat  tauhid tampak tak rapi, tali-tali bunga yang melingkari keranda juga sudah ada yang putus. Iringan jenazah seketika berhenti, sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Gemuruh shalawat, sebagai lagu pengiring jenazah seketika terhenti. Suasana riuh mendadak sunyi. Sunyat di tengah lautan manusia di sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua-mua berdiri mematung, ketika menyaksikan keranda itu bergerak. Kelambu hijau itu terangkat angin. Jenazah di dalam keranda, yang mengenakan kafan putih terbangun dari tidur abadinya. Semua tak mampu berkata-kata. Tercengang!. Bulatan kapas putih yang melekat di kedua mata dan lubang hidungnya seketika ia lepas. Kain kafan, yang membalut hingga ke ujung kepala ia buat sedemikian rupa layaknya pakaian ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kerumunan ia beranjak berdiri, seperti hendak memberikan tausiyah di acara tabligh akbar yang dihadiri jutaan massa. Biidznillah! Ia kembali meminjam nafas untuk sekedar memberikan beberapa patah kata terakhir! Seperti sedianya, awal ia mengucap salam, tahmid juga shalawat. Lalu memberikan ceramah perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya ketenangan yang saya dapat, tapi malah keriuhan. Saya bukanlah orang yang patut kalian kultuskan. Kalian tak akan mendapatkan apa-apa dengan menyentuh kendaraan terakhir saya untuk menemui Tuhan. Saya menginginkan perjalanan kematian yang sederhana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah masanya, masa kontrak pinjaman nafas juga ruh yang melekat dalam jiwa ini sudah saatnya untuk menghadap untuk dimintai pertanggungjawaban. Semua akan mengalami masa-masa seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan ke rumah terakhir saya melihat, kenapa mesti berdesakkan berebut untuk menyentuh keranda. Sudah saya tegaskan, kalian tak akan mendapatkan apa-apa dengan menyentuh keranda. Tadi saya sempat berdiskusi dengan malaikat. Malaikat pun hanya bergedek kepala melihat sebagian dari saudara-saudara berebut menyentuh keranda. Saya meminta ijin, untuk meminjam nafas saya kembali lima menit untuk menghindari hal-hal yang semestinya tak patut dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf saudara-saudara, saya tak bisa berlama-lama. Bidadari sudah menanti saya. Assalamu’alaikum.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-5715582458406073571?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/5715582458406073571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=5715582458406073571' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/5715582458406073571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/5715582458406073571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/06/menyentuh-keranda.html' title='Menyentuh Keranda'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/SL-YTIPYeCI/AAAAAAAAACc/dfZ2BGSBs2U/s72-c/sm1yusuf2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2708690285629449268</id><published>2008-06-23T03:35:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T03:43:02.043-07:00</updated><title type='text'>Akulah Pencuri Itu</title><content type='html'>Ada sebuah ketakutan ketika sesuatu yang bukan milikku berada dalam kuasaku. Buktinya ketidaktenangan mengusik. Tetapi aku menginginkanya. Aku tak peduli, bagaimana sesuatu itu aku dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa aku melakukan kesalahan fatal hingga aku bisa seperti ini. Sudah dua hari ini, rasa tak tenang benar-benar mengggangu. Rasa-rasanya ingin kututup saja hati yang menyimpan segala rasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuputuskan saja untuk mengatakan bahwa aku telah mencuri sesuatu di dirimu yang tak kau ketahui. Ya, karena aku melakukan itu di alam bawah sadar. Dalam keterpanaan aku melakukan itu. Kedengarannya lucu memang, seorang pencuri mengaku telah mencuri. Jarang-jarang ada pencuri mau mengaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf. Aku telah mencuri sesuatu milikmu. Kalau kau merasa kehilangan sesuatu akulah pencuri itu,” kataku yang kukirim melalui pesan singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah menduga, kau akan lama membalas pesan itu. Lagi pula aku tak begitu memerlukan balasan langsung. Berharap kau membalas tentu saja ingin. Mengenai bagaimana reaksimu, aku juga ingin tahu. Marah, aneh, terkejut atau kau malah berkata, ada-ada saja kau ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa terawang, kau pasti akan baca dengan sangat hati-hati. Bisa jadi, kau kernyitkan dahi. Apa maksudnya ini?. Mungkin itu kata-katamu yang akan terujar. Dan, penasaran kau dibuatnya. Aku mengharapkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar saja, bukankah kau juga sering buat aku penasaran. Kau bahkan merasa senang dengan kepenasaranku. Saat aku ingin tahu sesuatu, kau tak pernah mau cerita. “Ah, tapi itu nggak begitu penting,” katamu. Tidak penting bagimu, bisa jadi sangat penting untukku. Tak penting di mataku, bisa jadi begitu penting di matamu. Kita memang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, dua hari yang lalu, atau bahkan jauh-jauh sebelumya, aku telah mencuri sesuatu milikmu. Apa kau sadar telah kecolongan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sendiri aku terbaring di kamar. Kuintip melalui jendela tak ada sapaan bintang. Apalagi cahaya bulan. Hai, kalian sudah lama tak menyapaku. Kemana saja selama ini. Aku sangat merindukan sapaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya aku pergi ke sana untuk bisa kucari sumber cahaya yang memberi terang. Biar aku saja yang bersinar. Kau tentu lelah. Tiba-tiba saja aku merasa sudah di bulan. Kupijakkan kaki ini perlahan-lahan karena gravitasi di sana tak sekuat di bumi. Takut-takut kalau aku berlari, aku terpantul dan menghilang dalam lingkaran kosmos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cari sumber cahaya itu, namun tak aku temui. “Aku hanya cermin yang memantulkan cahaya,” kata bulan. Pencarianku terhenti setelah bulan berkata bahwa ia hanyalah cermin, pantulan, tidak lebih. Dan aku telah salah memilih. Kala aku ingin mampir ke bintang, mereka masih di telan gumpalan awal. Lagi pula aku sudah lelah, sementara masih ribuan mil jarak yang mesti aku tempuh untuk menuju ke arahnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Baru kali ini kutemui ada orang ngaku jadi pencuri. Emm..kayaknya nggak ada. Memang apa yang kau curi dariku?” sebuah pesan masuk ke ponselku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengindahkah pesan itu. Ha.ha..ha..., setidaknya dengan pesan itu ia sudah mulai masuk dalam perangkap. Aku memang mencuri. Mengenai apa yang aku cari biar kau cari saja sendiri. Setidaknya dengan ijin lebih dulu, beban dosa mencuriku akan sedikit berkurang. Akan lebih mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan Tuhan perihal kenapa aku mencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mau ketidaktenanganku ini berlarat-larat. Makanya aku katakan saja, bahwa aku telah mencuri sesuatu darimu. Akulah pencuri itu. Tapi kau tak merasa kehilangan. Yah, karena aku melakukannya perlahan-lahan sampai-sampai kau tak merasakan itu. Karena aku begitu menginginkan itu, dan kau tak mau berikan itu kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok nggak jawab? Mang kau nyuri apa dariku? Perasaan aku nggak kehilangan apa-apa. Jangan bikin aku pusing donk, please...,” satu pesan lagi masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kena! Kau sudah masuk perangkap. Bisikku pelan. Beberapa jenak, pesan itu aku jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setidaknya dengan mengakui itu, akan memperingan pertanggungjawabanku di hadapan Tuhan. Coba kau cek lagi, katanya peka. Masa nggak merasa kehilangan sesuatu. Ada yang kucuri darimu. Maafin ya,” begitulah jawaban pesan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Jujur, aku terpana dengan laku lampahmu. Matamu ketika menatap dan senyummu selalu mengembang seperti bunga-bunga merekah. Laku bicaramu yang halus menyejuk-kan. Aku sangat menginginkan semua itu. Tapi, aku sadar, perempuan sepertimu tak bakal memberikan tatapan mata, senyuman dan semua-mua yang kau miliki kepada kaum adam. Langkahmu menundukkan pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua-mua itulah yang aku curi darimu. Hanya saja kau tak merasa kehilangan. Aku mencuri tatapan matamu untuk kuletakkan dalam mataku, hingga ketika menginginkan tatapanmu, tinggal kutatap saja di depan cermin. Dan aku melihat matamu. Tanpa sepengetahuanmu, aku juga mencuri bibir yang memberi senyum manis untuk kuletakkan di bibirku. Ketika aku rindukan senyummu. Tinggal kusunggingkan senyum saja di hadapan cermin. Dan aku melihat senyummu. Semua itu tersimpan rapi di memori otak menempati folder khusus di hati.&lt;br /&gt;Aku tak ingin semua itu sirna seperti halnya kisah seorang gadis kecil yang diasuh se-orang pendeta hingga dewasa. Gadis kecil itu ditemukan pendeta, di sebuah kandang ku-da terpojok di sela-sela tumpukkan keranjang rumput. Tanpa sehelai benang pun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikkan gadis saat dewasa justru membuat petaka. Laki-laki yang sudah beristri dibuat terpana dengan kecantikan dan kemolekan tubuh gadis itu. Padahal ia telah menjadi seorang biara, pelayan Tuhan di gereja-gereja karena asuhan si pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah kecantikan sang biara ternyata bermuara pada fitnah. Sebagian besar ibu-ibu menyebutnya pelacur karena gadis gereja itu membuat suami-suami mereka jarang pulang. Suami-suami mereka justru malah bertingkah aneh. Pergi ke gereja bisa setiap hari hanya untuk melihat rupa si pelayan Tuhan. Gereja penuh, sesak. Si pendeta tampak senang. Ternyata warga di sini sudah mulai berubah, “Puji Tuhan,” pikir si pendeta saat itu.&lt;br /&gt;Gadis yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar. Semua-mua tatapan orang yang men-dendangkan lagu pemujaan, tertuju pada biarawati itu. Hanya saja ada yang lain ketika itu. Kain lebat menutup semua wajah perempuan itu. Hingga yang ada seolah-olah kain lebat berjalan. Di tangan ia membawa sebuah baskom berisi air. Langkahnya terhenti di tengah-tengah mimbar. Suasana mendadak hening. Lantunan lagu pemujaan seketika ter-henti. Semuanya tertatap pada seorang perempuan yang sedang berdiri di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku Bapa. Saya belum bisa menjadi pelayan Tuhan yang baik. Tempat suci ini memang ramai dikunjungi jamaah. Tapi, tidakkah Bapa lihat. Semua-mua yang hadir di sini adalah laki-laki yang sebenarnya ingin mendapatkan tatapan mata. Dengan mak-sud tanpa mengurangi kekhusyukkan menghadap Tuhan, di tempat ini (sambil tangannya menunjuk ke sebuah baskom yang ia bawa) sudah saya berikan semua yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah mencongkel dan meletakkan kedua biji bola mataku untuk mereka. Saya sudah menyayat bibir yang membuat mereka dalam keterpanaan (sesaat). Dan, sekali lagi maafkan saya Bapa, saya tak bisa menjadi pelayan Tuhan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diletakkannya baskom yang berisi bola mata dan sayatan bibir biarawati itu. Semua-mua laki-laki yang hadir dibuat membisu kaku. Semua persendiran seakan tak lagi mam-pu menopang. Keringat, mengucur deras. Lalu perempuan itu melangkahkan kakinya per-lahan-lahan meninggalkan gereja. Kerudungnya basah oleh darah yang mengalir melalui lubang kedua bola mata. Siapapun tak berani menghentikan langkah perempuan itu. Tak terkecuali, seorang pendeta yang sudah lama mengasuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku tak ingin kisahmu berakhir pada tindakan bodoh yang tidak perlu. Apalagi tragis. Sepenuhnya aku sadar bahwa tindakan ini salah dengan mencuri-curi pandangan saat kau lengah. Dan senyumanmu itu selalu saja membuat jantung berdegup kencang. Makanya kukatakan saja, bahwa aku telah mencuri sesuatu darimu. Tapi aku mohon, jangan kau lepas bola mata indah yang melekat di matamu untuk kau berikan kepadaku. Karena aku tahu, sakitnya bukan main. Lagipula mengerikan!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah nomor yang belum aku simpan memanggil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“081317849XXX calling…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor yang tadi aku kirimi pesan menelepon. Aku berpikir beberapa jenak.mencari-cari keputusan untuk menjawab telepon atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hallo,”&lt;br /&gt;telepon itu aku angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum,” terdengar suara perempuan. Suaranya lembut. Dan ia mengawali perbincangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih telah mengingatkan. Kau benar, pengakuan bahwa seseorang telah berbuat salah itu perlu. Kesalahan itu manusiawi. Aku sendiri menyadari itu. Saya jadi ingat, dengan mengakui berbuat salah pertanggungjawaban di hadapan Tuhan akan lebih ringan. Lebih-lebih jika orang itu mau memaafkan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tercengang tak bisa berucap sepatah kata pun. Nyaris tak diberi waktu bicara. Ia terus saja bercerita panjang. Di seberang sana terdengar suara yang memang merdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau salah. Sepertinya kau perlu tahu yang sebenarnya. Aku sudah tahu siapa pencuri itu. Kau bukan pencuri itu. Justru, pencuri itu tidak lain aku. Aku selalu mencuri tatapan matamu yang sedang menatap di kehampaan, matamu begitu menyejukkan. Aku dibuat tenang menatapnya. Apalagi ketika kau tersenyum, membuat aku melambung. Aku sempat bertanya, apa aku sedang menatap ketampanan Yusuf?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin dibuat tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku percaya, tak ada manusia sempurna di jagat ini selain Muhammad. Penampilan bisa saja menipu. Masalahnya saya ingat kata nabi, kurang lebih menyatakan, ‘Orang melakukan amalan akhirat bisa jadi melakukan amalan dunia. Orang yang melakukan amalan dunia bisa jadi bermuara pada amalan akhirat’ kurang lebih seperti itu isi haditsnya. Yang saya takutkan adalah masuk kategori pertama. Terimakasih telah mengingatkan. Assalamu’alaikum....”&lt;br /&gt;Seketika telepon di tutup. Aku masih tercengang.&lt;br /&gt;----------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2708690285629449268?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2708690285629449268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2708690285629449268' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2708690285629449268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2708690285629449268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/06/akulah-pencuri-itu.html' title='Akulah Pencuri Itu'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-2047858381776523051</id><published>2008-06-23T03:11:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T03:42:07.398-07:00</updated><title type='text'>Dua Helai Sayap Jibril</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;JIBRIL, tolong kau pinjami aku sayapmu!. Biarkan aku melesat dengan kepakkan sayap milikmu, yang dengannya aku dapat melesat jauh hingga ribuan mil. Aku merasa jengah berada di bumi ini. Di tanah bumi ini, aku tak ubahnya seperti kunang-kunang yang ge-merlap di siang hari. Aku benar-benar merasa tak berarti. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang di sana hanya ada kesunyian. Di sini, yang ada hanya gelak tawa sinis, kebohongan juga kata-kata manis yang menipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambilkan aku dua helai saja dari sayapmu yang mencapai ribuan itu. Dua sayap itu untuk aku tancapkan di kanan dan kiri pundakku. Aku tak bisa membayangkan kalau se-mua-mua sayap yang kau miliki ada dipundakku, mungkin aku akan berubah menjadi sa-tu titik yang tak tampak oleh kasat mata telanjang. Mungkin yang akan ada hanya kum-pulan sayap-sayap yang tergelatak di hamparan tanah, karena aku tak mampu memang-gulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku serius Jibril, kenapa kau malah tertawa. Atau jangan-jangan tawamu itu adalah tawa sinis yang juga menyimpan penuh kebohongan. Lepas, lepaskan sayapmu itu, pin-jami aku sayapmu dan bawa aku terbang dengan kepakkan sayapmu itu. Tancapkan, tan-capkan ujung sayap itu dipundakku oleh tanganmu. Biar semua isi dunia tahu, bahwa aku bukanlah seorang picik yang tak mampu berbuat apa-apa. Aku ingin bisa sepertimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mendengar cerita tentang mu Jibril. Itu pun kalau daya ingatku tak ber-khianat. Yaitu saat kau menjelma menjadi laki-laki gagah dengan jubah putih menemui Muhammad anak lelaki Abdullah. Dan sahabat-sahabat Muhammad pun begitu tercengang saat melihatmu. Melihat seorang asing yang tampak begitu gagah, yang wajahnya begitu cerah, laku lampah yang menawan dan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, kalau daya ingatku tak berkhianat lagi, cerita saat kau bertengger di antara langit dan bumi dengan rupa aslimu, untuk menemui Muhammad kau tampak semakin gagah, apalagi saat kau merebahkan kedua sayapmu. Ujung mata siapapun tak mampu melihat ujung sayap yang kau kepakkan secara perlahan. Pada saat itu, semua-mua orang yang menatapmu mengucurkan keringat deras karena kagum menatap kegagahanmu. Dan satu lagi, kepatuhanmu itu yang tak bisa dibandingkan dengan siapapun di jagat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung aku bisa bertemu denganmu di tempat yang sunyi ini. Karena aku yakin, kau tak akan datang di keramaian. Bukankah kau suka kesunyian. Itulah sebabnya kenapa di malam sesunyi ini aku mau bersendiri hanya untuk menemuimu. Aku pun sama sepertimu, Jibril. Tak suka keramaian, hingar bingar, lalu lalang, beragam macam orang. Orang-orang yang penuh dengan kebohongan, orang-orang yang mengenakan topeng disetiap wajahnya. Menggeluti dunia yang belum juga sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu, tunggu. Kenapa warnamu tak lagi cerah, semua-mua kulit yang membalut tubuhmu itu membiru. Kau tak habis bertarung dengan raja iblis bukan. Kau tampak lelah, Jibril. Apa karena kau terlalu banyak memecutkan halilintar hingga kau kehabisan tenagamu, aku mencoba menerka. Jibril masih diam. Bahkan ada helai sayap koyak yang tak tertancap rapi di pundakmu. Ya, dua helai sayap itu hampir lepas dari akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jibril hanya menatapku diam, sembari melihati kedua helai sayap yang ada di belakang pundaknya. Matanya menatapku, raut muka Jibril tampak heran saat melihatku berceracas panjang-panjang dihadapannya sedari tadi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kau mau sayap koyak ini?” kata Jibril &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ambil saja. Aku sudah tak memerlukannya lagi” Tambah Jibril. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ppfffkkkk!, cuppkkk! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sayap ini sudah lama membawaku membahana, dan memang sudah sepantasnya untuk diganti.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Benar Jibril?” Aku sedikit tak percaya saat Jibril mengujarkan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, cabut saja dua sayap ini, kedua sayap ini justru membuat aku tersiksa. Aku justru lebih senang kalau saja sayap koyak ini tak ada dipundakku lagi.” Ulangnya lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Benar Jibril?!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ayo cabut saja, cabut dengan kedua tanganmu itu.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jibril menunduk, aku mendekati perlahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ayo jangan lama-lama, cabut saja aku tak betah berlama-lama menunduk seperti ini.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat sayap itu memang sudah koyak, helaian-helaiannya sudah tak rapi. Ujung akar sayap itu pun sudah saatnya untuk tercerabut. Mengalir cairan biru dari dasar akar sayap itu. Benar-benar aneh, bukankah sayap Jibril membentang jauh hingga batas pandangan mata pun tak mampu untuk menjangkaunya. Tetapi, yang ada dihadapanku ini tak ubahnya seperti manusia bersayap. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau benar-benar Jibril?” Tanyaku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh, kau. Ya.. ini aku.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku bisa merubah wujudku menjadi siapa saja yang aku mau.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku bertanya?” tanyaku pada lelaki bersayap. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kau boleh bertanya apapun, asalkan kau cabut dulu dua sayap koyak yang ada di pundakku ini. Aku sudah tak kuat dengan kepayahan ini” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku boleh bertanya apa saja bukan?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Iya, cepat kau lekas cabut sayap ini.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai merabai ujung bulu-bulu halus, menggenggam erat dengan kedua tanganku dibongkot sayap itu. Terasa alot tancapan sayap itu. Walau tampak koyak, masih kokoh. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kau itu laki-laki, kerahkan semua tenagamu.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mencoba untuk mencabut dua helai sayap Jibril yang koyak itu. Terasa susah memang. Tapi aku yakin, sayap itu pasti dapat aku pisahkan dari pundak Jibril. Saat aku menarik sayap itu, mataku terpejam, bibirku kukatupkan dengan gigi. Pun juga dengan Jibril. Aku tampak payah, sekuat tenaga aku menarik sayap itu. Jibril menahan nyeri saat sayap itu aku coba cabut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kau sama saja menyiksaku dengan berlama-lama membiarkan sayap koyak itu masih tertancap di pundakku.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, aku tak bermaksud menyiksamu. Kau tahan saja, sayap ini hampir lepas” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah agak lama berpayah-payah, akhirnya sayap itu lepas juga. Sayap itu bergerak-gerak ditanganku, dan tak lama kemudian. Gerakan sayap itu tak lagi aku lihat. Seketika tumbuh dua sayap baru menggantikan dua sayap yang aku cabut dengan payah. Pucat biru yang tadi menyelimuti balutan wajah Jibril kini berangsur kembali seperti semula. Lelaki bersayap yang tak lain adalah Jibril itu tampak sebagai lelaki gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, dua sayap koyak milikmu itu sudah lepas. Sekarang kau bisa bangkit seperti pada mulanya, tak usah menunduk lagi.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sayap itu sudah aku cabut, jadi aku boleh bertanya apapun kepadamu Jibril. Jibril sudah berdiri tegak tepat dihadapanku.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang ingin kau tanyakan, sayap itu ambil saja buat kau. Aku sudah tak memerlukannya. Karena sudah tergantikan dengan sayap baru. Kau tak perlu heran, sebangsaku memang tak mampu mencabut sayap dengan tangan sendiri, ketika sayap malaikat mulai koyak, malaikat turun ke bumi menemui manusia-manusia sepertimu. Manusia yang memerlukan sayap malaikat untuk bisa menjadi malaikat walaupun sebenarnya itu tak akan pernah bisa.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Justru itu yang aku tanyakan. Aku ingin bisa sepertimu, yang tak merasa sunyi di kesunyatan. Sementara aku, aku benar-benar muak dengan semua sandiwara kehidupan yang memaksa aku memainkan peran yang tak aku sukai. Aku lebih menyukai peran sebagaimu, sebagai malaikat.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sudah aku katakan, hanya orang-orang bodoh sepertimu lah yang terlintas dalam pikirannya untuk bisa menjadi sepertiku, seperti malaikat. Kau tak akan bisa menjadi sepertiku, tetapi kau bisa seperti aku. Dari sikapmu, laku lampahmu dan kepatuhan.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya tentang kepatuhan itu…” tanyaku kepada Jibril &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bagiku, kepatuhan itu adalah kutukan, adanya perubahan masa kami tak diberi tahu, dan karena kepatuhan itulah yang sudah melekat kami tak bisa membantah. Apalagi melawan, kami tak diajarkan untuk itu, kami, hanya patuh terhadap segala bentuk perintah sang Khalik, apapun perintah itu, kami laksanakan. Aku tak bisa membayangkan kalau kau menjadi aku. Orang-orang sepertimu adalah orang-orang yang cepat merasa bosan, apalagi diturunkannya kau ke bumi hanyalah akan merusak apa isi dunia. Tetapi tetap saja, kau diturunkan ke tanah ini. Pernah aku mengelak saat awal-awal manusia akan diturunkan ke bumi. Tetapi entah kenapa hingga saat ini aku belum menemukan jawaban yang masih dirahasiakan itu. Yakni jawaban yang membuat kami kecut dan tak berani melawan.,” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah lebih enak menjadi sepertimu.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, kau lebih enak menurutku.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kita sama-sama enak dong.” Serempak aku dan Jibril menjawab sama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, tidak kawan, kau lebih enak menurutku.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Hidupmu lebih berwarna, ada persaingan dan yang terpenting, kau tak sendirian.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi,masalahnya aku merasa sepi meski di tengah-tengah keramaian.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“ Itu bukan masalah menurutku, hanya saja kau terlalu egois.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku, keakuan, egois. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Malaikat, kepatuhan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak mengerti. Kau tak mengerti apa keinginanku Jibril. Jibril malah tersenyum melihatku. Senyuman yang lama-lama menjadi tawa Pffffk, Cuppkk!!!! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kau malah melebarkan tawamu Jibril. Tawa jibril begitu menggema, rasanya ingin kututup saja telinga ini. Kedua daun telinga yang aku miliki tak mampu mendengar Jibril mengeluarkan gelak tawa yang seolah mengejekku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak main-main denganmu Jibril.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku pun demikian,” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan kedua sayap koyak ini Jibril.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Terserah mau kau apakan sayap itu, sayap itu sudah menjadi milikmu. Aku tak berhak dengan sayap itu, bukankah kau menginginkan itu.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ajari aku memasangkan sayap ini dipundakku.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tak akan bisa. Kau terlalu mengada-ada. Mesti berapa kali aku bilang, kau tak akan pernah bisa menjadi sepertiku.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin tak bisa kalau kau belum mencoba mengajariku.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Dasar manusia keras kepala. Terserah mau kau apakan sayap itu, itu sudah bukan menjadi milikku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ia berucap apa-apa lagi, kemudia ia melesat pergi dengan sayapnya. Sllaapp!! Berhenti di satu titik dan hilang. Aku tak sempat menghalangi kepergian Jibril. Ia begitu cepat melesat, kecepatannya terbang melebihi kecepatan cahaya, bahkan saat mataku berkedip ia sudah berada di ribuan mil jauh terbang mengelilingi jagat. Aku hanya terdiam. Kedua tangan memegang masing-masing satu sayap koyak. Untuk apa sebenarnya sayap ini, pikirku. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-2047858381776523051?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/2047858381776523051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=2047858381776523051' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2047858381776523051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/2047858381776523051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/06/dua-helai-sayap-jibril.html' title='Dua Helai Sayap Jibril'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7523541554317581258.post-8361955400519777896</id><published>2008-05-30T03:48:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T03:05:14.797-07:00</updated><title type='text'>Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;DEPAN&lt;/span&gt; pelataran rumah, seorang perempuan tua duduk di atas kursi malas. Matanya menatap kosong. Sesekali ia menggerakkan kursi malasnya yang hampir saja diam dengan tangan yang masih menyimpan sisa-sisa tenaga saat masih muda. Ia pun menggerakkan pelan, perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerut kulitnya begitu kentara terlihat. Pun jika dilihat dari kejauhan. Rambut masih legam panjang, tidak seperti nenek pada umumnya yang sudah memutih di usianya. Kata ibuku, perempuan tua itu sewaktu masih muda keramas dengan merang, sisa pembakaran jerami padi yang ada di sawah-sawah. Hanya ditambahkan sedikit air, lalu dibasuh rata dari ujung sampai pangkal. Demikian halnya dengan gigi yang masih tertata rapi, leng-kap dan tak ada satu pun tanggal. Masih gigi asli. Masih kata ibuku, katanya orang-orang zaman dulu itu merawat gigi dengan remukan batu bata dari tanah liat sebagai odol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, terdengar hentakkan batuk perempuan tua. Sebelumnya ia tengah asyik dengan kinang yang bermain-main dimulutnya. Bibirnya memerah keemasan. Bahkan cairan merah itu mengalir melewati kedua sudut bibir. Lama aku menatap. Batinku berkata, seolah-olah sedang menatap drakula yang habis menghisap darah dengan kedua taring. Aku takut. Kalau-kalau ia berubah jadi drakula yang siap menerkamku seketika, padahal aku tak mau mati konyol.&lt;br /&gt;Nenek itu hidup seorang diri di sebuah rumah tua. Tak jauh dari rumahku. Anak-anaknya sudah tak bersamanya lagi. Bahkan hampir dipastikan mereka tak ada yang menjenguknya. Entah kesibukkan macam apa yang dialami sampai-sampai mereka lupa bahwa ada seorang tua renta tak berdaya selalu mengharap kedatangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kepergian anak-anaknya merantau ke kota, ia makin sering didera penyakit. Sakitnya bertambah parah setelah sekian lama menunggu, anak-anaknya tak jua pulang menemui. Yang diderita tak hanya pada tubuh yang makin rapuh, pada tulang yang sudah tak mampu menopang berdiri tegap, melainkan juga pada sakit perasaaan yang sudah lama terpendam.&lt;br /&gt;Sementara waktu begitu sombong. Berlalu tanpa menghiraukan siapa dan memeduli-kan apa. Waktu tak pedulikan itu. Sementara anak ayam berkicau di samping rumah, en-tah berteriak mencari induk ayam ataukah meminta makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lamunan aku berkata, “Nek sepatutnya di saat sekarang ini kau tak sendiri. Seharusnya bukan ayam-ayam itu yang menemani hari-hari nenek.” Keseharian si nenek memang tak lepas dari mengurus anak ayam yang memang sudah ia anggap sebagai teman. Atau mungkin dianggap sebagai anak sendiri. Ia tak pernah lupa memberi mereka makan. Entah dengan bekatul, beras bahkan sisa makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja ayam-ayam itu adalah anak-anaknya pasti terasa senanglah hati nenek. Tak kesepian seperti sekarang ini. Meskipun dibiarkan bebas berkeliaran, toh mereka itu pada pulang di sore harinya. Angan sekedar angan. Tetap saja mereka tak akan menjelma jadi anak-anaknya yang telah lama pergi entah kemana. Tak pernah pulang, tak ada kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, ia mendapati ada yang kurang pada anak ayam itu ketika pulang di senja hari. Panik ia bukan main. Ia lantas mencari ke setiap sudut. Berteriak. Teriak-kannya menjadi perhatian tetangga, termasuk ibuku. Meski dengan langkah tertatih ia te-tap mencari anak ayam yang hilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali bertemu orang yang kebetulan berpapasan, pasti ia ditanya. “Apa kau meli-hat anak ayam milikku?” tanyanya masi dalam kepanikkan. Orang yang tak suka ditanya, menyebut dalam hati bahwa si nenek itu telah gila. Dalam benak ia berkata, kehilangan anak ayam saja, paniknya bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa tiba-tiba orang itu mendapat umpatan, “Dasar orang tidak tahu diri,” Kontan orang itu terkaget dan langsung beringsut menghindar dari umpatan si nenek. Si nenek marah. Indera dengarnya begitu tajam. Kata-kata itu tertangkap di telinganya. Dan orang itu lebih memilih menghindar bermasalah dengan si nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai gelap. Suasana hening. Sebentar lagi adzan magrib bergema. Di sekitar su-dah tidak ditemui suara decit anak ayam. Semua ayam milik penduduk sudah ngandang. Tak henti nenek itu terus mencari. Ia sempat kecedwa, namun buru-buru ia menepis. Ia yakin, anak ayamitu tak jauh dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu terdengar suara decit anak ayam. Si nenek merasa yakin, suara itu suara anak ayam yang ia cari. Dugaannya benar. Ia mendapati kaki anak ayam itu kena jeratan seutas tali di sebongkah kayu hingga ia tak bisa bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah nenek yang tinggal bersebelahan. Saat ia merasa kehilangan anak ayam, gemparlah semua orang sekampung. Setiap orang yang jadi lawan bicaranya tak lepas dari obrolan tentang anak-anaknya yang hingga kini belum pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini aku tak pernah melihat si nenek itu duduk di beranda rumah tuanya. Seperti biasa, duduknya si nenek tidak lain mengharap anak-anak pulang menemuinya. Ia berharap bisa memeluk mereka. Sebuah keinginan yang hingga kini belum terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku makin tak enak saja. Kebiasaanku menyapa tiap pagi saat ia duduk di pelataran rumah tak bisa aku lakukan lagi. Ia sudah jarang ada disana, entah kenapa.&lt;br /&gt;Penasaran, aku memberanikan diri menemui nenek itu. Sebelumya aku hanya menemui dia di depan rumah saja. Tak pernah aku masuk ke dalam rumah. Pintu rumahku buka perlahan. Aku merasakan aroma aneh. Tapi coba kutepis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nek…nenek,” aku menyapa. Tak ada sahutan. Sekali dua kali tak ada sahutan. Suasana rumah sepi. Jelaga bergelantungan di bawah langit-langit. Kakiku melangkah mencari dimana nenek berada. Mungkin ia sedang istirahat di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nek,”aku menyapa pelan sambil membuka pintu perlahan. Terdengar suara erangan tak berdaya. Ia terbaring lemah diatas tempat tidur kumal. Bekas merah kinang bercece-ran kering di lantai. Ternyata ia tengah bergelut dengan penyakit yang telah lama meng-gerogotinya.&lt;br /&gt;“Nenek baik-baik saja?” tanyaku pelan. Saat aku bertanya, ia tengah sibuk mencari si-sa-sisa napas seolah hendak lepas. Nafasnya tersengal. Aku merasakan ia benar-benar ter-siksa.&lt;br /&gt;“Nek, kenapa kau tidak mati saja menemui suamimu yang sudah meninggal beberapa puluh tahun lalu. Mungkin saja anak-anakmu sudah berkumpul di sana, dan tinggal me-nunggu nenek saja. Dari pada harus hidup seorang diri tanpa satu pun keluarga yang me-ngurus nenek. Anak-anak yang tega membiarkan hidup sendiri sampai saat ini tak per-nah memberi kabar. Sudah sukseskah jadi orang atau malah sebaliknya menjadi gelan-dangan hingga ia merasa malu dan tak mau pulang. Syukur kalau mereka masih hidup. Bagaimana kalau sudah mati, dimana mereka dikubur ia tak tahu,” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pyarr! Tiba-tiba aku tersadar. Pecahan gelas menyadarkanku dari lamunan. Hampir saja nenek itu terjatuh. Buru-buru aku menyangga tubuh lapuknya. Ah, nenek kenapa tak bilang mau ambil segelas air dalam gelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, kenapa jadi aku yang menyalahkan nenek. Kalau aku tak melamun, mungkin tak begini akhirnya. Ini salahku. Aku melamunkan kondisi nenek renta yang hidup sebatang kara. Harapku sebaiknya ia cepat mati saja, agar deritanya tak berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jangan seperti anak-anak nenek,” ia seketika berujar. Dari ceritanya terlihat diwajahnya yang penuh tanya. Seolah-olah ia menyesal telah melahirkan anak yang tidak ada bakti sama sekali. Entah salah apa yang nenek perbuat. Nenek mencoba merenungi masa lalu.&lt;br /&gt;“Iya Nek,” aku mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku membayangkan. Anak macam apa yang tega membiarkan ibunya sendiri hidup tanpa ada yang menemani. Aku yakin, tak akan ada yang mau bernasib seperi nenek yang sedang berada di hadapanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nek, aku berharap masa tua nenek tidak digunakan untuk mengumpat anak-anak nenek, apalagi sampai mengutuk jadi batu seperti dalam legenda Malin Kundang. Aku yakin, setiap kata yang terujar dari seorang ibu pasti nyata dan bernilai doa. Bukankah surga ada di bawah telapak kaki ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek nggak bakalan mengumpat anak sendiri,” kata-kata itu terujar seketika dari mulut nenek. Sempat membuatku kaget. Pikir kecilku, apa ia tahu apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang aku pikirkan hanya terucap dalam benak. Apa ia bisa membaca pikiran seseorang? Mudah-mudahan tidak! Itu hanya sebuah kebetulan. Tapi apa mungkin? Batinku berkecamuk.&lt;br /&gt;“Setiap saat nenek selalu berdoa. Semoga mereka baik-baik saja. Nenek sudah tua. Nenek serahkan semuanya kepada yang kuasa,” katanya. Saat itu aku diam seribu bahasa dan hanya mendengar tiap kata yang terujar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memintaku mengambil segelas air. Aku menurut saja dan langsung pergi ke dapur. Aku tak mendapati air di sana. Kering tak ada air tersisa meski setetes. Untuk masak air pun tidak memungkinkan. Dapur nenek sepertinya sudah lama tak berasap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ambil saja di rumah, pikirknya saat itu. Aku beringsut keluar menuju rumah untuk mengambil segelas air. Kubuatkan segelas teh pahit kesukaannya yang biasa ia minum. Aku tahu, ia tidak meminum air putih. Katanya air putih itu tidak berasa. Bahkan tak jarang memakan teh hitam sebagai camilan selain kinang. Teh hitam pekat selesai sudah kubuat. Aku bergegas menuju rumah nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana, nenek malah tertidur. Aku coba membangunkannya. Tapi nenek tak menyahut. Kemudian aku duduk disampingnya. Maksudku biar ia bangun. Entah kenapa ia tak juga bangun. Cukup lama di sana. Setelah kupegang denyut nadinya, ternyata ia sudah tak bernapas.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7523541554317581258-8361955400519777896?l=rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/feeds/8361955400519777896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7523541554317581258&amp;postID=8361955400519777896' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/8361955400519777896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7523541554317581258/posts/default/8361955400519777896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rumahpelangi-rumahpelangi.blogspot.com/2008/05/nek-sebaiknya-kau-mati-saja.html' title='Nek, Sebaiknya Kau Mati Saja'/><author><name>ALI IRFAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02896571346661851477</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_w-NvwFaD2ZM/TFZjGmo5KFI/AAAAAAAAAIw/baOACyMvL8I/S220/Behalf+in+shadow2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
